"Sayang, udah cukup?" tanya Hazig.
Nayyara mengangguk pelan. "Si kembar udah mau ujian, Hubby. Emira juga mau ujian kenaikan kelas. Kasihan kalau aku gak ada di samping mereka."
Hazig mengecup bibir manis sang istri. "Kamu tuh gampang banget khawatir sama anak-anak, padahal mereka udah besar semua." Wajah Hazig merengut. "Kamu gak mikirin aku?"
Nayyara tertawa cukup keras. "Kamu tuh bukan lagi udah gede, tapi udah tua!" ledeknya.
"Iya, aku tua, tapi aku tetap paling tampan kalau dibandingkan dengan anak-anak kita," ujar Hazig penuh percaya diri.
Nayyara memutar bola matanya. Wanita itu berlalu meninggalkan Hazig yang kini tercengang.
"Sayang!" teriak Hazig.
"Lebih baik kamu bawa saja koper kita daripada terlalu asyik memuji dirimu sendiri!" sahut Nayyara dari ruang tamu vila.
"Hah, untung aja aku sayang kamu, Nay," gumam Hazig sembari menggeleng geli.
***
Mirza bergegas membuka pintu begitu mendengar suara bel berbunyi. Sesaat kemudian, tubuhnya menegang begitu melihat pasangan yang tak lain adalah sahabat orang tuanya.
"Hai, Mirza!" sapa Felisha.
"Hai, Mami!" balas Mirza beberapa detik kemudian. "Silakan masuk, Mami, Papi!" lanjutnya.
Andre dan Felisha mengangguk kemudian masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa panjang yang tersedia.
"Bunda sama Ayah mana?" tanya Andre.
"Mereka di kamar, Papi, baru sampai soalnya. Mungkin ganti baju dulu," jawab Mirza. "Aku pamit dulu, ya, mau buat minuman."
"Ah, kamu ini! Jangan repot-repot begitu! Kayak sama siapa aja," timpal Felisha.
Mirza tersenyum seraya undur diri dan bergegas ke dapur.
"Eh, Feli!" seru Nayyara.
Pasangan tersebut menoleh lalu tersenyum melihat Nayyara yang jauh lebih baik. Bersama dengan sang suami, wanita itu segera menghampiri sahabatnya dan memeluknya.
"Kangen!" seru Nayyara lagi.
Sementara Hazig dan Andre hanya bisa menggeleng geli.
"Kalau sudah begini, lebih baik kita menghindar saja," ujar Andre seraya mendengus.
Hazig pun mengangguk mengerti.
"Eh, anak-anak kamu yang lain mana?" tanya Andre.
"Mereka belum pulang dari sekolah. Mirza kan suka-suka dia mau pergi jam berapa, tapi katanya tadi dia baru pulang juga pas kami sampai," jawab Hazig.
Andre mengangguk pelan. "Maaf, kami baru ke sini lagi," ujarnya.
"Gak masalah. Setidaknya itu berarti kamu gak amnesia dengan kenangan bersama kami," kelakar Hazig.
"Sialan!" Andre meninju lengan Hazig yang sayangnya masih kekar walau usianya tak muda lagi.
Tak lama kemudian, Mirza muncul dengan empat gelas jus buah naga untuk para orang tua.
"Kopi Ayah mana?" tanya Hazig.
"Ck, kalau mau minta kopi kira-kira dong, Ayah! Tuh, lihat Bunda!" Mirza mengedikkan dagunya.
Hazig pun menoleh ke arah istrinya yang menatapnya garang. Pria paruh baya itu pun tersenyum lebar seraya menggeleng.
"Gak ada kopi, ya!" ujar Nayyara tegas.
"Walaupun secangkir?" Hazig mencoba mengajak istrinya bernegosiasi.
"Secangkir kopi atau tidur di luar pakai tendanya Azzam?" Raut wajah Nayyara semakin tak bersahabat.
"Udah, nurut aja! Daripada gak bisa meluk Bunda nanti malam," celetuk Mirza seraya tersenyum mengejek.
Hazig mendelik pada putra tertuanya. "Mirza!"
"Kabur!" seru Mirza seraya melangkah cepat sebelum sang ayah mengejarnya.
"Ck, udah tua masih aja kekanakan!" ejek Felisha.
"Heh, jangan ngomong sembarangan! Biar aku udah tua, aku masih sanggup ladeni Nay di ran-"
"Hubby!" sergah Nayyara dengan tatapan garangnya.
***
Azzura keluar dari kelasnya dan bergegas melangkah menuju kelas Azzam. Karena tak menemukan kakak kembarnya tersebut, gadis itu akhirnya bertanya pada salah satu teman kelas Azzam.
"Maaf, Azzam mana, ya?" tanya Azzura.
"Oh, gue baru aja lihat dia keluar naik motor," jawab teman Azzam itu.
"Oke, thanks, ya!" tukas Azzura.
Pemuda itu mengangguk lalu berjalan meninggalkan Azzura.
"Ih, jadi kakak gak bertanggung jawab banget! Oliv juga udah pulang duluan. Kalau udah begini, terpaksa aku pulang naik angkot!" sungut Azzura.
Gadis berseragam batik abu-abu dan jilbab dengan warna senada itu pun melangkah meninggalkan kelas Azzam dengan wajah tertekuk.
Saat Azzura sudah berada di depan gerbang sekolah, sebuah mobil yang sangat ia kenali muncul di depannya. Ia pun tersenyum.
"Eh, Kak Mirza! Aku kira Ayah yang jemput," ujar Azzura.
"Ayah sama Bunda lagi ada tamu di rumah. Azzam udah telepon kalau dia pergi ke rumah temannya. Jadi Kakak yang ke sini," ungkap Mirza.
"Ck, kebiasaan banget gak kasih tahu dulu!" Azzura masuk ke dalam mobil dengan wajah merengut.
"Dia lupa, Dek!" Mirza mengelus kepala adiknya.
"Gak usah dibelain, Kak!" sungut Azzura.
Mirza terkekeh, kemudian mengemudikan mobilnya.
"Ayah sama Bunda pulang jam berapa tadi?" tanya Azzura.
"Dua jam yang lalu mereka sampai. Gak lama setelah itu, Papi Andre sama Mami Feli datang," jawab Mirza apa adanya.
"Oh, gitu," timpal Azzura.
Mirza menoleh sekilas lalu kembali fokus ke jalan raya. Melihat wajah muram sang adik tercinta membuatnya tak lagi bertanya.
***
"Gimana dengan Azzura?" tanya Feli.
Nayyara menggeleng. "Dia semakin sibuk belajar."
"Bukannya dulu memang seperti itu?" tanya Feli.
"Azzura memang rajin belajar, tapi kali ini dia seolah enggan berhenti. Aku takut malah berdampak pada kondisi psikologisnya," ujar Nayyara.
Felisha mengusap lengan sahabatnya. "Maafkan aku, Nay, tapi Mas Andre kalau sudah punya rencana gak akan bisa dibantah. Mas Andre melakukannya bukan karena membenci Azzura, tapi demi melindungi persahabatan kita. Dia takut jika perasaan di antara mereka semakin membesar, hubungan kita memburuk. Apalagi ini jelas salah. Dalam keyakinan kita masing-masing jelas tentang pernikahan beda agama. Aku gak perlu menjelaskan ini lebih jauh karena kamu juga paham tentang ini."
"Aku sangat mengerti, Feli. Sebagai ibu, aku hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk anak-anakku."
"Aku juga, Nay. Semoga Tuhan memudahkan langkah anak-anak kita di masa depan," pungkas Felisha.
***
Azzura membuka pintu karena mendengar suara ketukan yang cukup keras.
"Ayah?"
Hazig tersenyum lembut pada putrinya. "Boleh Ayah masuk?"
Azzura mengangguk seraya mundur selangkah, mempersilakan sang ayah masuk ke kamarnya.
"Sedang apa, Nak?" tanya Hazig.
"Lagi baca novel kok, Yah," jawab Azzura.
"Tumben gak belajar?"
"Nanti kepala Zura pecah kalau belajar terus," ucap Azzura.
Hazig terkekeh. "Anak cantik Ayah ini kan pintar kayak Bunda. Insya Allah pasti bisa lulus."
"Aamiin! Eh, ada apa Ayah ke sini? Aku gak sembunyiin apa-apa lho dari Ayah."
"Memangnya salah kalau Ayah ke sini? Sepertinya sudah lama sekali Ayah gak bicara empat mata sama anak Ayah yang ini." Hazig berpura-pura kesal di hadapan Azzura.
Azzura memeluk lengan sang ayah lalu bersandar di bahunya. "Aku juga kangen sama Ayah. Besok jalan berdua, yuk!"
"Kamu ngajak kencan Ayah?" Hazig mengulum senyum geli.
"Aku bosan jalan sama kakak-kakakku, apalagi Kak Azzam. Dia paling gak mau keluar duit soalnya," adu Azzura.
"Oke, tapi pastikan Bunda jangan sampai cemburu sama kamu!" kekeh Hazig.
"Bunda mah gak gampang cemburu. Beda sama Ayah. Dikit-dikit cemburu, padahal anak sendiri," cibir Azzura.
Hazig tergelak seraya memeluk putri kesayangannya.
"Apa pun keinginan kamu akan Ayah turuti, asalkan kamu tetap jadi anak salehahnya Ayah dan Bunda," ucap Hazig, kemudian mengecup kening sang putri tercinta.
"Aku janji, Ayah. Tegur aku kalau suatu hari nanti, aku melakukan kesalahan. Kalian sehat-sehat selalu, ya!" ucap Azzura, lirih.