4. Riset Suara

1777 Words
Butuh waktu lima belas menit bagi Aurel untuk menyiapkan makan malam untuk Gara. Sepiring nasi goreng telur dengan jus jeruk dan juga salad buah sebagai peneman sudah tertata cantik di atas sebuah nampan. Dengan perlahan ia masuk ke dalam ruangan home theater itu. Tempat yang paling sering digunakan Gara untuk menghabiskan waktu jika sedang di rumah. Melakukan hal-hal berbau pekerjaan atau sekadar bersantai menonton film favoritnya. “Tuan, nasi gorengnya sudah siap.” Aurel menghentikan langkahnya tepat ketika pintu ruangan itu tertutup. Dilihatnya Gara tengah sibuk memerhatikan layar persegi panjang di depan sana hingga pria itu tidak menyadari kehadiran Aurel. Sejenak, jika sedang berada dalam mode seriusnya, Aurel tidak menampik jika Gara memang benar-benar pria jenius yang memiliki wajah rupawan. Pesonanya ketika sedang memimpin rapat, atau ketika sedang memberi arahan untuk para bawahannya, itu benar-benar bisa membuat jantung Aurel melorot ke dasar perut. Namun jika mode jailnya sudah kambuh, jangan harap akan ada kata kagum yang terlintas dalam benak. Yang ada justru Aurel ingin melempar Gara ke dalam api neraka. “Tuan, ini sudah lewat jam delapan malam. Ayo makan dulu mumpung masih hangat.” Aurel duduk di samping Gara, ikut melempar pandangan ke arah layar yang sedang menampilkan hasil editing dari beberapa potongan kasar (rough cut) film terbaru yang sedang dalam proses pascaproduksi. “Oh, iya. Terima kasih.” Tanpa mengalihkan pandangannya, Gara mengambil alih nampan itu dari tangan Aurel. Lantas memakan nasi gorengnya dengan begitu lahap. Tidak banyak protes, sebab selama ini masakan Aurel memang belum pernah mengecewakan lidah sensitif pria itu. Ya, kalau dipikir-pikir ada untungnya juga Gara mengajak Aurel untuk tinggal bersamanya. Selain efektif membantunya menjaga kebersihan rumah, namun juga bisa dijadikan sebagai koki andalan. “Tuan, kalau boleh tahu untuk apa sih kau ikut mengurusi hal yang seperti ini?” Aurel menggerakkan dagunya, menunjuk beberapa catatan kecil yang telah Gara buat sebagai masukan kepada para editor. “Itu 'kan harusnya tugas dari kak Raymon sebagai sutradara. Tugasmu hanya perlu mengawasinya saja.” “Memangnya kenapa kalau aku juga ikut andil? Bukankah seorang produser juga berhak untuk mengemukakan pendapatnya?” Gara menoleh ke arah Aurel, merasa heran dengan pertanyaan wanita itu. “Lagipula ini juga bagian dari pengawasanku sebagai seorang produser. Kau tahu sendiri kalau Raymon masih tergolong sutradara baru, jadi wajar saja kalau aku masih membantunya,” balas Gara. “Ya, walaupun aku tahu jika nanti film ini sukses, yang mendapat pujian tentu saja Raymon sebagai sang sutradara.” “Tapi bagiku itu tidak jadi masalah. Toh pada kenyataannya namaku lebih terkenal darinya, bukan? Wajahku juga lebih tampan darinya.” Gara tersenyum tipis, membuat Aurel merotasikan bola matanya. Dasar produser narsis! “Ya, ya, tahulah yang pengalamannya lebih banyak, lebih tampan, lebih terkenal dan juga lebih banyak punya fans. Tapi jangan lupakan kau juga lebih m***m dari kak Raymon. Oh! Bahkan sangat m***m!” Gara tertawa. Ucapan Aurel sama sekali tidak ia tanggapi dengan serius sebab otaknya masih ia fokuskan untuk menganalisa hasil editing yang telah diberikan. “Daripada kau sibuk mengomentari pekerjaanku, lebih baik kau kirimkan catatan ini ke email Raymon, biar nanti dia yang akan menyampaikannya kepada editor.” Gara menyerahkan catatan itu kepada Aurel yang disambut Aurel dengan pasrah. Mulai mengerjakan tugas yang telah diberikan oleh bosnya itu. Begitulah sekiranya gambaran sosok seorang Sagara Kencana. Dia memang sangat professional dalam menjalani pekerjaannya. Dia bukanlah sosok produser yang hanya mengeluarkan dana lalu terima beres. Sejak awal rencana pembuatan film, justru pria itulah yang paling banyak menyumbang ide-ide kreatif. Mulai dari ide cerita, memberi masukan pada penulis naskah, juga membantu beberapa pekerjaan sutradara hingga editor. Bahkan jika saja Gara bisa membelah dirinya seperti kawanan amoeba, dia mungkin akan bisa mengerjakan proyek film itu seorang diri. Dia adalah produser jenius yang serba bisa. Maklumlah, sebab sebelum memutuskan fokus sebagai seorang produser dan mengembangkan bisnis rumah produksinya, Gara telah terlebih dahulu memulai debutnya sebagai seorang sutradara sekaligus produser dalam beberapa proyek film pendek. Saat itu umurnya bahkan masih 19 tahun dan ia juga masih menempuh pendidikan di universitas jurusan film. Namun karena kemampuannya yang hebat, ia beberapa kali pernah menerima penghargaan dari ajang kompetisi film yang diadakan di luar negeri. Hingga tiba saat umurnya mulai menginjak 22 tahun, Gara memberanikan diri untuk mendirikan rumah produksinya sendiri—SK Production. Berbekal modal beberapa ratus juta yang diinvestasikan oleh ayahnya kala itu, Gara berhasil membuat rumah produksinya dikenal banyak orang setelah ia merilis satu film terkenal berjudul Secret Marry. Film dengan tema fantasy romance itu berhasil menggebrak industri perfilman tanah air yang kala itu didominasi dengan genre horror berbalut wanita seksi. Memuncaki peringkat tertinggi di box office selama beberapa pekan, film itu berhasil membuat nama Gara dikenal banyak orang. Bahkan ia sampai mendapat julukan The Devil Producer, sebab ketampanan serta kemahirannya dalam menghasilkan karya berhasil membuat rahim para kaum hawa bergetar. Layaknya seorang iblis dengan kekuatan sihir yang mampu menghipnotis seluruh dunia. “Tuan, apa aku boleh bertanya sesuatu kepadamu?” Aurel memecah keheningan sesaat setelah ia selesai mengirim email pada Raymon. “Ehm, mau tanya apa?” balas Gara santai seraya meneguk sisa jus jeruk yang masih tersisa di gelasnya. Aurel menggigit bibir bawahnya, sedikit ragu untuk bertanya namun begitu penasaran. “Aku, aku ingin bertanya, kenapa sih kau suka sekali b******a dengan banyak wanita? Maksudku, apa kau tidak takut membuat mereka semua hamil?” “Uhuk … Uhuk ….” Pertanyaan yang dilemparkan Aurel sontak membuat Gara tersedak. Pria itu terbatuk beberapa kali sebelum menghunuskan tatapan tajam bercampur heran ke arah sang wanita. “Membuat mereka semua hamil?” Gara mengerjap sesaat sebelum kekehan tawa itu keluar dari bibirnya. “Astaga, Rel! Memangnya sekarang aku hidup di jaman batu apa? Sudah ada pilihan mau yang polos atau bergerigi, kenapa aku harus takut jika mereka hamil?” Aurel menganga, sama sekali tidak mengerti dengan jawaban pria itu. Apa coba hubungannya orang hamil dengan pilihan mau yang polos atau bergerigi? Ck! Bosnya yang satu ini benar-benar sangat aneh. “Maksudmu apa, Tuan? Aku sama sekali tidak mengerti.” Aurel menggaruk kulit kepalanya yang tidak gatal. Raut wajahnya terlihat penasaran, yang mana justru semakin membuat Gara tertawa karenanya. “Sudahlah, tidak usah kau pikirkan.” Gara menggeleng-gelengkan kepalanya. Lupa kalau asistennya ini memang sangat bodoh dan terlalu polos. Jadi percuma saja jika ia menjelaskannya. Yang ada nanti wanita itu akan semakin tidak mengerti. “Lagipula untuk apa kau bertanya seperti itu? Apa kau juga ingin melakukannya denganku? Kau ingin hamil anakku?” Gara menatap Aurel jail, sengaja menaik turunkan alisnya guna menggoda wanita itu. “Kalau begitu, ayo! Mau kapan? Sekarang? Di sini?” “Tuan!” Aurel memekik. Kesal sebab Gara senang sekali menjailinya seperti itu. Sementara Gara justru kembali tertawa, puas melihat wajah Aurel yang mendadak pias bercampur malu-malu. “Bukan seperti itu.” Aurel melipat tangannya di depan d**a, menatap wajah Gara dengan rasa penasaran. “Aku hanya penasaran saja, kenapa kau harus b******a dengan mereka semua? Bukankah akan lebih baik jika kau hanya memilih satu di antara mereka? Kau bisa memberikan seluruh cintamu padanya lalu kemudian menikah dengannya dan hanya melakukan hal itu bersamanya. Bukankah itu terdengar lebih manusiawi ketimbang kelakuanmu yang sekarang?” Gara terdiam sejenak. “Ehm, bagaimana, ya?” Gara merebahkan punggungnya pada sandaran kursi, alisnya berkerut seolah sedang memikirkan jawaban dari pertanyaan Aurel. “Kau tahu betul kalau aku adalah orang yang sangat sulit untuk berkomitmen. Cinta dan pernikahan tidak pernah benar-benar terlintas dalam pikiranku saat ini. Jadi ku rasa mustahil untuk melakukan semua hal yang tadi kau katakan,” jelas Gara. “Lagipula, apa yang selama ini aku lakukan bukan semata-mata karena aku menikmatinya. Itu juga merupakan bagian dari sebuah riset.” “Riset?” Alis Aurel terlihat menyatu. Tidak mengerti dengan arah pembicaraan Gara. Gara mengangguk. “Ya, riset tentang suara desahan.” “Hah!” Mulut Aurel menganga lebar. Bercìnta hanya untuk sebuah riset? Yang benar saja! “K-kau melakukan riset hanya untuk suara desahan?” tanya Aurel tidak percaya. “Untuk apa?” “Untuk sebuah proyek film,” jawab Gara kelewat santai, bahkan ia masih bisa terkekeh melihat wajah cengo Aurel. “Aku punya rencana untuk membuat sebuah film bernuansa intimasi. Kau tahu bukan, tema film seperti itu pernah menjadi trend di era 90-an. Jadi aku berniat untuk membangkitkan trend itu lagi. Ya, walaupun terdengar sulit mengingat bagaimana cara kerja lembaga sensor film saat ini. Tete ayam saja bisa kena sensor.” “Lalu apa hubungannya dengan suara desahan?” tanya Aurel yang masih belum mengerti dengan maksud Gara. “Begini ….” Gara mencari posisi duduk ternyamannya sebelum kembali berujar, “Kau tahu bukan jika dalam sebuah film efek suara memiliki peran yang sangat penting untuk menciptakan suasana?” Aurel mengangguk, mengiyakan ucapan Gara. “Nah, karena itulah aku melakukan riset ini. Dengan memilih efek suara desahan yang tepat, itu akan sangat membantu untuk menciptakan kesan seksi dalam film, terutama saat adegan ranjang,” jelas Gara. Aurel hanya bisa geleng-geleng kepala. Tidak mengerti dengan jalan pikiran dari sang bos. Hanya untuk sebuah efek suara desahan, haruskan seorang produser seperti Gara melakukan riset semacam itu? Dia kan bisa mencari refrensi dari film dengan tema yang sama. “Dasar! Bilang saja kalau kau memang doyan! Untuk apa repot-repot mengarang alasan semacam itu." Aurel mendengkus. “Lalu hasilnya bagaimana? Suara desahan siapa yang paling baik? Marina, Tania, Mania atau Sonia?” Gara terdiam untuk beberapa saat. Matanya terpejam, barang kali sedang membayangkan jejak memori pertarungannya dengan wanita-wanita itu. “Sejauh ini belum. Desahan Marina terlalu melengking, membuat gendang telingaku hampir pecah. Untuk Tania, desahannya terlalu serak, seperti orang mau mati saja. Mania, suaranya terkesan dibuat-buat, aku tidak terlalu suka. Kalau Sonia … hah, wanita itu bahkan tidak mendesah sama sekali. Membuatku cepat bosan.” Aurel menjatuhkan rahangnya, sangat terkejut dengan pengakuan Gara. “Astaga, Tuan! Kau ini benar-benar b******n kelas kakap. Bisa-bisanya kau menilai desahan mereka!” “Ya, mau bagaimana lagi. Setelah melakukan riset, aku kan harus memberi penilaian,” jawab Gara tidak mau kalah. Aurel berdecak. “Ck! Lalu setelah kau tidak menemukannya, apa kau berniat untuk mencari mangsa baru? Kali ini siapa lagi? Susi, Sherly, atau Sunny?” tanya Aurel kemudian. Gara menggeleng. “Ketimbang dengan mereka, aku justru tertarik dengan suara desahanmu, Nona ubur-ubur. Bagaimana? Kau tertarik untuk mencobanya?” Lagi-lagi Gara menggoda Aurel, membuat wajah wanita itu memerah. “Enak saja! Tidak, aku tidak mau!” tolak Aurel tegas. “Lagipula aku tidak ahli melakukan hal semacam itu. Aku juga tidak mempunyai sesuatu seperti yang dimiliki teman-teman wanitamu itu.” “Maksudmu?” Dahi Gara terlipat samar, tidak mengerti dengan ucapan Aurel. Aurel menggigit bibir bawahnya, agak malu jika ia harus mengatakannya. “I-itu, yang polos dan bergerigi. Ku rasa aku tidak memiliki hal semacam itu di tubuhku.” TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD