5. Bercanda, Jangan Terlalu Serius

1463 Words
Di saat pikiran Jeza begitu ruwet karena kalimat Jerome barusan. Si pelaku alias Jerome sendiri tiba-tiba tertawa dan Jeza menatapnya heran. Jerome tahu kalau Jeza tercengang melihatnya. Ia melipat bibirnya agar ia berhenti tertawa. Entahlah, tapi raut Jeza yang begitu serius sekaligus bingung terlihat lucu di matanya. "Enggak, gue bercanda." Mata Jerome agak menyipit karena tawanya. "Kita baru ketemu, nggak mungkinlah." Jeza hanya mengangguk-angguk, terlihat tidak peduli. "Soalnya tadi lo keliatan mikir berat gitu. Sori ya." Jerome tersenyum tidak enak sekarang. Jeza tersenyum kecil, ia mendongak. "Nggak papa. Gue tadi cuma nyoba mikir gimana caranya buat nolak dengan halus, kok." Dan setelahnya ia berbalik pergi meninggalkan Jerome yang terkelu beberapa detik sebelum tertawa kecil dan mengangguk-angguk pelan. Jeza boleh juga, pikirnya. Dan karena orang yang Jerome tuju hendak keluar dari perpustakaan, maka ia akan keluar juga. Namun, Bu Mina berdeham keras dan memanggilnya ketika ia melangkah didepan mejanya. Jerome menoleh dan Bu Mina memundurkan kursinya, ia mengulurkan tangannya, menunjuk dengan telunjuknya ke arah poster cukup besar yang menempel pada dinding dibelakangnya. "Coba baca." Jerome melipat bibirnya. Ya, poin ke tiga bertuliskan tentang tidak boleh ribut didalam perpustakaan. Ia langsung tahu apa kesalahannya, apalagi jika bukan tawanya yang ia akui tadi cukup membahana. "Udah?" Bu Mina bertanya dan Jerome mengangguk seolah ia anak penurut. "Bukan cuma kamu yang punya mulut." "Maaf, Bu." Bu Mina mengernyit, tampak belum selesai dengan perkataannya, tapi karena sikap Jerome tidak seperti ekspetasinya, ia pun mengurungkan. "Yauda sana." Dan memilih mengusirnya. "Permisi, Bu." Jerome mengangguk sebagai tanda hormatnya dan kemudian melanjutkan langkahnya keluar dari perpustakaan. Wajahnya berubah agak kesal dan bola matanya berputar. Ia tidak begitu penurut, asal tahu saja. Tapi karena ia sudah punya feeling jika Bu Mina ini adalah tipe yang memperpanjang segala masalah, maka ia mengalah. Ketika Jerome keluar, sudah tidak ada Jeza di sana. Hanya dalam mimpinya Jeza mau menunggunya. Berpikir tentang Jeza, membuat Jerome mengukir senyum tipis. Gadis itu punya ketertarikannya sendiri, dan terasa unik. Jerome jadi penasaran padanya. Jika dipikir-pikir kenapa ia harus bertemu Jeza di akhir tahun mereka bersekolah, kenapa tidak dari dulu ketika mereka berada di tahun pertama? Sepertinya bukan hanya Jeza yang kudet tentang dirinya, tapi ia juga kudet tentang Jeza. "Lo di sini dari tadi?" Jerome menoleh ke seseorang yang berdiri di samping kanannya. Dua orang laki-laki berdiri bersisian. Keduanya tampak keren dengan tangan yang terlipat di d**a dan tangan yang masuk ke dalam saku celana. Perkenalkan, Tama dan Lukas. "Sok keren lo berdua." Lukas yang tangannya terlipat langsung ia urai, sedangkan Tama tidak peduli, mau dibilang sok keren atau sok ganteng, ia tidak akan terpengaruh dengan ucapan Jerome, karena memang tidak penting juga. "Lha lo sendiri, gaya-gayaan mau pinter abis dari perpustakaan?" Lukas meledeknya balik. "Tapi tumben amat. Abis kesambet apa?" "Kepo. Gue ada urusan penting makanya ke sini." Jerome menjawab malas. "Lo berdua ngapa cari gue? Ada perlu? Gue mau ke kelas nih." Tama memasang tampang pura-pura keget. "Kayaknya emang bener lo abis kesambet sesuatu. Tumben jam istirahat dipake didalam kelas. Ada apa sama kelas lo itu? Isinya orang-orang ngebosenin padahal." Jerome membuka mulutnya, hendak menjawab ucapan Tama. Tapi, sayangnya Lukas sudah punya sesuatu yang ia mau lontarkan, dan lebih cepat ketimbang Jerome. "Oh ya gimana, gimana? Kelas penghuni surga itu? Kayaknya mempan ya ke lo sampai bisa buat lo injek lantai suci ini." Lukas tersenyum lebar, hampir tertawa karena ia tahu sendiri kalau ucapannya agak aneh. "Kesan pertama masih biasa, welcome kok. Nggak tau kalau nanti." Jerome mengangkat kedua bahunya, agak tidak acuh menceritakan kelas barunya lebih lanjut. Ia juga sama sekali tidak menceritakan tentang mentornya pada dua teman dekatnya itu. Tama ber-oh ria saja, tangannya bergerak merangkul punggung Jerome, memberi dorongan sedikit dan berkata, "Sekarang ... ke kantin. Balik ke kelas buat apa coba? Toh nanti bel juga harus masuk ke ruangan mengerikan itu lagi, kan?" Tama menatap Lukas, mengangkat telapak tangannya dengan sebelah alis yang meninggi. Lukas tertawa kencang, mengayunkan lengannya, memberi tepukan pada tangan Tama yang membuka. "Gue suka gaya lo, bro." Lukas menahan tawanya dengan bibirnya yang ia sengaja tipiskan, ia juga menunjuk-nunjuk Tama dengan jari telunjuknya serta sebelah mata yang ia kedipkan. Kelakuan random Lukas itu membuat Tama tidak tahan untuk tidak meledakkan tawanya yang dari tadi tertahan. "Anj*y ... gue lebih suka gaya lo." Jerome menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri, dua temannya ini memang terkadang bisa sefreak itu disaat ia sedang tidak mood seperti saat ini. "Eh bentar. Lo kan abis dari perpus, ketemu Bu Mina dong." Tama baru teringat, ia berhenti tertawa, begitupun Lukas. "Ah pantes lo bete, karena ibu itu?" Jerome berdecak pelan. Ia menggaruk kepalanya. Bingung harus menjawab apa karena ucapan Tama tidak bisa dibilang salah, tapi juga tidak bisa dikatakan seluruhnya benar. "Nggak tau. Gue males lagi bokek. Lo berdua aja sana yang ke kantin. Gue ke kelas." "Oh ya? Padahal Lukas mau jadi bandar kali ini." Tama tersenyum manis tanpa dosa dengan tangan terulur menunjuk Lukas yang terperangah. Mulut Lukas bergerak seolah ia mengunyah sesuatu, tapi percayalah itu adalah ciri khasnya ketika ia sedang kesal. Untung Tama temannya, jadi ia tidak mempermasalahkannya sama sekali. Mulutnya yang bergerak itu hanya tipuan, hanya pura-pura. "Seriusan?" Jerome tersenyum miring. "Kalau gitu gue mau." Lukas tersenyum lebar yang dipaksakan, matanya juga terpejam, membuat Tama tertawa terpingkal tak tahan dengan ekspresi Lukas yang begitu konyol. Senyum Lukas surut kemudian, ia menatap Jerome dengan pandangan malas. "Mana pernah ada sejarahnya lo bokek. Tajir, tapi sukanya ditraktir." Jerome tertawa kecil sebelum memasang tampang menyebalkan dengan senyum angkuhnya. "Sebagai imbalan, gue sama Tama boleh dong main ke rumah lo." Dan senyum Jerome lenyap seketika, ia menatap Lukas dengan wajah datar. Tama sendiri mencoba memberi tatapan peringatannya pada Lukas. Tama akui, ia dan Lukas, sedekat apapun mereka pada Jerome, rasanya Jerome punya sesuatu yang tidak ingin dibagi. Mereka sama sekali tidak bisa menebak hal ini apa dan juga tidak memaksa Jerome untuk terbuka. Tidak seperti Jerome yang sudah berulang kali sampai bosan datang dan menginap di rumah Tama maupun Lukas, dua laki-laki itu malah tidak pernah menginjakkan kaki di rumah Jerome yang dari jauh saja sudah kelihatan semewah apa. Entahlah, Jerome benar-benar melarang siapapun untuk masuk ke dalam rumahnya. "Bercanda. Jangan terlalu serius gitulah." Lukas menepuk bahu Jerome. Tama menarik nafasnya. "Udahlah buru ke kantin, sepuluh menit lagi bel nih." Jerome tidak mengatakan apapun, tapi ia tetap ikut melangkah bersisian dengan Lukas dan Tama yang masing-masing berdiri di sisinya. *** Jeza memasukkan buku-bukunya ke dalam tasnya. Tidak ada seorang pun di kela selain dirinya, manusianya sudah berkeliaran entah kemana saja. Maunya ia tetap di sana, tapi perutnya tidak bisa diajak kerja sama, dari tadi berbunyi memberi sinyal lapar. Mau tidak mau ia harus ke kantin untuk membeli roti lalu memakannya di dalam kelas. Tidak ia pungkiri, kejadian antara dirinya dengan Jerome tadi menyita perhatiannya juga. Ia masih tidak percaya Jerome sungguh mengikuti dirinya di perpustakaan tadi. Dan kalau ia tidak salah kaprah juga, Jerome hanya ke perpustakaan hanya untuk dirinya? Karena ia lihat Jerome tidak meminjam atau membaca satu bukupun. Ah tidak-tidak, jangan terlalu percaya diri. Otak Jeza memberi sinyal merah. Hatinya ini cukup mudah jatuh, walau tentu Jeza tidak akan semudah itu untuk memberitahu. Tapi tetap saja, punya hati yang gampang sekali jatuh seperti ini rasanya merugikan dirinya sendiri. Maunya punya hati kebal, namun hanya angan, hatinya tidak pernah begitu. "Jeza." Jeza menoleh pada seseorang yang memanggilnya dari jauh. Hm. Dia Gina. Siswa kelas 12 IPS 3. Bisa dibilang mantan teman Jeza. Kenapa mantan? Karena mereka pernah ada di dalam satu masalah dan Gina yang saat itu menjadi satu-satu teman yang ia punya malah mengkhianatinya. Sejak itu, Jeza menjauh dan memilh untuk tidak berteman lagi dengan Gina, tapi juga tidak musuh, menganggap mereka hanya saling kenal dan itu saja. Tapi berbeda dengan Gina yang tak menyerah berusaha membangun pertemanan mereka lagi. Sayangnya, Jeza sudah mencapai batas muaknya, jadi rasanya mustahil hubungan itu bisa kembali ada. "Kenapa?" "Lo mau kemana?" tanya Gina tersenyum lebar ketika ia sudah berdiri di depan Jeza. "Kantin." "Kebetulan! Gue juga mau ke kantin. Bisa bareng?" Gina tampak antusias. "Gue mau sendiri aja." Maaf, Jeza harus menolak. "Gue duluan." Jeza sebenarnya tidak tega dan tidak mau menyakiti orang lain. Tidak enak juga menolak tawaran atau permintaan seseorang, ketika masih berada dalam batas wajar. Tapi, ketika seseorang sudah menyakitinya lebih dulu, setelahnya Jeza tidak peduli apakah sikapnya yang beubah menjadi blak-blakan menyakiti atau tidak. Sudah tidak ada respect pada orang yang maunya menang sendiri, pikir Jeza. Gina dari jauh menatap Jeza yang terus melangkah jauh. Ia menghela nafas. Jeza terus menjaga jarak dengannya, padahal ia sudah meminta maaf dan mencoba memperbaiki pertemanan mereka. Nyatanya, ia terlalu meremehkan Jeza waktu itu, seseorang seperti Jeza bisa sangat sulit untuk dijangkau kembali ketika merasa seseorang telah mengkhianati mereka. Dan memang begitulah yang dilakukan Gina. Satu momen yang ia sangat sesali hingga saat ini. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD