Tidak ada jalan besar di Venesia, hanya ada jalan kecil dan sempit. Gang yang hanya bisa dilewati oleh orang-orang bukan kendaraan. Satu-satunya alat transportasi di sana hanyalah gondola dan vaporetto, sejenis water bus atau taksi air sebagai transportasi publik. Mereka sudah menyebrangi beberapa kanal dan menelusuri sejumlah gang sempit, hingga mereka kelelahan dan bersantai sejenak di kafe.
Aletta mendesah pelan saat duduk di salah satu kursi di kafe itu. Ia tidak bisa duduk bersama dengan Leia dan Guzmân, apalagi duduk bersama bossnya Leuis. Jadi ia memilih meja lain, meja yang hanya terisi satu kursi saja supaya si pria narsistik nan tengil itu tidak mendekatinya lagi.
Leon tadi tertinggal jauh dari mereka karena matanya terlalu sibuk jelalatan, apalagi kalau ada yang bening-bening. Entah pria itu bisa menemukan mereka atau tidak, itu bukan urusan Aletta. Tapi sepertinya dewi fortuna belum berpihak padanya, karena saat Aletta sibuk membolak-balik buku menu, suara yang kini tidak asing di telinganya itu kembali terdengar,
"Kenapa kamu selalu menghindariku?" tanya Leon sambil menarik satu kursi ke sebelah kursi Aletta.
Sambil memutar kedua matanya, Aletta menutup buku menu itu dengan kasar, sebelum memberikan tatapan tidak sukanya secara terang-terangan pada pria itu,
"Masih banyak kursi yang kosong di sini! Harus yaa duduk satu meja denganku?"
"Hei, kamu tidak boleh bersikap tidak sopan seperti itu padaku, aku kakak dari sahabat baikmu," teggur Leon dengan santai, bibir pria itu kembali memainkan tusuk giginya.
"Aku tidak percaya kalau keluarga terhormat seperti itu mau memelihara buaya!" cibir Aletta sambil kembali fokus pada buku menunya. Tidak ada satupun menu yang ia suka.
"Buaya?" ulang Leon. Ia mencondongkan dirinya ke arah Aletta, "Itu pasti aku," tebaknya sambil menyeringai lebar.
'Astaga! Pria ini benar-benar tidak tahu malu!' batin Aletta.
"Bagus kalau kamu sadar diri!"
Leon merebut buku menu dari tangan Aletta, yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari wanita itu,
"Mau kamu apa sih?" tanya Aletta dongkol.
"Mau aku hanya kamu ... " Leon tersenyum menggoda, Lalu dengan sama percaya dirinya bertanya, "Maukah kamu menjadi pawangku?"
Aletta pun menyeringai lebar. Merasa telah memenangkan hati Aletta, senyum Leon mengembang tidak kalah lebarnya dari wanita itu.
"Ya aku mau. Tapi bukan untuk menjadi pawangmu, melainkan penjagalmu! Aku akan mengulitimu untuk dijadikan sebuah tas, sepertinya dengan begitu kamu bisa menjadi lebih berguna!" jawab Aletta, lalu mencondongkan sedikit tubuhnya pada pria itu,
"Tenang saja, nilai jualmu masih tetap tinggi!" lanjutnya dan senyum lebar seketika menghilang dari wajah Leon.
Aletta melihat Leia yang tengah serius dengan Guzmán, begitu juga Aurora dengan Leuis. Jadi tanpa mengindahkan geraman pelan Leon, ia segera bangkit dan melangkah keluar kafe.
'Seharusnya aku tidak ikut pergi ke kota ini, ya kan? Menyebalkan! Benar-benar menyebalkan!' sungutnya dalam hati.
"Kalau tahu pria itu ikut juga, aku pasti akan mencari ribuan alasan untuk membatalkan keberangkatanku!"
Sambil terus menggerutu kesal, Aletta terus jalan menyusuri gang-gang sempit, hingga harus memutar balik lagi setelah menemui jalan buntu, dan pada saat pikirannya sudah mulai tenang, ia baru menyadari kalau ia telah pergi terlalu jauh dari kafe tadi.
"Ya Tuhan! Bagaimana ini?"
Aletta mengedarkan pandangannya ke bangunan tua di sekitarnya. Semua nampak sama, meskipun bangunan tua tapi tetap terlhat rapi dan bersih, begitu juga dengan tiap gang yang ia lewati tadi.
'Maps! Ya benar maps!' ia berseru dalam hati lalu mengeluarkan ponselnya.
Jemarinya baru akan mengetik sesuatu tapi terhenti di udara,
"Kafe tadi namanya apa ya?"
Aletta mencoba mengingat-ingat lagi nama kafe itu. Ia memfokuskan ingatannya pada saat membuka buku menu, dan mencoba mencari-cari nama kafe di buku menu tadi tapi nihil, bahkan daftar menunya terlihat kabur dalam ingatannya.
"Astaga, jangankan nama kafe tadi, bahkan nama Apartmentnya pun aku tidak tahu. Tidak lucu sekali kalau aku tersesat di sini."
Tepat pada saat itu ponselnya berdering, nama Leia menari-nari di layar ponselnya dan ia langsung menerima panggilan itu dan mendekatkan ponselnya ke telinganya,
"Kalian di mana? Kami semua khawatir," tanya Leia dengan suara yang terdengar panik.
"Kalian? Aku hanya sendiri, Leia. Dan aku tersesat," jawab Aletta.
"Tersesat? Bagaimana bisa? Lalu di mana Leon? Benar dia tidak sedang bersamamu?" cecar Leia.
"Aku benar-benar sendiri Leia, aku tidak tahu keberadaan Leon dan aku tidak akan peduli! Sekarang beritahu aku apa nama kafe tadi?"
"Kami sudah tidak di kafe lagi karena langsung mencarimu tadi. Lebih baik kita berkumpul di Rialto Bridge saja, kamu arahkan mapsmu ke sana!" saran Leia.
"Ok!" balas Aletta sebelum memutuskan sambungan teleponnya.
Rialto Bridge, ketiknya dan maps segera mengarahkannya ke jembatan yang menjadi ikonik kota itu, layaknya permainan mencari jejak saja. Sementara gang-gang sempit di kota ini seperti sebuah labirin besar, dan ia sangat membenci labirin.
Karena labirin di taman itu, telah merenggut nyawa kedua orang tuanya, menyisakan trauma yang teramat dalam untuknya. Dan untungnya saat ini serangan panik itu tidak datang.
Aletta terus melangkah mengikuti jalur yang telah di arahkan maps itu. Keluar dari gang satu dan masuk ke gang lainnya, dan rasanya ia tidak percaya kalau ia telah melangkah sejauh ini.
Sampai akhirnya suara ribut-ribut mengalihkan perhatiannya dari layar ponselnya, tepat saat seorang pria tengah melayangkan tinjunya ke perut pria lain, yang langsung meraung kesakitan sambil membungkuk dan memegang perutnya itu. Dan kaki Aletta seolah terpaku ke bumi, kedua netranya membola melihat perkelahian itu, membawa ingatannya ke masa kecilnya, hingga tubuhnya seketika bergetar hebat saat itu juga.
Entah berapa lama Aletta terus terpaku seperti itu hingga lengan seseorang merangkul pinggangnya, dan mendorongnya lembut hingga punggungnya menyentuh dinding, bersamaan dengan kedua tangannya yang ditahan ke dinding itu juga.
"Maaf, dia wanitaku yang mencoba kabur dariku, anggap kami tidak melihat apa pun!" seru Leon pada seseorang yang kini berdiri di belakangnya.
Pria itu masih menatap tajam ke arah punggung Leon, juga ke wajah Aletta yang masih terlihat syok. Leon mengumpat pelan saat pria itu tidak kunjung menjauh dari mereka, tidak ada cara lain lagi untuk meyakinkan mereka kalau Aletta adalah kekasihnya.
"Mencoba kabur lagi, manisku? Aku tidak akan pernah melepaskanmu!" serunya pada Aletta sebelum menunduk dan melumat bibir wanita itu dengan rakus.
Seketika Aletta menjadi sadar, ia segera menggigit bibir Leon dan menendang juniornya dengan lututnya, tapi Leon sudah mengantisipasinya hingga pria itu bisa menghindar.
"Cukup satu kali saja kamu menyentuh adikku dengan lututmu itu, manisku," kekehnya.
"Kamu memang berengsek!" geram Aletta. Ia berusaha melepas kedua tangannya, tapi genggaman pria itu terlalu kuat.
Alih-alih melepaskan, Leon malah membopong Aletta ke pundaknya, layaknya membopong satu karung beras. Ia menyeringai lebar pada pria yang masih memperhatikan mereka dengan seksama,
"Maaf, saya harus memberi pelajaran kepada kucing liar saya ini!" serunya sambil memukuli b****g Aletta dan melangkah menjauh dari sekumpulan pria tadi.
"Aarrgghh! Sakit! Turunkan aku!"
Aletta meronta-ronta dengan kedua kakinya yang menendang udara, sementara tangannya memukuli punggung Leon.
"Diam! Aku sedang menyelamatkanmu!" geram Leon pelan sambil terus berharap sekumpulan pria tadi melepaskan mereka.
Bukan karena Leon takut, tapi ia sedang tidak ingin berkelahi dan membuat wajah tampannya terluka.