9. Sexy Lips

1892 Words
“Gara, aku merindukanmu.” Suara manja seorang wanita terdengar mengalun memenuhi luasan ruang kerja Gara. Berjalan anggun ke arah meja kerja Gara lalu duduk di atas pangkuan sang pemuda. Wanita itu adalah Sonia, salah satu teman wanita Gara yang katanya tidak bisa mendesah itu. “Kenapa kau tidak pernah menghubungiku akhir-akhir ini?” Sonia mencebikkan bibirnya seolah dirinya tengah bersedih. “Apa kau sudah tidak menginginkan tubuhku lagi?” Jemari lentiknya ia gerakkan untuk menelusuri rahang tegas Gara. Menatap lamat wajah tampan yang tengah menyunggingkan senyum tipisnya. “Bukan begitu, hanya saja belakangan ini aku benar-benar sangat sibuk,” jawab Gara. Lalu tangannya mulai bergerak untuk meremas bagian belakang tubuh Sonia. “Halah! Bilang saja kalau kau sudah bosan padanya karena wanita itu tidak bisa mendesah!” Dari meja kerjanya, diam-diam Aurel mencibir Gara. Ia berkomentar dalam hati namun dengan tetap mempertahankan arah pandangan ke depan layar komputernya. Sungguh, ia tidak mau dianggap tidak sopan karena ketahuan mengintip pasangan yang sedang sibuk lovey-dovey itu. “Berarti nanti kalau sudah tidak sibuk, apa kau akan mengundangku ke ranjang hangatmu lagi?” tanya Sonia masih dengan suara manjanya. “Ehm, ya, nanti akan aku pikirkan,” balas Gara seadanya yang berhasil membuat raut wajah Sonia berubah kesal. “Kau ini kenapa?” Wanita seksi itu bangkit dari pangkuan Gara. “Apa kau menemukan wanita lain yang lebih hebat dariku di ranjang? Siapa? Si jalang Marina?” “Sesama jalang dilarang saling menyerang. Nanti Tuan Gara bisa impoten mendadak.” Aurel terkikik geli dengan pemikirannya sendiri. Rasanya ia tidak bisa membayangkan bagaimana pusingnya Gara kalau sampai teman kencannya itu saling jambak-jambakkan di depannya. Akankah Gara akan memisahkan mereka? Atau justru tertawa karena menganggapnya sebuah hiburan? “Bukan begitu, Sonia sayang.” Sorot mata Gara terlihat melembut, ia kembali menarik Sonia agar duduk di pangkuannya lalu mencium bibir wanita itu. “Setelah semua pekerjaanku beres, aku janji kita akan sering bertemu. Mungkin nanti kita bisa berpesta bersama.” Mendengar itu mendadak wajah Sonia berubah sumringah. “Pesta? Pesta seks maksudmu?” “Kau ingin?” tanya Gara. “Aku bisa mengaturnya kalau kau mau. Kita bisa melakukannya seharian penuh dan aku bisa menyentuh tubuhmu sepanjang hari. Kedengarannya sangat menyenangkan.” Sonia tersenyum puas. “Itu ide yang sangat bagus, sayang.” Lantas tanpa permisi menerjang Gara dengan ciuman mautnya. Bergelung mesra di atas pangkuan sang pria dan melumat setiap detail pahatan bibir pria itu. Pun Gara juga melakukan hal yang sama, walaupun ekor matanya sedari tadi memilih sibuk untuk melirik Aurel yang terlihat sama sekali tidak terganggu dengan aktivitas panas yang sengaja Gara sajikan. Wanita itu tetap fokus mengotak-atik komputernya dengan ditemani earphone yang terpasang rapi di kedua telinga. Sial! Pantas saja wanita itu tidak terganggu! Ia pasti tidak mendengar percakapannya dengan Sonia. Mendadak Gara merasa kesal sendiri. Jauh di sudut hatinya, ia ingin sekali melihat Aurel kesal karena tingkahnya. Akan tetapi sepertinya hal itu akan sangat jauh panggang dari api. Gara terus memerhatikan setiap gerak-gerik Aurel yang sepertinya tidak menyadari kalau dirinya sedang diperhatikan. Wanita itu bersikap biasa saja. Sesekali terlihat ia menggaruk kepalanya, sebentarnya lagi berdecak dan beberapa kali terlihat mengigit bibir bawahnya. Damn it!! Bahkan hanya karena melakukan pergerakan kecil seperti itu saja mampu membuat bibir wanita itu terlihat sangat seksi. Akhirnya Gara sadar jika Aurel memang memiliki kebiasaan menggigit bibir bawahnya seperti itu. Bahkan karena saking sibuknya ia memerhatikan Aurel, Gara sampai tidak sadar jika ciumannya dengan Sonia sudah terlepas begitu saja. “Ada apa?” tanya Sonia. Ia menelisik perubahan raut wajah Gara. “Apa aku melakukan kesalahan?” lanjutnya kemudian. "Hah ...." Gara mengerjap, secara perlahan berusaha meraih kembali kesadarannya. "Kau kenapa? Apa kau baik-baik saja?" tanya Sonia khawatir. Gara tersenyum tipis lantas menggeleng pelan. “Kau tentang saja, aku baik-baik saja, kok. Hanya sepertinya aku harus kembali bekerja. Jadi lebih baik kau pergi sekarang juga.” *** Malam minggu akhirnya tiba. Hari di mana Aurel akan pergi berkencan dengan Leo. Dan sedari tadi wanita itu nampak sibuk memilih pakaian yang pas untuk ia pakai malam ini. Sedikit meringis mengingat ia tidak begitu memiliki banyak pakaian bagus di dalam lemarinya. Kebanyakan isi lemarinya hanya diisi oleh tumpukan celana jeans dan juga baju kaos over size andalannya. Aurel bahkan sama sekali tidak memilik jenis baju seperti mini dress, sabrina, crop top atau jenis-jenis pakaian feminim lainnya. Ia mendesah lemah. Dengan segala pertimbangan yang ada, Aurel pada akhirnya menjatuhkan pilihan dengan menggunakan ripped jeans yang ia padukan dengan kemeja merah bermotif kotak-kotak. Dia juga terlihat memoleskan bedak tipis ke wajahnya, dan tak lupa dengan lipgloss strawberry favoritnya. Menurut Aurel, ini adalah penampilan terbaik yang pernah ia tunjukkan. Mengingat jika di hari biasa wanita itu lebih sering memakai baju kaos kebesaran ciri khas seorang Aurelia Aurita. Namun untuk kali ini, ia memberanikan diri untuk memakai kemeja yang sedikit ketat, hingga hampir berhasil memamerkan lekuk tubuhnya yang bisa dibilang tidak jelek-jelek amat. Setelah itu, Aurel lantas mengikat rambutnya asal, sesekali membenarkan posisi poni ikalnya yang dijuluki Gara sebagai poni bulu domba. “Woah! Lihatlah penampilanmu hari ini, Aurelia Aurita? Bukankah ini terlihat sangat keren?” Aurel mulai memasang gaya aneh di depan meja riasnya, barangkali tengah berbangga diri sebab telah berhasil mengubah penampilannya menjadi lebih baik. “Tapi, kenapa masih saja ada yang terasa kurang, ya?” Aurel menggigit ujung jarinya, berpikir hal apa yang sekiranya membuat penampilannya terasa kuang memuaskan. Sampai tiba-tiba saja ia menyadari sesuatu. Parfum! Dengan tergesa Aurel mengacak isi meja riasnya dan ia begitu kecewa saat melihat isi dari botol parfum murahnya kosong tak bersisa. “Duh! Bagaimana ini? Ini bahkan tidak bersisa satu tetes pun,” keluh Aurel saat ia tidak berhasil mengeluarkan tetesan terakhir yang tersisa di dasar botol parfum itu. “Ah, sial!” Aurel mengerang frustasi. Ia menciumi seluruh tubuhnya, memastikan jika tidak ada bau-bau aneh yang menguar dari sana. “Tidak bau, sih. Tapi, kan ….” Sebuah pemikiran tiba-tiba terlintas di benaknya. Lantas dengan terburu-buru ia keluar dari kamarnya dan berlari menuju ruang tengah. “Tuan!” Aurel berteriak, membuat Gara dan Raymon yang tengah bersantai di sana nampak terkejut karenanya. “Tuan, ini darurat!” ucap Aurel yang dibalas tatapan tidak mengerti oleh Gara. “Bolehkah aku meminta parfummu sedikit saja? Aku sama sekali tidak punya parfum untuk aku pakai kencan hari ini. Jadi bisakah kau memberikannya? Ya? Hanya sedikit, tidak akan membuatmu rugi, kok. Terima kasih, Tuan!” Belum sempat Gara menjawab, Aurel telah terlebih dahulu berlari masuk ke kamar Gara. Ia mengambil asal salah satu parfum koleksi Gara lantas menyemprotkannya ke seluruh tubuh. Dan sesaat kemudian sebuah lengkungan senyum terukir di wajahnya. Aurel keluar dari kamar Gara dengan senyum cerah, sementara kedua pria itu hanya bisa menganga melihat tingkah sang wanita. Bau parfum yang menyengat perlahan mulai menyeruak memenuhi ruangan. “Itu kan parfum khusus pria, Rel. Kenapa kau malah memakainya?” tanya Gara dengan nada datar. “Oh, benarkah?” tanya Aurel balik. “Bukankah semua parfum harusnya sama saja, kenapa bisa ada perbedaan gender dalam pemakaiannya?” Aurel mengernyit, merasa heran dengan peraturan dunia yang begitu aneh. Pakai parfum saja harus ada aturannya. “Ah, tapi bodo amat, lah! Yang penting sekarang aku sudah wangi. Iya, kan?” Aurel terkekeh. “Tuan, coba kau lihat penampilanku hari ini? Terlihat begitu sempurna, bukan?” Aurel memutar-mutarkan tubuhnya di depan Gara dan juga Raymon. Gara terdiam. Ia memandang Aurel dari atas sampai bawah. Memang sih ada sedikit peningkatan. Yang tadinya bernilai 50, kini Gara bisa memberi nilai 55 untuk penampilan Aurel hari ini. Hanya saja, satu hal yang paling Gara tidak sukai dari penampilan sang wanita adalah poni bulu dombanya itu. Benar-benar sangat mengganggu. Sementara itu, di sisi lain Raymon justru kedapatan melipat bibirnya ke dalam. Berusaha keras untuk tidak menertawakan penampilan Aurel yang masih terlihat sangat aneh di matanya. “Bagaimana? Aku sudah terlihat cantik, kan?” Aurel mengembangkan senyum penuh percaya diri. “Ya, sudah kalau begitu, aku pergi dulu, ya. Jangan lupa untuk menantikan kabar baik dariku,” ucap Aurel sebelum tubuh mungil itu tenggelam di balik pintu. Setelah Aurel pergi, Raymon sudah tak kuasa untuk menahan tawanya. Pria itu terbahak sampai harus memegang perutnya. “Astaga! Kau lihat tadi penampilannya? Memang sih ada sedikit peningkatan, tapi di mataku tetap saja terlihat aneh. Apalagi rambut bulu dombanya itu.” “Hah! Entah apa yang dipikirkan Leo sampai mau mengajak wanita aneh seperti itu untuk kencan. Tapi sebagai teman yang baik, aku doakan semoga kencan mereka berhasil,” ucap Raymon. Mendengar itu Gara terlihat mendecih singkat. “Dari pada berdoa untuk mereka, lebih baik kau simpan saja doamu itu untuk dirimu sendiri. Karena sudah pasti kencan mereka tidak akan berhasil.” Raymon mengernyit. “Lho, kenapa? Kau tidak sedang menyumpahi agar kencan mereka gagal, kan?” “Tidak! Aku sama sekali tidak menyumpahi mereka. Hanya saja saat ini aku sedang mengatakan sebuah kebenaran kalau kencan mereka sudah dipastikan akan gagal,” jawab Gara dengan sedikit selipan emosi di dalamnya. “Wow … wow … wow! Ada apa denganmu wahai tuan lautan emas? Kenapa kau jadi sensitif seperti itu?” Raymon memicingkan mata, menatap ke arah Gara yang terdiam membisu. “Ah, aku tahu. Jadi sekarang kau mulai mengakui kalau dirimu ternyata menyukai—“ “Harus berapa kali ku bilang kalau aku sama sekali tidak menyukainya, Raymon. Jadi berhentilah berspekulasi yang tidak-tidak. Karena itu sama sekali tidak benar!” bentak Gara. Perasaan kesalnya mendadak muncul tatkala Raymon berusaha menggodanya dengan spekulasi konyol seperti itu. Menyukai Aurel? Cih! Jangan harap! “Kau yakin?” tanya Raymon. “Ya, tentu!” jawab Gara mantap. “Kalau begitu mau taruhan denganku?” tawar Raymon yang berhasil membuat Gara menoleh ke arahnya. “Taruhan apa?” tanya Gara tidak mengerti. “Taruhan kalau kau tidak mungkin menyukai Aurel,” jelas Raymon. “Kalau kau sampai kalah, kau harus mau merelakan satu koleksi yacht mewahmu untuk berpindah tangan kepadaku. Bagaimana?” “Cih! Kau mencoba untuk memerasku?” Gara menghunuskan tatapan tajamnya ke arah Raymon. Merasa jika nilai tahuran itu benar-benar tidak masuk akal. Raymon terkekeh. “Tidak! Aku sama sekali tidak ingin memerasmu, Ga. Lagipula, jika kau memang yakin tidak akan menyukai Aurel, harusnya kau tidak perlu takut akan kehilangan salah satu aset berhargamu, kan? Kecuali kalau ternyata kau memang—“ “Oke, deal!” Tanpa memberikan kesempatan Raymon untuk berbicara, Gara dengan begitu saja menyetujui taruhan konyol itu. Ia jelas tidak mau harga dirinya jatuh di depan Raymon. “Tapi, jika kau yang kalah, kau harus mau melakukan apapun yang aku minta. Termasuk mengakui jika kau adalah sutradara yang payah di depan umum. Bagaimana?” Gara menyunggingkan senyum kemenangannya. Yakin jika Raymon pasti akan menolaknya, sebab Gara tahu betul bagaimana Raymon berusaha sangat keras untuk menjaga reputasi baiknya. Akan tetapi, respon tak terduga justru didapat Gara kala melihat raymon dengan enteng menyetujui kesepakatan tersebut. “Oke, aku setuju,” jawabnya dengan lugas. Raymon menatap Gara untuk beberapa saat, seolah tengah menilai sosok Gara lebih dalam lagi dan berkata, “Terlepas dari taruhan ini, kalau boleh jujur, aku lebih senang jika kau jatuh cinta dengan Aurel ketimbang harus kembali terperangkap dengan sosok betina macam wanita itu.” Raymon mengalihkan tatapannya ke arah ponsel Gara yang sedang berbunyi. Menampilkan sebuah panggilan dari seseorang yang dulu ia kenal dengan begitu baik. Gara mengikuti arah pandang Raymon, dan seketika raut wajahnya berubah kala melihat siapa orang yang kini tengah berusaha untuk menghubunginya. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD