21. Menghindari Masalah

1790 Words
Sepanjang pelajaran berlangsung, Jerome mencuri pandang ke arah Jeza. Ia merasa aneh karena Jeza sama sekali tidak terpengaruh dengan keadaan sekelilingnya. Padahal kelas sedang bebas dan hebohnya luar biasa karena tidak ada arahan guru untuk mencatat siapa saja yang rusuh. Bahkan ketua kelas sekalipun sudah berparodi didepan kelas sebagai guru terkiller di sekolah mereka. Jerome bangkit berdiri. Ia sudah merasa dekat dengan Jeza. Seharusnya Jeza juga begitu, pikirnya. Tapi, ketika ia hendak mendekat, Jeza tiba-tiba juga berdiri dan melangkah ke luar kelas. Dia juga berbicara pada ketua kalau ia akan ke perpustakaan dan ketua kelas hanya memberinya sebuah anggukan dan acungan ibu jari. Ke perpustakaan, ya? Jerome menimang-nimang apakah ia harus mengikuti Jeza atau tidak. Masalahnya, ia sangat malas bertemu seorang guru dibalik meja resepsionis. Jadi, Jerome memutuskan untuk tidak membuntuti Jeza dan memilih menuju kelas IPS 1 yang nyatanya tidak free class seperti mereka. Tapi Jerome tidak peduli. Ia memberi pesan singkat pada Lukas dan Tama agar menemuinya di belakang sekolah. Jerome sama sekali tidak memaksa, toh jika kedua temannya tidak bersedia, ia masih bisa sendirian. Tetapi, dua menit sejak Jerome tiba di belakang sekolah dan duduk di atas kursi panjang, Lukas serta Tama muncul dan berjalan bersisian mendekat ke arahnya. "Gue pikir lo berdua nggak ke sini," ujar Jerome terkekeh. "Alasannya apa?" tanyanya sembari memberi mereka masing-masing satu puntung rokok dan juga macis pada Lukas, sebelum Lukas memberinya pada Tama. "Muak gue belajar." Lukas menyahut dan duduk di sebelah Jerome. "Nggak ada bangku yang lebih lebar apa, ya? Gue kan mau baringan." Tama menunjuk tanah sementara sebelah tangannya memegang puntung rokok yang terselip diantara bibirnya. "Di sini aja lo baringan. Cocok kok." "Lo pikir gue apaan?" Lukas menyahut sembari memiringkan tubuhnya, lalu berbaring menyesuaikan badan dengan bangku. "Lo tumben ke sini. Kenapa nggak stay di kelas aja?" tanya Tama dengan kepala menunduk menatap Jerome yang juga menunduk menatap sepasang sepatunya. "Jerome di kelas pas kelas lagi free itu keajaiban lah." Lukas sempat-sempatnya menyahut sebelum ia tersedak dengan asap rokoknya sendiri, hingga ia bangkit duduk dan menepuk-nepuk dadanya. Jerome dan Tama hanya terkekeh melihatnya, tanpa mau repot-repot membantu Lukas sedikitpun. Ya, memang begitulah teman yang sebenarnya. Bersenang dahulu diatas penderitaan teman sebelum akhirnya menolongnya. Tapi untungnya, batuk Lukas hanya bertahan dua menit, dan setelahnya ia kembali seperti biasa. Jerome menghisap rokoknya sebelum menjawab pertanyaan Tama tadi. "Jeza nggak ada di kelas. Kenapa gue harus tetep di sana, kan? Sama kayak kalian, gue juga bosen." "Lo beneran suka sama Jeza?" Lukas menatapnya serius. "Maksud gue, bener-bener serius? Lo nggak main-main. kan?" Jerome membalas tatapannya dan tersenyum kecil. "Apa gue nampak main-main?" tanyanya dengan kepala yang sedikit mendongak. "Gue nyaman sama dia. Gue udah ngerasain ada yang aneh pas gue deket dia. Jadi ya, gue dan lo pada pasti bisa artiin itu apa." "Bagus kalau gitu." Tama menanggapi. "Karena selama gue kenal Jeza. Dia beneran cewek baik-baik. Kalau lo mau deket sama dia. Jangan banyak tingkah, Jer. Jangan main-main juga karena lo berdosa kalau mainin cewek sebaik dia." "Ya siapa juga yang mau kayak gitu, kan?" Jerome mengedikkan kedua bahunya pelan. Tak lama setelahnya. Tiba-tiba pengumuman terdengar dari salah satu outdoor speaker sekolah yang kebetulan letaknya tak jauh dari mereka. Jadi suaranya terdengar jelas. "Mohon kepada seluruh anak voli, kumpul di lapangan voli. Ada informasi yang mau disampaikan. Sekali lagi ya, tolong untuk anak voli segera kumpul di lapangan voli. Terima kasih." Jerome menghisap rokoknya yang terakhir kalinya sebelum membuangnya dan menginjaknya berulang kali sampai puntung rokok itu menyatu dengan tanah. "Gue duluan." "Wah parah. Lo yang ajak kita ke sini, eh lo yang pergi." Lukas menggeleng-geleng menatapnya. "Gimana lagi. Kan gue disuruh kumpul," ujar Jerome yang mengundang tawa Tama. "Lo kapan keluarnya sih, Jer? Udah mau tamat juga masih aja di sana." Lukas tampak tidak terima. "Buat apa lo abisin waktu lo capek-capek di sana. Nggak ada rewardnya juga buat lo. Mending main ke sana sini eksplor banyak hal. Ya nggak, Tam?" Tama hanya mengangkat kedua bahunya, ia sendiri tidak tahu apa yang diucapkan Lukas sepanjang itu, ia tidak mengerti. Jerome mengalihkan tatapannya dari Tama ke Lukas. "Kalau gue keluar, sama aja gue nyerahkan diri buat di DO dari sekolah," ujarnya. "Lagian gue lumayan suka sama olahraga ini. Jadi ya jalanin aja." Karena faktanya, hanya Jerome dan asisten klub voli lah murid kelas tiga yang masih ada di sana, lainnya anak kelas dua atau satu. "Okelah." Lukas bangkit berdiri. "Kalau gitu, gue juga balik ke kelas," ujarnya dan menepuk pundak Tama dua kali, mengajak temannya itu untuk ikut dengannya dengan isyarat. "Okey." Jerome melanjutkan langkahnya menuju lapangan voli yang cukup jauh dari posisinya sekarang ini. Sementara itu, Jeza yang baru keluar dari perpustakaan dengan tangan memegan sebuah buku berjudul besar Quiet itu tak sengaja menatap Jerome yang sedang melintas di tengah-tengah halaman sekolah. Ia berhenti melangkah dan memperhatikan ke arah mana Jerome melangkah. Ah ya, dia baru ingat kalau tadi ada pengumuman jika semua anggota klub voli harus ke lapangan voli. Melihat arah langkah Jerome menuju lapangan voli juga membuatnya yakin kalau Jerome beneran anak olahraga. Entahlah, tapi itu tampak keren di matanya. Di lapangan voli. Beberapa orang sudah kumpul. Jerome sendiri datang dan langsung duduk di sebuah bangku kosong, sementara yang lainnya berdiri. Tak beberapa lama kemudian. pelatih mereka datang dan memberi informasi yang tadi dikatakan hendak diberitahu pada mereka semua. "Jadi, ini masalah Jerome sama Mika," ujar sang pelatih menatap Jerome dan Mika bergantian. "Mereka berdua ini kan udah kelas tiga. Nggak lama lagi tamat. Jadi, tolong carikan orang yang pinter atau mahir di posisi setter sama mau jadi asisten kalian." "Bentar lagi ujian semester. Rencana pas liburan nanti mau diadain kamp pelatihan. Karena di awal tahun, kalian ngelawan SMA sebelah. Kalian tau sendiri gimana lincahnya mereka, kan? Jadi sekolah ini juga mau yang terbaik." Sang pelatih masih menjelaskan. "Dan asisten. Saya butuh dua orang. Tolong yang punya kandidatnya kasih tau saya. Lebih baik sih kelas satu ya, biar bisa nerusin sampe kelas tiga nanti." Jerome mengernyit. Sepertinya ia tahu siapa orangnya. Ketika Jerome yakin, ia mengangkat tangannya dan seketika ia menjadi pusat perhatian di sana. "Kenapa, Jerome? Ada yang kamu mau bantah?" Jerome menggeleng. "Saya tahu siapa, Pak. Orang yang bakal jadi asisten kedua," ujarnya menurunkan tangannya. "Masalah itu, serahin aja ke saya." "Serius kamu?" tanya perlatih dan Jerome mengangguk mantap. Sedangkan itu. Mika yang berada di ujung, menatap Jerome intens. Di dalam hati, ia bertanya-tanya dan penasaran akan perempuan mana dan kelas berapa yang akan diajak Jerome. Acara perkumpulan itu nyatanya menyita waktu sampai jam pulang tiba. Bahkan mereka baru bisa bubar lima menit setelah bel pulang berbunyi. Perempuan yang dimaksud Jerome adalah Jeza. Ia akan mengajak Jeza dan yakin Jeza pasti mau. Kalau tidak mau, bilang saja pelatih yang menyuruhnya. Mudah untuk Jerome memalsukan kata, yang penting apa yang ia inginkan tercapai. Jerome masuk ke kelas ketike kelas sudah benar-benar sepi, hanya tinggal dirinya sendiri. Niatnya mau berbicara hal ini dengan Jeza, lenyap sudah. Ke luar sekolah pun Jeza sudah tidak kelihatan dimana. Yang Jerome hanya lihat adalah Ergan. Tapi sepertinya cowok kecil itu ada kelas tambahan hingga alih-alih keluar sekolah seperti yang lainnya. Ergan malah masuk ke dalam sekolah. Tidak ada hal lain yang bisa dilakukan Jerome selain datang langsung ke rumah Jeza. Ia memacu motornya cukup kencang daripada biasanya. Entahlah, tapi Jerome tidak sabar untuk melihat bagaimana reaksi Jeza nantinya ketika ia memberitahu hal ini. Beberapa menit yang lalu. Jeza menaiki ojol untuk pulang ke rumah, karena Ergan ada les makanya ia pulang sendirian. Misya juga masih sibuk dengan kuliahnya, mau tidak mau Jeza harus mandiri. Tapi sedikit lagi sampai rumahnya, kira-kira 500m lagi, tiba-tiba motor ojol yang ditumpangi Jeza mogok dan si supir mengaku motornya sudah sering begini. Sebelum memutuskan untuk jalan saja ke rumahnya. Jeza melihat ke sekelilingnya dan sepanjang jalan lebih dahulu yang untungnya tidak ada orang. Jadi ia tidak repot-repot harus menyapa-sapa lagi. "Yauda, Pak. Nggak papa. Sampai sini aja." Jeza menyerahkan helmnya. "Makasih, Pak." "Oke, Neng. Sama-sama. Maaf ya sekali lagi." Jeza hanya mengangguk dan tersenyum sebelum memulai langkahnya. Jeza suka suasana seperti ini, sepi dan cuaca yang bersahabat serta semilir angin yang menerpa wajahnya. Andai begini terus setiap harinya, Jeza rasa moodnya akan baik setiap saat. Jeza teringat dengan buku yang ia pinjak tadi di perpustakaan. Ia mengeluarkannya dari dalam tasnya dan mulai membaca bab pertama. Tapi baru sebaris ia baca, tiba-tiba suara deru motor mendekat dan berjalan lambat di sampingnya. Jeza awalnya kaget, ia pikir siapa yang begitu, berani sekali. Tapi ketika ia tahu itu Jerome, Jeza jadi biasa saja dan tidak peduli. "Jez. Lo kenapa?" tanya Jerome sembari melajukan motornya dengan lambat, ia menyesuaikan kecepatannya dengan langkah Jeza. "Nggak papa." "Nggak papa tapi dari tadi lo diem aja. Pasti ada sesuatu." "Nggak ada." Jerome berdeham. "Eh gue sebenernya bingung. Lo kenapa kalau di sekolah keliatan calm gitu. Padahal di rumah lo nggak gitu, maksud gue lo aktif di rumah lo." Jeza menurunkan bukunya. Ia malas kalau sudah dibahas seperti ini. Perkataan Jerome sama seperti perkataan Ergan tempo hari, tapi entah kenapa milik Jerome terdengar lebih menyebalkan. "Nggak papa." Hanya itu yang bisa dijawab Jeza karena jika diteruskan, tidak akan ada habisnya karena ia tidak terima jika dibanding-bandingkan antara ia yangd ia rumah dan ia yang di sekolah. Jerome tidak percaya, tapi ia harus melupakannya sejenak karena ada hal lain yang lebih penting yang ia harus sampaikan. "Oh ya. Gue kan anggota tim voli. Jadi tadi ada info kalau tim butuh satu asisten lagi dan gue rekomendasikan lo. Mau nggak?" Jerome tampak bahagia mengucapkannya. Tapi Jeza menggeleng. "Enggak makasih." Perhatian Jeza teralih ketika tak jauh darinya, ada sekumpulan ibu-ibu. Apalagi Jeza bersama Jerome, bisa-bisa begitu ia lewat, topik baru untuk mereka perbincangkan adalah dirinya sendiri. "Tapi, Jez. Ini udah lo. Jadi ya lo. Nggak bisa diganti. Lagian enak kok cuma ngatur-ngatur doang," ujar Jerome membujuk Jeza. Jeza menatapnya. "Bisa anter gue ke depan rumah gue?" Jerome mengernyit. "Bukannya rumah lo itu?" tunjuknya pada sebuah rumah dengan dua lantai. "Ah ya bisa aja sih. Tapi lo harus mau jadi asisten tim gue." "Yauda deh nggak jadi." "Eh tunggu!" Malah s*****a makan tuan. "Yauda naik. Cepet mumpung gue lagi mau nih." Tanpa lama-lama, Jeza naik dan sangat beruntung ibu-ibu itu ada di sisi kanan sedangkan Jeza duduk dengan wajah menghadap ke sisi kiri. Jadi, ia membelakangi ibu-ibu itu. Hanya beberapa detik dan Jeza sudah sampai didepan gerbang rumahnya. Ia turun dan mengucapkan terima kasih pada Jerome "Lo jadi mau, kan?!" Jerome berujar agak kencang ketika Jeza membuka pagar rumah dan hendak masuk ke dalamnya. Jeza bahkan tidak repot-repot memintanna untuk masuk lebih dulu Jeza menghela nafas dan menggeleng. "Maaf. Tapi kayaknya enggak, Jer. Mending Silvia aja," ujarnya dengan senyum kecil di wajahnya. "Udah ya. Makasih sekali lagi," sambungnya sembari menutup pintu pagar dan masuk ke dalam rumah. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD