Setelah melalui perjalanan selama kurang lebih satu setengah jam via jet pribadi milik keluarga Leon, akhirnya mereka sampai di Venice. Apartment mereka berada tepat di jantung kota Venesia, hanya beberapa langkah saja dari Basilica San Marco, juga beberapa langkah dari Rialto bridge.
Jembatan itu menjadi ikonik kota Venesia, yang telah berusia lebih dari 400 tahun. Jembatan pertama yang membuat warganya bisa menyeberangi Grand Canal dengan hanya berjalan kaki. Jembatan yang juga dinobatkan sebagai salah satu jembatan terkenal di dunia, yang semakin terkenal sejak Hydro Man mengamuk di kawasan jembatan itu, di salah satu scene film Spider-Man.
Aletta, Leia dan Aurora tinggal di unit Apartment yang sama,
"Leia, kamu mau sekamar denganku atau Aletta?" tanya Aurora sambil berdiri di sisi Leia yang tengah memandangi Grand Canal di depan balkon kamarnya, atau yang wanita itu pikir itu adalah kamarnya.
Karena sejak sampai di unit Apartment dengan dua kamar itu, Leia langsung memasuki kamar ini. Memang kamar sebelahnya juga memiliki balkon, tapi entah kenapa kakinya telah melangkah ke kamar ini terlebih dulu.
"Terserah, sendiri juga tidak masalah," jawab Leia sambil memeluk dirinya karena hembusan angin. Saat ini sudah mulai memasuki musim gugur, jadi suhu udara mulai turun, dan kemungkinan sesekali akan turun hujan. Suasana Venice pun tidak seramai saat musim panas.
Beruntungnya mereka ke kota itu pada awal September, karena akan banyak diselenggarakan bermacam festival seperti Festival Film Internasional Venesia yang penuh glamor, yang pemutaran perdananya akan dihadiri banyak bintang di Pantai Lido, yang biasanya diadakan dari akhir bulan Agustus hingga awal bulan September. Atau sekedar mengunjungi pantai-pantai selatan untuk menikmati cuaca hangat yang tersisa dari musim panaspun sudah cukup menyenangkan.
"Kasihan Aletta, aku tidak terlalu akrab dengannya. Bagaimana kalau kamu berdua Aletta, biar aku yang sendiri?" saran Aurora.
Leia mengalihkan perhatiannya dari keramaian lalu lintas air di Grand Canal, ke sepupunya yang selalu terlihat luar biasa cantik itu,
"Kamu tidak apa-apa tidur sendiri? Bagaimana kalau kita tidur bertiga saja di kamar ini?" tanyanya.
Aurora memutar kedua bola matanya, lalu menunjuk ke arah tempat tidur dengan size queen itu,
"Kita tidak akan muat bertiga di sana, Leia ... "
"Ada sofa bed, biar aku tidur di sofa bed saja."
"Jangan menyusahkan diri sendiri saat ada satu kamar lagi di unit ini. Sudah kamu di sini bersama dengan Aletta biar aku tidur di kamar sebelah, ok?"
Aletta yang berdiri di ambang pintu hanya melihat perdepatan kedua sepupu itu dalam diam. Perang dingin jelas terlihat di antara mereka berdua.
"Kita berdua tidur di sini, Aletta!" seru Leia.
Sambil menyeringai lebar, Aletta menarik kopernya masuk ke dalam kamar, lalu menghampiri Leia dan Aurora,
"Waahhh, pemandangannya indah sekali. Aku serasa berada di dalam film Spider-Man!" seru Aletta dengan tatapan terpukaunya.
"Sepertinya hari ini kita masih free. Bagaimana kalau kita menelusuri kota ini?" saran Leia. Tanpa pikir panjang lagi Aurora dan juga Aletta mengangguk setuju.
"Hanya kita saja bertiga? Para pria tidak ikut kan?" tanya Aletta.
Ia sangat tidak ingin menemui Leon, yang selalu tebar pesona padanya. Cukup selama di dalam pesawat saja ia merasa pusing dengan tingkah tengil pria narsistik itu, yang untungnya Leia segera meminta pria itu bertukar tempat dengannya.
"Tidak usah, kita saja," jawab Leia.
"Tapi kita baru saja menginjakkan kaki di kota ini, Leia. Bagaimana kalau kita nyasar? Dari yang aku dengar, gang-gang kota ini terlihat sama semua." Aurora terdengar khawatir.
"Aku sudah beberapa kali ke kota ini, Aurora. Dan bisa dibilang cukup hafal dengan seluk-beluknya. Lagian sekarang sudah serba canggih, kita bisa mencari jalan dengan maps, jadi tidak perlu khawatir tersesat."
"Ok, kalau begitu aku ganti baju dulu!" seru Aurora sebelum berlari kecil menuju kamarnya.
"Kamu mau ganti baju juga, Aletta?" tanya Leia.
Kedua mata Aletta menyusuri dirinya sendiri, ke jeans belelnya, juga ke kaos hariannya yang terlihat longgar,
"Apa ada yang salah dengan bajuku?" tanyanya.
"Tidak, aku pikir kamu akan ganti baju juga seperti Aurora," jawab Leia sambil mengibas tangannya.
"Memangnya berapa kali dalam sehari sepupumu itu bisa ganti baju?"
"Ummm, paling sedikit tiga kali. Aurora selalu memperhatikan penampilannya. Ada noda sedikit saja pada bajunya, dia akan langsung menggantinya."
"Ya Tuhan! Ganti baju sudah seperti minum obat saja, sehari tiga kali," gumam Aletta.
"Apa kita akan ke jembatan tempat Spider-Man bergelayutan itu?" tanya Aletta lagi penuh rasa ingin tahu.
Sahabatnya itu memang sangat menggemari pria laba-laba itu, bahkan mengoleksi beberapa posternya.
"Rialto Bridge? Ya, kita akan ke sana nanti," jawab Leia, lalu tersenyum usil,
"Tapi please, kamu jangan gelantungan di sana yaa, nanti dikira mau bunuh diri," ledeknya.
"Astaga, aku tidak segila itu, Leia," sungut Aletta dan Leia tergelak.
"Aku sudah siap!" seru Aurora dari ambang pintu.
Kali ini sepupunya itu terlihat santai, kasual, namun tetap modis dengan cropped top yang dipadukan boyfriend jeans, yang menghasilkan gaya chic dan kekinian. Sepatu ketsnya semakin menambah sempurna penampilannya itu.
Memangnya sejak kapan Aurora tidak terlihat sempurna?
"Bagaimana kalau ada yang mengenalimu, Aurora?" tanya Leia. Siapa yang tidak akan kenal dengan model papan atas itu.
"Tenang saja, aku sudah menyiapkan ini!"
Aurora memperlihatkan topi baseball dan kaca mata hitamnya, yang membuatnya tidak akan terlihat mencolok di antara kerumunan.
"Kamu yakin kedua benda itu bisa menyamarkanmu?"
Aurora memakai topi baseballnya, lalu kacamata hitamnya, dan harus Leia akui memang penampilannya menjadi sedikit samar, meski rambut pirang indahnya akan selalu menjadi pusat perhatian.
"Bagaimana?" tanyanya sambil merentangkan kedua tangannya, menampilkan bagian bawah perutnya yang rata dan mulus, dengan bentuk pusar yang terlihat sempurna. Wajar saja kalau sepupunya itu percaya diri saat mengenakan cropped top.
"Bagaimana dengan rambutmu?"
Aurora melepas topi baseballnya, lalu menyelipkan rambutnya ke pengait belakang topinya dan memakainya lagi, pengait topi itu seperti menguncir rambut Aurora. Membuat penampilan wanita itu kini terlihat layaknya wanita pada umumnya.
"Bagaimana?" tanyanya lagi.
"Ya, jauh lebih baik," jawab Leia.
"Nah, tunggu apalagi? Ayo kita jalan sekarang!" seru Aletta yang sudah tidak sabar ingin melihat Rialto Bridge. Pintu baru saja mengayun terbuka ketika Leuis telah berdiri di depan unit mereka,
"Mau ke mana kalian?" tanyanya sambil melihat Aurora, Leia dan juga Aletta bergantian.
Karena tertangkap basah, akhirnya mau tidak mau mereka pun mengizinkan para pria ikut bersama mereka. Aurora menyambut mereka dengan tangan terbuka, tapi tidak dengan Leia dan Aletta. Mereka berdua justru tengah menghindari para pria itu.