bc

Grizzle Academy

book_age12+
1
FOLLOW
1K
READ
stepfather
war
like
intro-logo
Blurb

Apa itu takdir? Aku melakukan apa yang kumau dan membuatnya menjadi petualangan terbaik versiku. Itulah motto Cevy Carla Cyrez yang selalu ia gunakan setiap kali membuat keputusan. Ia memang tidak mempercayai takdir, karena ia tidak suka membatasi dirinya terhadap hal-hal yang masih bisa dicobanya.

chap-preview
Free preview
SATU - MEMILIH
Memasuki tahun terakhirnya di sekolah, Carla mulai sibuk menyiapkan berbagai hal untuk masuk ke akademi. Ia berusaha mencari informasi sebanyak-banyaknya dan membandingkan tiap akademi, sembari menyesuaikannya dengan dirinya. Berbagai brosur sudah tersebar sejak sebulan yang lalu. Ada banyak jenis brosur dan masing-masing brosur merepresentasikan ciri khas akademinya. Akademi yang kurang populer berusaha keras untuk melakukan promosi, mereka mencetak brosur dalam jumlah yang besar dan setiap hari melakukan promosi secara langsung di pusat keramaian. Sedangkan akademi yang populer memilih untuk tidak mencetak brosur, bahkan ada yang tidak melakukan promosi sama sekali. Biasanya tingkat kepopuleran suatu akademi dilihat dari prestasi dan kekuatan yang dimiliki muridnya. Bisa dibilang, bentuk promosi mereka adalah dengan membanggakan prestasi muridnya, tanpa perlu menyebutkan fasilitas atau hal lainnya yang ada di akademi. Sebagian besar anak biasanya menentukan pilihan akademi saat Pertandingan Akademi Tahunan (PAT) dilaksanakan. Jadi, brosur-brosur yang mereka ambil biasanya hanya untuk menentukan pilihan aman, atau bisa dibilang pilihan kesekian. "Kalian udah nyerahin kertas pilihan akademi ke sekolah?" tanya Carla setibanya di kelas. Teman-temannya menggeleng dengan pasti. "Ini baru mau ngisi, kamu udah?" tanya Saex sambil menulis pilihan akademinya. Ia merenungkan pilihannya semalaman penuh sebelum benar-benar memutuskan akademi yang diambilnya. "Udah dong! Udah lumayan lama malahan," jawab Carla dengan bangga. Kebanyakan anak memerlukan waktu berhari-hari hingga berminggu-minggu untuk menetapkan pilihan. Bukan karena mereka tidak ingin masuk akademi besar, hanya saja kuotanya terbatas dan kemungkinan untuk masuknya kecil. Jika tidak diterima di akademi mana pun tepat saat mereka lulus, berarti mereka harus hidup sebagai kalangan bawah. Kalangan bawah adalah orang-orang yang dianggap tidak terpelajar karena tidak bisa mendapatkan pendidikan di akademi. Orang-orang kalangan bawah akan menjadi b***k di sisa hidupnya, selain itu orang-orang kalangan bawah tidak diperbolehkan menikah. Kerajaan sengaja menetapkan peraturan seperti ini agar para siswa yang akan lulus tidak menyepelekan pilihan pertimbangan mengenai masa depan yang akan mereka jalani. Semakin besar konsekuensinya, semakin serius juga mereka memikirkannya. "Cepet banget milihnya Car, emang kamu milih apa aja?" tanya Cerland yang juga sedang menulis pilihan akademinya. "Aku nggak inget pastinya sih, pokoknya akademi golongan tengah dua-duanya," jawab Carla sambil cengar-cengir. "Bukannya kemarin kamu pede banget bakal masuk Vizer Academy? Kok malah gak milih itu," celetuk Saex setelah selesai menulis nama akademi pilihannya. "Walaupun aku selalu optimis, tapi tetap ada batasannya juga kali. Jelas-jelas aku dapet ranking terendah di satu angkatan, mana bisa masuk Vizer Academy. Kecuali aku kayak kamu yang selalu dapet juara umum," jelas Carla sambil menunjuk kertas yang sudah selesai ditulis Saex. Carla sebenarnya ingin masuk Vizer Academy, tapi ia sadar diri. Vizer Academy pasti sudah menjadi sasaran utama murid-murid pintar, tak ada harapan baginya untuk masuk ke sana. Akademi golongan elit lainnya juga pasti sudah di booking anak-anak pintar, kalaupun ia beruntung masuk ke sana, kemungkinan besar Carla akan stress menjalani kehidupannya di akademi. "Untung sadar, kirain udah gila sampai milih Vizer Academy dengan nilai segitu," ledek Cerland. Kring! Kring! Kring! Carla langsung duduk di tempat duduknya ketika bel berbunyi, ia sebenarnya ingin membalas perkataan Cerland, tapi sepertinya masih bisa ditunda. Carla sudah berusaha sejak dulu, walaupun otaknya kurang mampu menangkap pelajaran, setidaknya ia berusaha menjadi anak baik-baik. "Selamat pagi semuanya," sapa seorang guru sambil berjalan masuk ke kelas. Tidak seperti biasanya, guru itu tidak membawa apa pun ke kelas. Bahkan selembar kertas pun tidak. "Selamat pagi bu," jawab anak-anak sekelas termasuk Carla yang masih berada pada posisi siap siaganya. "Hari ini adalah hari terakhir pengumpulan kertas pilihan akademi, bagi yang belum mengumpulkan, silahkan kumpulkan sekarang." Sebagian besar anak kelas berdiri dan menaruh kertasnya di atas meja. Carla sedikit kaget karena anak yang mengumpulkan kertas pilihan di hari terakhir jauh lebih banyak dari perkiraannya. "Baiklah, sesuai pengumuman sebelumnya, semua kertas yang kalian kumpulkan akan diproses. Semua pilihan kalian akan dikirimkan ke akademi pilihan kalian. Pengumuman akan dilakukan beberapa bulan lagi, untuk tanggal pastinya tidak diberitahukan. Setengah jam lagi silahkan kalian pergi ke aula, akan ada penampilan dari anak-anak akademi, sekian terima kasih," jelas guru itu. Setelah merapikan kertas-kertas pilihan yang baru saja dikumpulkan, ia langsung berjalan ke luar ruangan. "Yey! Berarti hari ini gaada pelajaran," ucap Carla yang sudah berpindah tempat ke dekat tempat duduknya Saex dan Cerland. "Hmm ... kira-kira dari akademi mana ya?" tanya Saex setelah beberapa detik berpikir. Ia berusaha menerka-nerka akademi yang datang ke sekolahnya. "Pastinya akademi golongan tengah, karena sekolah kita juga golongan tengah," jawab Cerland dengan yakin. Saex mencubit tangan Cerland. "Kalau itu sih aku tahu," ucap Saex sambil menatap tajam ke arah Cerland. Sedangkan Carla hanya diam melihat kelakuan mereka, ia tidak peduli akademi mana yang datang, yang penting penampilannya bagus dan menghibur. Lebih tepatnya, bisa membuat Carla cukup terhibur dan tidak tertidur. "Udah deh lihat aja nanti," ucap Carla di tengah-tengah pembicaraan Saex dan Cerland yang tak kunjung selesai. Mereka terus menerus berdebat tentang akademi mana yang akan datang mengunjungi sekolah. Setengah jam pun berlalu, semua anak pergi ke aula. Keadaan aula masih kosong, tidak terlihat adanya tanda-tanda kehidupan sama sekali. Walaupun begitu, Carla dan semua anak angkatannya langsung duduk rapi sesuai dengan arahan Saex dan Cerland. Walaupun Saex, Cerland dan Carla berteman dekat, tapi perbedaan mereka cukup jauh. Saex dan Cerland merupakan anak kebanggaan sekolah sekaligus panutan semua anak di sekolah. Sedangkan Carla hanya terlihat seperti anak suruhan untuk Saex dan Cerland. Setelah duduk dengan rapi, aula kembali menjadi ruangan hening. Tak ada satu pun yang berbicara, sebagian besar anak hanya melihat ke kanan dan ke kiri, berharap ada sesuatu yang muncul. Tempat duduk Saex, Cerland, dan Carla terpisah jauh. Saex dan Cerland berada di barisan paling depan atau bisa dibilang barisan anak-anak teladan. Sedangkan Carla duduk di barisan paling belakang. Selain itu, kelas Carla merupakan kelas dengan murid terbanyak, sehingga posisi Carla juga merupakan posisi paling belakang di satu angkatan. Dua menit berlalu, Carla berusaha menahan kepalanya dengan kedua tangan. Kepalanya sudah mulai miring ke kiri dan ke kanan karena mengantuk. Saex dan Cerland menoleh ke belakang dan heran melihat Carla yang cepat sekali mengantuk.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
51.4K
bc

FATE ; Rebirth of the princess

read
36.0K
bc

Rise from the Darkness

read
8.7K
bc

Jodohku Dosen Galak

read
31.1K
bc

Rebirth of The Queen

read
3.7K
bc

Takdir Tak Bisa Dipilih

read
10.3K
bc

Kusangka Sopir, Rupanya CEO

read
35.8K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook