Bab 11 - First Kiss

1191 Words
"Diam! Aku sedang menyelamatkanmu!” geram Leon pelan sambil terus berharap sekumpulan pria tadi melepaskan mereka. Bukan karena Leon takut, tapi ia sedang tidak ingin berkelahi dan membuat wajah tampannya terluka. "Menolongku apa? Dasar buaya! Kamu telah merenggut paksa ciuman pertamaku tadi! Aku tidak akan menerimanya! Turunkan aku sekarang juga!" raung Aletta berontak. "Kalau kamu tidak mau menerimanya, kamu bisa kembalikan lagi ciuman itu padaku!" balas Leon dengan santai dan senyuman penuh pesonanya. "Dalam mimpi! Turunkan aku, berengsek!” Setelah masuk ke gang lainnya, Leon baru menurunkan Aletta, dan kembali menghindar saat wanita itu melayangkan pukulannya, "Kamu tidak bisa melawanku, kurcaci!" ledek Leon, setelah membekuk Aletta kembali, ia melirik ke belakangnya dan mulai bisa bernapas lega, karena para pria tadi tidak mengikuti mereka. Tapi rasa lega berubah menjadi marah, saat teringat nyawa wanita di depannya ini tadi nyaris saja melayang sia-sia, seandainya saja Leon tidak datang tepat waktu. Perutnya terasa mencelos saat melihat beberapa pria dengan wajah garang menghampiri Aletta tadi, tujuan mereka hanya dua, memastikan Aletta untuk tutup mulut dengan mengancamnya, atau turut serta melenyapkan wanita itu. Perkelahian seperti itu sering terjadi, biasanya terkait dengan perebutan wilayah peredaran obat-obatan terlarang. Dan wanita itu dengan bodohnya hanya terdiam di tempat saja, tanpa adanya usaha untuk melarikan diri dari sana. "Kenapa kamu tidak balik badan tadi saat melihat perkelahian itu, dan saat para pria itu menghampirimu? Apa kamu sudah bosan hidup?" cecar Leon. Suaranya yang sebelumnya terdengar lembut dan penuh canda, kini menjadi sedingin es. Ia merasakan gerakan Aletta yang berkurang saat perlahan wanita itu berhenti berontak, "A ... Apa ada yang terbunuh? Apa aku telah menjadi saksi hidup? Ya Tuhan! Apa mereka akan membunuhku juga?” tanyanya dengan panik. Merasa Aletta sudah sepenuhnya berhenti berontak dan cenderung panik sekarang, Leon melepaskan wanita itu, "Itu alasanku saat menciummu tadi! Bukan untuk memanfaatkanmu, tapi untuk menyelamatkanmu! Kalau mereka mengira aku telah melakukan penculikan terhadapmu, mereka akan menganggapku sama seperti mereka, sama-sama telah melakukan kejahatan, dan kamu akan aman seperti yang kamu lihat sekarang ini!" jelas Leon. Mulut Aletta ternganga, pandangannya terarah pada bibir Leon yang terluka, "Dan kamu menggigitku hingga terluka sebagai balasan atas usahaku untuk menyelamatkan nyawamu itu," lanjut Leon dongkol sambil membersihkan darah yang masih keluar dari lukanya itu, membuat Aletta semakin merasa bersalah, "Maaf ... " ucap pelan Aletta sambil menundukkan kepalanya. "Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi, kenapa kamu tidak langsung lari saat memiliki kesempatan?” "Aku ... " Aletta mengibas tangannya, "Apapun itu semua sudah berlalu, dan terima kasih karena telah menyelamatkanku tadi. Aku ... Berhutang nyawa padamu.” Ucapan itu terdengar tulus. Yaa, Aletta memang tulus saat mengucapkannya. Ia sendiri sadar kalau tadi ia memang berada di dalam bahaya. Ia paham betul apa yang akan terjadi pada seorang saksi dari kasus kejahatan seperti tadi. Aletta mendekatkan dirinya pada Leon, jemarinya menyentuh bibir Leon yang masih mengeluarkan sedikit darah segar, "Sakit?" tanyanya. "Sakitnya akan hilang kalau kamu mengobatinya dengan bibirmu," jawab Leon penuh harap, Aletta langsung menekan lukanya itu dengan keras, dan Leon mengerang kesakitan karenanya, "Apa ini caramu berterimakasih pada penyelamatmu?" sungut pria itu. "Aku akan berterimakasih dengan cara lain, bukan cara m***m seperti yang selalu ada di dalam otak kotormu itu!" "Jangan lupa, aku akan menagih hutangmu itu nanti!" seru Leon. Aletta mengerutkan keningnya, "Nyawaku?" tanyanya. "Bukan, tapi ciumanku. Kamu tadi bilang kalau kamu tidak mau menerimanya kan? Jadi tolong kembalikan lagi padaku saat aku memintanya nanti," jawab Leon. Buaya ya tetap saja buaya, walau di darat sekalipun! "Maaf, aku memutuskan untuk menerima ciumanmu tadi, terima kasih," ralat Aletta sebelum balik badan menjauhi pria yang tengah tergelak di belakangnya itu. "Hei, Kurcaci! Kamu salah jalan!" teriak Leon. Sambil mengumpat pelan Aletta menghentikan langkahnya. Ia memberengut kesal saat memutar kembali badannya ke arah Leon yang masih menampakkan seringaian lebarnya. Ingin rasanya Aletta melakukan sesuatu untuk menghapus seringaian menyebalkan itu, "Lewat mana?" tanyanya dengan tidak sabar. Leon menunjuk ke arah gang yang Aletta harus melewati Leon terlebih dahulu untuk mencapai gang itu. Ia melangkah kesal ke arah gang yang pria itu tunjuk. "Kenapa pergi begitu saja dari kafe tadi? Ingat ini Venice bukan Paris. Kamu mungkin mengenal seluk-beluk kota Paris bahkan hingga ke tempat yang paling berbahaya sekalipun, tapi tidak di kota ini." "Bukan urusanmu!" "Ya kamu benar, itu bukanlah urusanku. Seharusnya aku biarkan saja para pria tadi mengulitimu. Atau mungkin menggilirmu di sana. Dan tubuhmu baru bisa ditemukan satu atau dua bulan setelahnya, itu pun setelah dilakukan autopsi untuk mengetahui identitasmu," desah Leon. Aletta begidik ngeri membayangkan perkataan Leon yang memang ada benarnya juga. Hingga kini ia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya, seandainya saja Leon tidak datang tepat waktu. Yang pasti akan jauh lebih buruk dari ciuman pria itu. Dan sekali lagi ia merasa bersalah karena telah bersikap kasar pada penyelamatnya itu. "Jangan cerita masalah tadi pada adikmu. Aku tidak mau dia khawatir," pinta Aletta. "Mengingat bagaimana reaksi adikku nanti, sudah pasti aku tidak akan menceritakannya. Tapi aku harus jawab apa saat mereka melihat bibirku ini?" Leon mencibirkan bibirnya yang terluka itu, dan Aletta kembali meringis, "Bilang saja itu ulah salah satu wanita yang kamu temui tadi." "Ya Tuhan! Apa aku terlihat semurah itu dengan memberikan ciumanku pada sembarang wanita?" tanya Leon sambil menghentikan langkahnya, berharap Aletta juga melakukan hal yang sama sepertinya, tapi wanita itu terus jalan saat menjawab dengan penuh keyakinan, "Iya!" Seburuk itukah Aletta menilainya? "Kamu melukai perasaanku," desah Leon lagi. "Bayangkan berapa banyak wanita yang terluka perasaannya karenamu! Mungkin itu karma untukmu!" Leon menyamai kembali langkahnya dengan Aletta, "Jangan menilai seseorang hanya dari penampilannya saja." Langkah Aletta terhenti, dan Leon ikut menghentikan langkahnya juga. Seringaian seketika menghiasi wajah tampan Leon lagi meski Aletta tengah memberikan tatapan jijiknya pada pria itu, "Aku telah menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri, tidak lama setelah putus dengan wanita di butik itu, kamu mendekati Faye. Dan parahnya lagi di hari yang sama, kamu b******u dengan Deandra! Mau menyangkal apalagi sekarang? Ada pria yang lebih berengsek darimu?” 'Dan bahkan bercinta dengan Dean di kantor! Di ruang Arsip!' lanjut Aletta dalam hatinya. Hatinya terus mengumpat kesal karena teringat hari paling buruk di dalam hidupnya itu. Leon terdiam, pria itu sudah tidak dapat berkelit lagi. "Dan hari ini, kamu selalu saja merayuku sejak kita berada di dalam pesawat. Aku tegaskan sekali lagi, jangan membuang waktumu untuk itu! Karena rayuanmu itu tidak akan mempan untukku! Alih-alih jatuh cinta padamu, aku akan semakin merasa muak padamu!" tegas Aletta sebelum kembali melanjutkan langkahnya lagi. Aletta terus melangkah tanpa menengok ke belakang lagi, karena Ponte de Rialto atau Rialto Bridge sudah mulai terlihat. Ia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Leia, "Di mana?" tanyanya saat Leia merespon panggilannya. "Aku sudah melihatmu. Berhenti di sana biar kami yang menghampirimu!" jawab Leia. Dan benar saja, tidak lama kemudian sahabatnya itu terlihat lari ke arahnya, dan langsung memeluknya dengan erat, "Kamu nyaris saja membuatku mati berdiri karena mengkhawatirkanmu, Aletta! Kamu ke mana saja? Kenapa jalan di kota yang masih asing untukmu ini seorang diri?" cecar Leia, lalu melepaskan pelukannya hanya untuk memperlihatkan kekhawatirannya, "Kamu baik-baik saja kan?" "Iya ... Aku ... " Aletta baru akan bilang kalau ia tidak sendiri melainkan bersama dengan Leon. Tapi saat menoleh ke belakangnya, ia tidak melihat sosok Leon lagi. "Aku baik-baik saja," lanjutnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD