Di ruangan yang begitu besar, yang kepala mendongakpun, langit-langit ruangan terasa tinggi sekali, sudah seperti langit sesungguhnya. Luasnya apalagi, jangan ditanya, penuh dengan barang-barang seperti alat musik, vas raksasa, bahkan alat olahraga pun di sana. Tidak ada yang mengurusi juga. Namun, semua barang itu tidak tersentuh, sedikitpun. Jerome terlalu malas menggunakannya. Alasannya? Karena semua benda itu peninggalan orang tuanya.
Tapi, bukan berarti Jerome tidak berolahraga. Ia rutin dua minggu sekali, setiap hari libur pergi ke gymnasium untuk melatih ketahanan ototnya. Bagaimanapun, Jerome yang terkenal nakalnya di sekolah ini, sebenarnya salah satu pemain voli, klub yang paling populer di Dharmawangsa. Posisi setter yang dimilikinya membuatnya memegang kendali alur permainan voli SMA mereka. Dan tidak mudah-bahkan tidak ada yang bisa menggantikan Jerome.
Hal itu jugalah yang membuat Jerome tidak dikeluarkan dari sekolah, walau sudah seribu satu keonaran yang ia sudah perbuat. Percayalah, sudah banyak kemenangan yang diraih tim mereka dan bisa dikatakan dengan bangga jika itu semua berkat Jerome yang pandai mengatur bola untuk para spikernya.
Sekarang, Jerome duduk di sofa, sendirian seperti biasa. Tidak ada orang tua, tidak ada semuanya. Bahkan pembantu pun tidak. Hanya ada adiknya yang berada di lantai atas dengan dua orang perawat pribadinya yang menjaganya full dua puluh empat jam.
Jerome menyandarkan kepalanya ke sofa, ia menutup wajahnya dengan tangannya. Ia sangat bosan malam itu, tidak tahu harus melakukan apa karena teman-temannya-Tama dan Lukas, sepertinya sibuk dengan urusan mereka masing-masing.
Tiba-tiba ia kepikiran tentang Jeza. Gadis itu gadis yang tertutup, ia yakin itu. Lalu, apa dia punya akun sosial media? Jerome penasaran.
Ia mengangkat tangannya dan membuka matanya kemudian. Tersenyum kecil karena moodnya sekarang kembali seperti semula. Jerome kemudian menyambar ponselnya yang dari tadi tergeletak diatas meja. Ia segera membuka aplikasi i********: miliknya dan mencari nama Jeza di kolom pencarian. Hasilnya, ada begitu banyak Jeza. Ia bahkan harus menggulir ponselnya untuk melihat seberapa banyak nama Jeza yang ada.
Karena memang berniat mencari tahu tentang Jeza, istilahnya stalking gadis itu. Jerome pun membuka semua akun itu dan hasilnya, tidak ada Jeza di sana. Agak kecewa sebenarnya, karena tidak seperti ekspetasi Jerome, menemukan akun Jeza ternyata sangat sulit, atau mungkin gadis itu sebenarnya tidak punya akun ig.
Mau bertanya ke teman Jeza juga Jerome tidak tahu siapa teman dekatnya. Ia baru bertemu Jeza dalam waktu singkat, mana mungkin ia sudah langsung tahu semua tentang gadis itu. Satu-satunya yang Jerome kenal di 12 IPS 4 selain Jeza adalah Disa.
Jerome tertegun. Ia bisa menanyakan hal ini pada Disa, bukan? Memang tidak menjamin 100% Disa tahu, tapi mungkin saja. Kalau tidak ig, Disa pasti punya nomor wa.
Namun, Jerome harus mengelus d**a karena baru teringat kalau ia juga tidak punya kontak Disa. Mencari akun sosial medianya? Jerome sudah terlanjur putus asa. Lebih baik ia mendatangi Jeza langsung di hari senin nanti.
Jerome mendongak menatap pintu kamar adiknya yang tertutup. Ia tersenyum kecil, sepertinya ia sudah tertidur. Mungkin ia bisa pergi, toh ada dua perawat yang selalu ada kapanpun adiknya butuh, jadi ia bisa bergerak bebas kapanpun yang ia mau. Hanya saja jika ditanya apa ia bahagia dengan itu semua? Dengan kebebasan yang ia dapatkan? Jawabannya adalah tidak. Jerome sama sekali tidak bahagia.
Jerome membuaka ruang chat yang berisikan dirinya dan dua perawat adiknya. Kapanpun ia atau dua perawat itu punya kabar mendadak atau apapun hal penting yang harus diberitahu, maka memberitahunya melalui ruang chat itu.
Mbak, aku pergi bentar, ya.
Bentar yang dimaksud Jerome tentu bukan belasan menit. Walaupun diluar sana ia hanya jalan-jalan tanpa arah, ia bisa menghabiskan setidaknya dua jam. Jika ada yang bilang ia hanya melakukan hal sia-sia, maka salah besar. Itu adalah bagian dari self healing miliknya.
Jerome mulai mengendarai motornya. Angin segar yang menerpa wajahnya, kelap-kelip lampu seolah menyambutnya, suasana ini sangat disukai Jerome. Hanya melakukan hal sederhana seperti ini saja, beban dikepalanya menguap walau hanya sesaat. Ia ingin melupakan segala kesakitan yang ia rasakan sebentar saja.
Namun, semuanya tidak selama yang ia pinta karena tiba-tiba dari arah belakang, ada beberapa motor yang mengikuti motornya. Jerome bisa melihatnya dari kaca spion. Salah satu dari mereka bahkan dengan sengaja menabrakkan bagian depan mototnya ke bagian belakang motor Jerome. Untungnya Jerome bisa menyeimbangkannya hingga ia tidak terjatuh.
Jerome penasaran siapa orang-orang itu, ia menyipitkan matanya, menatap lebih serius melalui kaca spion. Ia tersenyum kecil setelahnya ketika sudah menyadari siapa orang-orang itu. Jadi, mereka balas dendam sekarang, ya, pikirnya. Jika itu mau mereka, maka Jerome akan menerimanya.
Tapi masalahnya, mereka tidak mau repot-repot untuk bersikap sopan dan baik. Balas dendam versi mereka adalah balas dendam yang kasar. Karena ketika mereka semua berada di tempat yang cukup sepi dan kebetulan ada g**g sempit di sana, mereka langsung memaksa Jerome untuk masuk ke dalam g**g. Seseorang dari mereka melajukan motornya dan menghimpit motor Jerome, hingga tidak ada ruang bagi Jerome selain belok ke g**g sempit itu.
***
Misya dan Jeza duduk berhadapan dengan dua ice cappucino utuh yang masing-masing ada di hadapan mereka. Sudah lima menit berlalu, tapi tidak ada diantara mereka yang membuka suara.
Misya mendongak menatap Jeza, adiknya sepertinya marah karena ia tidak pernah memberitahu bagaimana rupa Alyssa sebelumnya.
"Maaf," ujar Misya singkat. "Gue nggak nyangka bisa ketemu Alyssa di sini. Gue juga kaget ternyata adik Alyssa itu temen kamu. Temen kelas, ya?" tanyanya lembut, mencoba meluluhkan Jeza.
"Nggak perlu maaf. Dan ya, Disa itu temen kelas gue. Lo juga kenal dia, Kak?" Jeza menatap Misya lekat, dan Misya menggeleng kemudian. "Gue cuma kesel aja. Jadi itu tampang perempuan yang buat kakak gue uring-uringan? Dan apa tadi? Dia bilang sendiri lo pacarnya Kak Keith, tapi apa yang dilakuin? Dia nggak sadar atau gimana, sih?!"
Misya ternyata salah paham. Jeza memang marah, tapi bukan ke dirinya, melainkan ke Alyssa.
"Ya gitulah. Keith juga ngerasa dia sama Alyssa biasa aja, cuma temen." Misya mengaduk minumannya. "Ya mungkin guenya aja yang terlalu mikir berlebihan kali, ya?"
Jeza menatap Misya cukup perihatin. Keith tentu tidak hanya punya Alyssa sebagai teman perempuannya, pasti ada yang lain juga, kan? Misya juga pasti tahu itu. Tapi apa Misya pernah curhat padanya tentang perempuan yang lain? Tidak! Hanya Alyssa. Dari sana sudah jelas kalau Keith memperlakukan Alyssa lebih dari teman. Pacar mana yang tidak sakit hati jika pacarnya sendiri berlaku seperti itu?
"Gue nggak mood, Jez." Misya harus mengakuinya, ia sudah sangat malas sekarang. "Kita pulang aja gimana?"
Jeza mengernyit. "Kalau ketemu Alyssa aja buat lo bad mood, gimana kalau--"
"Udah." Misya tersenyum, dan Jeza tahu itu dipaksakan. "Intinya gue lebih dari bad mood kalau ngeliat dengan mata gue sendiri Keith sama Alyssa berduaan. Itu aja."
Jeza merasa ada api yang berkobar didalam dirinya. Ia begitu kesal dan ingin rasanya meluapkan amarahnya ke wajah Alyssa. Meneriakinya agar Alyssa sadar kalau Keith sudah milik kakaknya. Tapi di sisi lain, Jeza juga ingin meneriaki Keith kalau ia harus sadar posisinya.
"Lo masih cinta sama Kak Keith?"
Misya menatap Jeza. "Jujur. Ya."
"Walaupun disakitin?"
Misya menarik nafas panjang. "Gue udah coba lupain, tapi nggak bisa, Jez," ujarnya serak, matanya berkaca-kaca. Sepertinya terlalu sulit bagi Misya untuk mengungkapkan perasaannya
"Yaudalah nggak usah dilanjut lagi." Jeza jadi merasa bersalah, kakaknya hampir menangis kalau saja tidak mengerjap agar air matanya tertahan. "Kita pulang aja sekarang."
Misya bersyukur Jeza paham. Ia kemudian bangkit berdiri, diikuti oleh Jeza setelahnya. Mereka menaiki lift dan turun ke basement. Berjalan ke arah mobil lalu masuk bersamaan.
Misya memundurkan mobilnya sebelum melajukannya. Baru beberapa meter berjalan, tiba-tiba Misya mengerem dan membuat Jeza kaget karena tidak siap akan hal itu.
"Kak, kenapa sih? Ngerem tiba-tiba." Jeza protes pada Misya yang menatap ke luar jendela.
Jeza agak kesal, ia hampir menabrak dashboard kalau saja tangannya tak segera menahan tubuhnya. Namun kemudian, Jeza menggulir matanya ke arah Misya menatap. Jeza agak rabun jadi ia tidak bisa melihat dengan begitu jelas.
"Ada kacamata nggak, ya?" Jeza bergumam sembari membuka laci dashboard. Ia mencari-cari diantara banyaknya barang didalam sana. Saat ia ketemu dengan kacamata minusnya, Misya sudah melajukan kembali mobilnya.
Jeza panik, ia cepat-cepat memakai kacamatanya lalu menoleh ke belakang. Untungnya masih sempat dan ia tertegun melihat siapa yang dilihat Misya tadi.
Keith dan Alyssa. Berdua, tanpa Disa.
Mobil keluar dari basement. Jeza berbalik dan menghadap ke depan sekarang. Ia diam seribu bahasa, tidak tahu harus berkata apa. Jangankan Misya, ia sendiri yang melihatnya sakit hati. Padahal Misya sudah bad mood, melihat itu ... entahlah, entah seperti apa perasaannya sekarang.
Jeza sempat kepikiran tentang ia yang mengambil alih kemudi. Hampir saja ia luapkan pemikirannya itu kalau saja ia tidak segera sadar kalau ia tidak bisa menyetir. Mau tidak mau ya memang Misya yang membawanya.
"Mungkin dia punya alasan," celetuk Jeza tanpa menatap Misya. Jeza sendiri sebetulnya tidak yakin dengan apa yang ia katakan, Keith punya alasan? Apa? Tapi hanya agar Misya tenang, ia terpaksa berbohong.
"Lo tau nggak? Dia tadi chat gue, bilangnya ada acara sama keluarganya." Suara Misya agak terputus-putus. "Ah ya, mungkin Alyssa salah satu keluarganya kali ya?"
Jeza memutar kepalanya menatap Misya yang tertawa hambar. Tadi kakaknya hampir menangis dan sekarang pun begitu.
"Kenapa nggak putus dari dia aja, sih? Kan masih banyak cowo lain." Jeza sadar penuh dengan apa yang ia ucapkan, tapi ia tidak main-main dengan ucapannya, akan lebih baik menurutnya jika Misya memutuskan Keith.
Misya menoleh sesaat padanya dan memberi senyum kecil. "Udah nggak usah dibahas lebih lanjut, ya, Jez. Biar gue pikirin nanti gimana kedepannya."
Jeza tidak mengiyakan atau menolak. Ia diam saja dan melihat ke luar jendela. Kalau ia jadi Misya, sudah ia campakkan pria seperti itu. Tidak tahu diri menurutnya.
"Gue ke minimarket bentar. Mama tadi nitip barang, mau buat cake katanya."
Jeza menoleh. "Biar gue aja."
"Nggak usah, gue aja. Gue tau lo nanti ngerasa awkward sendirian masuk sana."
"Enggak kok." Walaupun Jeza akui ucapan Misya ada benarnya, tapi tak sepenuhnya benar juga. Kalau ke minimarket ia juga bisa bersikap normal tanpa parno ini itu.
"Udahlah gue aja."
Misya memarkirkan mobilnya tepat didepan minimarket. Ia kemudian langsung keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam minimarket.
Jeza memperhatikan Misya. Ia tidak tahu persis bagaimana perasaannya karena Misya itu cukup pandai menyembunyikan semuanya dibalik tampang baik-baik saja miliknya.
Jeza menurunkan pandangannya, ia membuka kaca mobil hingga setelah. Tangannya kemudian terulur mematikan mesin mobil. Sayang bensin, pikirnya.
Jeza kemudian memperhatikan keadaan diluar yang terlihat sepi. Area ini kebetulan memiliki spot yang jarang bangunan. Tidak seperti area-area sebelum atau setelahnya.
Pandangan Jeza tak sengaja terpusat pada beberapa motor yang sepertinya menyekat seseorang diantara mereka. Jantung Jeza berdebar, ia merasa hal itu pasti berujung tidak baik. Deg-degan Jeza makin parah ketika ia sadar jika seseorang yang terhimpit itu adalah Jerome. Jeza bisa melihat dengan jelas karena ia memakai kacamata, dan Jerome yang tidak pakai helm.
Jeza panik! Ia mengedarkan pandangannya, sungguh tidak ada siapapun di sana. Ketika ia kembali menoleh ke tempat tadi, Jerome dan orang-orang itu sudah menghilang. Tapi Jeza masih bisa melihat bayang-bayangnya yang masuk ke dalam g**g.
Tangan Jeza mendingin. Apa ia beritahu Misya lebih dulu? Tapi kakaknya pun sudah tidak terlihat dari tempatnya duduk.
Bagaimana jika Jerome sebenarnya ada di situasi darurat dan tidak ada yang menolongnya? Padahal sebenarnya dirinya tahu kejadian ini.
Overthingking Jeza malah kambuh di saat-saat seperti ini!
"Enggak, enggak. Gue harus bantu dia sekarang juga."
Jeza tidak peduli. Setidaknya ia harus melangkah lebih dulu. Telat sedikit saja bisa berubah fatal dan ia tidak ingin itu terjadi pada siapapun.
Jeza meletakkan kacamatanya, keluar dari mobil, dan berlari kecil ke arah g**g. Ia yang hanya memakai dress selutut dan blazer tentu merasa agak kedinginan ketika kulitnya menerpa angin malam. Tapi, Jeza tidak peduli. Sekarang yang ia harus lakukan hanyalah menemukan Jerome.
Jantung Jeza rasanya mau lepas ketika ia akhirnya melihat Jerome. Cowok itu terlihat pasrah di sana. Kedua tangannya di belakang tubuhnya dan dipegang erat oleh seseorang berbadan besar.
Telapak tangan Jeza berkeringat dingin, wajahnya terasa panas, begitupun kepalanya. Ia ingin berteriak, menghentikan mereka, karena Jerome pun sepertinya belum diapa-apain, cowok itu masih terlihat mulus. Tapi masalahnya, Jeza tidak sanggup. Melihat ke kanan kiri pun juga tidak ada orang.
Tangan Jeza mengepal. Ini pertama kalinya ia harus keluar dari zona nyamannya. Jantungnya berdebar keras hingga sakit rasanya. Mata Jeza melebar ketika seseorang di depan Jerome melayangkan tinjunya ke arah wajah cowok itu. Ia tidak bisa menunggu lebih lama lagi!
"STOPP!!"
***