19. Seseorang Tidak Terima

1903 Words
Setelah kepergian Jerome malam itu, nyatanya Jeriko pulang tidak lama kemudian. Ia hanya berbincang ringan dengan Jeza dan keluarganya, dan beberapa menit kemudian memilih pulang. Cukup mengherankan karena biasanya Jeriko pulang sampai malam sekali. "Jez." Mama membuka pintu kamar Jeza dan mendapati kamar anaknya itu gelap gulita. "Kamu udah tidur? Tumben, masih jam sembilan." Mama meraba dinding mencari saklar lampu, dan begitu ketemu jarinya langsung menekan dan kamar seketika terang benderang. "Kenapa, Ma?" Jeza membuka selimut yang menutupi kepalanya. "Ini udah jam sepuluh, bukan jam sembilan lagi. Mama salah lihat kayaknya," ujarnya dengan tangan lurus menunjuk jam yang bertengger manis di dinding. Mama mengikuti arah tangan Jeza dan mengernyit. "Tadi jelas-jelas jam sembilan di dapur." "Mungkin telat kali." Jeza bangkit duduk dan menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. "Ada yang mau Mama bicarain?" Jeza menyisir rambutnya dengan jari-jemarinya. Mama mengangguk dan mendekat. Ia duduk di pinggir ranjang Jeza. "Mama kepo. Kamu sama Jerome, udah temenan lama?" Jeza menggeleng. "Jadi baru-baru aja?" Jeza mengangguk. "Kenapa emangnya, Ma? Kalau soal Jerome yang datang tiba-tiba, Jeza juga enggak tau. Dia tiba-tiba dateng aja tanpa diundang, tanpa ngabarin juga." Jeza menarik selimutnya dan memeluknya. "Bukan itu maksud Mama." Mama tampak berpikir, mungkin memikirkan kata yang mudah untuk ia katakan dan Jeza memahaminya. "Gini ya. Dulu Mama sempet belajar tentang ilmu psikologi. Mama belajar banyak hal dan sedikit banyaknya, Mama paham perasaan orang-orang." "Mama kayaknya udah pernah bilang itu." "Iya, ya?" Jeza mengangguk polos. "Berulang kali." Mama terkekeh pelan. "Yauda deh. Jadi, Jerome itu kayak punya sesuatu yang dia rahasian. Mata dia nunjukin itu, Jez. Dia bisa senyum seolah dia nggak kenapa-kenapa, tapi jauh di dalam sana, dia selalu kesakiti." Jeza mengernyit, teori mamanya agak sulit dipercaya. "Tapi, Ma. Jerome itu selalu happy banget di sekolah. Kayaknya nggak mungkin deh." "Dia sembunyiin itu. Kamu mungkin nggak sadar, nggak tau bahkan. Coba deh sesekali liat matanya, bener-bener diperhatikan, ya. Dia nyimpen emosi di dalam sana. Mama rasa udah dari lama banget, makanya dia udah bisa sebiasa itu," jelas mama. "Nah dia kan temen kamu. Mama bisa rasain dia happy sama kamu. Jadi, ya ... pertahanin hubungannya." Mengerjapkan matanya, Jeza agaknya semakin heran karena tidak biasanya mamanya begini. "Ini karena Mama simpati sama dia," ujar mama seakan menjawab kebingungan Jeza. "Dan Mama tau satu hal dari apa aja yang dibilang Jerome tadi. Dia nggak tinggal sama mamanya. Mama nggak tau yaa alasannya. Cuma dari kalimat dia yang bilang 'nggak ada yang masak di rumah' sama kalimat 'masakan mama terenak' udah bisa ngeyakinin Mama tentang satu fakta itu." "Mama serius?" "Kamu liat muka Mama. Serius nggak?" Jeza melipat bibirnya. "Bercanda sama serius, muka Mama sama aja," ujarnya pelan. "Tapi ya nggak mungkin bercanda kalau omongannya udah gini." "Itu tau." Jeza memutar ulang apa saja yang Jerome katakan hari ini dan ia menangkap beberapa kalimat janggal yang seperti mamanya katakan. "Tapi, Ma. Mungkin aja dia muji Mama pas bilang masakan Mama terenak. Mungkin dia bilang nggak ada yang masak, karena mamanya dia lagi nggak masak hari ini," ujar Jeza mengungkapkan apa yang ia pikirkan. "Buktiin aja perkataan Mama. Udah lama Mama nggak seyakin ini sama teori Mama sendiri." Jeza menghela napas. Bagaimana caranya membuktikannya? Jeza bertanya di dalam hatinya. Tapi ya sudahlah, ia juga tidak begitu penasaran. "Oh ya. Mama bisa paham perasaan Jerome. Tapi ke Kak Misya kayaknya enggak." Jeza tidak menuduh, tapi memang faktanya Mama sepertinya sudah tidak peduli terhadap urusan Misya dengan Keith. "Kalau Misya. Itu tergantung dirinya sendiri. Kalau dia mau, dia bisa ngelupain, cuma emang lagi kecintaan aja. Yauda lah, kalau dia memang mau bertahan. Nanti kalau bucinnya ilang, tinggal penyesalannya aja kita liat." Jeza terkekeh pelan mendengarnya. "Tapi Mama juga harus dukung dong." "Pastilah. Kan anak Mama." Mama bangkit berdiri dan mulai melangkah jauh. "Yaudalah tidur sana, besok bangun pagi, kan." Jeza mengangguk, menurunkan tubuhnya dan menarik selimutnya begitu lampu kamar dimatikan kembali oleh mama. Di tengah kegelapan. Jeza kembali berpikir lebih serius terhadap apa yang mama bicarakan. Ada dua kemungkinan sebenarnya atas ucapan Jerome. Namun, jika ditilik lebih jauh, memang tidak menutup kemungkinan jika yang dibilang mamanya benar adanya. Jeza mendesah dan menutup matanya. Ia harus melupakan hal itu sekarang juga atau ia tidak akan bisa tidur malam itu. Paginya, seperti biasa. Mereka diantar oleh mama. Jeza dan Ergan berjalan beriringan masuk ke halaman sekolah yang begitu luas. "Kayaknya ada yang berubah sama lo," ujar Ergan tanpa melirik Jeza. "Apanya yang beda?" Ergan menoleh dan menunjuk wajah Jeza. "Muka," katanya. "Tuh muka kayaknya beda dari biasanya." Jeza mengernyit. Kedua tangannya terangkat dan refleks memegang sisi wajahnya. "Bedanya gimana?" "Lo pake lipbalm?" Ergan melirik Jeza dari ujung matanya. "Tumben. Udah tau gimana cantik sekarang?" "Gue nggak pake libalm!" sanggah Jeza cukup kencang. Ia kemudian mengusap bibirnya berulang kali. "Lihat. Nggak ada yang berubah, kan?" Ergan menatapnya dengan bola matanya bergerak atas-bawah-atas. "Yaudah sih kalau emang nggak pake. Kenapa malah marah?" Ia terkekeh. "Yauda deh, gue duluan." ujarnya dan berjalan menjauh dari Jeza, menuju gedung dimana kelasnya berada. Jeza mendesah hingga bahunya ikut turun naik, Ergan memang luar biasa dalam membuatnya kesal. Tapi, ada yang aneh. Tumben Ergan tidak mengangkat topik tentang Jerome. Biasanya kalau Jeza sedikit saja dekat dengan Jerome. Dia pasti sewot. "Jeza." Tanpa menoleh, Jeza tahu yang memanggilnya adalah Gina. "Jez, hai." Gina mendekatinya dan menyapanya. Gina juga mensejajarkan langkahnya dengan Jeza. "Jez. Kita kayak gini udah lama banget, dari SMP. Lo nggak mau kayak dulu?" "Maksudnya?" "Temenan." "Kita kan emang temenan," jawab Jeza langsung. "Ya, kan?" "Tapi nggak deket." Gina menambahkan. "Gue nyesel waktu itu, Jez. Gue akui pikiran gue waktu itu terlalu dangkal sampe nuduh lo." Jeza tersenyum tipis. "Iyaa." Gina berhenti melangkah, sedangkan Jeza hanya meliriknya dan tetap melangkah menuju kelasnya. Gina terdiam karena fakta jika Jeza begitu tersinggung padanya membuatnya merasa putus asa. Sepertinya tidak ada harapan jika ia dan Jeza akan kembali seperti waktu itu. Padahal sudah tiga tahun berlalu, tapi yang pecah sama sekali tidak bisa kembali seperti sedia kala, begitupun antara ia dan Jeza. Tiga tahun yang lalu, Gina punya pacar. Namun siapa sangka jika pacarnya itu malah menyukai Jeza. Saat Gina mengetahui hal itu. Ia begitu marah dan salah paham. Ia kemudian menuduh Jeza dengan kata-k********r, parahnya itu semua dilakukan didepan banyak orang. Yang membuat Jeza merasa tidak akan pernah bisa melupakannya seumur hidupnya. Jeza tahu jika beberapa hari kemudian, Gina menyadari kesalahannya dan minta maaf pada Jeza. Tapi maaf itu ibarat plester yang ukurannya hanya beberapa centimeter untuk luka yang luasnya jauh lebih besar. Maaf bisa saja terucap, tapi sakit yang diakibatkan tak akan pernah hilang. Jeza masih ingat bagaimana reaksi orang-orang ketika Gina menuduhnya. Orang-orang itu bahkan masih menghujatnya walau Gina sudah minta maaf padanya. Bahkan ketika Gina mengklarifikasi semua itu ke media sosialnya, tetap saja ada yang menganggap Jeza perebut pacar orang. Bagaimana bisa Jeza melupakan semua itu? Itu kenapa Jeza rasa akan lebih baik ia dan Gina teman, namun sekedar teman saja. Tidak lebih. Karena kedekatan mereka pun akan menyakiti Jeza juga. Jeza masuk ke dalam kelas dengan pandangan ke satu arah saja, yaitu tempat duduknya. Ia terbiasa begitu. Entahlah, Jeza merasa tidak percaya diri, padahal tidak ada yang melihatnya saat dia masuk. Waktu itu, memang tidak ada yang melihatnya. Tapi sekarang ada. Jerome bahkan beberapa kali memperhatikan bagaimana Jeza masuk ke dalam kelas dan ia merasa Jeza tidak bebas, seperti membatasi dirinya sendiri. "Jer? Lo denger?" Jerome memutar lehernya ke arah Disa yang dari tadi berbicara didepannya. "Oh iya. Kenapa?" Disa memberengut sebal, tapi kemudian ia kembali mengatakan apa yang tadi ia katakan, padahal Jerome juga tidak mendengarkan. Pikirannya teralihkan sejak kedatangan Jeza. Bel masuk bunyi barulah Disa kembali ke tempat duduknya. Jerome sebenarnya sudah sangat berbaik hati tidak mengusir Disa dari mejanya. Kalau ia tidak sedang baik hati. Disa baru mendekat saja pasti sudah ia usir lebih dulu. Sementara itu, Disa yang kembali duduk di kursinya, wajahnya tampak kusut. Disa tahu Jerome tidak mendengarkannya karena Jerome dari tadi terus melihat ke arah Jeza. Adik sama kakak sama aja, batin Disa kesal. Tak lama kemudian, pak Eko masuk dan ketua menuntun semua temannya untuk memberi salam. "Kita ada tugas, kan?" "Ada, Pak." "Kalau gitu. Tolong Jerome. Maju ke depan dan tulis jawaban kamu di papan tulis. Buat kolom-kolomnya juga, ya." Jeza menoleh pada Jerome. Jujur saja, ia agak khawatir, bagaimana jika Jerome lupa sama apa yang mereka pelajari tadi malam? Namun sepertinya Jeza tidak perlu takut, karena nyatanya Jerome sungguh bisa mengerjakannya, bahkan dengan buku yang ia sengaja tutup. Sebenarnya apa yang dilakukan Jerome? "Saya tahu kamu bisa," ucap Pak Eko. "Kamu belajar sendiri atau bareng orang lain? Bareng Disa, ya?" Jerome menggeleng. Ia mengedarkan pandangannya dan menunjuk Jeza. "Bareng Jeza, Pak." Dan otomatis semua mata memandang Jeza. Membuat Jeza tidak tahu kemana harus menatap. Bukan berarti ia salah tingkah karena Jerome. Ini memang sikap bawaan Jeza yang tidak bisa menjadi pusat perhatian. "Oh gitu. Yauda bagus." Jerome mengangguk dan kembali ke tempat duduknya. Sejenak, ia melempar senyumnya ke Jeza dan Jeza melihatnya. Entah kenapa, hal itu malah mengingatkan Jeza saat Jerome memeluknya tadi malam. Tiba-tiba Jeza menegang. Ia baru teringat kalau didepan rumahnya terpasang CCTV! Dan pasti selalu dicek setiap harinya oleh mama, Ergan ataupun Misya. Jeza berdebar, bagaimana kalau sudah dicek lebih dulu oleh mama atau Misya? Karena CCTVnya bisa dikendalikan lewat ponsel. Jeza jadi takut sendiri. Ia tidak tahu bagaimana reaksi mereka begitu tahu hal itu. Jeza tidak bisa membayangkan akan semalu apa dirinya nanti. Jerome sendiri, yang dari tadi terus mencuri pandang ke arah Jeza. Merasa aneh karena Jeza tampak memikirkan sesuatu dan khawatir terhadapnya. Tapi Jerome tidak tahu apa. Ketika jam istirahat tiba. Jerome berdiri dan melangkah ke arah meja Jeza. "Lo nggak ke kantin? Samaan aja kalo lo mau," ajak Jerome menunduk pada Jeza. Jeza agak kikuk. Pasalnya di sana masih ada beberapa orang, termasuk Disa. Dan beberapa dari mereka juga memperhatikan Jeza dan Jerome. Mereka heran Jeza bisa dekat dengan Jerome. "Lo duluan aja." Jeza menjawab tanpa melihat menatap balik Jerome. Dan itu membuat Jerome heran. Jeza yang sekarang berbeda dengan Jeza yang tadi malam. Kenapa yang sekarang kaku? Padahal ia pikir ia dan Jeza sudah lebih dekat. "Lo kenapa?" Jerome membungkukkan badannya hingga ia bisa menatap wajah Jeza yang menunduk menatap bukunya yang terbuka. Ingin rasanya Jeza mendorong wajah Jerome agar jauh dari wajahnya, tapi ia tidak bisa melakukannya. "Enggak. Lo duluan aja." Jeza menolak, ia pura-pura membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa buku lainnya. Jerome menegakkan punggungnya dan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. "Oke deh. Lo nggak mau nitip?" Disa menganga tidak percaya dengan apa yang ia lihat dan ia dengar. Kenapa Jerome bisa begitu baik dengan Jeza? Disa juga tidak buta akan ciri-ciri cowok yang suka sama satu cewek, dan ia bisa melihat itu pada diri Jerome. Tatapannya, gerak tubuhnya, Disa bisa tahu. Namun masalahnya, kenapa Jeza? Kenapa harus dari adik dari seseorang yang merebut belahan jiwa kakaknya?! "Enggak juga." Jerome menarik napas. "Oke ... oke." Dan ia mulai melangkah menjauh dari Jeza. Setelahnya, Jeza baru bisa menarik napas lega. Ia menaruh kedua sikunya diatas meja dan tangannya mengusap pipinya yang terasa panas. Ia tidak bisa diperlakukan seperti tadi lagi. Jeza mudah suka pada seseorang yang menaruh perhatian padanya. tapi bisakah tidak Jerome? Jeza sama sekali tidak mengharapkan hal itu terjadi. Perhatian Jeza teralihkan ketika pintu kelas diketuk beberapa kali. Jeza mendongak dan mengerjap melihat seorang siswi yang berdiri di pintu kelas, dan menatap ke arahnya dengan senyum kecil di wajahnya. Sepertinya Jeza pernah melihatnya. "Jeza, bisa ikut gue bentar?" ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD