5. Pujaan Hati Aurel

2616 Words
Hari itu, suasana di dalam gedung SK Production nampak sibuk seperti biasa. Semua karyawan fokus dengan tugas yang tengah mereka kerjakan. Ada yang sibuk mengepel lantai, sibuk mengedit di depan komputer, sibuk dengan berkas yang menumpuk di atas meja, dan ada pula yang sibuk mondar-mandir tidak jelas. Seperti yang tengah Aurel lakukan saat ini. Sedari tadi kaki pendeknya tidak berhenti bergerak. Ada saja hal yang membuatnya harus melangkah ke sana ke mari demi menjalani perannya sebagai pembantu di sini. “Aku lelah!” Aurel menghela nafas kasar. Berfikir jika sebentar lagi malaikat pencabut nyawa akan datang mencabut jiwanya. Ia nampak begitu lelah sebab merasa pekerjaan ini seperti tidak ada habis-habisnya. Ya, tentu saja! Baru berlalu beberapa menit setelah Aurel selesai membantu Mita, seorang karyawan dari bagian acconting yang memintanya untuk memfotocopy laporan keuangan bulan lalu. Kini, giliran si Wawan yang kembali menarik tangan Aurel ke dalam ruang penyimpanan barang. “Rel, cepat bawa dua kamera ini ke parkiran, ya. Berikan langsung pada Gery, katanya dia sedang buru-buru mau langsung pergi ke lokasi syuting.” Tanpa mau menunggu jawaban Aurel terlebih dahulu, Wawan dengan begitu saja menyerahkan kamera itu ke tangan Aurel. Lantas mendorong pundak sang wanita agar segera membawanya pergi. “Cepat sedikit ya, Rel. Takutnya Gery nanti marah karena kelamaan nunggu.” “Ya,” jawab Aurel lesu. Dengan tidak bersemangat Aurel menyeret kakinya menuju parkiran yang ada di basement. Cukup kesulitan ketika ia harus membawa dua kamera profesional yang bobotnya tidak bisa dibilang ringan itu. Jika tidak sedang memiliki kegiatan bersama Gara, beginilah sekiranya pekerjaan Aurel setiap hari. Menjadi tenaga serabutan untuk karyawan lain yang tengah membutuhkan bantuan. Entah kenapa orang-orang sangat suka memerintahnya mengerjakan ini dan itu. Padahal kalau dipikir-pikir Aurel adalah asisten bos, yang mana kedudukannya lebih tinggi dari pada mereka yang menjadikan dirinya pembantu. Akan tetapi Aurel tidak bisa menolak sebab di otaknya masih terngiang oleh perkataan Gara kala ia baru pertama kali bekerja di sini. “Jika kalian memerlukan bantuan, jangan segan-segan untuk meminta bantuan pada Aurel. Pakai saja tenaganya sebaik mungkin.” Begitulah kira-kira ucapan Gara di depan para karyawannya yang kala itu. Hingga berakhir pada Aurel yang menjadi seperti saat ini. Dulu mungkin ia masih bisa terima, sebab saat itu jumlah karyawan yang dimiliki SK Production tidaklah sebanyak sekarang. Dulu juga rumah produksi ini hanya berfokus pada pembuatan film layar lebar saja. Akan tetapi, seiring meningkatnya profit perusahaan, sejak dua tahun lalu SK Production mulai melebarkan sayap dengan aktif memproduksi berbagai judul film televisi dan juga web series. Yang mana tentu saja beban pekerjaan juga semakin banyak. Namun tradisi menjadikan Aurel sebagai pembantu sepertinya tidak akan pernah dihapuskan. Malah justru makin menjadi-jadi. Di suatu waktu, bahkan Aurel pernah diminta untuk menggantikan seorang office girl membersihkan bilik toilet hanya karena orang itu mau menelepon suaminya yang bekerja di luar negeri. Gila, bukan? Tapi, mau bagaimana lagi. Aurel tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah. Hutangnya pada Gara masih banyak dan ia harus bisa melunasi semua itu jika ingin segera bebas dari siksaan duniawi ini. “Perlu aku bantu untuk membawanya?” Di tengah kemelut pikiran Aurel yang meratapi nasib, tiba-tiba ada seseorang yang menawarkan bantuan kepadanya. Dengan sigap mengambil alih satu kamera itu dari tangan Aurel. “Leo ….” Untuk sesaat Aurel merasakan lidahnya tercekat. Matanya terpana kala melihat bagaimana pria itu berdiri di hadapannya dengan melemparkan sebuah senyum maut yang mampu membuat Aurel meleleh. Mendadak rona-rona merah itu bermunculan tidak terkendali di kedua pipinya. “Mau dibawa kemana?” tanya Leo. Masih dengan senyum yang membuat kadar ketampanannya bertambah seratus kali lipat. “K-ke sana, anu, ke tempat parkir,” jawab Aurel tergagap. Sumpah! Ingin rasanya Aurel menyelam ke dasar samudera. Bisa-bisanya ia tergagap di depan Leo, bukankah itu sama saja akan menjatuhkan harga dirinya sebagai wanita? Apalagi di depan pria yang sangat ia sukai. Memalukan! Leo hanya menanggapi kegugupan Aurel dengan senyum tipis, lantas ikut berjalan bersama wanita itu menuju parkiran. “Kau baik-baik saja dengan keadaan seperti ini?” tanya Leo kemudian. Aurel mengernyit. “Maksudnya?” Ia balik bertanya. “Maksudku tentang kau yang harus bekerja keras seperti ini. Apa tidak sebaiknya kau bicarakan saja dengan pak Gara? Siapa tahu saja sekarang dia sudah berubah pikiran.” Leo memandang Aurel dengan rasa kasihan, sebab tidak tega setiap kali melihat wanita itu diperintah semena-mena oleh teman-temannya yang lain. Aurel terdiam sejenak, sebelum kemudian kepalanya menggeleng pelan. “Percuma saja! Mustahil jika si emas karatan itu akan berubah pikiran. Yang ada dia pasti merasa senang melihatku makin tersiksa. Itu kan memang tujuannya dari awal.” “Tujuannya dari awal?” Alis Leo berkerut. “Apa maksudmu pak Gara memang sengaja melakukan semua ini untuk menyiksamu?” “Tentu saja! Dia kan memang bos yang kejam. Hah! Andai saja hutang sialan itu tidak pernah ada, nasibku pasti tidak akan seburuk saat ini.” Aurel menggerutu, menumpahkan keluh kesahnya pada Leo. Leo tersenyum miris. Berita tentang Aurel yang memiliki hutang dengan Gara bukanlah hal baru yang membuat ia terkejut. Hampir seluruh staff yang bekerja di sini mengetahuinya, dan mungkin itu juga yang membuat mereka bisa berlaku semena-mena pada Aurel. “Yang sabar, ya.” Leo menepuk pelan pundak Aurel. Mencoba menyemangati sang wanita untuk tetap bertahan, tanpa menyadari jika hal itu berhasil membuat degup jantung Aurel menggila. Betapa bahagianya Aurel saat ada seseorang yang memberi perhatian kepadanya. Bagi Aurel, Leo itu ibarat oasis yang hadir di tengah gersangnya padang gurun. Penyejuk di kala dirinya harus melawan aura panas dari si lautan emas karatan itu. Selama ini, jika bukan karena Leo, Aurel tidak yakin apakah ia masih bisa bertahan di tempat ini atau tidak. Leo adalah sumber kekuatannya. Kebaikan hati dari pemilik senyum manis itu berhasil membuat Aurel terpesona dan diam-diam mulai menaruh rasa sukanya pada sang pemuda. Akan tetapi, minimnya pengalaman Aurel tentang cinta membuat ia memilih untuk memendam rasa itu di dalam hatinya. “T-terima kasih,” jawab Aurel malu-malu. Ia menundukkan wajahnya, takut kalau-kalau Leo akan melihat semburat merah di pipi yang muncul tidak tahu kondisi. “Sama-sama,” balas Leo dengan diiringi sebuah senyuman. “Oh, ya, Rel. Nanti mau makan siang di mana?” Aurel menghendikkan bahunya. “Entahlah, mungkin di kantin atau di kedai mie ayam depan kantor. Memangnya kenapa?” tanya Aurel. Untuk kesekian kalinya Leo tersenyum, melengkungkan bibirnya dengan amat manis sebelum kembali berkata, “Ehm, kalau tidak keberatan, apa nanti kau mau makan siang denganku?” *** Tinggal lima menit lagi menuju jam makan siang, akan tetapi Aurel masih terpaku di belakang meja kerjanya. Bertumpu dagu, menatap tanpa minat ke arah Gara yang seperti tengah sibuk dengan pekerjaannya. Perlu diketahui bahwa mereka memang bekerja di ruangan yang sama. Karena menurut Gara itu jauh lebih efesien ketimbang menempatkan Aurel di ruangan lain. Toh, Aurel hanyalah asisten serbagunanya. Bukan sekretaris, manager divisi atau yang lainnya. Ya, walaupun pada kenyataannya Gara terlihat lebih memerlukan bantuan Aurel ketimbang karyawannya yang lain. “Tuan, nanti kau makan siang sendiri saja, ya.” Ucapan Aurel memecah keheningan yang sempat tercipta di antara keduanya. Gara mendongak sekilas, sebelum kembali menekuni berkas di tangannya. “Memangnya kau mau ke mana?” tanyanya kemudian. “Mau kencan,” jawab Aurel asal. “Kencan?” Kali ini Gara benar-benar menghentikan kegiatannya, menatap Aurel yang tengah duduk di kursi kerjanya. “Dengan siapa? Memangnya ada pria yang mau berkencan denganmu?” cibir Gara terang-terangan. “Tentu saja ada! Memangnya hanya kau saja yang bisa berkencan dengan banyak wanita. Aku juga bisa mendapatkan pria untuk ku ajak kencan.” Aurel mendengkus. Kesal sebab Gara terkesan sangat meremehkannya. Gara menghela nafasnya. “Jangan aneh-aneh, deh. Pokoknya hari ini tidak ada yang namanya kencan atau apalah itu. Kau tetap diam di sini dan makan siang di sini juga.” “Tapi, Tuan, hari ini aku benar-benar sudah ada janji dengan seseorang untuk makan siang bersama. Sungguh! Aku tidak bohong.” Wajah Aurel terlihat putus asa. Ia tidak mungkin melewatkan ajakan Leo begitu saja. Sudah sekian lama ia menanti momen seperti ini, haruskah sekarang gagal hanya karena larangan Gara? Oh, tidak bisa! Gara terdiam, melihat kalau Aurel sepertinya berkata jujur. Tadi ia sempat berpikir jika itu hanya akal-akalan sang wanita untuk tidak makan siang bersamanya. Hal yang sedikit mengusik harga dirinya sebagai seorang pria. “Dengan siapa?” tanyanya kembali. “Itu, aku mau makan siang dengan—“ Brakk!! Kalimat Aurel terhenti kala tiba-tiba pintu ruangan Gara terbuka. Menampilkan sosok Raymon yang memang terbiasa tidak pernah mengetuk pintu jika masuk ke dalam ruang kerja Gara. Ya, maklumlah, selain menjadi rekan kerja, keduanya memang merupakan sahabat dekat yang telah menjalin pertemanan cukup lama. Jadi wajar saja jika Raymon bersikap informal pada Gara. Tidak seperti Aurel, masalah panggilan saja ia harus mengikuti kemauan Gara. Jadi jangan heran jika hanya dia seorang yang memanggil Gara dengan sebutan ’tuan’. Sedangkan yang lain, paling sopan juga pasti ‘bapak’. Atau untuk karyawan yang masih muda-muda biasanya memanggilnya dengan sebutan ‘kakak’. Tidak adil memang, tapi sekali lagi, Aurel tidak berhak protes. Karena separuh nyawanya memang telah berada di genggaman tangan Gara. “Maaf, apa kedatanganku mengganggu obrolan kalian?” Raymon yang merasa ada hawa iblis yang memenuhi ruangan, sesegera mungkin meminta maaf. Tidak mau ikut campur dengan perdebatan antara dua makhluk beda jenis itu. “Tidak sama sekali.” Gara menjawab terlebih dahulu. “Ada perlu apa kau datang ke sini?” tanya Gara kemudian. “Oh, ini.” Seolah tersadar, Raymon buru-buru mengeluarkan sebuah map cokelat dari dalam tas punggungnya. “Beberapa waktu lalu, salah satu penulis naskah kenalanku menitipkan salah satu naskahnya kepada ku.” Raymon menyerahkan map cokelat itu ke tangan Gara. “Coba dibaca dulu, siapa tahu kau berminat. Menurutku ceritanya lumayan menarik.” Gara mengangguk. “Ya, nanti aku baca.” Raymon tersenyum puas, lantas melirik Aurel yang sedari tadi terdiam di sana. Seketika pria itu mengingat sesuatu. Hampir saja ia lupa untuk menyampaikannya. “Rel, tadi Leo titip pesan kepadaku, katanya nanti pas makan siang, langsung saja temui dia di restoran seberang.” Mendengar nama Leo disebut, mendadak wajah suram Aurel berubah sumringah. “Woah! Sungguh, Kak?” Aurel melirik jam dinding yang tertempel di tembok ruangan, dan entah kebetulan atau apa, tepat saat itu waktu sudah menunjukkan jam makan siang. Tanpa pertimbangan lebih lanjut, Aurel lantas bergegas mengambil tas selempangnya dan segera menghampiri Gara. “Tuan, aku tahu jika saat ini kau pasti kesal karena aku memilih makan siang di luar. Tapi sungguh, walaupun kau adalah bosku, tapi kau tidak berhak untuk mengaturku untuk makan siang di mana dan dengan siapa. Jadi ku mohon, jangan larang aku dan ijinkan aku hari ini untuk makan siang di luar. Oke? Terima kasih, Tuan karena sudah mengizinkanku.” Aurel berbicara tanpa jeda, mungkin juga ia berbicara dengan satu tarikan nafas. Tanpa menunggu jawaban Gara, dengan segera Aurel melengos keluar. Tak lupa wanita itu menyempatkan diri untuk menyisir rambut kusutnya dengan jari. Sedikit merapikan penampilan anehnya di depan kaca besar yang ada di ruangan itu. Di sisi lain, Gara hanya bisa melongo melihat tingkah aneh wanita itu. Untuk menjawab saja ia tidak sempat, sebab Aurel ke buru menghilang di balik pintu. “Dia kenapa?” tanya Gara yang terlihat bingung. Raymon menghendikkan bahunya. “Entahlah, mungkin terlalu bersemangat untuk bertemu sang pujaan hati.” “Sang pujaan hati? Siapa yang kau maksud?” “Itu, Leo dari divisi marketing. Pria yang digadang-gadang memiliki ketampanan layaknya artis Korea.” Gara termangu sejenak. “Maksudmu Felis Leo? Si playboy cap kodok kering itu?” tanya Gara menyakinkan. “Untuk apa dia mengajak Aurel makan siang bersamanya?” Raymon mengernyit. Seolah menangkap gelagat tidak suka yang ditunjukkan Gara. Pria itu melipat bibirnya ke dalam, berusaha untuk tidak menertawakan sahabatnya itu. “Lho, memangnya kenapa? Tidak ada yang salah bukan jika seorang wanita dan pria pergi makan bersama?” “Ya, memang tidak ada yang salah. Hanya saja aku sedikit khawatir kalau-kalau Leo akan melakukan hal yang aneh-aneh pada Aurel. Kau tahu sendiri ‘kan kalau wanita itu polosnya minta ampun.” Gara menghela nafas berkali-kali, entah kenapa tubuhnya seketika memanas tatkala membayangkan Aurel tersenyum manis di depan Leo. Raymon terkekeh. “Ketimbang khawatir, sekarang kau justru lebih terlihat seperti seorang kekasih yang sedang cemburu. Kenapa? Kau cemburu? Kau menyukai Aurel?” Mendengar ucapan Raymon sontak membuat bola mata Gara membulat. “Cemburu? Cih! Yang benar saja! Untuk apa aku cemburu dengan mereka?” Gara menampik semua spekulasi yang Raymon arahkan kepadanya. “Dan apa katamu tadi? Aku menyukai Aurel? Woah! Sepertinya kiamat akan datang sebentar lagi jika aku sampai menyukai wanita aneh itu.” Gara mendengkus kesal. Merasa aneh dengan segala pertanyaan yang dilontarkan oleh Raymon. Menyukai Aurel? Cih! Ada-ada saja! Catat, bahwa seorang Sagara Kencana tidak akan mungkin menyukai nona ubur-ubur itu. “Oh, benarkah?” Raymon yang sedari awal meragukan ucapan Gara seakan makin tertantang untuk menggoda pria itu. “Kalau memang kau tidak menyukainya, lalu untuk apa selama ini kau menahannya agar tetap berada di sisimu? Membuatnya terikat akan kesepakatan konyol yang kau buat. Ehm, buat apa wahai tuan produser yang terhormat?” “Itu bukanlah kesepakatan konyol wahai bapak sutradara yang sok tahu. Dia memang sudah sepatutnya harus bertanggung jawab atas segala kerugian yang aku alami,” jawab Gara dengan yakin. “Kerugian? Kalau ini menyangkut tentang sponsor yang batal bekerja sama saat kau mengalami kecelakaan waktu itu, bukankah beberapa bulan kemudian mereka kembali menghubungimu? Kau bahkan mendapatkan tawaran yang lebih baik dari sebelumnya. Jadi kerugian mana yang kau maksud?” Gara mengatupkan bibirnya, tidak tahu harus merespon apa atas perkataan yang diucapkan Raymon. Karena pada kenyataannya, semua yang pria itu katakan adalah benar. Gara tidak benar-benar mengalami kerugian seperti yang selama ini selalu ia tekankan kepada Aurel. Jika mau, Gara bisa saja melepaskan Aurel saat itu juga. Akan tetapi, ada sesuatu hal yang membuat pria itu ingin menahan Aurel lebih lama lagi. Tapi Gara bisa pastikan jika itu bukanlah rasa suka apalagi cinta. Tidak sama sekali. “Woah! Tidak ku sangka seorang Sagara Kencana bisa melakukan hal selicik itu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana marahnya Aurel jika mengetahui semua ini.” Raymon tertawa kala melihat wajah pias Gara. Tidak menyangka jika sahabat yang selalu terlihat keren itu kini justru nampak gelagapan. “Jika dia sampai tahu, kau adalah orang pertama yang akan aku salahkan, Raymon Wijaya.” Gara mendelik sebal, memperingatkan Raymon untuk menjaga mulutnya di depan Aurel. “Oke, oke. Aku janji tidak akan mengatakannya, tapi kau harus mengaku dulu kalau kau memang menyukai Aurel, bagaimana?” Lagi-lagi Raymon menggoda Gara untuk kesekian kalinya. Gara merotasikan bola matanya malas. “Astaga, Ray. Sudah beberapa kali ku bilang, kalau aku memang tidak menyukainya. Sungguh!” Kali ini Gara ikut-ikutan memasang tanda V di kedua jarinya. Mengikuti kebiasaan Aurel yang sering meyakinkannya dengan gaya seperti itu. “Kalau kau memang tidak menyukainya, lalu untuk apa kau menahannya selama ini?” tanya Raymon. Gara menggeleng. “Entahlah! Mungkin karena dia bisa menjadi hiburan buatku. Kau tahu ‘kan kalau wanita itu suka sekali bertingkah konyol, ya anggap saja dia sebagai badut pribadiku.” Kali ini justru Raymon yang melongo mendengar jawaban Gara. Tidak menyangka jika sahabatnya itu benar-benar sangat jahat. “Kau ini benar-benar, ya! Kau menganggap Aurel sebagai badut? Ck! Kau keterlaluan, Ga.” “Lho, apa salahnya? Badut juga pekerjaan yang mulia, bukan?” ucap Gara tanpa rasa bersalah. "Cih! Ya, terserah kau sajalah." Raymon terlihat tidak lagi berminat untuk menanggapi ucapan Gara, pria itu memilih untuk pergi dari ruangan Gara ketimbang ia harus berdebat dengan sahabatnya itu. Akan tetapi, sebelum ia benar-benar menghilang di balik pintu, sekali lagi Raymon menghentikan langkahnya kemudian berkata, “Lain kali, jika kau memang butuh hiburan, lebih baik kau sewa saja sepuluh topeng monyet. Daripada kau merusak masa depan anak orang dengan menjadikannya sebagai badut pribadi.” TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD