20. Peringatan Kecil

1450 Words
Dibawah pohon yang daunnya mulai berguguran. Dengan angin semilir yang begitu sejuk dan jauh dari keramaian. Jeza dan Silvia berdiri berhadapan dengan Jeza yang dari tadi menunggu akan apa yang diucapkan Silvia padanya. Dan Jeza baru ingat jika gadis ini bernama Silvia. mereka sempat kenalan di taman, hanya saja ia lupa. Kalau tidak berpikir ulang lebih keras, mungkin ia tidak akan ingat. "Lo ... lagi deket sama Jerome, kan?" Kalimat pertama Silvia membuat Jeza lumayan terkejut dan Silvia tersenyum akan reaksi itu. "Sebenernya nggak masalah di awal. Tapi, makin ke sini kalian makin deket dan jujur aja ... gue nggak suka." Jeza merasa tidak asing dengan perasaan ini. Ia pernah merasakannya sekali waktu itu. Dengan Gina tepatnya. Hanya saja, problemanya sungguh berbeda. "Mm lo pacaran sama Jerome, ya?" tanya Jeza pelan. Karena memang ia tidak tahu sama sekali tentang Jerome. Siapa tahu jika Silvia ini sebenarnya pacarnya. Jika memang begitu, maka Jeza harus jaga jarak, ia tidak ingin dituduh sebagai PHO dan tidak ingin menyakiti perempuan manapun, karena ia memang tidak bermaksud. Tapi makna dari pertanyaan itu ditangkap berbeda oleh Silvia. "Maksud lo apa? Gue harus punya hubungan dulu sebelum ngomong kayak tadi?" "Bukan gitu maksudnya." Jeza menggeleng dan tangannya melambai didepan tubuhnya. "Maksud gue, kalau lo emang pacaran sama Jerome. Gue minta maaf, gue nggak bermaksud apa-apa kok. Gue sama dia cuma temen, pure temen." "Gue emang bukan pacarnya Jerome. Tapi gue punya perasaan sama dia dan gue nggak suka dia deket sama cewek lain atau cewek lain yang deketin dia," ujar Silvia dengan tenang. "Lo ngerti perasaan gue, kan?" Jeza menatap Silvia dan mengangguk pelan. "Lo cemburu?" Jeza berujar berani, sisi segannya tiba-tiba hilang. "Gue bener, kan?" Silvia mendengus pelan dan tersenyum. "Yap lo bener. Syukur lo tau." Jeza berdeham dan menggaruk pipinya dengan lembut. "Gue ... bukan apa-apa. Gue bisa jauhin Jerome, tapi Jeromenya gimana? Sumpah bukan gue kegeeran, tapi ...." Jeza teringat kedatangan Jerome tadi malam ke rumahnya. "Lanjutin." Jeza mendongak. "Tapi Jerome yang suka deket," ujar Jeza melirih pelan, berpikir ulang apa ucapannya pantas dilontarkan? "Gue tau. Tapi seenggaknya lo udah jauhin. Seenggaknya sisi yang satu udah tau, walaupun sisi satunya lagi belum." "Kenapa lo nggak bilang ke Jerome aja supaya dia ngehargai perasaan lo?" Jeza pikir ini akan sulit jika Jerome sendiri tidak mengerti perasaan Silvia dan masih mendekati perempuan lainnya, walau hanya teman sekalipun. Silvia mengedip. Sayangnya, ia sudah memberitahu Jerome tapi Jerome tidak pernah mempedulikannya. Jerome tidak pernah menatapnya lebih dari teman. Tapi Silvi tidak peduli dengan tindakannya ini. Walau ia sama sekali tidak berhak membatasi pergerakan Jerome, ia masih bisa membatasi pergerakan perempuan yang didekati cowok itu. Agak menyedihkan, tapi Silvia tidak bisa cemburu lebih jauh. "Intinya semua dimulai dari lo. Semua cowok pasti bakalan bosen juga kan kalau yang dideketin terus ngejauh." Silvia tersenyum manis. "Tapi yang paling penting itu ... lo nggak ada perasaan sama sekali ke Jerome, kan?" Jeza tertegun sesaat, tapi kemudian ia menggeleng. "Enggak. Enggak ada." Silvia mengangguk-angguk. "Maaf, ya. Mungkin lo sama Jerome emang cuma temenan. Tapi gue tetep aja cemburu. Jadi, thanks banget pengertian lo." Silvia memeluk Jeza singkat. "Kita belum kenalan secara personal. Gue Silvia, panggil aja Silvi biar ringkas." "Jeza." Jeza menyebut namanya. "Lo emang selalu cemburu kalau Jerome deket sama perempuan mana pun?" Jeza heran kalimat itu. Kalau begitu apa Silvi melarang semua perempuan yang dekat dengan Jerome? "Enggak semua. Cuma beberapa." Silvi mengernyit. "Bukan beberapa sih. Tapi cuma dua dan lo yang kedua. Yang pertama, orangnya udah nggak sekolah di sini." Silvia bisa begitu tenang mengucapkannya, sedangkan Jeza bahkan terperangah karenanya. Sinyal di kepalanya berbunyi negatif. Sepertinya Silvia bisa lebih buruk dari sekarang ini. Entah kenapa, Jeza merasa ia benar-benar harus menjauh dari Silvia dan hal itu bisa tercapai dengan ia yang tidak dekat dengan Jerome lagi. Tapi tidak apa. Toh Jeza juga tidak begitu cocok dengan Jerome. Jadi tidak masalah. "Yauda deh, intinya sih itu. Gue seneng lo ngerti. Karena kalau nggak ngerti, yaaa ...." Silvi tertawa dengan menggantung ucapannya. "Yaudalah itu aja. Gue duluan." "Perasaan itu sama sekali nggak bisa dipaksa!" seru Jeza ketika Silvia sudah berbalik dan berjalan dua langkah. "Lo harus terima apapun hasilnya." Jeza puas bisa meneriakkan kalimat itu. Kalimat terakhir Silvia mendorong Jeza mengatakan kalimatnya. "Apa?" Silvia berbalik lagi dan menatap Jeza. "Kalau lo bermaksud ngancem gue, gue nggak takut, Sil. Gue bakal jauh dari Jerome, karena ngehargain perasaan lo ke dia. Bukan karena gue takut sama lo," ujar Jeza dengan mata membara. "Gue nggak suka kalimat terakhir lo. Mungkin lo tau gue pendiem, pemalu, tapi bukan berarti lo bisa nginjek-nginjek gue. Kalau gue mau, gue bisa lebih deket sama Jerome dan mutusin buat nggak peduli sama perasaan lo." Nyatanya Silvia mampu membangkitkan sesuatu yang hanya muncul jika Jeza dikuasai amarah saja. Dan sejujurnya, Silvia juga terkesiap dengan Jeza yang seperti ini, ia sama sekali tidak menduganya. Tapi, yang ditampilkan Silvia hanya senyum tenang, ia juga tahu kalau orang-orang yang kesehariannya selalu damai seperti Jeza ini, suatu saat bisa meledak karena merasa terganggu atau amarah yang dipacu. "Well ... gue nggak ngancem, cuma meringatin aja. Gue sama Jerome jauh lebih lama dibanding lo." Silvia memberi senyum kecil kemudian berbalik dan melangkah pergi dari sana. Jeza terkekeh. Aneh rasanya ia ada di posisi seperti ini padahal ia tidak pernah sebelumnya. Ia tidak bodoh untuk tidak mengerti apa yang dimaksud Silvia dari semua percakapan mereka tadi. Bisa saja Jeza mengabaikan apa yang diucapkan Silvia dan tetap berteman dengan Jerome. Namun masalahnya adalah, ia tidak suka punya masalah dengan orang lain, mau sekecil apapun alasannya. Jadi, lebih baik menghindar dan hidup tenang. Setelahnya, Jeza juga kembali ke kelasnya. Dan hanya ada Disa di dalam kelas. Jeza hanya meliriknya dan melalui mejanya begitu saja tanpa menyapa atau sekedar bertanya mengapa Disa tidak ke kantin karena biasanya ia begitu. "Gue tau lo pasti tau masalah antara kakak lo sama kakak gue," celetuk Disa dan berbalik badan menghadap Jeza. Jeza yang baru duduk di bangkunya, berdeham mendengar celetukan itu. "Terus?" tanyanya dan membuka tutup botol minumnya, lalu menenggaknya, membuat Disa yang hendak bicara menjeda ucapannya. "Ya gue capek aja karena di masalah ini, lo semua pasti nganggap kakak gue sebagai orang jahatnya." Disa menatapnya nyalang. "Padahal sebenernya kakak lo." Jeza mendengarkan dengan tangan memutar menutup botol minumnya. "Alasannya?" tanyanya sembari memasukkan botol minumnya kembali ke dalam tas. Disa terkekeh. "Jujur aja, first impression gue ketemu kakak lo tuh, gue kaget ternyata Misya yang dimaksud adalah perempuan kayak gitu." Disa sama sekali tidak menjawab pertanyaan Jeza. "Maksud lo 'kayak gitu'?" Jujur saja, Jeza masih dalam mood yang tidak baik karena urusannya dengan Silvia tadi, dan sekarang ia harus berurusan dengan Disa dengan topik yang begitu sensitif. "Gue pikir kakak lo itu cantik banget, melebihi kakak gue sampe Kak Keith bisa jatuh ke tangan kakak lo." Disa berseru dengan cepat. "Tapi ternyata enggak." "Nggak heran mata lo rabun." Disa terperangah, seumur-umur sekelas sama Jeza, baru kali ini Jeza berbicara kasar padanya. "Lo ...." Ia mendengus. "Ini kenapa gue sama sekali nggak percaya sama orang yang sifatnya tenang." Jeza mengernyit, tangannya diatas meja dan matanya menatap Disa. "Lo ngomong apa sih?" Herannya. "Gini. Yang mau lo omongin tadi apa?" Disa menghela napas berulang kali. Jeza yang tenang dan mampu melontarkan kalimat pedas ini membuatnya kekesalannya berlipat ganda. "Alasan lo bilang kalau kakak gue sebenernya orang jahatnya itu apa?" "Kakak lo yang rebut Kak Keith dari kakak gue!" Disa melempar tatapan tajamnya. "Kakak lo tau kalau Kak Keith itu punya pacar, dan pacarnya kakak gue. Tapi masih aja dideketin dan direbut. Lo pikir itu apa?" "Siapa yang bilang gitu? Kakak lo? Kayaknya lo dibohongin deh. Karena nggak kayak gitu cerita sebenernya." Jeza memberi senyum yang begitu damai. "Kakak gue pacaran sama Keith. Gue akui kakak lo cantik. Dan gue nggak tau apa yang kakak lo lakuin sampai Keith juga ... ya mungkin suka sama kakak lo, padahal dia punya kakak gue. Jadi dari sana, sementara ini, yang gue salahin adalah Keith sendiri. Gue nggak tau cerita dari sudut pandang kakak lo gimana, dan gue kayaknya nggak bakal percaya walau dia suatu saat kasih tau ke gue." Jeza berdeham. "Ke lo aja dia ceritanya boongan. Fake. Apalagi ke gue, kan? Di sisi Keith juga gue nggak percaya. Intinya nggak ada yang gue percaya selain kakak gue sendiri." "Emang lo percaya sama omongan kakak lo? Bisa aja dia bohong." "Sayangnya, kakak gue selalu jujur. Dia terima resiko seluruh kemarahan keluarga gue, yang penting udah jujur." Jeza tersenyum menang diatas kekesalan Disa yang tampak jelas di wajahnya. "Terserah aja. Lo percaya kakak lo. Dan gue percaya kakak gue." Disa kembali menghadap ke depan. Tapi hanya sesaat sebelum ia bangkit dan melangkah pergi ke luar kelas. Jeza menghela napas panjang. Berdebat dengan Disa membuat tenggorokannya cukup kering. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD