Aurel berjalan riang di sepanjang trotoar jalan, berkali menghentak-hentakkan kakinya dengan bersemangat. Membuat untaian rambut ikalnya bergoyang ke kiri dan ke kanan. Tersenyum sumringah saat melihat seorang pemuda yang berdiri di ujung jalan sana.
Ya, Tuhan! Betapa tampannya si macan Afrika yang satu itu. Terlalu sempurna sampai Aurel tidak bisa mengendalikan rona-rona merah yang menyembul di kedua pipinya.
Dari kejauhan Aurel bisa melihat Leo tersenyum lantas berjalan mendekat ke arahnya. Terlihat pria itu sangat gagah dengan balutan celana denim dan juga jaket kulit yang membungkus tubuhnya.
“Bagaimana? Kau sudah siap?” tanya Leo seraya merapikan beberapa anak rambut yang menempel di di wajah Aurel.
“I-iya,” jawab Aurel. Tiba-tiba jantungnya berdetak kencang saat Leo dengan santai menggenggam jemari tangannya. Dalam hati Aurel bersorak gembira, berharap ini adalah awal yang baik untuk hubungan mereka ke depannya.
Leo menanggapi kegugupan Aurel dengan sebuah senyuman. Senyum manis yang memang menjadi andalan pria berwajah mirip artis Korea itu. Ia lantas berjalan, menuntun sang wanita untuk beranjak menuju motor vespa yang terparkir tak jauh dari tempat mereka berdiri.
“K-kita naik motor?” tanya Aurel tidak percaya.
“Iya, memangnya kenapa? Kau keberatan?” Leo balik bertanya. “Maaf, jika aku hanya bisa mengajakmu naik motor, aku bukanlah orang kaya seperti pak Gara yang—“
“Tidak! Aku sama sekali tidak keberatan,” balas Aurel. “Justru aku merasa senang, rasanya seperti mengingat masa lalu saat aku masih jadi driver ojek online,” lanjut Aurel sembari terkekeh.
Wanita itu menerima helm yang diserahkan Leo kepadanya. Memasangnya dengan benar kemudian naik ke atas motor vespa bercat kuning terang itu. Saat berada di atas motor seperti ini, ingatan Aurel mendadak ketarik saat di mana ia kembali lagi bertemu dengan Gara untuk pertama kalinya.
Awal dari nasib sial yang ia lalui saat ini.
Hah! Coba saja saat itu Gara tidak memprovokasinya, kecelakaan itu pasti tidak akan terjadi, dan ia tidak perlu harus menjadi asisten si lautan emas … heh!
Tunggu … tunggu … tunggu! Aurel tersentak oleh lamunannya sendiri.
Yang bersamanya saat ini kan Felis Leo—si macan Afrika, tapi kenapa otak Aurel malah sibuk merapalkan nama Sagara Kencana yang menyebalkan itu?
Apa saat ini ia masih terkena efek samping oleh dari debaran d**a saat latihan ciuman beberapa hari yang lalu?
Kalau memang itu penyebabnya, berarti Aurel harus mencari cara agar ia bisa secepatnya berciuman dengan Leo. Supaya efek samping yang ditinggalkan Gara bisa digantikan oleh Leo.
Membayangkan hal itu membuat Aurel tergelak sendiri, dan ia tak henti-hentinya berharap agar efek samping ciuman yang diberikan Leo nanti akan bertahan selamanya.
“Jadi sekarang kita mau ke mana?” tanya Aurel saat Leo sudah melajukan motornya di jalanan ibu kota.
“Lihat saja nanti, sebentar lagi kau akan tahu,” balas Leo dengan sunggingan senyum penuh arti.
***
“Ku mohon, sekali ini saja, bantulah aku untuk meyakinkan hatinya.”
Dulu sekali, Aurel ingat seberapa takjubnya ia saat menonton tayangan drama televisi tentang sesosok jin wanita yang tinggal di sebuah cangkang kerang mutiara. Bagaimana jin cantik itu bisa menguasai banyak kekuatan sihir dan yang paling Aurel ingat adalah adalah kemampuannya dalam membuat tubuhnya menjadi kecil
Beberapa saat lalu, dalam diam Aurel sempat berpikiran untuk memiliki kekuatan itu. Agar dirinya bisa mengecilkan tubuh dan menyelinap pergi di antara celah-celah. Akan tetapi semua yang ia harapkan nyatanya tidak akan pernah terkabul. Sebab, jangankan berpikir untuk melarikan diri, sekadar bersuara saja bibirnya terasa seperti tercekat.
“Jika kau memang masih meragukanku, kau bisa tanya sendiri pada Aurel. Dia adalah salah satu teman sekaligus rekan kerjaku, dan dia juga anaknya jujur banget.”
Demi sayap Ikarus yang rusak karena sengatan matahari, ingin rasanya Aurel memanggang macan Afrika ini hidup-hidup. Bisa-bisanya pria itu tersenyum manis ke arah wanita di hadapannya, padahal jelas-jelas ada Aurel yang duduk tepat di samping sang pria.
Dasar sialan! Tukang tipu! Tukang gombal!
Aurel pikir, ia akan menghabiskan waktu malam minggu ini dengan sebuah kencan yang romantis. Namun pada kenyataannya, ia harus rela menghapus segala angan-angan itu karena Leo sepertinya lebih memilih si wanita blasteran dari pada dirinya.
Ternyata, niat Leo yang mengajak Aurel keluar malam ini hanyalah sebatas untuk menemani sang pria bertemu dengan wanita pujaannya. Sekalian menjadi alat untuk meyakinkan wanita itu bahwa Leo adalah pria baik-baik. Bukan sosok playboy seperti yang selama ini digosipkan oleh orang-orang.
Cih! Dasar pembual!
Kalau memang beneran pria baik-baik, harusnya dia bilang saja dari awal. Bukannya malah menipu Aurel dan baru mengatakan maksud tujuannya saat di depan café tadi.
“Benarkah semua yang dikatakan Leo tadi, Aurel?” tanya Gwen, wanita blasteran pujaan hati Leo yang saat ini menatap Aurel penuh harap. Barang kali ia tengah menanti jawaban memuaskan dari mulut lawan bicaranya.
“Y-ya, bisa dibilang seperti itu,” jawab Aurel sekenanya. Padahal di dalam hatinya sudah gatal ingin mengomel panjang lebar dan menceritakan kebusukan Leo pada wanita cantik itu.
Mata Gwen nampak berbinar. “Serius? Kau tidak sedang berbohong, kan?” tanya Gwen kembali. “Berarti selama ini rumor tentang dia yang suka mempermainkan hati perempuan itu salah, ya?”
“Y-ya, begitulah,” balas Aurel dengan senyuman canggung.
“Apanya yang salah? Justru itu adalah sebuah kebenaran yang mutlak. Kalau tidak, mana mungkin ia tega menjebakku dengan cara licik seperti ini.” cibir Aurel dalam hati.
Diam-diam Aurel meringis, sebab ia tidak akan bisa secara langsung mengungkapkan hal itu di depan Gwen. Ingatan akan tampang memohon Leo tadi di depan café membuat sisi lemah Aurel lebih mendominasi. Terpaksa mengiyakan permintaan sang pria dengan mengorbankan perasaannya sendiri.
Oh, poor Aurel!
Tidak bisa dijelaskan bagaimana sakitnya perasaan Aurel saat ini. Kesal, marah, kecewa dan yang pasti sangat sedih. Terlebih saat ia menyadari kalau Leo sesungguhnya tidak memiliki perasaan apapun padanya. Bahkan saking tidak berartinya, sang pria sampai begitu tega mengabaikan Aurel selama tiga jam lamanya dan memilih sibuk mengobrol dengan Gwen.
Sial! Kalau sudah begini, lebih baik jika Aurel pergi saja. Diam di sini hanya akan semakin membuat hatinya luka berdarah-darah.
“Leo, sepertinya aku harus pulang duluan. Tuan Gara memintaku untuk melakukan sesuatu sekarang,” ujar Aurel dengan mempertahankan raut wajah setenang mungkin. Berharap jika Leo tidak bisa membaca isi pikirannya.
Leo menghentikan percakapannya dengan Gwen dan menoleh ke arah Aurel. “Oh, kau mau pulang?” tanya Leo sembari melirik arloji yang melingkar di tangannya. Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
“Ehm, bukannya bagaimana, tapi apa kau tidak keberatan untuk pulang sendirian? Soalnya masih ada hal yang ingin aku bicarakan dengan Gwen.” Leo berujar hati-hati. Barang kali takut akan menyinggung perasaan Aurel.
Sedangkan Aurel, ia tidak habis pikir kalau Leo akan bersikap terang-terangan seperti itu. Ia memang tidak mengharapkan untuk diantar pulang, hanya saja mendengar ucapannya tadi benar-benar membuat Aurel kecewa.
Dengan berusaha sekuat mungkin untuk tersenyum, Aurel mengangguk mantap. Lantas tanpa menunggu lebih lama lagi, wanita itu dengan cepat berpamitan dan menjauh dari dua manusia laknat itu. Ingatkan Aurel untuk memanggil Leo dengan sebutan baru yaitu, si b******k Leo.
Hancur sudah!
Semua angan-angan tentang kencan romantis, ciuman dengan Leo, hingga pernyataan cinta Leo, seketika menjadi remuk tak berbentuk. Tergantikan oleh segumpal rasa sesak dalam d**a. Mendadak Aurel jadi membenci dirinya sendiri. Membenci sikapnya yang terlalu percaya diri dan terlalu mudah dibodohi.
Hatinya berdenyut nyeri. Ini rasanya sama seperti apa yang pernah ia rasakan saat Gara mengerjainya pada masa sekolah dulu. Saat itu, Aurel ingat betul bagaimana Gara yang tengah bercucuran keringat mau menghentikan kegiatannya bermain basket dan membaca surat cinta yang dibuat Aurel.
“Kau menyukaiku?” tanya Gara remaja kala itu, dan si cupu Aurel hanya mengangguk dengan tingkah malu-malu.
Senyum sinis terbit dari bibir Gara. “Kalau begitu, ayo kita pacaran.”
Mata Aurel membelalak. “Hah! K-kau, kau mau menjadi pacarku?” tanya Aurel tidak percaya.
Gara mengangguk tipis, lalu mengajak Aurel berjalan ke tengah lapangan. Membuat riuh penonton yang sedang menonton pertandingan basket hari itu mendadak menjadi sunyi senyap. Semua mata fokus memandang ke tengah lapangan, seolah sedang menantikan sesuatu terjadi di sana.
“Teman-teman, dengar!” teriak Gara yang membuat semua orang menoleh ke arah mereka berdua. “Mulai sekarang, dia telah resmi menjadi pacarku,” ucapnya yang disambut teriakan dari seluruh warga sekolah. Ada yang mencaci, ada yang kecewa, ada pula yang menggoda.
Gara menarik smirk tajamnya, lalu menoleh ke arah Raymon yang dengan sigap melempar satu botol air mineral ke arahnya.
“Namun sayang sekali, sepertinya ini adalah pengalaman pacaran paling singkat yang pernah aku jalani. Karena saat ini juga, mendadak aku ingin putus dengannya,” desis Gara lantas secara sadis menyiram kepala Aurel dengan air mineral yang ia bawa.
Sejak saat itu, nama Aurel menjadi terkenal seantero sekolah. Kerap kali menjadi bahan bullyan yang membuat ia akhirnya memilih untuk menyerah. Merelakan beasiswa pendidikannya di ibu kota dan memilih untuk menyusul orang tuanya ke kampung halaman.
Baru beberapa tahun yang lalu Aurel memutuskan untuk kembali merantau ke ibu kota, akan tetapi semesta dengan tega kembali mempertemukan mereka berdua. Seolah takdir memang mengharuskan mereka untuk bersama. Meski dalam konteks yang menurut Aurel sangat merugikan dirinya.
Kembali mengingat hal itu, tanpa sadar air mata Aurel menetes. Namun dengan cepat ia menghapusnya. Sungguh, ia tidak ingin terlihat lemah, apalagi sampai menunjukkannya kepada orang lain. Aurel sudah memutuskan untuk berdamai dengan hatinya, jadi apapun yang telah terjadi kepadanya di masa lalu, ia memilih untuk tidak menyalahkan siapapun.
Kecuali, dirinya sendiri.
“Dasar ubur-ubur bodoh!”
TBC