"Masuk...dulu?" Aditya langsung menoleh ke arah rumah besar yang ada di depan matanya. Bukan betapa mewah rumah itu yang menjadi perhatiannya saat ini, melainkan satu sosok yang tengah berdiri di teras yang memiliki undakan tangga cukup tinggi hingga bisa melihat ke arah depan gerbang rumah. Sosok pria yang masih mengenakan setelan kemeja, tengah bersedekap d**a. Tatapannya seakan sedang kelaparan, bukan untuk menyantap makanan namun mungkin saja menyantap Aditya. "Pe...ngen sih. Tapi kayaknya enggak usah deh," kata Aditya sambil tertawa sumbang. Di depannya Aruna tampak mengernyitkan kening, dia menoleh ke arah dimana tadi Aditya menatap untuk sesaat. Begitu menemukan sumbernya, dia serta merta menarik napas berat. "Enggak usah diladenin, Pak. Kakak saya memang suka iseng kalau ada

