"Sama siapa lo tadi?" tanya Misya penuh selidik. "Jangan bohong. Gue tau itu cowok. Terus kenapa di gelap-gelapan?"
Jeza tahu pasti akan seperti ini jadinya. Misya pasti akan terus menanyainya. Karena Jeza, yang terkenal dengan ketenangan dan cueknya, sekarang sedang bersama satu laki-laki di sebuah g**g dengan pencahayaan minim.
"Dia Jerome. Temen kelas gue," ujar Jeza. "Tadi, gue liat dia mau dikeroyokin, makanya gue kesana. Lo liat sendiri kan nggak ada motor lagi di sana? Itu karena motor dia diambil sama orang-orang itu. Nggak mungkin kan sejauh itu jaraknya dia cuma jalan kaki aja."
Misya mengernyit, merasa penjelasan Jeza agak tidak nyambung. "Jadi intinya lo nggak ada apa-apa sama dia, kan?"
"Sumpah, enggak sama sekali." Jeza memberi tanda peacenya dengan dua jari--telunjuk dan tengah ke atas.
"Yauda bagus. Bukan apa-apa, bukan gue juga ngelarang lo pacaran. Tapi, ya masa di gelap-gelapan begitu."
"Nggak pacaran, Kak." Jeza menegaskan gagasan utama dari pembicaraan mereka. "Cuma temen. Dan maksudnya cuma nolongin doang."
Misya terkekeh. "Terus, kenapa nggak manggil gue dulu? Atau teriak gitu?"
"Nggak keburu." Jeza menjawab frustrasi. "Nggak ada orang diluar. Sepi banget. Terpaksa gue turun tangan."
Misya tidak melihat bagaimana semuanya terjadi, jadi ia tidak begitu menganggapnya serius, apalagi tidak ada hal buruk yang terjadi pada Jeza.
"Emang lo gimana ngelawannya?" tanya Misya menahan tawanya.
Jeza mendengus kesal. Ia malah di roasting kakaknya sendiri. Padahal tadi ia sudah benar-benar keluar dari jati dirinya sendiri, tapi respon Misya malah seperti ini. Mungkin karena ia tidak melihat semuanya secara langsung. Kalau saja ia lihat, mungkin dia tercengang melihat Jeza yang begitu.
"Iya, deh. Sori, ya." Misya mengusap lembut bahu Jeza. "Gue percaya sama lo, kok. Cuma ya gue nggak liat langsung, jadinya ya ...."
"Iya nggak papa. Lo nggak percaya sama gue juga nggak papa kok." Jeza merasa kalau Misya harusnya bisa percaya mau ia sudah melihat kejadiannya atau tidak sama sekali.
"Udahlah nggak usah bahas itu lagi. Yang penting lo nggak kenapa-napa." Misya memutuskan percakapan itu sampai di sana. "Kalau temen lo yang namanya Jerome. Gue baru tau tuh, yang gue tau cuma Jeriko."
"Kan nggak mungkin semua temen cowok gue, gue kasih tau ke lo, Kak. Ya walaupun memang cuma dua itu temen gue," ujar Jeza melirih di akhir kalimat. "Tapi gue sama Jerome cuma temen biasa gitu. Nggak deket juga."
"Berarti yang paling deket itu Jeriko, dong, ya." Misya menebak dan dijawab anggukan oleh Jeza. "Dia kemana, Jez? Udah lama nggak main ke rumah."
Jeza menoleh ke arah Misya. Dari tadi Misya terus menanyai tentangnya, padahal biasanya jika mereka berdua seperti ini, Misya memamerkan hubungannya dengan Keith pada Jeza. Bilang ke Jeza kalau pacaran itu seru, tapi ia sendiri cukup tidak setuju kalau Jeza pacaran. Aneh memang.
"Mungkin dia sibuk. Dari hari ini juga nggak ada ketemu," ujar Jeza. "Tadi udah dichat tapi belum dibalas, dia nggak aktif." Jeza menunjukkan bukti chatnya dengan Jerico yang hanya ceklis satu.
"Eh iya gue lupa, lo sama dia beda kelas, ya."
Jeza mengangguk. "Iya beda. Dia IPS 3."
"Lo sama Jeriko ... menurut gue cocok," ujar Misya. "Jeriko juga udah pernah bilang dia suka sama lo, kan?"
Jeza tersipu. Ia membuang mukanya ke luar jendela. Kenapa Misya membahas itu lagi?! Jeza malu sendiri tidak tahu kenapa.
"Kalau SMA, mending belajar dulu, deh, Jez. Persiapan buat masuk univ favorit. Nanti pas udah di univ, kalau mau cari ya cari deh." Misya menghentikan mobilnya karena lampu merah. "Percaya sama gue. Seseru-serunya pacaran pas SMA, lebih seru lagi pas kuliah. Lo ntar cobain deh. Yaa kalau punya pacar. Kalau nggak yaa yauda nggak papa."
Jeza tidak menjawab karena apa yang ia jawab nanti pasti menyakiti Misya. Karena Jeza merasa pacaran ketika kuliah punya banyak resiko. Ada banyak masalah dan pastinya patah hati. Mungkin ini yang dimaksud Misya seru? Tapi serunya tidak seru bahagia, ini namanya menyakiti hati. Tapi bukannya pacaran dimana saja juga membawa resiko? Jeza pusing sendiri memikirkan ini.
"Intinya sih, kalo lo saling percaya, saling dukung, saling nggak mau hubungan kalian hancur. Mau gimanapun masalahnya, kalian pasti bisa laluin." Misya mulai menjalankan mobil ketika lampu sudah berubah warna menjadi hijau. "Nggak kayak gue sama Keith. Gimana gue mau percaya ke dia kalau dia aja kayak gitu."
Jeza menarik nafas dalam, menggembungkan pipinya dan menghembuskannya dari mulutnya. "Gue punya dua pendapat tentang itu. Pertama, lo putusin aja dia, move on. Kedua, minta penjelasan dia. Tapi, kalo gue jadi lo, mungkin keputusan pertama yang gue ambil. Udah sering juga kan kayak gitu."
Misya menghentikan laju mobilnya karena mereka terjebak macet. Ia menaruh kedua sikunya di kemudi dan tangannya menopang kepalanya. "Jujur banget, move on nggak segampang itu, Jez. Gue nggak bisa. Sulit banget." Misya melirih. "Kalau momennya udah gini, gue yakin gue sama Keith bakal putus. Tapi besok, kalau Keith bersikap lembut, perhatian ke gue, keputusan gue juga bakal berubah."
"Jangan biarin perasaan lo ngendaliin akal sehat lo kalau gitu. Udah jelas kan kalau dia berkhianat. Lo harus sadar itu, Kak. Masih banyak cowok lain, kok, yang jauh lebih baik dari dia."
Misya menyisir rambutnya lalu mulai melajukan kembali mobilnya. "Andai segampang itu, Jez."
Jeza bertopang dagu pada pintu mobil. Tatapannya mengarah ke luar jendela. Jika memang tidak segampang seperti yang diucapkan Misya, maka ia juga tidak tahu bagaimana cara yang mudah. Ia belum pernah pacaran, ia juga tidak begitu tahu cara tertepat apa untuk masalah Misya ini. Sejauh pengetahuannya tentang suatu hubungan, jika satu pihak mengkhianati maka pihak lainnya akan menuntut dan biasanya akan terjadi perpisahan di ujungnya. Tapi ya mungkin tidak semudah itu karena ada perasaan yang memang sulit dimengerti.
Jeza yang berperang dengan pikirannya pun dilakukan oleh Misya juga. Pikiran Misya penuh akan ucapannya tadi sore pada Keith tentang ia yang meminta Keith menjauhi Alyssa. Apa mungkin karena khawatir menyakiti dirinya, Keith jadi bersembunyi-sembunyi jika ingin bertemu Alyssa?
Misya tidak tahu bagaimana jawaban yang tepat, tapi intinya hal itu malah membuatnya semakin sakit. Kenapa juga Keith harus berbohong, katanya ada acara padahal diam-diam bertemu Alyssa.
"Udah nggak usah dipikirin lagi. Langsung aja minta penjelasan dari Keith. Keputusan akhir ada di tangan lo. Kalau gue dukung putus." Jeza berujar. "Gue sebagai adik juga pengennya yang terbaik buat lo, Kak. Di awal, gue kira Keith baik, setia makanya gue setuju lo sama dia. Tapi makin ke sini dia makin banyak tingkah, gue nggak suka."
"Iya nanti gue bicara sama dia."
"Gue harap keputusan lo nanti keputusan yang paling tepat."
"Gue harap juga gitu." Karena Misya tidak tahu akan bagaimana hatinya nanti bereaksi. Hatinya selalu saja menang melawan akal pikirannya. Hal inilah yang membuat Misya selalu terlihat kalah kalau sudah menghadapi Keith.
Jeza sudah tak mampu berkata apapun lagi karena semuanya juga tergantung Misya sendiri. Jika Misya benar-benar ingin lepas dari semua kesakitan ini, Jeza yakin Misya bisa.
Dari kisah Misya ini, Jeza seperti mendapat pemahaman. Kalau suatu saat nanti ia menjalin hubungan spesial dengan seorang cowok dan kalau cowok itu mengkhianatinya, ia harus percaya diri dan melupakan perasaannya, ia harus memutuskan hubungannya dengan cowok itu karena bagaimanapun apa yang dilakukan si cowok sudah salah. Intinya Jeza harus mengedepankan akal pikirannya daripada hatinya. Karena kalau hati yang ia ikuti, ujung-ujungnya ia akan tersakiti lagi.
Misya menurunkan kaca jendelanya sekedar menyapa satpam yang membuka pagar komplek. Setelahnya ia melajukan kembali mobilnya menuju rumahnya.
"Ada mobil," gumam Jeza. "Mobil siapa, ya?" tanyanya pada Misya.
"Mobil Jeriko nggak?"
Jeza memundurkan kepalanya, ia yang teman Jeriko saja tidak tanda dengan mobil cowok itu. Tapi memang belum tentu Jeriko juga, sih.
"Udah turun." Misya memasukkan mobil ke dalam garasi. Sedangkan mobil tadi terparkir di depan rumah.
"Gue rasa emang Jeriko, deh." Jeza mengernyit menatap mobil berwarna merah itu setelah turun dan menutup pintu mobil.
"Yauda buru masuk sana. Siapa tau dia udah nunggu lo dari tadi," seru Misya sembari menutup pintu garasi.
Jeza mengangguk dan berlari kecil ke arah pintu samping. Ia mengetuknya berulang kali dan Erganlah yang membuka pintunya.
"Udah pulang?" tanya Ergan dengan sebelah alis yang terangkat. "Mana Kak Misya?" Ia mengintip ke belakang tubuh Jeza.
"Lo kenapa sih sensi amat?" Jeza menatapnya sinis. "Kak Misya masih di garasi."
"Udah sana lo masuk. Si Jeriko udah nungguin lo."
"Eh lain kali pake 'abang', nggak sopan banget," seru Jeza memperingati, bertepatan dengan Ergan yang melewati dirinya dan pergi ke garasi.
Jeza sebenarnya penasaran akan apa yang dibicarakan Ergan pada Misya, ia berpikir ada sesuatu yang disembunnyikan Ergan. Tapi ia harus memendam rasa penasarannya lebih dulu karena ia tidak bisa membuat Jeriko menunggu lebih lama lagi.
Jeza kemudian masuk. Dari posisinya, ia bisa melihat jika Jeriko sedang duduk bersama mamanya di ruang tamu. Ia lalu berjalan mendekati mereka.
"Lo kenapa nggak bilang-bilang mau dateng?" seru Jeza dengan tangan terulur pada mamanya, meyalami dan mencium tangan mama setelahnya.
"Baru aja Jeriko mau nelepon kamu, Jez. Tapi rupanya udah pulang." Mama mewakili Jeriko. "Yauda deh kalian bicara aja dulu. Misya mana? Yang Mama titipin udah dibeli, kan?"
Jeza duduk dan mengangguk. "Udah, Ma. Masih di garasi."
Mama mengangguk paham, kemudian menoleh pada Jeriko. "Tante tinggal ya, Jer. Tahan-tahan deh ya sama anak Tante yang satu ini. Anaknya ajaib soalnya," ujarnya menunjuk Jeza.
Sementara Jeza mengerut, Jeriko terkekeh lalu tersenyum manis. "Aman, Tan."
Jeza akui kalau Jeriko itu adalah cowok yang hampir sempurna. Kalau di dunia ini ada kesempurnaan, maka Jeriko sempurna. Apa yang tidak dimiliki cowok satu ini? Kepintaran, harta, rupa, sikap dan sifat, semuanya bernilai seratus. Tidak ada celah di dirnya. Bahkan jika boleh jujur, Jeza pernah amat sangat mengagumi Jeriko. Tapi, hanya sebatas kagum, tidak bisa lebih walau ia mencoba. Apalagi ketika Jeriko menyatakan perasaannya, harusnya Jeza bisa berdebar, namun nyatanya tidak. Untungnya sejak kejadian itu, hubungan pertemanan mereka masih sama, tiak renggang sama sekali.
"Jadi tadi kemana aja lo? Maksud gue, ke mall nya kemana aja?"
Jeza melipat bibirnya. Boro-boro kemana-mana, ke kafe saja mereka tidak puas rasanya. "Nggak kemana-mana," jawabnya. "Eh lo udah lama di sini?"
"Belum. Belum lama banget, sekitar sepuluh menit mungkin. Gue awalnya mau buat kejutan, eh ternyata lo pergi." Jeriko mengedikkan bahunya.
"Emang lo mau bawa gue kemana?" Jeza tertawa. "Gue males ah udahan, nggak mood."
"Nggak mood kenapa lagi?"
Jeza hendak menjawab. Tapi suara ribut dari arah luar rumah membuatnya mengurungkan ucapannya. Keluarganya memang ada-ada saja, entah apa yang diributkan.
"Ke kamar gue aja deh." Jeza bangkit, diikuti oleh Jeriko.
Jeriko sudah berulang-ulang kali main ke rumah Jeza, hingga keluarga Jeza sudah biasa dengan kehadirannya. Jeza juga sudah biasa mengajak Jeriko masuk ke kamarnya. Dan selama ia hidup, Jeriko lah satu-satunya pria bukan keluarga yang pernah masuk ke kamarnya.
Jeriko duduk di sofa dan berbaring di sana. "Kenapa? Ada masalah?"
Jeza duduk di pinggir ranjangnya dan memeluk boneka paus biru miliknya. "Bukan masalah sih, tapi gue agak nggak mood aja," ujar Jeza. "Eh terus lo hari kemana? Gue nggak ada liat lo."
Ekspresi Jeriko tampak beda. Ia berdeham dan tampak berpikir untuk menjawab pertanyaan yang sebenarnya mudah saja dijawab.
"Kalau nggak mau jawab juga nggak papa kali, Jer." Karena Jeza menghargai semua batasan. "Tadi lo nanya kenapa, kan? Jadi tadi gue ...."
Dan Jeza menceritakan seluruh kejadian yang ia alami malam itu. Dimulai dari Alyssa dan Disa, karena Jeriko juga tahu tentang Misya dan Keith, lalu diakhiri dengan kejadian dirinya dan Jerome. Hanya saja, Jeza tidak menyebut nama Jerome. Ia hanya bilang 'cowok itu' atau 'si cowok'. Jeza juga tidak memberitahu kalau 'si cowok' yang ia maksud ini satu sekolah dengan mereka.
Di sisi lain. Sementara sang mama di dapur, membuat cake. Misya pergi ke kamarnya dan Ergan memperhatikan Misya dari lantai bawah, dari sofa tepatnya. Ia membawa ponsel di tangannya, bangkit berdiri dan berjalan cepat ke arah kamar Misya.
Ergan mengetuk pintu kamar Misya dua kali. "Kak, gue boleh masuk?"
"Masuk aja, dek."
Tumben pakai 'dek', pikir Ergan sesaat. Sebenarnya Misya pernah begitu, tetapi jarang sekali.
Ergan kemudian memutar handle pintu dan melihat Misya duduk di sofa sembari melepas sepatunya. Misya juga menepuk sofa di sebelahnya, dan Ergan menurutinya.
"Mau ngomong apa lo?"
Ergan terdiam cukup lama, ia seperti mengumpulkan keberaniannya. "Lo ... putus aja deh dari Keith itu."
Gerakan Misya yang sedang membuka sepatunya berhenti. Ia terkejut akan ucapan Ergan yang tidak sembunyi-sembunyi, nada bicaranya juga beda dari biasanya.
"Sumpah, siapa coba yang mau kakaknya disakitin sama orang lain?!" Ergan menatap Misya dengan dahi mengernyit dalam. "Lihat screenshoot ini. Ini di post satu menit sebelum postingan itu di hapus, dan untungnya gue sempet simpen bukti." Ergan memberikan ponselnya pada Misya.
Misya membiarkan sebelah kakinya masih terpasang sepatu. Ergan sedang sangat serius, membuat ia tegang, agak takut dengan apa yang ia lihat nanti. Tapi Misya tidak mau jadi pengecut, ia menerima ponsel itu dan menunduk melihat apa yang ada di sana.
Dan apa yang ia lihat membuat tangannya yang memegang ponsel melemah. Hatinya mencelos. Ia tersenyum pedih begitu ia melihat foto yang didalamnya ada Keith dan Alyssa dengan Alyysa yang mencium pipi Keith. Keith juga merengkuh pinggang Alyssa dengan gaya yang posesif dan mereka berdua tersenyum, senyum yang bahagia.
"Putus sama dia sekarang juga!"
***