6. Teguran Lembut

1075 Words
Sejak meninggalkan bandara, tak ada satu pun yang bersuara. Azzam memilih fokus menyetir dan Azzura melihat pemandangan kemacetan jalan raya dari balik kaca mobil yang berembun. Saat mobil berhenti tepat di sebuah taman, Azzam mengulurkan tangannya, mengelus pelan kepala adik kembarnya. Embusan napas kasar terdengar, membuat Azzura menoleh ke sisi kanannya sembari tersenyum tipis. "Jangan merasa terbebani, Kak! Aku baik-baik aja!" "Sejak dulu kau tak pandai berbohong, Zura!" Bukannya mendebat sang kakak, gadis itu malah terkekeh lirih. Perlahan embun yang tertahan di pelupuk matanya menetes. "Kenapa rasanya harus sesakit ini, Zam?" tanya Azzura di sela isak tangisnya. Azzam tak menjawab. Ia justru memegang tangan adik kembarnya yang tengah menggenggam tangan kirinya. "Maaf, Zura. Aku gak bisa jawab." Azzam menghela napasnya. "Perlahan kamu akan menemukan jawaban yang tepat atas semua pertanyaanmu. Sekarang, kamu cukup pasrah, menyerahkan segala rasamu pada Allah. Mungkin saja ini cara Allah menegurmu." Azzura mengangkat wajahnya, menatap mata sang kakak. "Teguran?" Azzam mengusap air mata di wajah cantik adiknya. "Mungkin karena kamu terlalu banyak berharap pada manusia, sampai kamu melupakan Allah. Memang kamu masih salat, tapi apa pernah kamu menyentuh mushafmu lagi? Apa pernah kamu muraja'ah lagi? Tinggal berapa surah yang ada dalam kepalamu?" Azzura tertegun. Pertanyaan dari Azzam tersampaikan dengan lemah lembut, akan tetapi ia seolah tertampar. "Kenapa? Kamu paham maksudku, kan?" tanya Azzam kembali. Azzura hanya mengangguk. Lafaz istigfar terdengar lirih dari lisannya. Azzam mengelus kepala gadis itu. "Sejatinya Allah memberikan rasa cinta di hati para hambaNya untuk disyukuri, bukan untuk diratapi. Kebanyakan dari kita justru melakukan sebaliknya. Memilih meratapi patah hati dibandingkan menghabiskan waktu untuk memperbaiki diri, lupa bahwa Allah bisa saja membuat kita patah hati karena kita yang terlalu terlena dengan perasaan semacam itu hingga kualitas pribadi dan ibadah kita menurun." Azzura kembali dibuat terdiam. Gadis itu menyadari keadaannya. Salatnya yang tak lagi khusyuk serta ibadahnya yang hanya sekadarnya dan sesempatnya saja. Tilawahnya? Ah, ia bahkan lupa kapan terakhir ia menyentuh Al-Qur'an. "Astagfirullah, aku ... aku menyadarinya, Kak," ucap Azzura. Azzam tersenyum. "Kamu boleh menangisi orang yang kamu cintai, tapi jangan berlebihan! Kamu harus kembali menata hatimu meskipun rasanya begitu berat. Kamu gak pernah sendiri, ada Ayah, Bunda, Kak Mirza, aku, dan jangan lupa si centil Emira yang selalu ganggu kita," ujarnya sembari terkekeh. Mau tak mau Azzura juga ikut terkekeh. Ia masih betah bersandar di pundak kembarannya. "Bentar lagi ujian. Jangan sedih-sedih gitu dong! Gak mungkin kan sang juara kelas tiga tahun berturut-turut ini nilainya anjlok cuma mikirin kasih tak sampai." Wajah Azzura menjadi cemberut. Tak lupa ia mencubit pinggang Azzam hingga ia meringis kesakitan. "Inikah hadiah untukku karena menghiburmu? Ah, kau kejam sekali, Adikku!" "Diamlah! Lebih baik temani aku makan mie ayam sekarang!" ajak Azzura dengan sedikit memaksa. "Asal aku ditraktir, ya bolehlah!" timpal Azzam. "Iya, deh! Pokoknya kita berduaan dulu hari ini!" sahut Azzura. "Hahaha ... yang ada orang-orang mikir kita ini pacaran!" kekeh Azzam. "Muka kita mirip gini dibilang pacaran. Lagi pula andai kamu gak punya kumis tipis terus pakai jilbab kayak aku, pasti makin mirip!" celetuk Azzura. "Dasar adik kurang ajar!" Azzura tak peduli dengan wajah garang Azzam. Untuk saat ini, ia ingin melupakan kesedihannya karena ditinggal sahabat yang diam-diam ia cintai. *** "Wah, sering-sering aja, Dek! Kenyang banget ini!" ucap Azzam. Azzura melemparkan tisu yang sudah ia remas membentuk bola. "Yang ada aku bangkrut gara-gara uang jajanku habis!" "Kan bisa gantian! Lagi pula kita bisa minta sama Kak Mirza. Dia kan gak pernah pelit." Azzam meneguk habis jus jeruk miliknya. "Nah, benar juga!" sahut Azzura. Mereka kembali tertawa. Mirza memang dikenal murah hati, tak pernah menolak bila adik-adiknya meminta uang padanya. Mirza juga tak segan mengajak adik-adiknya jalan-jalan untuk menghabiskan waktu bersama. "Pulang, yuk!" Azzam berdiri dan langsung menarik tangan Azzura agar segera keluar dari warung mie ayam langganan* mereka. "Tunggu aku di mobil! Aku mau bayar dulu." Azzam mengangguk lalu segera menuju tempat parkir, sedangkan Azzura menunggu giliran untuk membayar pesanan mereka. "Hai, kita ketemu lagi!" Azzura menoleh ke kanan dan mengernyit bingung, sedangkan laki-laki yang menatapnya tersenyum manis. "Kamu lupa sama aku?" tanyanya. Azzura merasa tak asing dengan wajahnya. Ia berpikir sejenak. Matanya membulat begitu ia mengetahui siapa laki-laki itu. "Kakak yang habis kecelakaan di depan sekolah?" Laki-laki itu tertawa lalu mengangguk pelan. "Iya. Aku pikir kamu udah lupa." "Gimana kakinya?" "Alhamdulillah, udah lebih baik. Sepertinya kamu cocok jadi dokter. Perhatian soalnya." Azzura mengabaikan ucapan laki-laki itu dan segera membayar pesanannya bersama Azzam begitu tiba gilirannya. "Dek, terima kasih, ya kamu sudah menolongku waktu itu." Azzura hanya mengangguk. "Maaf, aku duluan!" ucapnya seraya keluar meninggalkan warung karena tak ingin membuat Azzam menggerutu karena terlalu lama menunggu. "Hei, tunggu!" Belum sempat laki-laki itu mengejar, Azzura sudah menghilang bersama mobil yang gadis itu masuki. "Padahal kita belum sempat kenalan," gumamnya. Ia kembali duduk dan menghabiskan mie ayam yang mulai dingin. Ia memejamkan matanya sejenak, seolah sedang menyimpan wajah Azzura dalam ingatannya. "Aku yakin, kita akan bertemu lagi, Dokterku!" *** Setelah makan malam bersama, Azzura memilih masuk ke dalam kamarnya. Ia duduk di tepi ranjang seraya memandang foto-foto masa kecilnya bersama kedua kakak dan adiknya. Beberapa foto Franklin juga terlihat di sana. Seulas senyum tipis tampak di wajahnya. Jemarinya mengusap pelan foto Franklin yang memang terlihat tampan sejak dini. "Kak, baik-baik di sana, ya! Aku harap segala keinginanmu tercapai. Semoga kamu selalu bahagia meskipun tak ada aku di dalamnya. Untuk melepaskan perasaan ini memang butuh waktu dan aku harap saat kamu kembali, rasa itu gak ada lagi," lirih Azzura. Suara ketukan pintu mengalihkan perhatiannya. "Zura, boleh Bunda masuk?" "Masuk aja, Bunda! Gak dikunci kok!" Nayyara masuk ke dalam kamar Azzura seraya tersenyum. "Gimana tadi sama Azzam?" tanya Nayyara sembari mengusap surai panjang putrinya. "Gak ada yang spesial, kecuali dia makan banyak. Mie ayam dua porsi lho, Bunda!" jawab Azzura dengan wajah merengut. Nayyara tertawa geli. Anak lelakinya yang satu itu memang hobi makan, akan tetapi tubuhnya tetap terlihat kekar karena rajin berolahraga sama seperti suaminya. "Gimana sama perasaan kamu sendiri, Nak?" Azzura menoleh, membalas tatapan lembut sang ibu yang mampu menjadi penawar gundah di hatinya. "Aku tahu kalau ini salah, Bunda," lirih Azzura. Nayyara menggeleng. "Tidak, Sayang. Mencintai seseorang tidak pernah salah. Hanya saja ada yang lebih tinggi daripada sekadar mencintai seseorang, dan sekarang kamu sedang melakukannya, Nak." Azzura mengernyit, bingung dengan maksud sang ibu. "Aku gak paham, Bunda." Nayyara menangkup wajah Azzura sembari tersenyum. "Selain kamu mencintai seseorang seperti kamu mencintai dirimu sendiri, kamu juga sedang mencoba mencintai Allah dan RasulNya dengan mempertahankan imanmu. Bunda hanya bisa berharap, semoga Allah meneguhkan hatimu, Nak."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD