9. Disa dan Alyssa

2005 Words
Misya masuk ke dalam rumah dan kemudian berdiri dengan tubuh menyandar pada pintu. Dari posisinya ini, ia bisa melihat Jeza sedang duduk di sofa sedang menonton tv. Gadis itu tentu tidak menyadarinya karena posisi duduk Jeza membelakanginya. Misya menarik nafas panjang, menggerak-gerakkan wajahnya agar ekspresi kesalnya berubah menjadi ekspresi biasa. Ia tidak mau adik-adiknya bertanya-tanya nantinya. Ia hanya tidak ingin melibatkan siapapun ke masalah dalam hubungannya asmaranya. "Udah pulang?" Jeza ternyata menyadarinya. Gadis itu berbalik menatapnya dengan mulut yang bergerak, mengunyah sesuatu. Misya mengangguk, ia tersenyum dan melangkah menghampiri Jeza. "Makan apa lo? Bagi dong jangan sendirian aja." Mata Jeza terus mengikuti langkah Misya sampai kakaknya itu duduk di sebelahnya, mencomot irisan apel didalam mangkuknya begitu saja, bahkan sebelum ia menyetujui permintaan Misya yang meminta makanannya. "Naik apa pulangnya? Ojol?" Misya menggeleng. "Gue terbang tadi." "Seriusan." "Iya serius, pake baling-baling bambunya doraemon." Misya memasang mimik seriusnya. Sedangkan Jeza, matanya menatap Misya datar, sudah bosan dengan jokes Misya yang tidak ada lucu-lucunya. Misya tertawa, sengaja memberi candaan garing agar Jeza melupakan pertanyaannya sendiri. Sebenarnya, Misya senang, bahkan tanpa ditanya, ia biasanya memamerkan kalau ia diantar oleh Keith. Tapi tidak kali ini, ia masih malas membahas apapun tentang Keith. "Jez, nanti malam ada rencana keluar nggak? Ntah bareng temen gitu?" "Dia mana ada temennya." Bukan Jeza yang menjawab, melainkan Ergan. Cowok itu sedang menuruni anak tangga dengan wajah kusut, khas bangun tidur. "Sembarangan lo." Jeza berujar kesal. "Tadi katanya mau tidur," sambungnya dengan nada yang sudah kembali seperti semula. "Gue haus, mau minum." Ergan menggaruk kepalanya dan membuka pintu kulkas kemudian. "Minum dari botol lo yang tadi!" "Ya kali gue minum teh." Ergan menyahut. Ia dengan terang-terangan mengambil botol air mineral dan menenggaknya. "Dasar. Semua botol gue rasa bekas bibir dia." Jeza bersungut kesal, melipat tangannya didepan tubuhnya. "Yaudalah biar aja. Emang kebiasaan dari dulu gitu, kan." Harusnya kebiasaan buruk kan bisa diubah, pikir Jeza. Tapi sudahlah, ia tidak mau membicarakan keburukan Ergan di matanya karena tidak akan ada ujungnya nanti. "Tadi lo nanya apa, Kak? Gue nanti malam keluar?" Jeza tampak berpikir sebentar. "Nggak ada sih." "Nggak adalah kan lo nggak punya temen." Ergan menyahut lagi. "Mana ada yang ngajak lo. Udah gitu sok mikir lagi." Ergan sepertinya memang mencari perkara dengan Jeza. "Ergan." Misya memperingati sebelum Jeza yang mencak-mencak saking kesalnya dengan Ergan. "Udah sana naik ke atas, lanjut tidur." "Iya iya okey." Ergan juga sudah lelah menggoda Jeza, jadi ia putuskan mengakhirinya dan naik ke kamarnya, melanjutkan tidurnya yang tertunda. Misya menarik nafas, dan menatap Jeza yang kelihatan masih kesal. "Jadi, lo nanti malam nggak kemana-mana, kan?" Jeza hanya menggeleng sebagai jawaban. Ia tidak mood membuka mulutnya. "Kita ke mall yuk. Mau nggak?" Misya tersenyum lebar, matanya bersinar penuh harap kalau Jeza akan menerima ajakannya. "Lha nanti malam kan malam minggu. Emang lo nggak ngapel sama Kak Keith, Kak?" tanya Jeza heran. "Kalian ada masalah?" "Eh pikirannya buruk banget. Enggaklah. Tapi emang nanti malam nggak ada acara apa-apa sama Keith karena dia sibuk. Terus gue pengen refreshing gitu, cuma nggak ada temen. Lo mau, kan?" Misya memegang tangan Jeza, benar-benar berharap Jeza mau mengikuti kemauannya. "Seriusan nggak punya masalah antara lo berdua?" Jeza menatap penuh selidik. "Kalau ada masalah, lo bisa cerita ke gue kapanpun yang lo mau, Kak." "Iya-iya gue tau, kok. Tenang aja, kali ini nggak ada masalah sama sekali. Oke? Jadi ini mau nggak?" Entah sudah berapa kali Misya mengatakan mau atau enggak. "Yauda boleh. Gue juga pengen main-main ke luar. Tapi traktir ya, gue nggak punya uang soalnya," ujar Jeza terkekeh. "Tenang. Masalah itu biar gue yang urus. Tapi ya buat nongkrong kafe doang ya, nggak sampe masuk store brand terkenal juga." Jeza sudah tahu pasti akan seperti itu ucapan Misya. Ya, ia pun tentu tidak akan masuk ke dalam store dengan barang-barang yang harganya selangit. Jeza begitu sayang dengan uang yang digelontorkan begitu banyak dan imbalan yang didapat terasa tidak sebanding, walaupun mungkin dari segi kualitas patut diacungi jempol, tapi bukan berarti yang murah tidak berkualitas. Ada banyak barang substitusi dengan kualitas sama, kenapa harus ambil yang mahal? Uang delapan puluh juta jika bisa membeli mobil, kenapa harus dibelikan tas atau sepeda? Jeza tertawa sendiri, merasa lucu dengan apa yang ia pikirkan. "Kenapa ketawa lo?" Jeza menggeleng, bibirnya menipis menahan tawanya. "Aneh banget." Misya berceletuk. "Kebiasaan mikirin sesuatu, ketawa sendiri, nggak mau bagi-bagi lagi." Tawa Jeza pecah. "Rahasia dong." Misya tersenyum mengejek. "Iya, deh, terserah aja." Jeza mengambil bantal sofa berwarna coklat dan ia taruh diatas pahanya. "Nanti malam mau pergi jam berapa?" tanyanya sembari mengganti channel televisi. "Mungkin delapan. Kita juga harus tanya ke mama, siapa tau nggak diijinin, kan." "Pasti mama ngijinin, nggak mungkin nggak." Jeza tiba-tiba memikirkan sesuatu, ia menoleh pada Misya. "Eh tapi, nanti malam naik apa? Mobil atau gocar?" Misya berpikir sebentar sebelum menjawab, "Ya mobil lah. Tapi ya lihat nanti aja, kalau mama nggak ada urusan, ya naik mobil, kalau enggak ya gocar." Jeza mengangguk paham. Keluarga mereka tidak seberlebihan itu hingga punya dua mobil. Satu mobil peninggalan ayah mereka saja sudah berharga sekali. "Tenang, nanti kalau gue udah kerja, gue beli mobil biar nggak perlu naik gocar lagi. Lo sama Ergan boleh pinjem kapanpun kalian mau," ujar Misya yang membuat mata Jeza berbinar senang. "Tapi ya kalau gue nggak ada urusan, kalau ada ya gue pake mobilnya. Urusan lo berdua belakangan," sambungnya yang membuat binar itu menghilang. "Iya, deh." Mau gimana lagi, mobilnya kan punya Misya. "Nanti pas gue kuliah, gue bakal cari pekerjaan freelancer biar gue bisa beli mobil juga." "Amin, bagus dong." Jeza padahal niatnya mau mengirikan Misya, tapi respon Misya yang seperti itu malah membuatnya merasa malu. Harusnya Misya jangan mau kalah darinya. Tapi, memang Misya sebaik itu. Jeza hanya berharap kalau kebaikan kakaknya tidak disalah gunakan oleh orang yang tidak tepat. *** Tak terasa, malam pun tiba, seperti sekejap mata, jarum jam terasa berputar lebih cepat. Seperti yang dikatakan Jeza, mama mereka pasti mengijinkan untuk pergi malam itu juga. Tapi sepertinya ada satu orang yang tidak terima. "Lo mau ikut?" Jeza bertanya, tapi nadanya lebih ke meledek. "Kita bakalan lama, nggak papa?" Ergan menghela nafas panjang. "Gue udah bilang, gue nggak mood bukan karena nggak kalian ajak pergi." "Jadi apa?" Jeza mengangkat dagunya. "Kepo." Ergan agak ketus, mukanya memang masam, entah kenapa. "Intinya bukan karena itu." Jeza merasa sikunya disikut, ia menoleh dan ternyata Misya yang melakukannya. Misya memberi isyarat pada Jeza untuk tidak melanjutkan godaannya lagi. Ergan sudah terlihat sangat kesal, entah karena apa. Ia turun dari kamar sudah seperti itu wajahnya. "Udah kalian pergi aja. Biar Mama yang cerita sama Ergan." Mama selalu menjadi penengah diantara mereka. "Yauda, Ma. Misya sama Jeza pergi dulu." Misya menyalami sang mama dan mencium pipinya, begitupun Jeza. "Gue rasa dia ada masalah," ungkap Misya mengutarakan apa yang ia pikirkan. "Mungkin temen, atau yang lainnya. Gimana menurut lo?" Ia menoleh ke Jeza sembari menarik tali seatbeltnya. Jeza yang sudah memasang sabuk pengaman lebih dulu, bertopang dagu dan mengernyit. "Sebenernya, Ergan yang begitu tuh jarang banget. Dia selalu tenang, kalau marah juga marahnya marah cool. Yang kali ini, keknya gue nggak pernah liat deh sebelumnya." Misya berdeham. Ia ingin mengoreksi kalau Ergan pernah begini juga waktu itu ketika ayah mereka meninggal, hampir sama tapi jelas lebih buruk ketika hari berkabung itu. Namun, Misya tidak akan mengutarakan apa yang ia pikirkan karena ini cukup sensitif. Bisa-bisa mood Jeza juga down nantinya. "Yaudalah nggak usah dipikirin lagi. Palingan nanti dia cerita, atau tanpa cerita pun bakalan kembali kayak semula." Jeza memutuskan untuk menyudahi percakapan bertopik Ergan itu. "Hm. Gue harap dia kayak gitu bukan karena pacar." Entah kenapa pikiran Jeza malah tertuju pada Ezi. Apa jangan-jangan ada hubungannya dengan gadis itu, ya? Tapi dari bagaimana Ergan memperlakukan Ezi, rasanya tidak mungkin juga. "Lo bilang nggak usah dipikirin, tapi nyatanya masih di pikirin." Jeza tersadar dan tertawa. "Iya, deh." Tapi ia masih memikirkan juga, bahkan ketika mereka akhirnya sampai di mall yang dituju. Misya memarkirkan mobilnya ke dalam basement. Ia hendak membuka seatbeltnya kalau saja sebuah notifikasi masuk ke ponselnya. Ia akan menghiraukannya kalau saja nama Keith tidak tertera dalam notifikasi itu. Misya mengambil ponselnya, menekan notifikasi itu lalu membaca pesan yang Keith kirimkan padanya. Misya mendengus pelan. Benar, kan, seperti yang ia sudah tebak kalau Keith pasti tidak akan membawanya kemanapun malam ini. Ya, Keith mengatakan kalau ia sedang ada urusan dengan keluarganya. Misya tidak membalas, hanya menon-aktifkan ponselnya lalu membuka seatbeltnya. "Yuk keluar, Jez." Jeza mengangguk. "Oke." Jeza merasa ada yang janggal, entah apa yang dilihat Misya di ponselnya. Jeza memang tidak tahu, tapi sepertinya tidak baik hingga Misya terlihat berbeda. "Kita langsung ke kafe aja, ya." Jeza mengangguk menyetujui. Ia sebenarnya ingin berkeliling lebih dulu walau hanya melihat-lihat, tapi karena ekspresi Misya sudah tidak enak, maka ia akan menyetujui apa saja yang Misya ucapkan. Tapi tiba-tiba, langkah Misya yang berjalan didepan Jeza berhenti, membuat Jeza ikut berhenti dan mendongak menatap Misya heran. "Kenapa berhenti?" Misya tidak menjawab. Jeza yang penasaran kemudian mendongak dan matanya membesar melihat Disa di sana dengan seorang perempuan-yang mungkin seusia Misya, sedang berdiri menatap mereka dengan terkejut. "Jeza?" "Hai, Dis." Disa. Ya, bendaraha kelas itu sebenarnya berhubungan baik dengan Jeza. Tampaknya, sih, begitu. Tapi, terkadang, kata 'baik' tidak bisa mendeskripsikan bagaimana Disa mentreat Jeza, rasanya tidak sesuai saja. Ingat ketika Jeza mengatakan ada beberapa orang yang membullinya secara tak langsung? Disa adalah salah satu diantara mereka. Untungnya, sikap tenang dan kepintaran Jeza membantunya untuk tetap disegani sebagian besar orang. Jadi, Jeza hanya merasa, sekarang atau nanti, hubungannya dengan Disa tidak akan bisa mulus seperti kebanyakan orang lainnya. Jeza hanya yakin, akan canggung nantinya. Susah buat Jeza untuk melupakan apa-apa saja yang Disa lontarkan dari mulutnya untuk merendahkan Jeza didepan teman-temannya. Itu ... menyakitkan. "Lo kenal dia, Jez?" Jeza mengangguk ketika Misya bertanya dengannya dengan raut terkejut. "Lo sama siapa nih, Jez?" "Tung--" "Sama kakak gue." Jeza menatap Misya yang tadi hendak memotong ucapannya. "Kenapa?" tanyanya kemudian, heran ketika Misya tampak tidak tenang. "Oh ya. Sama dong. Gue sama kakak gue." Disa tersenyum lebar sebelum menatap ke kakaknya yang berdiri di sampingnya. "Kenalin, Kak. Ini Jeza, temen kelas gue. Dan Jeza, ini Alyssa, kakak gue." Senyum paksa yang Jeza aplikasikan di wajahnya luntur ketika mendengar nama itu. Alyssa? Misya pernah menceritakan padanya tentang Alyssa yang dekat dengan Keith, pacar kakaknya. Tapi sumpah, Misya tidak pernah sekalipun menunjukkan wajah Alyssa pada mereka. Hanya pada mama, Misya menunjukkan. Ia dan Ergan? Tidak pernah. Dan sekarang ... apakah Alyssa yang sama? "Hai, Jez. Hai, Misya." Rasanya ada yang meledak didalam kepala Jeza. Ia tidak percaya dengan kebetulan yang menakjubkan ini. Benarkah? Ini Alyssa yang mengacaukan hari-hari kakaknya? Perempuan yang membuat beberapa hari Misya dipenuhi tangisan? "Kak. Lo kenal?" bisik Jeza pada Misya yang hanya diam. "Ini Alyssa yang itu? Tolong jawab gue." Misya memejamkan matanya kuat dan mengangguk kemudian. Pertanyaan Jeza terjawab sudah. "Kak, lo kenal kakaknya Jeza?" Alyssa tersenyum dan mengangguk. "Pastinya. Misya ini kan pacarnya Keith." Jeza bisa melihat jelas ekspresi terkejut Disa, mungkin Disa juga mengalami hal yang sama dengannya? "Ah jadi ini kak Misya. Kak Alyssa sering cerita tentang kakak, tapi nggak pernah nunjukin," ujar Disa blak-blakan. Jeza bahkan tidak melewatkan kalau Alyssa menyikut Disa, sepertinya kalimat Disa barusan harusnya tidak terucap. Misya menatap Alyssa dan Disa di depannya dengan senyum kecil. Fine, kebetulan yang amat sangat mengejutkan. Adiknya Alyssa ternyata berteman dengan adiknya, dan kakak dari mereka berdua-tidak bisa dikatakan musuh, tapi juga tidak bisa disebut teman, merebutkan Keith di sisi mereka. Keith bisa menganggap hubungan antara ia dan Alyssa adalah teman, lalu bagaimana dengan Alyssa? Berlaku sama? Tidak ada yang tahu, bukan? "Yauda, deh. Eh gue sama kak Alyssa duluan, ya. Masih ada yang harus dibeli." Disa bersikap manis. "Kak Misya, salam kenal." "Salam kenal, Disa." Misya tahu ini agak canggung, tapi ia memang juga tidak bisa mencoba untuk bersikap biasa. Di dekat Alyssa, semuanya terasa berbeda. Alyssa dan Disa kemudian melangkah melalui Misya dan Jeza yang sama-sama terdiam dengan pikiran mereka yang berkelana kemana-mana. "Ada banyak yang gue mau tanya." Misya menarik nafasnya. Ia tahu pasti Jeza akan banyak bertanya setelah ini. "Iya oke." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD