4. Polah Ayah Hazig

1005 Words
"Assalamu 'alaikum!" Emira yang mendengar ucapan salam dari luar segera berlari keluar dari dapur menuju pintu depan menyambut kedatangan kedua orang tuanya. "Bunda, Ayah!" Azzura yang baru selesai memasak langsung mematikan kompor dan melepas apronnya, lalu keluar menyusul adik bungsunya. "Wa 'alaikumussalam, Bunda, Ayah!" Pasangan paruh baya itu tersenyum seraya menerima sambutan anak-anak gadisnya. "Ayah sama Bunda pasti lapar, kan? Aku baru selesai masak," ucap Azzura. "Iya, Nak. Bunda sama Ayah mandi dulu," sahut Nayyara. Pasangan paruh baya itu segera masuk ke dalam kamar mereka dengan membawa barang yang cukup banyak. Nayyara segera duduk di tepi ranjang disusul sang suami yang meletakkan barang-barang bawaan mereka. "Mau mandi?" tanya Hazig. "Kamu duluan aja. Aku mau duduk sebentar," jawab Nayyara. Hazig tersenyum lalu berlutut di hadapan perut istrinya. "Nak, jangan bikin Bunda susah, ya!" ucapnya seraya mengelus perut sang istri. Nayyara terkekeh geli lalu mengacak gemas rambut Hazig yang mulai memutih. Meskipun usia pria itu sudah separuh abad, ia tetap masih terlihat tampan. "Bisa-bisanya kamu bikin aku hamil lagi," ujar Nayyara disertai senyuman geli. "Rezeki Allah tak boleh ditolak, Sayang. Bahkan setelah ini aku masih sanggup bikin kamu ... aduh!" "Malu sama umurmu, Hubby!" sungut Nayyara. "Lagi pula aku rindu suara bayi di rumah ini, Sayang. Anak-anak kita belum ada yang mau nikah!" rajuk Hazig. "Tentu saja mereka belum mau nikah. Mirza masih fokus merintis kafenya dan yang lain masih sekolah," ucap Nayyara. Hazig merengut, akan tetapi ia tetap betah dengan posisinya. "Nay, sehat-sehat, ya! Jangan sampai kelelahan!" Mata hazel Hazig menatap penuh cinta sang istri yang telah menemaninya selama delapan belas tahun itu. "Kamu juga jangan terlalu menguras tenagamu dalam bekerja!" sahut Nayyara sembari mengusap rambut Hazig. "Berarti kalau aku menguras tenaga di ranjang tak masalah, kan ... aduh!" "Dasar aki-aki nakal!" Nayyara berdiri lalu berjalan memasuki kamar mandi dan menutup pintunya dengan sedikit keras. Wanita itu kesal karena suaminya merusak suasana romantis mereka dengan pikiran kotornya. "Sayang! Bukankah kamu ingin melakukannya di kamar mandi?" teriak Hazig. "Dasar aki-aki gila!" balas Nayyara. Tawa Hazig meledak. Ia tak menyangka wanita yang ia cintai masih sama seperti saat awal pernikahan mereka. "Lagi-lagi kamu berhasil membuatku tergila-gila, Nay," gumamnya. *** Ucapan salam Mirza memecah keheningan kediaman orang tuanya. Wajahnya langsung semringah begitu melihat wajah ayah dan ibunya. Ia mengecup punggung tangan mereka secara bergantian lalu duduk di kursi kosong tepat di samping Emira. "Lho, Azzam mana?" tanya Mirza. Ia heran karena tak melihat keberadaan salah satu adiknya. "Lagi mandi, Kak," sahut Azzura singkat. "Eh, adik cantikku ini kenapa? Kusut gitu mukanya." Mirza bingung melihat raut wajah Azzura. "Tanya sendiri sama Ayah!" Azzura mengedikkan kepalanya pada sang ayah yang terlihat tersenyum. "Ada apa sih, Ayah?" "Bunda kalian hamil lagi," jawab Hazig seraya merangkul sang istri yang menikmati masakan putrinya. "What? Ayah gak lagi bercanda, kan?" pekik Mirza. "Apa wajah Ayah terlihat sedang bercanda?" tanya Hazig balik. "Ayah gak khawatir sama kondisi Bunda? Usia Bunda kan udah gak memungkinkan untuk hamil lagi." Azzura mengangguk setuju. Berbeda dengan Emira yang begitu senang karena akan memiliki adik. "Bunda hamil lagi? Wah, Ayah sungguh terlalu!" celetuk Azzam tiba-tiba. Remaja itu langsung duduk di samping adik kembarnya. Hazig terkekeh melihat respon anak-anaknya yang berbeda-beda. Lain halnya dengan sang nyonya yang masih asyik mengunyah. "Ini gara-gara Ayah menyembunyikan pil kontrasepsi Bunda setiap kali Bunda beli. Tahu-tahu semua pil itu berakhir di tempat sampah. Mubazir banget!" "Lebih mubazir mana sama benihku yang gak jadi-jadi?" "AYAH!" teriak anak-anaknya, kecuali Emira. Hazig hanya bisa meringis karena mendapat tatapan tajam dari anak-anaknya. Berbeda dengan sang istri yang langsung memberikan cubitan di lengannya. "Sayang!" Hazig hendak protes, akan tetapi tatapan Nayyara mencegahnya. "Lebih baik kalian makan!" Mereka mengangguk patuh pada sang ratu di rumah itu. "Pokoknya Ayah harus sering-sering perhatiin kondisi Bunda. Jangan sampai kayak dulu lho!" ucap Mirza. Meskipun Mirza bukan anak kandung Nayyara, pemuda itu sangat memperhatikan sang ibu. Sifat posesif Hazig benar-benar turun padanya. "Iya. Ayah bakal jagain Bunda. Insya Allah besok kami mau ke dokter kandungan," sahut Hazig. "Ayah, aku juga janji gak akan bikin repot Bunda lagi," imbuh Emira. Nayyara tersenyum mendengar ucapan anak bungsunya. "Memangnya kapan Emira bikin repot Bunda?" "Kan aku yang paling susah bangun salat Subuh." Nayyara meletakkan sendoknya di atas piring yang sudah bersih dari makanan. Ia usap perlahan rambut panjang gadis kecilnya. "Kalau begitu, mulai sekarang belajar bangun subuh sendiri, ya!" "Iya, Bunda. Aku janji!" ucap Emira. "Habiskan makananmu, terus belajar!" Nayyara menoleh ke arah Azzam dan Azzura. "Gimana persiapan kalian untuk ujian?" "Alhamdulillah, baik-baik aja, Bunda," sahut Azzam. "Kalian mau ikut bimbel, gak?" tanya Nayyara. "Saat ini aku belum bisa, Bunda. Masih harus selesaikan amanah di Rohis sama di PMR dulu," jawab Azzura. "Iya, deh! Yang jadi aktivis!" ledek Azzam. "Daripada kamu, habis sekolah langsung main game!" balas Azzura. "Hei, biar aku hobi main game, tapi aku masih juara kelas tahu!" Hazig dan Nayyara hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah anak kembar mereka. "Ayah, aku mau bicara berdua sama Ayah. Boleh?" tanya Mirza. Hanya mengangguk. Ia pun meminum air putihnya setelah selesai makan. Ia berdiri dan meminta Mirza mengikutinya menuju ruang kerjanya. *** "Sepertinya serius sekali. Ada apa, Nak?" tanya Hazig. Mirza menghela napas sejenak lalu kembali menatap sang ayah. "Ini soal Franklin yang masih mendekati Azzura, Ayah." Hazig berdiri membelakangi putranya. "Franklin memang sangat menyayangi Azzura sejak kalian masih kecil. Ayah pun juga gak sampai hati membuat mereka berjarak. Terlebih lagi Papi Andre dan Mami Felisha juga sayang sama kalian seperti anak mereka sendiri. Hanya saja, sebagai seorang Ayah, Ayah harus berusaha agar iman Islam kalian tetap terjaga tanpa merusak persahabatan kita dengan keluarga mereka selama ini." "Apa yang akan Ayah lakukan? Jujur, Yah, aku sering lihat Azzura melamun akhir-akhir ini," lirih Mirza. "Sebaiknya kita jangan ikut campur, Nak! Ayah yakin, Azzura punya caranya sendiri untuk menyembuhkan hatinya. Dia gadis yang gak akan mudah putus asa pada takdir Allah. Kita cukup mengawasi dari jauh," pungkas Hazig. Mirza mengangguk tanda setuju. Hazig pun berbalik lalu tersenyum penuh makna pada putra pertamanya, membuat Mirza mengernyit bingung. "Ayah kenapa senyum-senyum gak jelas begitu?" "Kamu kapan bawa menantu buat Ayah?" "Ya Allah, Ayah!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD