"Sia-sia kita datang ke kota ini!"
Langkah Leia saat memasuki kamar terlihat kesal. Ia segera mengganti baju kerjanya dengan cropped top dan hot pants. Bukan tanpa sebab Leia merajuk seperti itu, saat Aletta dan Leia telah siap untuk berangkat ke lokasi proyek, Leuis memutuskan di detik-detik terakhir kalau para pria saja yang akan mengunjungi lokasi itu, mengingat letaknya di salah satu pulau yang belum terlalu ramai.
Awalnya Leuis takut baik Leia maupun Aletta akan suntuk di pulau itu, karena masih terlihat kosong. Itu makanya mereka memulai proyek ini untuk menarik wisatawan ke pulau itu dan meramaikannya. Namun pada akhirnya Leuis mengakui, kalau pria itu khawatir meninggalkan Aurora seorang diri di hotel kalau mereka semua pergi.
Itulah yang menjadi masalah utamanya. Leuis tidak mau meninggalkan Aurora sendirian. Juga tidak mau membuat kekasihnya itu kepanasan di pulau nanti. Dan kenyataan itu membuat hati Leia benar-benar hancur.
"Lalu apa gunanya kita ikut ke kota ini? Untuk menemaninya bermesraan dengan Aurora? Atau untuk menemani kekasihnya yang masih asik tidur itu?" tanya Leia dengan menekan katanya agar Aurora yang masih terlelap tidak terbangun.
"Kalau begitu, kita nikmati saja sendiri liburan ini!" seru Aletta untuk menghibur sahabatnya itu. Lagipula, tidak setiap hari ia ke Venice. Jadi sayang saja kalau ia tidak menikmati kota cantik itu secara maksimal.
Aletta pun turut serta mengganti pakaiannya, hanya saja tidak seberani Leia. Aletta mengenakan Kaus oversized putih dengan celana pendek longgar dengan warna senada, yang terlihat jauh lebih santai.
Meski saat ini sedang kesal dengan Aurora, Leia tetap memasuki kamar wanita itu untuk mengajaknya serta.
"Aurora, bangun sudah siang," dengan lembut Aurora mengguncang bahu sepupunya itu.
"Aku masih ngantuk ... Kamu kalau mau jalan ke proyek itu jalan saja," gumam Aurora masih belum mau membuka matanya.
"Kami tidak diperkenankan ikut ke lokasi itu sama Leuis, jadi aku dan Aletta akan kembali mengelilingi Venice. Kamu mau ikut?" tanya Leia.
"Aku masih lelah, Leia ... Kalian saja yaa," jawab Aurora sebelum menguap lebar dan menarik lagi selimutnya.
"Tapi kamu nanti sendiri di sini, tidak apa-apa?"
"Aku sudah besar, Leia. Dan aku telah terbiasa mengikuti fashion show ke negara lain seorang diri. Jadi santai saja."
"Kalau kamu tidak keberatan ya sudah, kami jalan dulu ya! Jangan ragu-ragu untuk menghubungiku atau Letta kalau kamu membutuhkan kami!" seru Leia.
"Iyaa ... "
"Ke mana tujuan kita hari ini?" tanya Aletta saat mereka sudah keluar dari Apartment, dan Leia menyeringai lebar,
"Entahlah, aku juga tidak tahu."
"Astaga! Aku pikir kamu sudah ada tempat yang akan kita tuju," erang Aletta.
Mereka telah kembali berdiri di tengah Rialto Bridge. Kali ini tidak seramai sore kemarin. Selain karena sebagian turis mungkin masih tidur, jembatan ini memang akan terlihat jauh lebih ramai saat sore hari.
Aletta terus memandangi landscape kota terapung itu, yang mengeluarkan aura keanggunan yang terpantul di perairan kanalnya. Memandangi kota yang berstruktur unik membuat Aletta berpikir akan satu hal, Venesia bukanlah kota biasa yang akan membiarkannya mengawali langkah hanya dengan bermodalkan intuisi impulsif.
Karena kita harus memahami betul cara mencapai kota dan bagaimana menelusuri tiap gangnya. Yang menurut sebagian orang, kalau belum nyasar di labirin Venice, maka belum menikmati keseruan kota itu yang sesungguhnya.
"Kamu mau naik Gondola, Leia?' tanya Aletta.
"Nanti saja, enaknya naik itu saat hari menjelang sore," jawabnya.
"Jangan-jangan kamu mau mencoba mitos itu dengan Guzmân," goda Aletta sambil terkikik geli.
"Enak saja! Aku sudah trauma dengan mitos-mitos seperti itu! Bukannya menjadikan pria yang aku cium itu sebagai cinta sejati, malah membuat pria itu semakin menjauh dariku!" sungut Leia.
"Jadi kita hanya berdiri saja di atas jembatan ini? Aku sudah mulai bosan."
"Mengelilingi Venesia dengan itu!" Leia menunjuk ke arah Vaporetto yang baru saja melewati jembatan tempat mereka berdiri.
"Ide bagus!" seru Aletta sumringah. Mereka memesan tiket terusan yang berlaku untuk dua puluh empat jam kedepan, untuk bisa mengelilingi pulau itu sesuka hati mereka.
Tujuan pertama mereka adalah pulau Murano. Pulau yang terkenal dengan perajin kaca. Lokasi lahirnya seni Murano Glass, dengan metode meniup bola kaca pijar yang mampu meledakkan kaca menjadi bola- bola dengan bentuk sesuai keinginan, berwarna cerah sesuai dengan tradisi Venesia, seperti emas dan merah.
Sesampainya di pulau itu, mereka disuguhkan dengan suasana yang terlihat jauh lebih tenang. Bangunan atau rumah-rumah yang ada, memang dihuni oleh warga lokal. Berbeda dengan pulau utama Venesia, yang rata-rata bangunannya sudah didominasi oleh penginapan untuk wisatawan mancanegara.
Mereka terus berkeliling sepuasnya dan berhenti di beberapa titik penting hingga tanpa mereka sadari, waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, dan sebentar lagi para pria pasti akan segera kembali ke Apartment.
"Kita balik ke Apartment sekarang ya," saran Leia setelah menerima panggilan telepon dari Guzmân.
Seharian ini sudah berkali-kali Gusmân menghubungi Leia, hanya untuk menanyakan saat ini Leia berada di mana? Sudah makan atau belum? Hal-hal sekecil itu yang mampu membuat Leia merasa terharu oleh perhatiannya itu. Sementara pria yang Leia cintai, tidak sekalipun menghubunginya. Membuat Leia ingin menenggelamkan dirinya ke dalam kanal.
Dan sesampainya mereka di Apartment, ketiga pria itu sudah menunggu mereka di dalam, dengan Aurora yang duduk di samping Leuis.
"Kalian sudah pulang," sapa Leia sambil melepas sepatu ketsnya.
"Darimana saja kalian? Aku meminta kalian untuk tetap bersama dengan Aurora, kenapa meninggalkannya sendirian?" tanya Leuis. Nampak sekali raut ketidaksukaan di wajahnya.
Alih-alih menjawab Leuis, Leia malah bertanya pada Aurora,
"kamu tidak memberitahu kekasih tercintamu itu kalau aku sudah mengajakmu untuk ikut, dan kamu sendiri yang menolaknya karena masih lelah?" tanyanya sambil menyipitkan kedua matanya.
"Jangan marah pada Aurora, dia sudah memberitahuku hal itu. Dan jawab pertanyaanku, kenapa kamu tetap ngotot bepergian tanpa Aurora? Apa kamu tidak takut terjadi hal yang tidak diinginkan padanya?"
Aletta dapat mendengar napas tercekat Leia di sampingnya. Sementara mata Leia menatap tajam Leuis, suaranya sedikit bergetar saat meluapkan amarah yang seharian ini wanita itu pendam,
"Kamu pikir siapa aku? Baby sitter yang harus menjaga kekasihmu? Apa itu tujuan utamamu memintaku ikut ke kota ini hanya untuk menjaga Auroramu? Iya? Itukah tujuanmu?"
"Jawab sialan!" teriak Leia saat Leuis tidak mau menjawabnya, air mata mulai mengalir deras ke pipinya, dan ia menghapus air mata itu dengan kasar.
Leuis segera berdiri, ia mencoba untuk menenangkan Leia, tapi Leia mendorongnya dengan sekuat tenaganya,
"Jangan sentuh aku! Aku membencimu! Aku sungguh-sungguh membencimu!" geramnya sebelum lari keluar dari unitnya itu tanpa alas kaki.
"Leia!" panggil Aletta mencoba untuk mengejar Leia, namun tangan Leuis menahannya,
"Tunggu di sini, biar aku saja!" serunya sebelum bergegas mengejar Leia dengan terlebih dahulu mengambil sepatu kets wanita itu.
Khawatir dengan keselamatan Leia, Aletta bersikeras turut mengejarnya juga, namun langkahnya kembali tertahan, kali ini Leon yang menahannya,
"Biarkan Leuis saja, dia yang paling bisa menenangkan Leia!"
Aletta menyipitkan kedua matanya pada Leon, "Kamu tidak khawatir pada Leia? Dia adikmu, Leon!"
"Tentu saja aku khawatir. Tapi di antara aku, Leuis dan Guzmân, hanya Leuis saja yang bisa menangkan Leia. Adikku itu hanya mendengarkan ucapan Leuis, selama ini selalu begitu!" jelas Leon.
"Peduli setan! Aku akan tetap mencari Leia!"
Aletta menghentak lepas tangan Leon sebelum meninggalkan pria itu.