“Ah, di mana aku?” Gayatri terbangun saat tubuhnya menggigil tanpa berbalut sehelai kain pun di atas pembaringan besar berkasur tebal. Matanya memidai sekeliling ruangan. Seluruh dinding terbuat dari susunan batu bata, dengan jendela kayu berukir amat besar yang mampu membingkai langit dengan segala isinya. Lampu gantung berornamen ukiran berukuran besar tepat berada di atas pembaringan. Gayatri segera meraih selimut tebal yang tertata rapi di atas bantal dan guling berbulu empuk. Tubuhnya kini terbenam dalam selimut itu. “Nimas udah bangun, Sayang?”sapa sosok gagah bertelanjang d**a dengan kain batik sebagai penutup bagian bawah. Pria yang selalu hadir dalam mimpi Gayatri ini tersenyum manis menghampiri pembaringan lalu mengecup bibir sang wanita lembut. “Kangmas? Bajuku ke mana?”ta

