11. Silvia Angelista

2061 Words
Empat orang didepan Jerome ini adalah empat orang yang balapan liar di jalan yang ramai tempo hari. Ia, Lukas dan Tama mengejar dan menghentikan mereka. Memberi saran juga agar mencari tempat lain, di sirkuit misalnya. Bagaimanapun tindakan mereka membahayakan orang lain, bukan? Dan ya, itulah alasan mengapa Jerome, Lukas dan Tama sering mengebut diatas jalan raya. Bukan karena mereka sampah masyarakat seperti yang banyak orang katakan. Tapi ya, empat orang itu, empat orang yang menyumbang dana paling besar itu marah besar, menganggap Jerome DKK menghancurkan acara mereka. Jerome yang merasa benar dengan aksi yang ia dan teman-temannya lakukan tentu tidak terima mereka disalahkan. Namun untungnya, tidak ada hal buruk yang terjadi malam itu karena polisi segera tiba di tempat dan mengamankan semuanya. "Lo sok jadi pahlawan, tau nggak? Alasan lo kejer semua pembalap liar karena ngebahayain orang lain, kan? Lha lo nggak mikir lo yang kejer kita dengan kecepatan yang sama, bahkan lebih kencang itu nggak ngebahayin orang lain juga?" Lelaki berjaket denim didepan Jerome tertawa. "Bodoh! Makanya kalau masih bocah nggak usah sok keren. Nggak bisa mikir lebih jauh sok-sokan jadi yang terpintar." Jerome diam saja tidak menjawab. Ia tahu itu, tapi setidaknya niat dirinya baik, tidak seperti mereka yang dari awal sudah punya niat jelek. "Lo nggak punya kerjaan lain selain ngurusin urusan orang lain? Lo kesepian, ya? Tau nggak, karena aksi bodoh lo itu, gue dan temen-temen gue yang lainnya mulai kesel liat lo sama temen-temen lo itu. Lo pada bersedia jadi musuh kita? Bilang aja kalau emang niat, kita terima dengan tangan terbuka." Kesepian? Ia yang kesepian tepatnya. Jerome hanya ingin melakukan banyak hal agar ia lupa dengan seluruh kesakitan yang masih membebani bahunya. Tapi mungkin, yang kali ini Jerome agak salah. Dan apa tadi katanya? Teman-teman Jerome? Inisiatif aksi ini berasal dari Jerome. Lukas dan Tama awalnya tidak setuju, tapi karena solidaritas teman, akhirnya mereka setuju dan sudah dua minggu mereka menjalankan aksi ini. Kalau memang hal ini membahayakan teman-temannya, mungkinkah Jerome harus mundur? "Kebanyakan mikir." Orang itu berdecak pelan. Ia menipiskan bibirnya, mengepalkan tangannya dan mengayunkannya tepat ke arah wajah Jerome. Jerome sendiri tampak pasrah, ia tampak siap menerima bogem mentah itu tepat di wajahnya, sampai Jeza yang berada di seberang berteriak dengan kencang. "STOPP!!" Mata Jerome yang tadinya tak bercahaya, sekarang membesar karena terkejut. Bukan hanya ia saja, tapi semua orang di sana menolehkan kepalanya ke arah dimana suara teriakan itu berasal. Jerome sungguh tidak percaya jika orang yang berucap dengan lantang tadi adalah Jeza. Matanya mengerjap penuh tanda tanya. Jeza yang calm bisa seperti ini? Walau baru mengenal, Jerome sedikitnya tahu watak Jeza dan berteriak seperti tadi tentunya membuat gadis itu berjuang keras sebelum mewujudkannya. Kepalan erat tangan Jeza semakin kuat. Ia sudah bertekad, ia juga tidak bisa mundur. Mungkin nanti ia akan overthinking tentang hal ini. Tapi, itu nanti. Sekarang, biarlah dirinya berbeda dari dirinya yang biasanya. Jeza kemudian berjalan dengan langkah pasti ke arah Jerome. Dan Jerome yang melihat itu pun dengan keras menghentakkan dirinya agar cekalan pada tangannya terlepas. Namun sayangnya, cekalan itu terlalu kuat. "Liat siapa yang datang." Lelaki berjaket denim tertawa. "Bahkan cewenya pun juga suka nantangin ya," sambungnya dengan tawa yang lenyap. Jerome menatap Jeza dan berteriak. "Jez, pergi sekarang! Biarin gue disini sendirian!" Kemudian Jerome menatap lelaki berjaket denim. "Urusan lo sama gue. Bukan ke siapapun, jadi lo jangan sakitin dia!" Percuma, Jeza tidak mundur. Lelaki didepannya juga sepertinya tidak mendengarkannya. "Lepasin dia!" Jeza menunjuk Jerome dengan mata nyalang menatap lelaki berjaket denim. "Lucu, ya. Kalian ber-empat. Dia sendirian. Mainnya keroyokan. Banci tau nggak." Lelaki berjaket denim itu mendengus kasar dan tersenyum kecut. "Bahkan mulutnya sama-sama pahit. Kalian nggak pernah diajarin cara bersikap sopan ke orang yang lebih tua?" tanyanya dengan langkah pelan mendekati Jeza. "Sopan? Sama orang yang kayak kalian?" Jerome melihat itu dengan hati cemas. Jika ia tidak bisa keluar dari kungkungan ini, maka Jeza pasti akan menjadi korbannya. Apalagi Jeza sama sekali tidak mendengarkan perintahnya untuk pergi, membuatnya khawatir pada gadis itu. Kaki Jerome terangkat, dengan cepat ia menendang paha orang di belakangnya. Ketika cekalannya pada tangan Jerome melemah, Jerome menghempaskannya dan setelah lolos, ia langsung berlari ke arah Jeza dan berdiri didepan gadis itu. "Stop." Jerome berujar. "Gue bakal ganti rugi." Tangan Jerome terangkat memegang pinggang Jeza dari belakang. Ia membawa gadis itu mundur. "Maksud lo? Ganti rugi duit?" Lelaki itu tertawa dan mengusap wajahnya kasar. "Lo kira taruhan kita nggak banyak, hah? Yakin bocah kayak lo bisa ngeganti." Jerome mengangguk yakin. "Tenang aja." "s**l*n. Sok iya banget. Nominalnya besar lho. Apa jaminan lo bakal bayar?" Jeza yang dibelakang Jerome tidak bisa berpikir apa-apa. Ia tahu ia sudah aman. Tapi jantungnya masih berdegup tak karuan. Rasanya yang teriak dan berucap lantang tadi bukan dirinya, tapi orang lain yang masuk ke dalam tubuhnya. Jerome sendiri juga bingung ia harus menjamin orang-orang ini dengan apa. Ia tidak bawa kartu identitas atau apapun yang penting. Tapi yang terpenting ialah jangan sampai Jeza terluka. Sungguh, itu yang paling penting saat ini. "Oh gimana kalau motor lo aja?" Lelaki itu menunjuk ke arah motor kawasaki milik Jerome yang bernilai sekitar empat puluhan juta. "Gue rasa itu impas." Jerome berpikir dua detik sebelum menjawab dengan tegas dan yakin. "Oke," ujarnya. "Deal. Kita nggak punya masalah apapun lagi." "Tunggu-tunggu. Itu bukan motor curian, kan?" tanyanya tidak percaya Jerome mengiyakan begitu saja. "Surat-suratnya mana?" "Ada sama gue. Besok gue kasih." Jerome mengatakannya dengan enteng karena ia pun tahu kalau balapan itu pasti taruhannya sampai puluhan juta. "Oke. Deal." Lelaki itu tersenyum evil sebelum berbalik dan menyuruh seseorang dari rombongannya untuk mengendarai motor Jerome. Sekarang, Jerome kehilangan satu motornya. Tapi tidak apa. Ini lebih baik ketimbang ia yang terluka dan tetap dituntut untuk ganti rugi oleh mereka. Jerome kemudian berbalik. Ia terkejut melihat Jeza yang terdiam bak patung. Ia bahkan sangsi Jeza bernafas atau tidak karena gadis itu terlihat begitu kaku. "Jez?" Jeza tersadar. Ia menelan salivanya dengan kasar. "Mereka udah pergi?" tanyanya pelan. Jerome mengernyit, senyumnya terbit. Ia yakin Jeza pasti sangat ketakutan tadi. Tapi kenapa masih dipaksa? Padahal Jerome sudah biasa dikeroyok begitu. Ah ya, Jeza pasti juga tidak tahu apa-apa tentang dirinya. "Udah barusan." Jeza melemah. Tangannya masih sangat dingin, dan berkeringat pula. "Yauda bagus." Jeza mengusap wajahnya. "Kok bisa sih? Ada masalah apa lo sama mereka?" Jerome tertegun. Ini Jeza yang sama, bukan? Karena cara bicara Jeza terdengar berbeda, sangat jauh perbandingannya saat di sekolah. Jerome bahkan masih ingat persis bagaimana cueknya Jeza ke dirinya. "Terus motor lo?" Sepertinya Jeza tidak menyadari apapun dari tadi, sampai ia tidak tahu kalau motor Jerome dibawa oleh orang-orang tadi. "Motor lo diambil mereka?" tanyanya lagi dan dijawab anggukan oleh Jerome. Jeza mengedipkan matanya, tidak percaya jika itu terjadi. Ia juga tahu berapa harga motor gede seperti itu, pasti mahal. Dan Jerome membiarkan orang-orang itu membawa motornya, lalu masih bisa bersikap biasa saja seperti ini. "Gue nggak tau masalah lo sama orang-orang tadi apa. Tapi gue prihatin." Jeza mendongak menatap cowok itu. "Dan untungnya lo nggak papa." Jerome menatap Jeza lekat. Ia mendekatkan wajahnya dan Jeza memundurkannya, membuat Jerome terkekeh. "Makasih. Gue tau lo pasti berusaha banget keluar dari zona nyaman lo dan itu susah." "Gue ngeliat orang yang mau dikeroyok didepan gue dan gue diem aja? Enggaklah." Jerome tersenyum lebar, gaya bicara Jeza yang seperti ini semakin membuatnya suka. Tidak percaya juga Jeza bisa begini padanya. Ia pikir sampai kapanpun Jeza akan tetap kaku padanya. Nyatanya tidak. "Jadi lo pulang gimana?" "Gampanglah." Jerome masih tersenyum. Ia ingin sekali memeluk Jeza, tapi ia khawatir Jeza nanti akan segan padanya, jadi ia urungkan. "Lo ke sini sama siapa?" Jeza baru teringat kakaknya. Ia hendak membuka mulutnya menjawab pertanyaan Jerome kalau saja suara Misya yang menyerukan namanya tidak terdengar di telinganya. "JEZA!!" Jeza menoleh ke kirinya. Ia melihat Misya berdiri di depan sana dan sepertinya menunggunya. Kalau begitu Jeza tidak bisa berlama-lama lagi. "Gue duluan, ya," ujarnya pada Jerome. "Lo hati-hati." Jerome membuka mulutnya, mau menjawab, tapi Jeza buru-buru pergi meninggalkannya hingga ia mengurungkan ucapannya. Malam ini yang harusnya menjadi salah satu malam buruknya, nyatanya berbalik menjadi malam yang indah, membuat rasa sukanya pada Jeza semakin luar biasa. Tiba-tiba ponsel yang berada didalam jaket Jerome bergetar. Ada yang menelepon dan Jerome segera melihatnya. Ternyata Tama. "Kenapa?" "Eh lo dimana? Ahh ya dimanapun lo itu, sekarang ketemuan di kafe biasa. Oke? Gue sama Lukas udah di sini. Buruan. Penting soalnya." Jerome agak lama menjawab, karena ia memperhatikan Jeza yang berinteraksi dengan seorang perempuan di sana sebelum masuk ke dalam mobil lalu pergi bergabung dengan pengendara lainnya. "Eh lo denger nggak?" Jerome berdecak pelan. Tangannya mengusap rambutnya. "Motor gue barusan diambil. Lo nggak bisa ke sini jemput gue? Nggak terlalu jauh juga kok." "Kok bisa diambil?! Jangan bilang yang kemaren itu ...." "Iya itu." "Kok lo nggak lawan?!" "Panjang ceritanya. Bisa jemput nggak?" "Bisa, bisa. Tunggu. Eh shareloc dulu dong." "Iya iya." Jerome mengirim lokasinya pada Tama. Ia kemudian berjalan ke g**g depan dan duduk di salah satu tempat duduk yang kebetulan tersedia. Tidak butuh waktu lama menunggu, mobil Tama langsung berhenti tepat didepan Jerome. "Ayo masuk," ujar Tama menurunkan kaca jendelanya. Jerome bangkit dan memutari mobil, ia masuk dan memasang seatbeltnya. "Cepet. Lo pasti ngebut." "Nah lo itu tau." Tama tertawa. "Eh gimana ceritanya motor lo bisa diambil mereka? Kok lo nggak ngabarin gue dulu?" "Nggak sempet." Jerome melipat tangannya. "Tapi yaudalah, udah di tangan mereka juga. Nggak papa." Tama menatapnya dan tersenyum miring. "Iya nggak papa karena lo masih punya beberapa di rumah lo. Coba kalau gue, nangis di pojokan lah. Tapi yang buat aneh, lo biasanya nggak gini, tumben amat. Pasti ada sesuatu, kan?" Tama memang pandai membaca situasi. Tapi sayangnya Jerome tidak akan membeberkan tentang Jeza yang mencoba menolongnya karena ia merasa hal ini cukup ia dan Jeza saja yang tahu. "Terus ini ke kafe ngapain? Tumben ke sana lagi." Jerome menaikkan sebelah alisnya. "Nggak perlu rahasia-rahasiaan, ada apa?" "Silvi yang ngajak ke sana. Katanya dia mau ketemu lo." Tama menjawab tanpa melihat ke arah Jerome, ia sangat fokus dengan jalanan didepannya. "Oh gitu. Jadi udah boleh keluar sama bokap nyokapnya?" "Hm udah." Tama menoleh pada Jerome sesaat. "Lo nggak ngerasa bersalah karena ini? Dia rela lho diskors demi lo." Jerome menyisir rambutnya sekali. "Ngerasalah jelas. Tawuran itu juga gue yang mulai--" "Untung sadar." Tama memotong cepat, ia terkekeh ketika Jerome memberinya tatapan tajam. "Dia rela ngebela lo dan diskors selama lima hari, dimarahin bokap nyokapnya dan dikurung didalam rumah. Menurut gue sih, itu pengorbanan yang cukup mengerikan. Lo tau sendiri gimana bokap nyokap dia, kan." "Hm gue tau." Jerome memejamkan matanya dengan kepala yang bersandar pada kursi. "Hm gue harap lo nggak ngelakuin sesuatu yang buat dia kecewa nanti." "Gue juga tau cara ngetreat cewe btw." "Iya tapi kadang-kadang lo juga nggak peka." Tama menyindirnya. "Lo tau kan kalau Silvi itu suka sama lo? Kalau lo bilang enggak, itu artinya lo nggak peka." Jerome membuka matanya, menghela nafas panjang. "Iya gue juga tau itu." "Dan lo sekarang malah ngincer Jeza. Bener kan gue? Kalau lo cuma main-main, mending lo pusatin perhatian lo ke Silvi aja. Apa kurangnya dia, Jer? Lo bisa kok bangun perasaan lo ke dia." Jerome tersenyum kecil. "Lo juga pasti tau kan kalau perasaan nggak bisa dipaksa. Dan gue nggak main-main ke Jeza. Gue suka dia dan mungkin nantinya perasaan ini bisa makin besar, gue juga nggak bisa pastiin." Tama terdiam. Memikirkan urusan Jerome memang tidak ada ujungnya. Biarlah cowok itu sendiri dulu yang memikirkan bagaimana ia kedepannya, langkah apa yang paling tepat untuknya. Nanti ketika Jerome membutuhkannya, maka ia akan ada di sana. Tama memutar setir ketika mereka sampai di kafe yang dituju. Tama memarkirkan mobil dan kemudian keluar, diikuti oleh Jerome. Mereka berdua berjalan bersisian. Jerome membuka jaketnya, menyisakan kaos hitam yang malah membuatnya terlihat semakin keren. "Lihat tuh, dia bahkan nungguin lo," gumam Tama, mengedikkan dagunya ke arah seorang gadis yang berdiri di depan kafe. Jerome mendongak, ia melihat Silvia dan membalas senyumnya dari jauh. "Hai, Jer." Silvia menyambutnya dan memberi Jerome pelukan hangat. "Udah lama banget perasaan nggak ketemu gini." Jerome tersenyum dan mengangguk. Kalau dipikir-pikir, memang hanya Silvia lah satu-satunya perempuan yang bertahan dengan Jerome selama dua tahun terakhir. Satu-satunya perempuan yang sefrekuensi dengan dirinya. Tapi entah kenapa, Jerome tidak bisa memindahkan posisi Silvi yang hanya teman ke posisi yang spesial. Jerome hanya merasa kalau Silvi tepatnya berada di posisi teman, tidak kurang dan tidak lebih. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD