5. Terpaksa Mundur

1097 Words
Cahaya langit pagi ini tak secerah biasanya. Sang surya seolah sedang bersembunyi di balik awan, enggan memberikan kehangatannya. Perlahan, tetesan air turun dari langit disertai angin yang berembus cukup kencang. Tentu saja semua orang memilih kembali menutup rapat tubuhnya dengan selimut sekaligus melanjutkan tidurnya di akhir pekan. Berbeda dengan gadis bermata coklat yang sedang menatap hujan dari kaca jendela kamarnya. Sejak subuh ia sudah duduk di tepi ranjang sembari memeluk dirinya sendiri. Beberapa kali ia menghela napas untuk menghilangkan rasa sesak yang ia rasakan sejak semalam. Ia menekan sensor sidik jari ponselnya. Ia membuka aplikasi chatting dan membuka salah satu room chat. Alice: Kak Zura, Kak Franklin besok pagi mau berangkat ke bandara. Mau ikut, gak? Kalau mau, Kakak langsung aja ke bandara. Pesawatnya berangkat jam sembilan pagi. Azzura tak membalas pesan itu semalam. Alice pun berulang kali spam chat padanya, akan tetapi ia tetap tak bergeming. Ia tetap berdiam diri hingga beberapa saat kemudian, suara ketukan pintu yang sangat keras terdengar. Gadis itu mendengus kesal karena ia tahu siapa pelakunya. Ia bergegas membuka pintu hendak memarahi kakak kembarnya. Namun, saat ia membuka pintu, ia dibuat terdiam oleh sang kakak. "Cepat siap-siap! Sarapannya di mobil aja karena aku udah bilang sama Bunda kalau kita pergi pagi-pagi!" perintah Azzam. "Apa sih! Kita mau ke mana coba?" Azzura merengut seraya memalingkan wajahnya. "Eh, Franklin bakal pergi. Emang Alice gak chat? Ah, aku yakin dia gak bakal lupa, cuma kamu berlagak gak peduli!" "Gak! Kamu aja yang pergi kalau mau!" Azzura masih tetap pada pendiriannya. Azzam yang mulai kesal langsung masuk ke kamar Azzura dan mengambil handuk untuk adik kembarnya. "Buruan mandi! Aku tunggu di sini!" cetus Azzam. "Kak Azzam!" "Zura, gak ada gunanya berpura-pura! Kalian perlu saling bicara secara baik-baik sebelum dia pergi!" "Apa lagi yang harus kubicarakan sama dia? Tetap saja aku gak bisa sama dia untuk selamanya!" pekik Azzura. Azzam mendekati adik kembarnya lalu memeluk erat dirinya. "Justru ini kesempatanmu, Zura. Melepaskan dia secara baik-baik dan tetap menjadi sahabatnya. Berat memang, tapi percayalah akan takdir indah dari Allah untuk kamu." Tangis Azzura semakin menjadi, sedangkan Azzam masih berusaha menenangkan sang adik dengan mengelus punggungnya. "Aku salut padamu yang memilih menahan diri dari hal yang telah Allah larang. Aku yakin, secara perlahan Dia akan mendatangkan seseorang yang akan menjadi penyempurna agama dan hidupmu," lirih Azzam. Azzura mengurai pelukannya seraya mengangguk. Azzam tersenyum lalu mengusap perlahan air mata yang masih menetes. "Cepat mandi! Aku tunggu di sini," ucap Azzam dengan nada yang lebih lembut. Azzura tak menjawab. Ia memilih bergegas ke kamar mandi setelah mengambil pakaian yang akan ia pakai. *** Franklin dan keluarganya berdiri di depan pintu masuk bagian keberangkatan. Matanya sesekali tertuju pada jam tangan yang selalu ia kenakan. Jam tangan pemberian Azzura saat ia berulang tahun setahun yang lalu. Mengingat hal itu, ia tersenyum tipis. "Kak, si kembar udah hampir sampai," ujar Alice, adiknya. "Benarkah?" tanya Franklin. Alice mengangguk. Felisha terus memperhatikan putranya dengan tatapan sendunya. Ia yakin Franklin begitu berat meninggalkan tanah kelahirannya. Sebagai seorang ibu, ia hanya bisa mendoakan kebaikan untuknya. "Tuhan, aku percayakan putraku pada penjagaanMu. Berkatilah dia di mana pun dia berada." Lima belas menit kemudian, sepasang remaja berlari mendekati mereka. Azzam dan Azzura menjabat tangan Andre dan Felisha secara bergantian. "Kalian naik apa?" tanya Andre. "Naik mobil, Papi. Itu pun agak ngebut biar gak terjebak macet," jawab Azzam. Andre mengangguk pelan seraya tersenyum hangat. Ia menoleh ke arah Azzura yang tetap menunduk. Tangannya terulur mengusap pelan kepala putri sahabatnya yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri. Sentuhan penuh kasih itu menyadarkan Azzura, membuatnya mendongak sembari tersenyum. "Apa kabar, Nak? Lama kita tak bertemu," tanya Andre. "Alhamdulillah, baik, Papi," jawab Azzura. "Zura, sini!" Azzam yang berdiri di depan Franklin memanggilnya. Azzura tak bisa berkutik. Dengan helaan napas lirih, ia berjalan pelan hingga ia berada di samping kakak kembarnya. "Aku ke sana dulu," bisik Azzam seraya menunjuk sebuah kursi panjang tak jauh dari posisi mereka saat ini. "Silakan bicara! Aku awasi kalian dari sana." Azzam mengusap kepala Azzura yang tertutup jilbab. Azzura mengangguk patuh. Ia pun melirik Franklin yang masih setia menatap wajahnya, membuat gadis itu sedikit gugup. "Aku pikir kamu gak akan datang," ucap Franklin. "Kenapa bilang begitu?" tanya Azzura "Karena kamu gak balas pesanku dan pesan Alice. Aku pikir aku gak akan melihat senyumanmu sebelum aku pergi." "Kak Franklin," lirih Azzura. "Maafkan aku, Zura. Aku gak bisa menemanimu lagi," ujar Franklin sembari menahan sesak yang kembali hadir. "Gak apa-apa, Kak. Bukankah ini impianmu? Seperti yang sempat aku bilang, apa pun jalan yang kamu pilih, aku akan selalu mendukungmu. Meskipun kita berjauhan, aku akan mendoakan kebaikan untukmu. Kita kan bersahabat sejak kita masih bocah." Franklin terkekeh geli. "Iya, kamu adalah bayi menyebalkan waktu itu. Suka banget cubit-cubit aku!" Azzura mau tak mau ikut tertawa. Mengenang masa kecil mereka adalah hal yang paling sering mereka lakukan dulu. "Kamu menyebalkan, tapi aku tetap cinta kamu, Zura," batin Franklin. "Kak, aku juga minta maaf kalau aku sudah menyakiti hatimu," ujar Azzura. Franklin menggeleng pelan. Ingin rasanya ia menggenggam tangan Azzura, akan tetapi ia harus menahannya karena sejak Azzura memahami ajaran agamanya, ia menghargai gadis itu dengan tak menyentuhnya. Franklin sangat ingin menertawakan nasibnya. Jangankan menyentuh tubuh gadis yang ia cintai, membayangkan ia akan selalu bersama Azzura saja ia sudah diharamkan. Ia tak pernah menyalahkan siapa pun, kecuali dirinya sendiri. Ya, dirinya yang terlanjut mencintai seorang Muslimah taat seperti Azzura. "Kak, udah waktunya masuk." Suara gadis enam belas tahun memecah keheningan di antara mereka berdua. Franklin tersentak lalu menoleh ke arah adiknya. Ia mengangguk dan melirik Azzura yang kembali menunduk. Ia mengambil ponselnya dan mengangkat dagu Azzura dengan ponsel itu. "Jaga diri baik-baik, ya! Semoga kamu lulus ujian!" ucap Franklin, tulus. "Insya Allah, Kak. Kak Franklin juga harus jaga diri, ya!" balas Azzura. "Sip!" sahut Franklin seraya mengacungkan jempolnya. Ia menoleh pada Azzam yang sudah berjalan mendekati mereka. Franklin memeluk erat Azzam yang juga dibalas Azzam. "Please, jaga Zura!" bisiknya. "Tentu saja. Dia adik gue! Gue bakal jaga sampai ada seseorang yang bakal jagain dia!" Franklin tersenyum getir. "Gue ikhlas kalau Zura udah ketemu pria lain, Zam." Azzam hanya bisa menepuk pelan pundak Franklin, menguatkan sahabatnya. "Gue juga berharap lo dapat cewek baik-baik yang bisa lo cintai." Azzam, Azzura, Franklin, dan Alice mendekati Andre dan Felisha. Franklin memeluk erat kedua orang tuanya dan adiknya bergantian. Setelah melepas pelukannya, ia kembali menatap Azzura dengan mata berkaca-kaca. "Aku ikhlas melepasmu, Zura. Aku harap akan datang seseorang yang bisa mencintaimu melebihi cintaku untukmu," batin Franklin. "Pada akhirnya, aku harus menyerah. Aku mencintaimu, tapi aku memilih taat pada perintah Tuhanku. Semoga kelak kita bertemu kembali dengan kebahagiaan masing-masing," batin Azzura.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD