Melewati jalanan pinggir kota yang agak memutar, motor ducati milik Baskara harus banyak berkelok. Kanya tak memakai helm, jadi Baskara harus menghindari pos-pos polisi yang bisa menyebabkannya kena masalah. Roda-roda berputar di aspal panas, mejejaki daerah yang Baskara hafal betul.
“Nya, kamu liat di sana?”
“Hah?” Kanya tak mendengar apa yang Baskara katakan karena seperti penumpang motor pada umumnya, telinganya tersumpal angin. Kanya hanya tahu Baskara sedang mencoba mengajaknya bicara, tapi gadis itu tak mengerti kalimat yang diucap. Seolah kabur dan hanya melewati daun telinga.
“Itu rumahku!” tangan kiri Baskara lepas dari stang dan sepersekian detik menunjuk ke arah gapura besar bertuliskan Citra Indah.
Kanya mengrinyit, matanya berusaha menajam mencari-cari apa yang Baskara coba tunjukkan. Tapi gagal. Laju motor tak memberi waktu lebih agar ia bisa menemukan hal yang pria di depannya tunjukkan.
‘Nanti aku tanya saja,’ batin Kanya.
Sedari tadi matanya tak fokus menatap landscape rumah-rumah, pohon, tiang jalanan, atau apapun itu yang berada di samping-samping. Berada di belakang, Kanya terus menunduk menatap jok dan sesekali menatap punggung pria di hadapannya. Meskipun tubuhnya di sana, pikirannya melayang-layang mencari tahu Banyu kenapa. Kanya tahu ia tak akan menemukan jawabannya sekarang. Tapi mau bagaimana lagi? Satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah membiarkan otaknya lari berputar mencari jawaban yang sebenarnya belum ada.
Apa Banyu marah karena Kanya pergi sementara ia sudah jauh-jauh ke kampus? Atau ia marah karena ponsel Kanya tak bisa ia hubungi saat itu? Atau, Banyu sudah tahu kalau ia pergi dengan Baskara, maka itu Banyu marah? Kanya tak dapat memastikan.
“Bentar lagi sampai,” teriak Baskara. Kali ini Kanya bisa mendengarnya jelas karena Baskara memelankan motor.
Jantung kanya berdetak khawatir. Di saat seperti ini harusnya ia malah senang bukan karena bisa bertemu Banyu? Ia bukannya tak berbahagia, namun gadis itu tak bisa bohong kalau ia cemas. Banyu belum pernah mengenalkan dirinya kepada keluarga dan hanya membawa Kanya jika ada orang lain yang akan ikut. Misalnya pada saat kerja kelompok bulan lalu. Banyu mengizinkan rumahnya dipakai oleh Kanya, Lintang, dan Sendy untuk mengerjakan tugas bersama karena mereka berempat satu tim. Ini artinya Kanya juga belum diakui sebagai pacar. Mungkin membawa Baskara bersamanya adalah keputusan yang baik karena dengan begitu Kanya punya alasan bohong jika ditanya keluarga Banyu.
Satu belokan lagi dan ia segera akan sampai.
“Nya… itu rumah Banyu,” ujar Baskara. Kanya mengangguk. Rumah biru dengan gazebo yang di taruh di depan terlihat teduh dengan rindangnya pohon mangga yang tumbuh di depannya. Terlihat sepi, namun motor-motor keluarga Banyu yang terparkir lengkap di depan menandakan seluruh penghuninya sedang ada di rumah. Kanya yakin kalau Banyu juga ada di dalam sana. Apakah Banyu merindukannya?
Kanya turun duluan sementara Baskara memarkirkan motor di depan pagar. Dengan d**a yang berdebar, Kanya menatap bangunan di depannya. Tangan kecil itu membuka pagar dan melangkah menuju teras rumah Banyu. Disusul Baskara, tepat berada di belakang, Kanya memencet bel.
Pada dua bunyi, suara perempuan yang Kanya kenali sebagai ibu Banyu menjawab,
“Iya, sebentar.”
Degup jantung Kanya makin cepat. Telapaknya basah. Ia mengetatkan rahang, mengumpulkan keberanian agak tak ambil langkah seribu.
Pintu kayu di depannya terbuka, seorang wanita paruh baya yang Kanya kenali sebagai ibu Banyu melongokkan kepala. Rambutnya yang memutih kontras dengan wajah awet muda. Daster warna biru itu terlihat agak basah, mungkin wanita itu habis mencuci baju atau piring.
Ibu Banyu akan menyapa Kanya tapi kemudian terkejut ketika melihat Baskara.
“Loh, Baskara?” tanya ibu Banyu memastikan. “ini Baskara kan? Tante sudah lama nggak lihat kamu. Apa kabar?”
Merasa kaget karena diacuhkan, Kanya mundur ke samping Baskara pelan-pelan. Ia bertanya-tanya apakah Baskara dan Banyu sedekat itu hingga ibu Banyu kenal betul dengan pria di sampingnya.
“Baik tante. Tante Irma apa kabar?” suara bass nan ramah dari Baskara terdengar menyegarkan bagi sang ibu, terbukti karena saat ini ibu Banyu, Irma, sudah memeluk hangat Baskara dengan erat.
“Tante baik.” Jawab Irma melepas pelukan. “Ini pacar kamu? Kamu Kanya kan?” tanya Irma. Kini perhatiannya beralih ke arah Kanya. matanya memandang lembut namun seolah menscan dari ujung kaki sampai ujung kepala gadis itu. Dengan kikuk Kanya menggeleng cepat lalu mengangguk pada pertanyaan kedua. Ia tak ingin ibu pacarnya, yang mungkin akan jadi (calon) mertua, malah menganggap Kanya milik orang lain dan bukan anaknya. Meskipun ada sedikit bagian dari diri Kanya yang mencerah tanpa ia tahu sebabnya.
“Ahahaha, bukan tante.” Baskara tertawa kecil. “Dia temen aja kok.”
“Tante pikir dia pacar kamu.” Timpal Irma. “Yang dulu ngikutin kamu, yang cewe itu, pacar kamu waktu SMA, siapa namanya?”
“Renata?” ujar Baskara.
“Nah itu! Dia kemana sekarang?”
“Lagi sakit tante. Tapi dia juga bukan pacar saya.”
Keduanya tertawa dan mulai bernostalgia. Sementara itu Kanya berusaha mencari bayangan Banyu dari celah pintu di mana Irma berdiri. Ia tak mendengarkan sekelilingnya, lehernya dimaksimalkan panjangnya agar bisa fokus menangkap siluet pria yang ia cintai.
“Banyu!” tiba-tiba teriakan Irma mengejutkan Kanya. Wanita itu memanggil putranya keluar. Dalam beberapa detik, bayangan pria tinggi dengan segera muncul di sebelah Irma, terlihat agak kaget dengan kedatangan dua orang yang sama sekali tak ia undang. Kanya merindukan wajah itu, merindukan tiap detail yang biasa ia pandangi leluasa.
Berpamitan, Irma menuju ke dalam. Meninggalkan tiga orang yang dengan kikuk memandang satu sama lain seolah mereka semua adalah orang asing yang baru pertama kali berkenalan.
“Kita duduk di sana aja ya.” Memecah kesunyian Banyu melangkah mendahului menuju gazebo. Di susul Baskara, dan terakhir Kanya.
Betapa rindu Kanya menatap punggung itu. Ia ingin memeluknya, namun tak bisa. Punggung itu seolah begitu dingin, penuh duri yang menolak untuk disentuh.
‘Banyu…’