7. Ergan dan Ezi

1722 Words
Jerome tidak tahu. Baru kali ini rasanya ia bertemu dengan seorang gadis yang seperti Jeza. Dia ... begitu tenang, Jerome bersumpah. Tenang sekali, tidak terganggu dengan apapun, seperti punya dunianya sendiri. Ini pertanda bahaya, Jerome sadar. Tapi ia juga tidak bisa mencegah, ia suka perasaan ini. Biarlah mengalir apa adanya. Sudah lama rasanya Jerome tidak seperti ini lagi. Jerome juga tidak bisa mengendalikan matanya, padahal mata itu miliknya, tapi sayangnya dua mata miliknya tidak mau berpaling dari Jeza. Sebentar-sebentar melihat, melirik. Ia jadi tidak fokus dengan penjelasan guru di depan. Kalau begini caranya, mau di kelas lama ataupun di kelas baru, akan sama saja hasilnya. Saat bel pulang berbunyi. Jerome sengaja memperlambat menyusun buku-bukunya ke dalam tas. Ini karena Jeza yang berlaku sama, padahal biasanya Jerome yang paling cepat keluar kelas kalau bel pulang sudah berbunyi. Tapi kali ini tidak, Jerome membuat sebuah perubahan. Ternyata, Jeza menunggu kelas sepi, baru ia bangkit berdiri. "Jez!" Jeza berhenti dan berbalik ke arahnya. Jerome berlari kecil, menghampirinya. "Lo, pulang sama siapa?" Oke. Jeza tahu apa maksud pertanyaan itu, tahu akan kemana pertanyaan itu berlabuh. Ia tahu tapi tidak ingin membawa perasaannya karena aneh saja baru kenal sudah seperti itu, begitu pikirnya. "Sama kakak, gue dijemput." Jerome mengangguk paham. "Oh gitu. Ya rencana gue mau ajak lo pulang bareng." Jerome ingin melakukan pendekatan, ingin lebih tahu tentang Jeza, gadis yang menurutnya menyimpan sesuatu dibalik emosinya yang terpendam. "Nggak bisa, sori." Jeza menolak halus. "Gue duluan." Dan ia pergi begitu saja, bahkan sebelum Jerome membalas ucapannya. Ia ditolak. Jerome tahu benar. Harusnya ia merasa sakit hati, kecewa, atau apapun. Tapi, nyatanya tidak. Penolakan itu malah membuatnya ingin melakukan lebih, sampai akhirnya Jeza tidak mengatakan 'tidak' ataupun 'sori' lagi. *** Biasanya, Misya menjemput dua adiknya itu dengan gocar. Tapi kali ini ia absen, ada urusan di kampusnya yang memaksanya untuk tetap tinggal di sana. "Yauda deh nggak papa." Jeza menjawab dengan ponselnya sebelum memutuskan sambungan telepon. "Jadi, cuma berdua?" Ergan yang berdiri di sebelah Jeza bertanya. Ia menyipitkan matanya karena silau dari matahari yang bersinar terang siang itu. "Ya mau gimana lagi." Jeza mulai membuka aplikasi ojek online di ponselnya. Ergan yang tingginya setara dengan Jeza itu melipat tangannya didepan tubuhnya. "Gue pulang sama temen gue aja deh, ya." "Nggak." Jeza menolak. "Bukannya pulang, pasti keluyuran. Nggak usah bohong." "Besok kan libur." "Ya terus?" "Gue mau nginep di rumah temen. Nggak boleh emang?" Ergan salah, harusnya ia tidak bertanya hal itu pada Jeza karena jawabannya pasti 'tidak'. Ergan sudah tahu kalau jawabannya pasti akan begitu, ia hanya mencoba keberuntungannya saja. "Enggak. Mau ngapain sih? Bagus di rumah." Jeza bersungut menjawabnya. Ia inginnya Ergan stay di rumah dan belajar, memperkaya wawasan atau menambah skill, bukan malah kesana-sini, keluyuran tidak jelas, tidak ada faedahnya juga. Ergan diam tidak mau menjawab. Kakaknya ini bisa berceloteh panjang lebar nantinya, sangat berbanding jauh kalau berada di dalam sekolah, Jeza berubah 180 derajat menjadi seseorang yang pendiam dan tenang. "Eh tadi gue liat lo sama Bang Jerome. Ada apa nih?" Jeza mendongak dan mengernyit. "Lah lo kenal Jerome?" "Kenal lah." Ergan berdecak pelan. "Hampir semua anak cowo di kelas gue pada ngagumi dia, dengan senang hati jadi anak buahnya." "Termasuk lo?" "Enggak lah. Orang kayak gitu kok dikagumi. Nggak ada prestasinya juga. Tukang buat onar, kenapa dipuji-puji?" Ergan berkata jujur, tidak peduli kalau perkataannya terdengar sedikit kasar, karena memang begitu fakta yang ada. Jeza hanya mengangguk pelan. "Bagus kalau gitu." Ia menyimpan ponselnya kemudian di dalam sakunya. "Bentar lagi mobilnya dateng. Tunggu aja, sabar." Karena Jeza tahu, Ergan adalah tipe orang tidak sabaran, tidak mau menunggu. "Lo belum jawab pertanyaan gue yang tadi. Jadi, nggak ada masalah sama Bang Jerome, kan?" Jeza menggeleng. "Enggak. Tadi cuma papasan doang." "Baguslah. Jangan berurusan sama orang kayak dia." Ergan serius, terlihat sekali dari ekspresinya. "Sejak gue kenal, nggak pernah sekalipun gue denger hal bagus tentang dia. Lo selalu bilang ke gue kalau gue harus ini itu, ngelakuin hal baik, kan? Jadi jangan sampe lo deket sama cowo yang nggak baik." Jeza mengernyit, heran karena Ergan tiba-tiba berbicara sepanjang itu padanya. "Kok lo kedengeran marah gitu?" "Gue laki, walaupun tiga tahun lebih muda dari kalian, gue juga paham arti gestur, tatapan." Ergan mengedikkan bahunya pelan. "Intinya jangan." Ergan tahu kalau kakak-kakaknya adalah perempuan-perempuan cantik yang memiliki daya tariknya sendiri. Jeza, walaupun menyebalkan baginya, tapi Jeza adalah kakaknya yang daya tariknya paling kuat. Tapi, tidak semua laki-laki bisa merasakannya. Ergan paham hal ini. Dan tadi, ia dari jauh, melihat bagaimana tatapan Jerome ke Jeza dan ia menyimpulkan sesuatu. Memang masih samar, tapi dari info yang ia dapat jika Jerome pindah kelas dan sekelas dengan kakaknya, membuat kekhawatirannya bertambah. "Iya, gue juga mau fokus belajar. Bentar lagi tamat, masuk perguruan tinggi." Jeza mengangkat bahunya. "Lo juga gitu. Masuk SMA Dharmawangsa juga nggak gampang lho." "SMP-nya aja gue masuk, apalagi SMA-nya, kan." Ergan tersenyum sombong. Terkekeh pelan ketika Jeza memberinya senyuman mengejek padanya dengan bibir yang melengkung ke bawah. "Ergan." Suara itu terdengar dari belakang mereka. Jeza berbalik untuk melihat siapa yang memanggil adiknya itu. Sedangkan Ergan menghembuskan nafas panjang dan tampak malas, sepertinya ia sudah tahu siapa orang yang memanggilnya itu. Jeza melihat seorang gadis berjalan cepat ke arah mereka. Jeza tidak mengenalnya, tapi jika dilihat dari seragamnya, sepertinya seumuran Ergan, atau mungkin juniornya Ergan? "Ergan, dia manggil lo." Jeza menoleh dan memberitahu Ergan yang enggan berbalik. "Mobilnya lama lagi dateng?" Ergan malah menanyakan hal lain, membuat Jeza sebal dan memaksa adiknya itu untuk berbalik. "Kalau dipanggil orang tuh nyahut, atau tatap orangnya, hargain." Ergan yang sudah berbalik, memutar bola matanya malas mendengar ucapan Jeza, ditambah melihat seseorang yang mendekatinya itu, yang tebakannya sudah benar siapa, membuatnya merasa tambah malas saja. "Kak Jeza?" Jeza agak terkejut jika gadis itu mengenalnya. Apa ia terkenal? Sepertinya tidak. Tapi baru kali ini rasanya ada orang yang mengenal Jeza dan Jeza tidak mengenalnya. Padahal biasanya, Jeza mengenal dan yang dikenal tidak mengenalnya balik. Kasihan memang. "Aku Ezi, Kak. Temennya Ergan." Jeza ber-oh ria, ia menjabat tangan Ezi yang terulur. Dan Jeza terkejut ketika menyentuh tangan Ezi yang begitu lembut. Apa Ezi tidak pernah mencuci piring? Menyapu? Jeza sampai insecure dengan telapak tangannya sendiri. "Sekelas sama Ergan, ya?" Jeza memutuskan untuk melupakan soal telapak tangan. "Iya, Kak. Sekelas." Jeza melirik Ergan, adiknya itu dari tadi diam saja, bahkan terlihat malas untuk bergabung dengan obrolan mereka. Jeza sudah akan menyikut lengan Ergan kalau saja Ezi tidak bersuara lagi. "Em gini, Kak, Ergan." Ezi terlihat ingin mengatakan sesuatu. "Hari ini supir aku nggak bisa jemput. Dan aku harus pulang sekarang. Masalahnya, aku juga nggak dibolehin naik ojek online." "Jadi?" Ergan menunggu kelanjutannya, pasti ada kelanjutannya, pikirnya. "Boleh bareng, nggak?" Tatapan Ezi bergulir ke arah Jeza. "Aku bingung mau ke siapa lagi, Kak. Temen-temen aku udah pada pulang." "Bisa ditelepon, kan? Bilang lo minta tolong." Ergan lagi-lagi menyahut. "Kalau lo sama kita, ya nggak bisa. Masa ke rumah lo dulu, baru ke rumah kita. Nggak searah. Jadi, nggak bisa." Jeza mengernyit, ucapan Ergan agaknya terlalu kasar. Seperti tidak pernah diajari sopan santun dan menghargai perasaan orang lain saja. Setelah ini, Jeza akan memberi Ergan wejangan panjang lebar, lihat saja! "Ya kan aku nanya dulu. Kalau nggak bisa nggak papa juga kok." Ezi tersenyum kecil. Disaat yang sama, mobil yang dipesan oleh Jeza datang. Dan Jeza cepat-cepat berpikir, tidak enak rasanya jika meninggalkan Ezi begitu saja, apalagi ia perempuan. "Ezi. Kamu bisa pesen gocar?" Ezi mengangguk. "Bisa, Kak. Tapi nggak dibolehin kalau sendiri." Jeza tersenyum lebar. "Pas. Kamu pesen aja. Nanti Ergan yang nemenin kamu." Jeza berujar cepat, tidak peduli Ergan yang menatapnya kesal. "Tenang aja. Nanti dari rumah kamu, Ergan bisa pulang sendiri. Oke?" Ezi tersenyum senang dan ia mengangguk kencang. "Oke, Kak." Setelahnya, tanpa berlama-lama dan tanpa menunggu respon Ergan, Jeza segera berlari ke arah mobil dan masuk ke dalamnya. Ia merasa bersalah ketika Ergan terang-terangan menatapnya kesal. Mungkin Ergan tidak mau, tapi ya mau tidak mau juga, kan? Ia kasihan pada Ezi. Yang berteman dengan Ezi juga Ergan, bukan dirinya. Jadi ya, anggap saja Ergan sedang membantu orang lain. Jeza menarik nafas, kemudian berkata, "Jalan, Pak." *** Ezi tadi bilang kalau ia tahu cara memesan gocar, bukan? Bagaimana ia tahu kalau ia saja tidak pernah sekalipun memesan gocar atau ojol lainnya? Karena itulah, karena takut salah, akhirnya Ergan juga yang memesankan gocar untuk mereka. Di mobil. Ergan dan Ezi saling diam. Ergan menyandarkan kepalanya dan memejamkan matanya, tangannya terlipat dan sepasang headset terpasang di kedua telinganya. Ezi berulang kali mencuri pandang pada Ergan. Ia tahu Ergan terpaksa mengantarkannya pulang. Ia sama sekali tidak mengarang, faktanya memang seperti yang ia katakan. Tapi, ia tak memungkiri kalau ia juga senang begini, karena sejujurnya ia menyimpan perasaan khusus pada Ergan. Jika diingat, sudah lumayan lama Ezi punya perasaan ini, dan ia juga sudah pernah mengungkapkannya pada Ergan sekali. Ezi tidak begitu berharap apapun ketika itu, ia hanya ingin Ergan tahu kalau ia suka padanya. Ya, untungnya ia tidak terlalu banyak berharap karena respon Ergan tidak terlalu bagus. Ezi tidak mau mengingatnya. Ezi sudah berkali-kali juga bertekad menghapus perasaan ini karena rasanya mustahil Ergan akan membalas. Tapi, semakin ingin dihapus, entah kenapa malah semakin lengket. Dan hal itu berlaku sampai detik ini. Ezi gugup didekat Ergan, namun ia tidak begitu menunjukkannya. Ia agak khawatir kalau Ergan akan ilfeel padanya, padahal kan mereka juga tidak punya hubungan spesial. Asli, tidak ada pembicaraan diantara mereka, bahkan sampai mereka sampai di rumah super besar dan terlihat mewah milik keluarga Ezi. Ezi dan Ergan keluar kemudian. Ezi membayar melalui aplikasi dan juga menyempatkan berterima kasih pada sang supir. "Kamu mau pulang sekarang?" tanya Ezi ketika melihat Ergan hendak melangkah. "Hm. Udah sampe, kan?" "Nggak mau masuk dulu?" Ergan menggeleng tegas. "Gue harus pulang sekarang." "Gue pesenin ojol, ya." Ezi menawarkan, ia sudah hendak mengaktifkan ponselnya kembali kalau Ergan tak berujar lagi. "Enggak, makasih." Ergan memberi senyum kecil, kecil sekali hingga Ezi tidak yakin itu sebuah senyuman. "Gue duluan." Dan kemudian, Ergan mulai melangkah pergi. Ezi memperhatikannya dari jauh. Ada senang dan sedih yang ia rasakan sekarang. Senang, Ergan mengantarnya, walaupun terpaksa. Sedih, karen Ergan cukup terang-terangan menolaknya. "ERGAN, MAKASIH!!" Ezi berteriak. Ia lupa berterimakasih. Ergan yang sudah lumayan jauh masih mendengar teriakan itu mengangkat tangannya dan memberi satu jempol pada Ezi. Ezi tahu itu hanya sebuah jempol. Tapi percayalah, sedih yang ia rasakan tadi berubah drastis, berputar balik dan bergabung dengan rasa senangnya. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD