"Untung maps itu mengarahkanmu ke jalan yang tercepat, Aletta. Karena Jalan-jalan kecil menuju Rialto Bridge ini seperti labirin dengan berbagai cabang, yang jika salah arah kamu bisa saja sampai ke lorong yang makin mengecil yang ternyata mengarah ke jalan buntu," ujar Guzmán, calon suami pilihan orang tua Leia.
Mereka tengah melalui jalan sempit yang dipadati dengan pertokoan, baik yang menjual barang-barang branded internasional, maupun produk kerajinan dan oleh-oleh khas Venesia, untuk mencapai ke tengah Rialto Bridge itu.
"Guzmán benar, Letta. Sebenarnya tanpa maps pun banyak petunjuk jalan yang menunjukkan arah ke Jembatan Rialto. Tapi, kita tidak pernah tahu apakah arah tersebut adalah jalan yang tercepat atau justru membuat kita memutari labirin ‘toko’ ini," lanjut Leia.
'Bukan maps yang mengarahkanku ke jalur tercepat itu, tapi Leoan. Dan di mana pria itu sekarang?' ralat Aletta dalam hatinya.
Apakah ia telah bersikap terlalu kasar pada Leon? Bagaimanapun juga, pria itu adalah kakak dari sahabat baiknya. Dan meski tingkahnya sangat menyebalkan, pria itu telah menyelamatkan nyawanya tadi.
"Iya ... Sepertinya hari ini keberuntungan masih memihakku," desah Aletta lirih. Kecuali ciuman pertamanya dengan Leon tentu saja.
Dan saat mereka tiba di atas Rialto Bridge, sudah banyak turis yang memadati jembatan itu. Baik secara berkelompok, maupun hanya berdua saja dengan pasangan mereka. Tujuan mereka semua sama, menunggu matahari terbenam di atas jembatan yang menjadi ikonik kota Venice itu.
Bagi yang datang bersama dengan pasangannya, kegiatan ini memang akan terlihat romantis. Saling merangkul pinggang kekasihnya, mereka akan menyaksikan cahaya sore yang makin menipis, yang akan berganti dengan remangnya malam dan cahaya dari lampu-lampu kota, yang pantulan cahayanya terefleksi indah di atas Grand Canal.
"Indahnya ... " Aletta yang baru pertama kali ke kota itu begitu terpukau melihatnya.
"Apa hanya jembatan ini saja yang menjadi daya tarik turis?" tanya Aletta masih dengan penuh kekaguman.
"Ada. Namanya Ponte dei Sospiri atau biasa juga disebut dengan Jembatan Desah," jawab Guzmân.
"Jembatan Desah? Nama yang tidak biasa," kekeh Aletta.
"Ya, ada mitos yang dipercaya penduduk setempat kalau jembatan itu bisa melanggengkan cinta sepasang kekasih."
"Benarkah?" tanya Aletta dan Leia bersamaan.
"Aku sudah berkali-kali ke kota ini, tapi baru mendengar nama jembatan itu," lanjut Leia.
"Ummm, kalau menurut mitos yang dipercaya masyarakat setempat, pasangan yang mengarungi sungai dengan gondola, kemudian mereka berciuman di bawah Jembatan Desah saat matahari terbenam, tepat ketika lonceng di St. Mark Campanile berdentang, maka cinta mereka akan abadi dan diberkahi. Benar atau tidaknya aku tidak yakin, apa kita mau membuktikannya, Ma tigrees?"
"Eheemm!" terdengar dehaman kencang Leuis yang mengalihkan semua mata ke arahnya, dan pria itu nampak santai saja sambil terus menatap arus lalu lintas air yang terlihat ramai di bawahnya.
"Kamu benar telah menceritakan mitos itu pada Leia, Guzmân. Karena Leia sangat mempercayai mitos apapun, terutama yang berbau romantis, aku yakin dia pasti akan mencobanya suatu saat nanti," kekeh Aurora, lalu mengalihkan tatapannya pada Leuis,
"Benar begitu bukan, Leuis?" tanyanya.
Leuis terlihat tidak nyaman, begitu juga dengan Leia. Aletta harus melakukan sesuatu untuk menghilangkan kecanggungan itu,
"Tolong foto aku dengan Leia, Jean!" seru Aletta pada Guzmân dengan penuh semangat.
Setelah dipikir-pikir, selama mereka berteman, tidak sekalipun mereka berpose bersama. Jadi kenapa tidak memulainya dari tempat yang romantis seperti ini, jembatan yang paling disukai sahabatnya itu, Leia. Sekaligus mengalihkan pembicaraan.
Dengan senang hati Guzmân mengambil ponsel Aletta dari tangannya, dan mengabadikan kedua sahabat itu dengan berbagai macam pose,
"Aurora, ayo sini!" panggil Leia. Aurora pun turut serta berpose dengan mereka, masih dengan mengenakan topi baseball dan kacamata hitamnya.
"Boleh aku foto berdua saja denganmu, Leia? Aku ingin menyimpannya di dalam dompetku," pinta Guzmân setelah para wanita puas dengan foto bermacam gaya itu.
"Tentu saja, ayo sini cepat! Lihat sudah banyak antrian di belakangmu!" seru Leia. Karena padatnya turis yang berpose di bibir jembatan, jadi beberapa turis lainnya harus rela menunggu yang lainnya selesai berpose di sana.
Leia membiarkan lengan Guzmân yang awalnya merangkul pundaknya, kini beralih merangkul pinggangnya. Aletta tahu kalau mereka tengah bersandiwara, dan memang seperti itulah seharusnya pose sepasang kekasih, agar Leuis tidak curiga pada hubungan mereka.
"Leuis ayo kita foto berdua juga! Aku akan menyimpan foto kita itu di dalam hatiku untuk selamanya!" seru Aurora tidak mau kalah sambil menarik tangan Leuis yang terlihat pasrah.
"Pakai ponselku saja!" lanjutnya sambil menyerahkan ponselnya ke tangan Guzmân.
Raut wajah pria itu yang tadinya terlihat ceria, berubah menjadi tak terbaca. Aurora terus berganti gaya mulai dari merangkul Leuis, bersandar pada pundak Leuis, hingga setengah memeluk Leuis. Dan Guzmân dengan sabar terus memotret mereka.
Sementara itu Aletta merasakan remasan kuat tangan Leia pada tangannya. Dan Aletta segera tahu kalau Leia tengah cemburu melihat kemesraan Leuis dengan sepupunya. Ternyata hati sahabtanya itu masih belum bisa menerima, kalau Leuisnya kini telah ada yang punya, sepupunya sendiri.
"Leia, temani aku lihat pernak-pernik itu yuk! Aku ingin membelinya untuk anak-anak panti!" seru Aletta sengaja mengeraskan suaranya. Ia tidak mau Leia terlalu larut pada kecemburuannya, yang pastinya akan membuat suasana hati Leia semakin memburuk.
Untungnya Leia mengerti maksud dari Aletta, yang ingin menyelamatkannya dari keharusan melihat kemesraan Leuis dan Aurora, wanita itu pun mengangguk,
"Ok, aku juga ingin membeli sesuatu untuk mereka."
Aletta sengaja mencari toko souvenir yang agak jauh dari jembatan, untuk membiarkan Leia menenangkan dirinya,
"Bersabarlah, sayang," hibur Aletta pelan, tangannya mengusap lembut punggung Aletta.
"Aku selalu sabar. Tapi tetap saja hatiku sakit ... Aku belum bisa menerima kenyataan kalau aku tidak berhak lagi atas perhatian Leuis. Karena yang pantas menerimanya sekarang adalah Aurora."
"Tapi kalau menurutku, Leuis tidak menyukai Aurora. Entah kenapa pria itu terlihat seperti terpaksa."
"Leuis memang seperti itu, selalu terlihat datar. Sejak dulu aku tidak pernah bisa membaca wajahnya. Meski begitu, dia sangat perhatian sekali padaku."
"Ada yang janggal dengan hubungan mereka," lanjut Aletta.
"Sudahlah, jangan bahas mereka lagi, please. Dan sebenarnya kamu mau memilih toko yang mana sih?" tanya Leia saat menyadari Aletta telah membawanya menjauh dari jembatan tadi.
"Tadi di sudut jalan, sepertinya aku melihat toko kecil yang menjual berbagai macam peralatan untuk membuat kopi. Kamu tahu sendirikan kalau suster Mary sangat menyukai kopi, aku ingin membelikannya untuknya," jawab Aletta.
"Ok, kita ke sana kalau begitu."
Sesampainya di toko yang Aletta maksud tadi, Aletta mulai memilah cangkir hingga alat membuat kopi yang memiliki desain unik dan penuh warna itu, hingga salah satunya menarik perhatiannya,
"Sepertinya suster Mary akan menyukai ini," gumamnya.
"Ya, itu bagus. Ambil yang itu saja."
"Tapi yang ini juga bagus, aku jadi bingung," desah Aletta sambil menunjuk satu set alat pembuat kopi lainnya.
"Ya sudah kamu beli yang ini saja, biar itu aku yang beli," saran Leia. Ia pun ingin membelikan sesuatu untuk suster Mary yang sangat baik padanya.
Sibuknya mereka di toko itu, sedikit banyaknya lumayan mengalihkan kesedihan Leia atas kemesraan Aurora dengan Leuis. Juga mengalihkan Aletta dari rasa yang Leon tinggalkan, saat bibir pria itu menyentuh bibirnya tadi.