6. Tuan Gara atau Tuan Gru

1894 Words
Seperti biasa, di penghujung musim hujan hawa dingin nampak masih setia menyelimuti kota. Desiran angin yang membuat rintik hujan menari-nari seakan menjadi alasan utama kenapa dinding kaca itu nampak penuh berisi buliran air yang mengembun. Memberi kesan dramatis pada sekumpulan orang yang tengah duduk melingkar di ruangan meeting. Nampaknya, hawa dingin yang ada di luar tidak memberi pengaruh sama sekali bagi keadaan di dalam ruang meeting tersebut. Suasana justru terasa panas tatkala melihat Gara berdiri di depan sana dengan raut wajah yang kelewat datar. Memimpin jalannya rapat bulanan yang biasa diadakan untuk mengevaluasi kinerja perusahaan. "Untuk rencana perilisan film terbaru kita yang akan dilakukan beberapa bulan lagi, aku harap tim yang bekerja di dalamnya bisa mempersiapkan segalanya dengan baik. Pastikan kualitas film produksi kita tetap terjaga dan pastikan juga promosinya dijalankan dengan benar. Aku harap film ini bisa disukai oleh seluruh lapisan masyarakat dan bisa berada di ranking teratas box office. Kalian mengerti?” Layaknya seorang pemimpin pada umumnya, ucapan Gara terdengar lugas dan tegas. Membuatnya terlihat seperti ditaktor namun di sisi lain juga terlihat keren. “Baik, Pak. Kami pastikan film garapan kita kali ini akan diterima baik oleh masyarakat luas,” sahut salah seorang staff yang ada di sana. “Tapi, bagaimana dengan kendala di lembaga sensor film? Apakah kita harus memotong beberapa adegan yang dianggap terlarang oleh mereka?” Gara terdiam sesaat, seperti tengah mencari solusi terbaik untuk permasalahan ini. “Ada beberapa adegan yang dilarang?” tanyanya kemudian. “Kurang lebih ada tiga, Pak. Dan ada salah satu adegan yang seharusnya menjadi hal yang wajib untuk ditampilkan. Sebab itu menjadi salah satu bagian penting di dalam jalan ceritanya.” Gara terlihat berpikir, jarinya ia ketuk-ketukkan di atas meja untuk beberapa waktu sebelum kembali berkata, “Baiklah, buang saja dua adegan yang dipermasalahkan itu, dan untuk yang satunya, kalian tenang saja, biar aku yang akan mengurusnya nanti.” Gara tersenyum penuh arti. Sebenarnya ia sangat malas untuk bernegosiasi dengan lembaga sensor film yang kebanyakan di isi oleh orang-orang yang tidak bisa di ajak bekerja sama. Akan tetapi, demi sebuah nilai estetika dan juga rasa yang tertuang dalam film terbarunya, mau tak mau Gara harus menurunkan egonya sekali ini saja. Asalkan ada uang, apapun bisa terjadi bukan? “Baik, Pak. Siap laksanakan,” jawab seorang staff yang bertanggung jawab untuk film tersebut. Setelah selesai berdiskusi dengan tim bagian produksi film layar lebar, kini mata Gara teralihkan pada perwakilan dari tim bagian film televisi dan juga web series. Mulai untuk kembali membahas tentang proyek web series baru yang rencananya akan diproduksi dalam waktu dekat. “Bagaimana dengan ide ceritanya? Apakah ada dari kalian yang mempunyai ide cerita yang bagus?” Beberapa dari mereka mulai ada yang mengangkat tangannya, mencoba menyuarakan ide brilliant yang tertanam dalam otak. “Bagaimana kalau kita membuat web series dengan tema CEO dan si gadis miskin?” Seorang staff wanita tampak bersemangat dengan ide yang ia utarakan. Berbeda dengan tanggapan Gara yang nampak tidak berminat sama sekali. “Yang lain?” Gara mengibaskan tangannya, pertanda ia tidak suka dengan jalan cerita mainstream seperti itu. “Kalau begitu, bagaimana dengan tema pernikahan ala-ala anak sekolahan?” Gara menggeleng tidak setuju. “Tidak! Apa kau ingin kita memberi contoh pada generasi muda untuk menikah di usia belia? Ck! Belajar saja masih tidak becus, apalagi menikah.” Beberapa orang terkikik mendengar penolakan Gara, membuat sang pencetus ide tersenyum malu. “Kalau temanya cerita rakyat bagaimana, Pak? Kisah Jaya Prana dan Layon Sari, misalkan.” Alis Gara menukik ke atas, seakan ia tertarik dengan ide cerita yang diucapkan oleh salah satu staffnya. “Jaya Prana dan Layon Sari? Bisa kau jelaskan lebih rinci lagi?” Staff pria itu mengangguk. “Begini, Jaya Prana dan Layon Sari itu adalah sebuah cerita rakyat dari Bali yang kisahnya mirip dengan Romeo dan Juliet. Jadi ceritanya ….” Di saat semua orang tengah terkesima dengan penjelasan tentang tema cerita rakyat tersebut, lain halnya dengan Aurel yang nampaknya sibuk dengan dunianya sendiri. Berusaha sekuat tenaga untuk menahan tawa yang ingin menyembur keluar. Sungguh, kini di dalam otaknya sudah terbayang sesuatu yang menurutnya sangat lucu. “Hei, kau kenapa? Apa ada sesuatu yang lucu di sini?” Raymon yang saat itu duduk di dekat Aurel nampak berbisik di telinga sang wanita. Menanyakan apakah ada hal yang membuat wanita itu sampai menahan tertawanya. Karena jujur, Raymon sama sekali tidak menemukan hal yang janggal di sini. Aurel mengangguk. “Ya, coba kau lihat sahabatmu itu?” Ia menunjuk Gara menggunakan dagunya. “Bukankah saat ini penampilannya terlihat sangat lucu?" Raymon mengikuti arah pandang Aurel, memerhatikan Gara yang tampak berkonsentrasi mendengarkan salah seorang staff yang sedang berbicara. Ia menelisik penampilan sahabatnya itu dari atas sampai bawah, akan tetapi ia sama sekali tidak menemukan hal yang aneh. Semua terlihat biasa-biasa saja. Dark jeans dan baju lengan panjang berwarna senada, sangat cocok berpadu dengan syal bermotif belang yang melilit lehernya. Sangat wajar digunakan saat cuaca dingin seperti saat ini. Sungguh, sama sekali tidak ada yang lucu dari penampilannya. “Apanya yang lucu? Menurutku biasa saja.” Raymon menggelengkan kepalanya heran, tidak mengerti akan jalan pikiran Aurel yang kadang susah untuk diterima oleh nalar dan akal sehat manusia. “Aish! Imajinasimu sungguh payah, Kak.” Aurel cemberut, merasa gelar sutradara tidak pantas disematkan pada Raymon. Masak hal seperti itu saja ia tidak sadar. “Coba kau perhatikan lagi, bukankah saat ini penampilan Tuan Gara sangat mirip dengan Gru? Kau tahu Gru, bukan? Tokoh kartun dalam film Despicable Me.” Mendengar itu, Raymon kembali memerhatikan Gara dan sedetik kemudian ia ikut-ikutan menutup mulutnya, berusaha menahan tawa. “Kau lihatlah bagaimana wajah dengan ekspresi sangar itu. Mata tajam, alis tebal dan hidung mancung, benar-benar sangat mirip dengan Gru. Oh, jangan lupakan syal-nya itu, bukankah sama dengan yang dipakai oleh Gru?” bisik Aurel pada Raymon yang tengah berusaha mengendalikan gelak tawanya. Dasar wanita aneh! Bisa-bisanya ia mengolok-olok bosnya sendiri. Pakai dibilang mirip Gru segala. Tapi, memang benar, sih. Penampilan Gara hari ini sedikit tidak membuat bayangan Gru tiba-tiba terlintas di benaknya. “Astaga, Rel! Tidak ku sangka kau sejeli itu. Aku jadi bisa membayangkan kalau saat ini dia sedang memberi arahan pada peliharaannya si Minions, dan kita adalah Minions itu,” ucap Raymon. Pemuda itu sudah cekikikan. Sungguh Aurel membuat moodnya membaik seketika, padahal tadi ia sangat mengantuk dengan rapat yang menurutnya sangat membosankan itu. Akan tetapi sekarang ia justru menikmatinya. Menertawakan Gara adalah hal paling langka yang terjadi di hidupnya. “Kau benar, Kak. Kita semua seperti kumpulan minions yang siap menunggu perintah dari Gru. Apalagi kau, baju kaos warna kuningmu itu mengingatkanku dengan Bob.” Aurel menutup mulutnya, sebisa mungkin untuk tidak membuat keributan di tengah rapat. “Bob? Mana bisa! Harusnya aku itu Kevin. Lihatlah perawakanku, aku tinggi dan juga pintar. Yang pas menjadi Bob itu dirimu, Aurel. Kau pendek dan juga sangat bodoh.” Aurel mendengkus kesal dengan penghakiman Raymon. Enak saja pria itu menyebut dirinya pendek dan juga bodoh. Eh, tapi memang tidak salah, sih. Haha! “Kalau kau adalah Kevin ….” Aurel menyipitkan kelopak matanya, menelisik keberadaan Raymon yang nampaknya mulai was-was dengan segala imajinasi liar yang mungkin saja terbayang dalam otak sang wanita ini. “Apa … apa? Memangnya kenapa kalau aku jadi Kevin?” Raymon mengerutkan alisnya ketika Aurel tertawa misterius. “Kalau kau jadi Kevin, aku tidak bisa membayangkan bagaimana anehnya saat kau membuat tubuhmu menjadi besar, kemudian merusak kota lalu terjun payung hanya dengan menggunakan celana dalam berwarna putih. Hahaha!” Aurel memegang perutnya, sungguh ia tidak bisa membayangkan jika hal itu benar-benar terjadi pada Raymon. “Aish, kau!” Raymon mendelik, namun setelah itu mereka berdua tertawa cekikikan. “Ehm, baiklah! Ku rasa tema ceritanya cukup menarik. Saat ini sangat jarang ada web series yang mengangkat tema cerita rakyat seperti ini. Kita bisa mencobanya. Kebetulan beberapa hari lagi aku ada meeting ke Bali, mungkin nanti sekalian ku ajak Aurel untuk meriset ….” Ucapan Gara terhenti saat dirinya menoleh ke arah Aurel. Yang mana saat itu sang wanita tengah tertawa bersama Raymon. Entah apa yang mereka tertawakan, yang jelas saat ini keduanya pasti tidak mendengarkan apa yang sedang ia ucapkan. “Kalian berdua, apa yang tengah kalian bicarakan?" Ucapan bengis Gara berhasil menyadarkan keduanya. Mereka tersentak dan sesegera mungkin merubah raut wajahnya kembali seperti semula. "Apa yang tengah kalian bicarakan?" Gara mengulang pertanyaannya. "Kalian tidak mendengarku dan memilih sibuk sendiri, begitu?" Tatapan tajam Gara seketika membuat Aurel menunduk. Tidak berani sama sekali melihat ke arah Gara yang sepertinya sudah mengeluarkan tanduk iblisnya. Aurel menyenggol pinggang Raymon, berharap pria itu mau menjawab pertanyaan dari Gara. Raymon menghela nafas kasar. Kesal karena Aurel seakan melempar tanggung jawab kepadanya. "Aish, kau ini sensitif sekali," ujar Raymon berusaha menenangkan. "Kami tidak membicarakan apapun, hanya sedikit membahas hal yang menurut kami lucu. Iya kan, Rel?" Aurel mengangguk cepat, merespon ucapan Raymon. Lantas kembali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Gara menaikkan sudut bibirnya, tersenyum sinis. "Oh, benarkah? Hal yang sedikit lucu, ya? Coba kau beri tahu hal lucu seperti apa itu." Aurel mengangkat wajahnya panik. "I-Itu, itu, bukanlah sesuatu yang penting kok, Tuan. Sungguh, aku tidak bohong. Jadi ku rasa kau tidak perlu mengetahuinya," jawab Aurel. Bulu kuduknya mendadak berdiri kala melihat smirk tajam yang tercipta dari bibir pria itu. "Tapi sayangnya aku ingin tahu, bukankah yang lainnya juga ingin tahu?" Gara menatap staff lainnya yang juga terlihat menganggukkan kepalanya. "Tapi ...." "Cepat katakan atau aku akan menghukummu, Aurelia Aurita." Gara sedikit meninggikan intonasi suaranya. Aurel menoleh ke arah Raymon yang terlihat menganggukkan kepalanya. Akan tetapi mulutnya sengaja ia tutup dengan tangan, berusaha untuk kembali menahan tawa. "I-itu, itu tadi sebenarnya kami hanya sedikit membahas tentang penampilanmu, Tuan," ucap Aurel ragu-ragu. Gara mengernyit heran. "Penampilanku?" "Iya, penampilanmu. Apakah kau sadar jika penampilanmu hari ini sangat mirip dengan Gru? Benarkan? Bukankah mereka berdua sangat mirip?" tanya Aurel pada seluruh staff yang ada di sana, masih dengan tampang polos tanpa dosanya. Seluruh staff yang mendengar kompak menutup mulut mereka. Ingin tertawa tapi segan, sebab ada Gara yang tengah berdiri di depan sana. Semuanya terlihat menunduk, mungkin mereka semua sedang tertawa terpingkal-pingkal di dalam hatinya. Alis Gara mengkerut saat menyadari situasi itu. "Gru? Siapa dia? Apa dia juga seorang produser sepertiku?" Kini giliran Aurel yang tertawa. Wanita itu tertawa terbahak-bahak kala mendengar ucapan Gara. Tidak menyangka jika bosnya ini benar-benar sangat bodoh. "Astaga, Tuan! Kau serius tidak mengenal siapa Gru? Kau ini hidup di jaman purba, ya? Hal seperti itu saja tidak tahu." Sekilas Aurel bisa merasakan delikan tajam yang Gara hunuskan kepadanya. Namun wanita itu tidak bisa menghentikan tawanya. "Gru itu adalah tokoh dalam film animasi Despicable Me. Aku bersumpah, hari ini kau benar-benar sangat mirip dengannya, Tuan. Lihatlah syal yang kau pakai, itu sama persis dengan syal yang dipakai oleh Gru. Hahaha!" Aurel memegang perutnya yang terasa sakit akibat terlalu lama tertawa. Sementara Gara, pria itu sontak membulatkan matanya. Mengutuk Aurel yang dengan lancang berbicara sembarangan. Bisa-bisanya wanita itu menyamakannya dengan tokoh kartun. "Kau!" Gara mengeratkan rahangnya. Wanita itu benar-benar sangat menyebalkan. Awas ya kau nanti! "Ikut ke ruanganku sekarang, Aurelia Aurita!" Tanpa banyak bicara, Gara begitu saja mengakhiri meetingnya kali ini. Bergegas kembali ke ruang kerjanya dengan perasaan marah. Sesampainya Gara di ruang kerjanya, ia dengan cepat melepas syal itu dan melemparnya ke atas sofa. Berkali-kali menghela nafas seraya melirik syal berwarna belang itu. Apakah benar syal itu mirip dengan yang dipakai Gru? Ah, sepertinya ia harus segera mencari tahunya di internet. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD