Bab 14 - Hanya Sandiwara

1057 Words
Aletta menyipitkan kedua matanya pada Leon, "Kamu tidak khawatir pada Leia? Dia adikmu, Leon!" "Tentu saja aku khawatir. Tapi di antara aku, Leuis dan Guzmân, hanya Leuis saja yang bisa menangkan Leia. Adikku itu hanya mendengarkan ucapan Leuis, selama ini selalu begitu!" jelas Leon. "Peduli setan! Aku akan tetap mencari Leia!" Aletta menghentak lepas tangan Leon sebelum meninggalkan pria itu. Tidak butuh waktu lama untuk Leon dan Guzmân menyusulnya. Pada akhirnya mereka memutuskan untuk turut serta mencari Leia, begitu juga dengan Aurora yang tertinggal jauh di belakang mereka. Aletta memekik pelan saat dengan kasar Leon menarik tangannya, "Kenapa kamu tidak menolak ajakan Leia untuk pergi berdua saja dengannya?" tanyanya. "Kenapa? Leia butuh hiburan!" jawab Aletta sambil menghentak lepas tangannya. "Kita ke sini untuk bekerja, bukannya untuk hiburan!" "Kalau tujuan kita ke sini untuk bekerja, lalu kenapa kalian para pria meninggalkan kami di hotel dan bekerja tanpa kami? Kalian kira kami tidak akan boring menunggu kalian pulang?" "Seharusnya kamu yang lebih dewasa dari Leia bisa membujuknya untuk menunggu kami pulang, bukannya malah mengikuti kegilaannya!" "Dewasa? Sejak kapan kamu melihat aku seperti wanita dewasa? Biasanya kamu memanggilku dengan bocah kecil atau kurcaci!" sungut Aletta sebelum beralih pada Guzmân, "Kita pisah saja, biar aku dan Aurora mencarinya di sisi lain. Kasihan Aurora kalau harus mengikuti langkah panjang kaki kalian," sarannya. "Dan membuat kami bertambah khawatir karena menghilang lagi dua orang wanita? Tidak! Lebih baik kita cari bersama. Kita hanya harus membuka mata kita lebar-lebar, agar bisa menemukan Leia dan Leuis secepat mungkin, sebelum hari semakin malam!" tegas Leon. "Leon benar, Letta. Kami tidak akan membiarkan kamu dan Aurora hanya berdua saja menyusuri tiap gang kota ini. Terlalu bahaya untuk kalian. Tapi kami juga tidak tenang meninggalkan kalian di hotel. Jadi ya, lebih baik kita cari bersama-sama saja," timpal Guzmân. Menyerah dengan keputusan dua pria itu, Aletta pun pada akhirnya setuju juga. Setelah Aurora sampai, mereka langsung melanjutkan lagi pencariannya. "Maafkan aku, seharusnya aku memberitahu kalian kalau Leia sudah mengajak aku pergi juga, hanya saja aku terlalu lelah untuk bepergian. Kalau sudah seperti ini, aku jadi merasa bersalah," lirih Aurora. Aletta yang semula sedikit kesal dengan Aurora seketika luluh juga. Ia membenarkan posisi topi Aurora sebelum merangkul pinggang rampingnya, "Leia sedang sensitif, jadi sedikit terbawa perasaan saat monsieur Leuis memarahaninya tadi." Aurora memperlambat langkahnya, agar Leon dan Guzmân yang berada di depan mereka tidak mendengar pembicaraan mereka. "Aku mau bertanya sesuatu padamu, tapi aku harap kamu dapat menjawabnya dengan jujur," pinta Aurora setengah berbisik. Yang sebenarnya tidak perlu, karena banyaknya orang yang lalu-lalang di sekitar mereka sambil berceloteh dalam bermacam bahasa, yang pastinya akan menyamarkan suara Aurora. "Apa? Tanyakan saja." "Apa kamu tahu kalau sebenarnya Leuis dan Leia sudah saling jatuh cinta?" tanya Aurora, ia melirik dua orang pria di depannya, hanya untuk memastikan mereka tidak mendengarnya. "Benarkah?" Aletta balik bertanya dengan setengah berteriak. Aurora langsung membungkan mulut Aletta dengan telapak tangannya, untung saja Leoan dan Guzmân tidak mendengarnya. "Pelan-pelan! Aku tidak mau mereka mendengar pembicaraan kita." Setelah Aletta mengangguk, barulah Aurora menurunkan tangannya. "Kamu tahu darimana?" "Ck, apa kamu tidak bisa melihat reaksi mereka saat bersama? Atau kecemburuan mereka yang jelas terlihat saat Leuis sedang bersamaku, dan Leia bersama Gusmân." Aletta memang sudah mengetahui kalau Leia memendam perasaan pada Leuis. Tapi ia baru tahu kalau Leuis pun sebenarnya menyimpan perasaan yang sama dengan Leia. Tanpa mereka sadari, mereka telah saling jatuh cinta. "Lalu bagaimana denganmu? Kamu tidak cemburu saat mengetahui Leia juga mencintai pria yang sama dengan yang kamu cintai?" Aletta mengira ia akan melihat raut wajah sedih Aurora. Tapi alih-alih menampakkan kesedihannya, Aurora malah menyeringai lebar padanya, "Sebenarnya, aku dan Leuis hanya bersandiwara saja. Kami pura-pura pacaran," jawabnya dengan santai. "Astaga! Demi apa?" Aletta menangkup mulutnya saat Leon dan Guzmân menoleh ke arah mereka, Aurora yang memberi penjelasan pada kedua pria itu, "Letta barusan melihat pria tampan yang sekilas mirip sekali dengan Jacob Elordi, aktor favoritnya." Sebelah alis Leon naik tinggi dengan mengejek Aletta, sebelum kembali mengedarkan pandangannya untuk mencari Leia. Aletta menatap punggung pria jangkung itu dengan dongkol. "Lanjutkan lagi," pintanya pada Aurora. "Aku meminta bantuan Leuis untuk berpura-pura menjadi kekasihku, dan menjadikan berita itu trending topic di media massa. Karena saat ini, ada seorang pria yang sedang mengincarku, memaksakan perasaannya padaku. Kalau pria itu tahu aku sudah memiliki kekasih, besar kemungkinan dia akan berhenti stalking aku." "Ya Tuhan, Leia pasti senang sekali mendengarnya nanti!" seru Aletta dengan suara tertahan. "Senang mengetahui ada pria aneh yang stalking aku?" tanya Aurora dengan dongkol. "Bukan itu maksudku, Aurora. Ok, menjawab pertanyaanmu tadi, ya Leia memang jatuh cinta pada Monsieur Leuis. Itulah yang menjadikannya sering merajuk dan lebih sensitif dari biasanya. Kepergian kami hari ini untuk menenangkan Leia dari kecemburuannya. Tapi Leuis malah merusak moodnya sekembalinya kami ke hotel." "Benar dugaan kami kalau mereka berdua telah jatuh cinta." "Kami?" "Sebenarnya, Tante Ana dan Om Rick sudah menduganya, begitu juga dengan orangtuaku. Kami hanya ingin memancing reaksi mereka dan membuat mereka mengakui perasaan mereka," jelas Aurora. "Ya Tuhan, ternyata seperti itu." "Tapi ... Bukannya Leia sudah jatuh cinta pada Guzmân?" tanya Aurora, ia semakin mengecilkan suaranya. "Seperti halnya kamu dengan Monseuir Leuis, Leia dan Guzmán pun hanya bersandiwara juga." "Benarkah?" Kali ini Aurora yang memekik tajam dan langsung menutup mulutnya. "Kali ini, aktor siapa lagi yang kalian lihat?" tanya Leon dengan dongkol. "Bukan urusanmu! Cepat cari Leia lagi sana!" sungut Aletta. "Jawab aku, Letta. Jangan membuat aku mati penasaran," rengek Aurora setelah Leon dan Guzmân melanjutkan lagi pencariannya. "Iya, aku serius. Mereka memang hanya berpura-pura saja. Kemungkinan untuk membuat Leuis cemburu. Atau membuat kamu cemburu ya?" pancing Aletta. Tidak mungkin Aurora mendesaknya seperti itu, kalau tidak memiliki perasaan pada Guzmân. "Memangnya dia siapa aku hingga memancing kecemburuanku?" elaknya meski dengan rona wajah yang memerah, dan mengalihkannya dengan membuka ponselnya. Pekikan kembali keluar dari mulutnya, "Astaga!" "Ada apa lagi?" tannya Leon dan Guzmân bersamaan. "Lihat ini!" Aurora memperlihatkan layar ponselnya pada mereka, Aletta pun turut serta melihatnya. Mereka sama-sama menatap tidak percaya pada tajuk utama berita yang memperlihatkan Leia dan Leuis tengah berciuman di bawah jembatan desah. Juga tudingan negatif pada Leia yang mereka cap sebagai pelakor. "Aku akan membunuhnya!" geram Leon dengan kedua tangannya yang mengepal. Ia langsung mengeluarkan ponselnya untuk melacak keberadaan Leia melalui jam tangan yang adiknya itu kenakan. "Hotel? Pria sialan itu membawa adikku ke hotel? Aku akan mencincang habis tubuhnya!" raung Leon sebelum setengah berlari ke hotel itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD