8. Ajari Aku Berciuman, Tuan!

2813 Words
“Apa malam minggu nanti kau ada acara? Kalau tidak, maukah kau pergi jalan-jalan bersamaku?” BURGH!! “Aww!!” Aurel meringis, memegang kepalanya yang terasa berdenyut nyeri. Saat itu posisinya tengah berada di bawah kolong meja guna mencari pena yang sempat terjatuh. Akan tetapi sebuah pesan chat yang dikirimkan Leo kepadanya berhasil membuat Aurel terkaget hingga membuat kepalanya terbentur pada atap meja. Ah! Sial! Aurel mengumpat pelan sembari mengusap bagian atas kepalanya yang masih terasa sakit. Namun hal itu tidaklah berlangsung lama, sebab pesan chat dari Leo terlihat lebih menarik perhatiannya. Tanpa berniat untuk keluar dari kolong meja itu terlebih dahulu, Aurel memilih untuk berdiam diri di sana seraya terus memandangi layar ponselnya. Astaga! Benarkah pesan ini dikirimkan oleh Leo? Benarkah si macan Afrika itu mau mengajaknya kencan? Seperti ada desiran angin yang merambat di dalam dadanya, mendadak Aurel merasa taman bunga di hatinya mulai menunjukkan kehidupan. Bunga-bunga yang ia pikir telah melayu kini terasa bermekaran dengan sangat cantik. Aurel merasa begitu bahagia, sebab ia yakin jika Leo juga menaruh rasa yang sama untuknya. Kalau tidak, untuk apa pria tampan seperti dirinya mau repot-repot mengajak Aurel kencan. Iya, kan? Wanita itu menghela nafasnya, memilih bersandar pada dinding kolong meja kerjanya. Jujur saja Aurel senang karena pada akhirnya ia memiliki kesempatan untuk lebih dekat dengan Leo—pria yang sejak dulu ia kagumi. Akan tetapi, sebagian hati kecilnya mendadak ragu akan dirinya sendiri. Mengingat bagaimana reputasi Leo yang sering ia dengar dari orang lain. “Leo itu tidak suka wanita polos, dia lebih senang dengan wanita agresif yang pandai berciuman. Katanya wanita seperti itu terlihat sangat menggemaskan.” Begitulah rumor yang pernah Aurel dengar kala dirinya sedang menuntaskan panggilan alam di salah satu bilik toilet. Obrolan para betina yang tengah memoles make up di depan kaca wastafel itu seakan meruntuhkan segala kepercayaan dirinya. Jelas saja! Aurel sama sekali tidak memiliki pengalaman apapun tentang yang namanya berciuman. Jangankan menjadi pandai, mencobanya saja ia tidak pernah. Ya, Tuhan! Bagaimana ini? Bagaimana nanti kalau Leo tiba-tiba menciumnya? Dan bagaimana kalau Leo kecewa saat tahu ia tidak bisa berciuman? Akankah pria itu akan mengejeknya? Atau justru memandang jijik dan memilih untuk menjauhinya? Aurel spontan meraba bibirnya, memikirkannya saja sudah membuat ia kelimpungan sendirian. Astaga! Apa yang harus Aurel lakukan? Tidak mungkin ia membuat kencan pertamanya gagal hanya karena sebuah ciuman, bukan? Tidak! Tidak! Tidak! Ini tidak bisa dibiarkan! Aurel harus melakukan sesuatu. Sejenak wanita itu tampak berpikir, sebelum dengan mantap ia mengepalkan tangan dan membulatkan tekadnya. “Oke, baiklah! Aku harus belajar berciuman!” *** Petang itu, seperti biasa gedung SK Production sudah nampak sepi. Hanya terlihat ada beberapa orang saja yang masih berada di sana untuk menyelesaikan pekerjaan mereka. Termasuk Gara dan Aurel yang terlihat sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Gara nampak begitu sibuk dengan tumpukan berkas di meja kerjanya. Sementara Aurel terlihat sibuk sendiri dengan berpose di depan cermin besar yang memang terpasang di ruangan itu. Entah apa yang tengah dilakukan oleh wanita itu, Gara hanya bisa menggeleng pelan seraya kembali menekuni kegiatannya memeriksa laporan perusahaan. Biarkan sajalah! Selagi Aurel tidak tiba-tiba berubah menjadi hantu sadako, Gara rasa ia tidak perlu menegur kelakuan abstrak dari sang wanita. Di depan kaca besar itu Aurel terlihat memanyunkan bibirnya ke depan. “Apa seperti ini?” gumam Aurel pada dirinya sendiri. “Atau seperti ini? Atau begini?” Berulang kali ia nampak tidak puas dengan gayanya. Selain memanyunkan bibirnya ke depan, Aurel juga memiringkannya ke kanan dan ke kiri. Bahkan tubuhnya ikut meliuk-liuk tidak jelas. “Arrgh! Bukan seperti itu!” Aurel mengacak rambutnya kasar, sungguh hal ini benar-benar membuat ia frustasi. Wanita itu bahkan tidak tahu sama sekali dengan teknik berciuman yang baik dan benar. Jadi bagaimana caranya ia bisa mahir dalam berciuman? Sial! Kalau terus seperti ini, Aurel dengan jelas bisa mencium aroma kegagalan kencannya bersama Leo. Mungkin lebih parahnya lagi, Leo akan merasa ilfeel dengannya dan berujung pada kehilangan sosok pria itu untuk selamanya. Tidak, tidak, tidak! Itu tidak boleh terjadi. Bagaimanapun caranya, acara kencannya dengan Leo harus berjalan dengan baik. Menarik nafas dalam-dalam, Aurel terdiam untuk beberapa waktu, sampai kemudian …. Aha! Sebuah ide tiba-tiba muncul di dalam otaknya. Aurel menoleh ke arah Gara yang sedang bekerja, seketika senyum licik terukir dari bibir wanita itu. Tanpa memikirkan hal apapun, Aurel lantas keluar dari ruangan Gara selama beberapa menit sebelum kemudian ia kembali dengan membawa secangkir kopi panas di tangannya. Dengan langkah pelan Aurel mendekati Gara lantas duduk di depan meja kerja pria itu. “Tuan, aku membuatkan satu cangkir kopi untukmu,” ucap Aurel dengan memamerkan senyum termanis yang ia punya. “Ya, taruh di situ saja,” balas Gara tanpa sedikit pun mengalihkan tatapannya dari berkas-berkas itu. Aurel yang melihat itu seketika merasa kesal. Si lautan emas karatan ini bahkan tidak merespon dengan baik. Oke! Sepertinya Aurel harus kembali merayu sang pria lebih keras lagi. “Tuan, boleh aku meminta bantuanmu?” tanya Aurel yang berhasil menginterupsi Gara dari pekerjaannya. Pria itu mendongak, mendapati Aurel tengah tersenyum manis di hadapannya. Hah! Mau apa lagi ubur-ubur betina yang satu ini? Gara bersidekap, memandang datar ke arah Aurel yang bersiap melancarkan aksinya. Wanita itu mulai bertingkah aneh dengan kesan manja yang sengaja dibuat-buat. Memutar-mutar badannya ke kanan dan ke kiri sambil mempertahankan senyum manisnya. Yang mana membuat Gara sadar bahwa wanita itu pasti tengah menginginkan sesuatu darinya. “Kau ingin minta apa?” tanya Gara pada akhirnya. “Uang? Hutangmu saja masih belum lunas dan kau masih mau meminjam lagi?” Ia mencoba menebak apa yang diinginkan oleh wanita itu. Aurel dengan cepat menggeleng. “B-bukan, bukan uang kok, Tuan. Untuk saat ini uangku masih ada.” “Kalau bukan uang, lalu kau ingin minta apa?” Aurel membisu sejenak, sungguh sebenarnya ia malu untuk mengatakan ini. Akan tetapi keadaan terdesak membuatnya harus memutuskan urat malunya sekali lagi. “Ehm … sebenarnya … tapi jika aku mengatakannya kau harus janji dulu untuk tidak menertawakanku, tidak mengejekku, tidak memarahiku, tidak—“ “Hei! Sebenarnya kau ini mau apa, sih! Cepat katakan, kau tidak lihat kalau pekerjaanku masih banyak!” Dengan perasaan kesal Gara menyeruput kopi panas buatan Aurel. Berharap kopi itu bisa meredam gejolak amarahnya. “I-itu … aku … aku ... aku ingin kau mengajariku cara berciuman!” Aurel mengucapkan kalimat itu dengan kecepatan super kilat. “Uhuk … Uhuk ….” Mendadak Gara tersedak kopi yang diminumnya. “Apa katamu? Berciuman?” Alis Gara terlihat menyatu. “Astaga! Berapa umurmu saat ini, Rel? Kau belum pernah berciuman sebelumnya?” tanya sang pria terheran-heran. “Aish! Sudah ku bilang jangan mengejekku!” Aurel memasang wajah cemberut. “Ayolah, Tuan! Ku mohon ajari aku caranya berciuman. Sungguh, aku tidak ingin nanti Leo memandangku sebagai wanita bodoh yang tidak bisa berciuman. Ya? Ku mohon!” rengek Aurel. Gara terpaku sesaat. “Kau … belajar berciuman hanya gara-gara Leo?” “Ya! Kau tahu, malam minggu nanti rencananya dia akan mengajakku kencan. Dan di sana kemungkinan besar dia juga akan mengajakku berciuman. Apa jadinya kalau saat itu Leo tahu kalau aku tidak bisa? Itu akan sangat-sangat membuatku malu, Tuan. Jadi aku mohon padamu, tolong ajari aku. Please!” Gara berdecak! Dalam hati sebenarnya ia sedang kesal. Bisa-bisanya wanita itu merengek minta diajari berciuman hanya karena ingin kencan dengan playboy cap kodok kering itu. Apa ia tidak pernah berpikir jika bisa aja pria itu akan mempermainkannya? “Kau yakin dia akan menciummu saat kalian berkencan nanti?” Bukannya langsung mengajari, Gara justru bertanya hal-hal seperti itu kepada Aurel. Aurel mengangguk pasti. “Tentu saja! dan aku juga yakin, saat itu ia pasti akan menyatakan cintanya kepadaku. Aku sudah bisa menebak hal itu,” jawab Aurel dengan percaya diri. Kini wanita itu sudah senyum-senyum sendiri, barang kali tengah membayangkan adegan romantis yang mungkin akan ia lalui bersama Leo nantinya. Gara lagi-lagi terdiam, ia hanya memainkan lidahnya di dalam rongga mulut sembari memerhatikan setiap jengkal pahatan wajah Aurel. Mulai dari mata, hidung, pipi hingga terhenti pada bibir mungil berwarna merah cherry itu. Berkali-kali kedapatan menarik nafas hingga sedetik kemudian …. Bagai sebuah adegan slow motion dalam drama, Gara menarik begitu saja tali kartu tanda pegawai yang menggantung di leher Aurel lalu dengan cepat menempelkan bibirnya dengan bibir Aurel. Menyesapnya pelan lantas terlepas. Tidak sampai lima detik, akan tetapi sukses membuat Aurel mematung seketika. Hening! Keduanya seakan terjebak dalam ruang hampa yang tidak bisa mereka mengerti, bahkan cicak-cicak yang merayap di dinding seakan tidak berani mengeluarkan suaranya. Takut jika decakannya akan mengganggu ketegangan di antara dua manusia beda jenis itu. Aurel tercekat, merasa seperti berada dalam drama dengan mode pause. Waktu terasa berhenti di situ sampai perlahan mata dengan bulu lentik itu mengerjap, berusaha meraup kesadaran yang melayang-layang di udara. Apa itu tadi? Dia menciumku? Ya, Sagara Kencana menciumku? “Tuan!” Aurel tiba-tiba memekik. “K-kenapa, kenapa kau menciumku? Astaga, bagaimana ini! Tega-teganya kau mencuri ciuman pertamaku! Padahal aku berencana untuk memberikannya pada Leo. Kenapa kau yang mengambilnya? Ish! Semua rencanaku batal gara-gara kau, Tuan!” Aurel memandang kesal ke arah Gara yang hanya bisa melongo mendengar ocehan panjang wanita itu. Apa-apaan ini! Kenapa sekarang jadi aku yang kesannya bersalah? “Kau ini kenapa? Tadi bukankah kau yang ingin belajar berciuman denganku. Aku sudah mengajarimu, lalu kenapa sekarang kau malah marah padaku?” Aurel mengacak rambutnya frustasi. “Aish! Aku memintamu untuk mengajariku, bukan malah menciumku.” Gara merotasikan bola matanya malas. “Lalu bagaimana caranya aku mengajarimu kalau aku tidak menciummu, Aurelia Aurita? Kau pikir ciuman hanya butuh teori tanpa praktik?” Seketika Aurel terdiam. Benar juga! Kenapa ia tidak berpikir itu tadi? “I-iya, iya juga, sih. Mana ada orang mahir berciuman hanya dengan teori saja.” Aurel mengusap tengkuknya malu-malu. “ Tapi tetap saja kau yan—“ Cup. Sebuah kecupan singkat kembali berhasil membuat Aurel membisu untuk kedua kalinya. “Ciuman pertamamu sudah aku kembalikan, jadi berhentilah mengoceh dan ayo kita pulang sekarang.” *** Sepanjang perjalanan pulang, Aurel tak henti-hentinya mengoceh perihal Gara yang telah mencuri ciumannya dua kali. Menuntut sang pria untuk bertanggung jawab sampai tuntas. "Pokoknya aku tidak mau tahu, karena kau sudah mencuri ciumanku dua kali, kau juga harus mengajariku berciuman sampai pandai. TITIK! " Suara beep dari sandi pintu yang berbunyi mengiringi ocehan Aurel kala keduanya baru saja sampai di apartement. Gara yang sedari tadi lebih banyak diam, memilih untuk mengabaikan Aurel. Ia melepas sepatu kerjanya, lalu berjalan ke arah dapur seraya melepas tiga kancing kemejanya. Entah kenapa, mendadak ia merasa gerah dan ingin minum air putih banyak-banyak. "Tuan, kau sebenarnya dengar tidak, sih?" Aurel mengikuti Gara kemanapun pria itu melangkah. "Ku mohon tolong ajari aku, please!" "Kau ini berisik sekali dari tadi!" Gara melempar tubuhnya ke atas sofa ruang tengah. Merebahkan diri demi membuat tubuh letihnya merasa sedikit lebih rileks. "Bukannya tadi kau marah saat aku mengajarimu? Jadi untuk apa sekarang kau malah merengek seperti bayi besar?" Aurel cengengesan. "Itu, kan tadi, Tuan. Setelah aku memikirkannya, ternyata ucapanmu ada benarnya juga. Jadi bagaimana? Kau mau kan mengajariku?" Aurel berkedip beberapa kali, memasang tampang terbaiknya untuk merayu Gara. Sementara itu, di sisi lain Gara hanya bisa menghela nafasnya pasrah. Dasar wanita! Bisakah dia tidak bertingkah konyol seperti itu? "Oke, oke, baiklah! Jadi mau mulai dari mana?" tanya Gara pada akhirnya. "Terserah kau sajalah! Kau kan gurunya, jadi aku akan menuruti apapun yang kau perintahkan," balas Aurel girang. Bersemangat karena sebentar lagi ia akan memulai kelasnya bersama pak guru Gara. "Baik, pertama kita mulai dengan melepas kaca mata jelekmu ini." Tanpa sungkan Gara melepas begitu saja kaca mata tebal yang sedari dulu setia membingkai mata bulat Aurel. "Kau sebenarnya tidak memiliki masalah pada matamu, bukan? Jadi untuk apa terus-terusan memakai kaca mata aneh ini?" tanya Gara yang tidak dihiraukan oleh Aurel, ia hanya tersenyum tipis menanggapi ocehan Gara perihal kaca matanya. "Oke, setelah itu kau harus bisa menatap mata pasanganmu dengan lekat. Kau ikuti apa yang aku contohkan." Gara mengarahkan pandangannya ke arah Aurel, memandang mata sang wanita dengan tatapan yang lembut. Aurel mengikuti segala instruksi dari Gara. Sang wanita balik menatap mata pria itu. Sengaja ia buat matanya agar terlihat lebih besar. Alisnya sedikit berkerut, membuatnya terlihat seperti Red dalam film Angry Bird. "Bukan begitu bodoh! Kenapa kau malah melotot seperti itu? Kau ingin berciuman atau ingin berkelahi?" protes Gara yang kesal dengan cara pandang Aurel yang seperti mengajak orang untuk berkelahi. "Tataplah dengan lembut dan tenang. Bukan melotot seperti tadi, hilangkan juga kerutan alismu itu." "Tatapan lembut? Bagaimana caranya mengetahui itu adalah tatapan lembut atau bukan? Kita bahkan tidak bisa menyentuhnya?" Fix, otak Aurel sudah terlampau bodoh dengan menanyakan hal sepele seperti ini. "Aurel!!" Wajah iblis Gara tiba-tiba saja muncul kepermukaan, pertanda pria itu mulai kehabisan stok kesabaran. "Hehehe! Maaf, maaf. Ayo lanjutkan, Tuan." Aurel hanya nyengir kuda, sementara Gara sudah menggeram kesal. Mereka kembali mempraktikkan hal tadi. Kini Aurel lebih bisa mengikuti instruksi Gara dengan baik. Tatapan wanita berubah menjadi sangat dalam, bahkan mampu membuat Gara sedikit salah tingkah. "Oke, setelah itu pejamkan ke dua matamu dan mulailah dekatkan bibirmu dengan bibir pasanganmu," perintah Gara. Aurel mengangguk dan mulai memejamkan matanya. Gara yang sudah melihat kesiapan Aurel mulai menuntun wajah sang wanita untuk mendekat ke arah wajahnya. Hingga secara perlahan bibir mereka akhirnya menempel satu sama lain. Gara mencium Aurel dengan lembut. Secara alami mulai menuntun bibir Aurel agar dapat mengikuti ritme permainannya. Sementara itu, dengan mengikuti arahan dari Gara, Aurel secara perlahan juga bisa melakukannya dengan baik. Waktu bergulir untuk beberapa saat, dan Gara masih terus memanfaatkannya untuk tetap mempertahan posisi intim itu. Membiarkan Aurel menikmati permainannya dengan sesekali menghisap bibir bagian bawah wanita itu. Bibir Aurel benar-benar sangat lembut, dan terasa sedikit rasa strawberry dari sisa lipgloss yang menempel di sana. Semakin lama, ciuman mereka terasa semakin dalam. Hingga Gara secara spontan mendorong tubuh Aurel ke untuk rebahan di atas sofa dengan tanpa memutuskan tautan di bibir mereka. Mengurung tubuh mungil itu dengan tumpuan tangan di kedua sisi. Ciuman mereka pada akhirnya terlepas saat seluruh pasokan oksigen keduanya menipis. Dalam diam, Gara menatap wajah Aurel yang terlihat memerah padam. Pandangannya terhenti pada bibir ranum yang sedikit bengkak akibat ciuman tadi. Seksi, begitu pikirnya Sementara Aurel sendiri hanya bisa diam dengan sekujur tubuh yang terasa memanas. Ia memegang dadanya yang berdetak dengan kencang. Seperti ada rasa menggelitik yang memenuhi hatinya. Wanita itu juga merasakan seperti ada kupu-kupu yang berterbangan di perutnya. Ah, bahkan lebih dari itu. Rasanya seperti ada kecoa yang menggerayangi seluruh tubuhnya. Terasa sangat menggelikan. "T-Tuan," ujar Aurel terbata kala matanya menatap Gara yang masih bertahan di atas tubuhnya. "K-kenapa kau bisa membuat jantungku berdetak kencang? A-apa seperti ini rasanya berciuman? Maksudku, apakah ini normal dialami oleh semua orang yang berciuman? Apakah aku akan mengalami hal yang sama ketika nanti Leo menciumku?" Aurel memandang wajah Gara yang terpaku dengan pertanyaannya. Pria itu terdiam sejenak, namun setelah itu senyum terukir dari bibir manisnya. "Ya, tentu saja," ujarnya sembari merapikan anak rambut yang menempel di wajah Aurel. Entah kenapa, ia jadi merasa betah berada di posisi seperti ini. Berada di atas tubuh Aurel dengan sang wanita yang terlihat pasrah di bawah sana. "Semua orang akan merasakan hal ini saat mereka berciuman. Ya, bisa dibilang seperti efek samping mungkin?" jawab Gara asal. Tentu saja semua yang Gara katakan itu adalah bohong. Dia sudah pernah berciuman dengan banyak wanita. Bahkan sudah tak terhitung berapa jumlah wanita yang pernah berciuman dengannya. Tapi satu hal yang harus kalian tahu, Gara belum pernah merasakan perasaan aneh seperti saat ini. Dadanya yang berdesir hebat serta irama detak jantungnya yang berpacu cepat. Pertama kali dalam hidupnya, Gara merasakan hal seperti ini saat mencium gadis aneh bernama Aurelia Aurita. Mata Aurel spontan berbinar mendengar jawaban Gara. Kini di otaknya sudah terbayang adegan ciumannya dengan Felis Leo nanti. Pasti sangat romantis, begitu pikirnya. Melihat Aurel kembali dalam mode khayalannya, Gara memilih untuk beranjak menjauh. Ia bangkit dari posisinya lantas berjalan ke arah kamarnya. Namun, saat ia sudah sampai di depan pintu kamarnya, pemuda itu justru berjalan kembali kearah Aurel. Dengan cepat menarik dagu wanita itu dan mendaratkan ciuman singkat di sudut bibirnya. Aurel kembali tersentak. Ia memandang heran wajah Gara yang kini tengah menatapnya juga. Wajah Gara terasa sangat dekat, bahkan saking dekatnya, Aurel dengan jelas bisa merasakan hembusan nafas dari sang pemuda. Mendadak jantung Aurel berdetak kencang kembali. "Ku sarankan, mulai sekarang ku harap kau tidak hanya menonton film kartun saja. Sekali-kali tontonlah film Fifty Shades Of Grey supaya kau mengerti bagaimana caranya berciuman yang benar. Selain itu, kau juga bisa belajar cara b******a yang benar." Setelah mengatakan itu Gara berjalan cepat dan menghilang di balik pintu kamarnya. Aurel masih mencerna apa yang dikatakan Gara. Tapi sedetik kemudian ia tersenyum mengerti. "Terima kasih, Tuan atas sarannya. Terima kasih juga kau sudah mau mengajariku. Lain kali tolong ajari aku lagi, ya!!" Teriak Aurel. Berharap Gara akan mendengarnya dari balik pintu. Gara tersenyum simpul mendengar sayup-sayup teriakan Aurel dari luar. Seketika ia memegang dadanya yang masih berdebar kencang hingga saat ini. Sial! Ada apa denganmu Sagara Kencana? TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD