Pelukan

895 Words
Setelah bicara dengan Sendy, Kanya memutuskan untuk pergi ke rumah Banyu hari ini juga. Barusan adalah jadwal kuliah terakhir Banyu dalam minggu ini dan lagi-lagi Kanya gagal mengejar Banyu yang kabur dari dirinya. Langkah pria itu besar, terlalu cepat Kanya ikuti. Hanya sisa siluet yang bisa gadis itu tangkap dari Banyu. Ia harus menunggu beberapa hari jikalau ingin menemui Banyu seusai kelas. Kanya tak bisa, ia harus bicara dengan Banyu. Memastikan kalau semua barang yang ingin ia bawa sudah masuk tas, kemudian gadis itu keluar dari kelas menuju gerbang depan. Ia sudah mengatakan pada Sendy akan sendiri mengojek ke rumah kekasihnya. Sahabatnya itu pulang duluan, mendoakan yang terbaik apapun hasilnya. Dan juga berkata, jika Kanya memutuskan untuk jujur soal hari itu, sampaikan permintaan maaf Sendy dan Lintang atas kebohongan mereka. Kanya mengiyakan. Menunggu ojek panggilannya datang, gadis itu lagi-lagi berusaha menghubungi Banyu. Telepon berdering, namun tak jua diangkat. Jikalau mengingat Banyu yang seolah tak ingin menatap wajahnya bahkan saat tahu Kanya berada di luar kelas, mengintip lewat jendela, membuat gadis itu bersedih hati. Melihat dirinya yang harus seperti kucing mengejar tikus, Kanya bertanya-tanya apakah hubungan mereka saat ini sudah kandas? Apa Banyu tak mau memaafkannya? Apa Banyu menganggap Kanya bukan lagi kekasih? Wajah mendungnya terlihat jelas, matanya terus menatap trotoar, sementara itu rambut panjang tergerai tertiup angin. Ia menggegam ponselnya erat, entah sudah berapa puluh kali nomor Banyu ia dial dalam dua hari terakhir, mungkin bahkan ratusan. Rasanya ingin menangis, namun gadis itu tahan. Ia tak mau perhatian orang-orang teralih padanya hanya gara-gara air mata meleleh di pipi. Ia harus kuat, ia harus yakin kalau Banyu akan memaafkannya. Bukankah jika engkau terus yakin, harapanmu akan jadi kenyataan? Begitulah pikiran Kanya. “Kanya?” Suara di sampingnya membuat Kanya tersentak. Gadis itu mendongak dan mendapati Baskara sedang berdiri di samping dengan membawa helm. Lagi-lagi seperti ini, pria itu layaknya cicak yang mengendap merayap di dinding dan mengagetkan tanpa sempat ia mengantisipasi. Kanya tak menyadari datangnya suara motor yang kemudian di parkir di dekatnya. Dengan tenang, Baskara duduk di sebelah, memandangi jalan, lalu pada Kanya. Selama beberapa saat mereka diam, hanya kendara yang bersuara. “Kamu… nggak papa?” Entah mengapa air mata yang sudah berusaha Ia tahan kini otomatis jatuh karena pertanyaan tersebut, membasahi tak terbendung. Dengan impulsive Kanya berusaha menghapus jejak-jejak tersebut dengan lengan kemeja. Gagal. Seperti keran yang bocor, tangisan tanpa suara itu tak dapat dihentikan. Kanya menunduk, berusaha tak memperlihatkan sisi terlemahnya pada dunia. Ia sedang tak baik-baik saja. Tapi ia merasa tak berhak berkata begitu. Ada pria yang mungkin lebih tersakiti karena tindakannya. Ia tak boleh menangis. Tiba-tiba, lengan besar mendekap gadis itu. Menyelimuti diri Kanya yang seolah tertelanjangi. Gadis itu merasa terlindungi, namun efeknya air matanya makin deras mengucur, suara tertahan, seguk yang berusaha diredam dengan menekan telapak ke mulut. Badan Kanya bergetar. Gadis itu pikir dia baik-baik saja, hanya kesedihan biasa yang akan hilang segera. Betapa salahnya itu karena saat ini hatinya terasa diuleni terus oleh kegelapan, diombang-ambing, dan tersesat sendiri pada lautan luas nan ganas yang ada dalam dirinya. Belasan menit dilewati namun tak jua keran di matanya berhenti, dengan sabar, lengan itu terus di sana, mengamankan Kanya dari mata-mata yang ingin tahu. Baskara hanya diam, tanpa suara. Pria itu tahu kalau Kanya sedang butuh sandaran. Jadi dia di sana, duduk di trotoar sebelah Kanya, memeluk dengan helm yang ia taruh di aspal. Butuh belasan menit tambahan hingga akhirnya Kanya berhenti dan mulai mendongak. Baskara masih memeluk, wajahnya yang terlihat dari bawah begitu bersahaja. Mata tajam itu menatap entah kemana, tapi Kanya ingin terus seperti ini. Ia ingin aman berada di sini, tak perlu menemui Banyu dan terus bersembunyi saja di belakang Baskara. Tapi tidak, Kanya terlalu mencintai Banyu dan jika konfrontasi menyakitkan hati yang harus ia lakukan untuk mempertahankan hubungan dengan Banyu, maka ia akan lakukan. Kanya melepas pelukan itu, ia menatap sekeliling yang lumayan sepi. Gadis itu kehilangan jejak waktu, tak tahu berapa menit menangis, tapi jelas, lama. Kepalanya menoleh ke sana kemari, mencari ojek yang harusnya datang sepuluh menit dari sejak ia menunggu di trotoar. “Ojek ya?” Suara Baskara berceletuk. Pria itu kini duduk menghadap jalanan sambil kepalanya dihadapkan pada Kanya. Gadis itu mengangguk. Jujur saja ia malu, ia ingin tenggelam jika mengingat kalau dirinya memperlihatkan sisi yang lemah pada Baskara. Pria itu pasti menganggap Kanya cengeng, berulangkali menangis karena hal remeh. “Tadi aku suruh pergi. Maaf ya.” Baskara berujar tak enak. Tanpa Kanya sadari, ketika ojek tersebut datang dan mendekat, tangan Baskara terlepas satu dan mengambil dompet. Pria itu menyelipkan selembar kertas biru dan menyuruh pengemudinya putar arah, balik, dan jangan mengganggu. Ia membiarkan gadis itu terus mengeluarkan perasaannya Kanya diam tak menjawab. Memang lebih baik seperti itu bukan? Kanya tak mau tukang ojek melihat mata dan hidungnya memerah di jalan, jadi apa yang dilakukan Baskara sudah tepat. Ia tinggal memanggil ojek lain. Gadis itu mengangguk mengerti. “Kamu mau ke mana? Biar aku anter.” Baskara menawarkan. Segera Kanya menggeleng. “Gapapa Nya. Aku kan udah ngusir ojek kamu. Aku anter ya.” Sedikit ragu, Kanya ingin menggeleng. Namun kemudian ia berpikir, kenapa tidak? toh dengan adanya Baskara, mungkin pria itu bisa menjelaskan duduk perkara dan masalah. Meskipun Kanya tidak tahu alasan Banyu tak mau menemuinya, namun Baskara dapat membantu memberikan pengertian. Bukankah dulu keduanya teman? Pada akhirnya, Kanya mengangguk. “Kamu mau ke mana?” “Rumah Banyu.”    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD