6. Perkenalan

1743 Words
"Tumben ke kantin." Kalimat itu adalah kalimat awal yang dilontarkan Ergan ketika ia bertemu sang kakak. "Kalau sendiriannya sih nggak heran." Jeza rasanya ingin mencabe mulut Ergan sekarang juga, andai mereka berada di rumah. Ergan bisa sangat menjengkelkan di satu waktu, ya seperti saat ini contohnya. "Mau gue temenin beli?" Jeza mengabaikan Ergan dan membeli beberapa roti untuk dirinya sendiri. Dari ujung matanya, ia bisa melihat jika Ergan sudah tidak berdiri di sana. Jeza lalu menoleh dan ternyata Ergan sudah melangkah keluar dari kantin dengan beberapa teman prianya. Hah, bagus kalau begitu! Jeza heran, semakin hari level menyebalkan Ergan terus meningkat saja. Tapi sepertinya memang Jeza kurang bernasib baik karena sekarang ia berpapasan dengan Jerome dan dua temannya, setelah tadi ia betemu Ergan yang sukses membuatnya kesal. "Siapa, Jer?" Tama bertanya, heran karena Jerome berhenti melangkah, tepat didepan seorang gadis yang juga terdiam di tempatnya. Bukannya bisa mendahului? "Eh lo kan yang tadi malam." Lukas berseru, ia melangkah dan kini berdiri tepat di sebelah Jerome. "Yang sama anak kecil itu, kan? Yang buat Jerome harus berhenti di pinggir jalan." Jeza tahu, tentu masih membekas di ingatannya tentang seseorang yang menegur Jerome dan menyuruhnya bergerak cepat. Sayangnya, seseorang itu memakai helm, jadi Jeza tidak bisa melihat wajahnya. Tapi, ya mungkin saja memang laki-laki disamping Jerome inilah orangnya. Lukas kemudian menoleh ke arah Jerome, keterkejutannya bertambah ketika ada senyum di wajah temannya itu. Wth? Tadi dia terlihat bad mood, dan sekarang? Apa-apaan wajah yang sumringah itu? "Lo nggak bawa temen?" Jerome melirik kanan, kiri, belakang Jeza dan tak menemukan siapapun. "Lo gabung aja sama kita." Tama yang berdiri di belakang mengernyit dengan mata agak membesar. Tumben, pikirnya. Tidak pernah sekalipun Jerome mengajak seorang gadis ke dalam tongkrongan mereka, walau hanya ke kantin seperti ini sekalipun. Dan Jeza, pemecah rekornya. Apalagi Lukas. Oh, jangan tanya. Sudah banyak pertanyaan di dalam kepalanya. Setelah ini, ia mungkin akan mewawancarai Jerome untuk menuntaskan rasa penasarannya. "Enggak, makasih. Gue harus ke kelas sekarang." Dan Jerome mendapat penolakan pertamanya. Ralat, sepertinya kedua setelah pertama dari yang di perpustakaan, walau hanya bercanda, Jeza sudah menyiapkan penolakan untuknya, bukan? Dan lucunya, dua penolakan pertama berasal dari orang yang sama. Karena percaya tidak percaya, Jerome tidak pernah sekalipun ditolak seorang gadis. Tama dan Lukas saksinya. Dua teman Jerome itu juga awalnya berpikir kalau Jerome pasti kesal ditolak oleh Jeza. Tapi tidak, Jerome masih tersenyum, bahkan ketika Jeza sudah melangkah meninggalkan mereka. "Lo nggak papa?" Jerome memutar kepalanya, mengernyit pura-pura sakit. "Agak sakit sih sebenernya." Tama menarik nafasnya, ia mendorong Lukas agar melanjutkan jalannya karena satu-satunya kantin di Dharmawangsa itu mulai dipenuhi oleh para siswa. "Cepetan duduk keburu diambil orang," ujarnya masih mendorong Lukas dan Lukas membiarkannya. Sekarang, mereka duduk bertiga, menunggu pesanan datang. Jerome memainkan ponselnya, begitupun Tama, sedangkan Lukas menatap Jerome dengan serius. "Lo ... kenapa bisa kenal dia? Maksud gue, lo udah kenal dia dari tadi malam? Gue bahkan nggak tau kalau dia anak sini." Lukas mulai melontarkan apa yang bercokol didalam kepalanya. Jerome menggaruk dahinya sebelum menutup ponselnya. "Gue juga baru kenal hari ini. Namanya Jeza. Dan gue sekelas sama dia." "Seriusan nggak kenal Jeza?" Tama menyahut cepat. Ia menatap Lukas dan Jerome bergantian dengan heran. Ponsel di tangannya masih menyala dan karakter didalam sana bergerak-gerak. "Emang lo kenal?" Lukas bertanya balik. Ia melirik ke karakter cantik didalam ponsel Tama. "Emang sempet kenal orang lain, lo kan sibuk banget sama epep lo." Jerome tersedak tawanya sendiri, hampir saja tawa itu lepas kalau ia tidak berdeham dan melipat bibirnya rapat-rapat. Percayalah, Tama cukup sensitif jika apa yang ia suka menjadi bahan tawaan orang lain. Tama suka sekali dengan game, walaupun tidak pro, tapi Tama jago, bagaimana tidak kalau ia saja selalu memainkannya setiap ada waktu luang. Lukas sendiri tidak merasa bersalah sama sekali karena ia tahu Tama tidak akan marah padanya. Ia sudah amat sering melempar jokes seperti itu, dan Tama biasa saja. Ya memang, asal jangan tertawa terbahak saja. "Kenal lah. Gue tau Jeza." Tama menjawab pertanyaan Lukas. "Dulu pas satu SMA gue sempet suka sih sama dia, jujur aja." Jerome terdiam mendengarnya, memandang Tama dengan tanda tanya besar. "Suka? Satu SMA? Lha lo kenapa diem aja waktu itu? Nggak ada cerita, kan?" Tama menggeleng. "Nggak. Nggak terlalu penting juga, kan? Lagian Jeza susah banget dideketin. Gue pernah coba deketin dan minta nomor, belum ngomong apa-apa, dianya udah kabur. Dari situ, gue udah nggak tertarik lagi." "Gila lo." Lukas menggelengkan kepalanya pelan. "Secepet itu tertarik terus dilupain?" "Hm lagian cuma ketertarikan biasa, orangnya juga nggak pedulian, jadi ya ... gitu." Tama mengangkat kedua bahunya. "Tapi ya, itu kan udah lama banget, gue yakin Jeza nggak inget. Nggak penting lah." Lukas bertopang dagu, bibirnya melengkung ke bawah, kepalanya mengangguk-angguk paham dan matanya bergulir menatap Jerome yang terdiam dengan tatapan ke bawah, sepertinya ia memikirkan sesuatu. "Dan lo. Gue tau banget lo seneng ketemu Jeza tadi, padahal lo tadinya bad mood." Lukas menunjuk Jerome, jari telunjuknya hampir mengenai wajah Jerome. "Ngaku, lo suka dia, kan?" "Apaan, nggak lah." Jerome menampik tangan Lukas yang terulur. "Bohong." Lukas tersenyum mengejek. Tangannya terlipat diatas meja. "Nggak usah deh, Jer. Jeza kayaknya anak baik. Jangan jadi korban lo." "Korban apa maksud lo?" "Korban cinta lah, apalagi." "Gue nggak pernah pacaran btw." Right! Jerome memang tidak pernah pacaran. Fakta itu sebenarnya terdengar tidak mungkin, tapi ya memang begitulah kenyataannya. Bahkan, Lukas dan Tama yang sudah tahu dari lama pun kadang masih berpikir apa Jerome berbohong atau mengatakan yang sebenarnya. "Ya mungkin lo emang nggak pernah pacaran. Tapi bukan berarti lo nggak punya korban, kan?" Jerome mengernyit, menyiapkan kalimat membantah ucapan Lukas. Tapi sepertinya harus tertahan karena pesanan mereka datang tiba-tiba. "Makasih, Mbak." Tama yang mewakili, ia juga mendorong masing-masing mangkuk ke tuannya. "Udahlah, kenapa bahas cewek, sih. Nggak akan ada selesainya." Tama memilih tidak acuh, karena ujungnya mereka akan ribut. "Gue nggak punya korban." Jerome memulai. "Kalau yang lo maksud itu perempuan-perempuan yang deket sama gue. Kita cuma temen. Kalau mereka ada perasaan lebih, gue yang salah? Gue juga ngetreatnya biasa aja, nggak spesial." Lukas berpikir sesaat, memang benar juga apa yang dibilang Jerome. "Iya deh lo bener juga. Eh tapi, Silvia gimana? Bukan apa-apa, tapi gue liat lo sama dia deket banget, makin hari makin deket terus." Jerome berdeham. "Silvi juga sama aja, cuma temen." "Kalau Jeza?" "Ini bocah keponya minta ampun ya." Tama berseru, agak kesal sebetulnya, dari tadi Lukas terus saja bertanya, padahal bentar lagi jam istirahat habis. "Namanya gue penasaran." Lukas tidak terima disalahkan, wajahnya cemberut menatap Tama, persis seperti anak kecil. "Jeza ... jujur dia emang beda dari yang lain, gue emang baru kenal, baru hari ini, tapi seneng aja liat dia. Belum bisa dibilang suka juga." Lukas tersenyum menggoda, tapi ia berhenti bertanya setelahnya. Cukup, sampai sana rasa penasarannya sudah tuntas, karena tidak perlu menebak, ia sudah bisa tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. "Misi. Kita boleh gabung?" Jerome dan Lukas fokus dengan makanan mereka, sama sekali tidak mendongak pada dua orang gadis yang menunggu respon mereka. Untungnya, Tama berbaik hati, mendongak dan tanpa berpikir lama langsung mempersilahkan mereka untuk duduk. Jerome tidak tahu awalnya siapa yang meminta bergabung itu, karena ia memang malas untuk sekedar mendongak. Bukan bermaksud angkuh, tapi setiap mereka duduk di kantin, ada saja siswi yang bergabung dengan mereka, padahal masih ada bangku kosong yang lain. Walaupun hal ini tidak terjadi setiap hari, tapi Jerome muak, itu kenapa ia mulai malas untuk pergi ke kantin. "Oh Disa?" Jerome menoleh sebentar tadi dan kaget ternyata Disa dan temannya yang Jerome tidak tahu namanya. "Gue Nila btw." Nila menyebut namanya begitu Jerome melihatnya. Nila tahu karena ia yakin Jerome belum mengenalnya. "Oh oke." "Lo kenal juga?" Lukas terheran-heran. "Ada berapa banyak cewek yang lo kenal hari ini? Banyak banget perasaan." "Disa ini mentor gue." Jerome memperkenalkan. "Dia yang ajarin gue banyak hal nantinya." "Oh ya?" Lukas terpelongo, ia melirik Disa yang tersenyum dan mengangguk, membenarkan ucapan Jerome. "Baik banget lo. Kalau gue ogah banget ajarin Jerome. Percaya deh, dia nggak akan ngeh sama apapun mau gimanapun cara ngajar lo." "Parah lo." Jerome tersenyum masam. "Nggak papa kok. gue yang mau juga." Disa tersenyum manis. "Gue punya banyak waktu luang di rumah dan gue nggak tau mau dipake buat apa. Jadi, ya jadi mentor Jerome kayaknya tepat, kan bagus kalau kita transfer ilmu ke orang lain." "Mm gitu, ya." Lukas kemudian menyeruput minumannya. Tidak mau menduga-duga, tapi Lukas punya feeling tidak bagus pada Disa. Nila membasahi bibirnya, ia merasa suasana yang tercipta begitu awkward sekarang. Tiga laki-laki didepan ia dan Disa sibuk dengan makanan dan ponsel mereka. Seperti tidak peduli, tapi memang tidak ada juga topik yang harus dibicarakan. Karena tidak mau hal ini berlangsung lebih lama. Nila menyikut lengan Disa dan memberi isyarat kalau mereka harus pergi dari sana sekarang juga. Tapi, Disa menjawab dengan gelengan kepala. Ia masih mau tetap di sana. Toh sebentar lagi bel, Jerome pasti akan ke kelas dan kelas mereka sama. Disa hanya ingin lebih dekat lagi dengan Jerome. "Lo duluan aja kalau nggak." Disa sengaja tidak berbisik. Toh kalau ada Nila, ia dan Jerome tidak bisa berdua juga. "Yauda gue duluan, ya." Nila berdiri mengucapkan sampai jumpa pada yang lainnya dan melangkah meninggalkan kantin. "Lo nggak pergi juga?" Lukas bertanya. Ia sedikit blak-blakan. "Eh tapi karena lo udah baik hati mau jadi mentor Jerome, boleh deh. Gue Lukas." "Disa." Lukas dan Disa berjabat tangan, saling melempar senyum simpul. Sebenarnya Lukas kurang suka dengan siapapun yang tiba-tiba datang dan bergabung dengan mereka, harapnya perempuan-perempuan itu segerga pergi. Tapi Disa sepertinya pengecualian. Mau apapun alasannya, ia sudah bermurah hati mau menjadi mentor Jerome, karena jelas tidak semua orang bersedia mengemban tugas berat seperti itu, lagipula Disa sepertinya perempuan baik. Jadi, Lukas welcome saja jika Disa mau menjadi teman mereka. Ketika bel berbunyi. Lukas dan Tama membayar tagihan, sedangkan Jerome dan Disa pergi ke kelas. Di jalan, Disa mencoba berbicara banyak hal dengan Jerome. Tapi, mungkin Jerome sedang bad mood karena tidak semua pertanyaan Disa ia jawab. Kalaupun dijawab, jawabannya singkat. Jerome tidak tahu kenapa, tapi yang penting moodnya sedang berantakan sekarang. Ia tidak mau membahas apapun. Karena menghargai Disa, makanya ia menjawab, kalau tadi Lukas, bermimpi saja ia akan menyahut. Jerome mengernyit ketika melihat Jeza dari jauh masuk ke dalam kelas dengan membawa satu buku di tangannya, dari arah kedatangannya, sepertinya dari perpustakaan. Senyum kecil terbit di wajahnya, gadis satu itu begitu rajin, berbanding terbalik dengan dirinya yang sekarang. Ia tertarik pada Jeza, tapi ia tidak begitu yakin Jeza akan memiliki rasa yang sama dengannya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD