“Jangan ambil jatah dagingku, Aurel!” Raymon mendelik sebal pada wanita rakus yang duduk di sampingnya. Betapa tidak, sedari tadi semua potongan daging yang ia panggang dilahap habis oleh Aurel. Seakan daya tampung perutnya berubah elastis seperti karet gelang. Aurel terkekeh dengan tampang tanpa dosanya. “Hehehe! Maaf, Kak. Habisnya ini enak sekali, sih!” ujarnya dengan mulut penuh berisi potongan daging sapi panggang. “Ck! Kau ini!” Raymon berdecak. “Apa karena sekarang kita sedang berada di Korea sehingga kau kerasukan hantu rubah berekor sembilan?” satirnya terheran-heran. “Bisa tidak makannya pelan-pelan saja. Telan dulu daging yang sudah masuk ke mulutmu, baru lanjut makan yang lainnya.” “Tidak mau!” seru Aurel dengan tetap memasukkan daging ke dalam mulut rakusnya. “Nanti kala

