"Sini lihat catatannya," ucap Saex sambil menjulurkan tangannya ke Cerland. Tanpa ragu Cerland menyerahkan lembaran kertas yang dipegangnya.
Carla berjalan mendekati Saex untuk melihat catatannya juga. Saat mereka melihat hasil catatan Cerland, yang bisa mereka lakukan hanyalah menghela napas kekecewaan.
Tulisan Cerland memang sangat rapi dan kecil, tapi gambaran denahnya seperti anak TK. Sangat menghemat tempat, tapi entahlah bentuk apa yang dibuat Cerland, mungkin memang hanya dia yang bisa membaca gambarannya.
"Ya sudahlah, aku nggak mau muter buat ngukur ulang juga," ucap Carla dengan senyuman yang dipaksakannya. Saex mengangguk pelan karena ia juga sudah lelah mengitari Grizzle Academy.
Sebenarnya Grizzle Academy memiliki tempat yang sangat besar, tapi yang dipakai secara optimal hanya sedikit.
Carla, Cerland, dan Saex bisa melihat beberapa tempat yang berusaha dioptimalkan oleh pihak akademi maupun para siswa, tapi memang tidak bisa dilaksanakan dengan baik karena kekurangan sumber daya manusia.
Walaupun banyak kekurangannya, setidaknya ada satu hal yang membuat Carla, Cerland, dan Saex tidak kehilangan harapan terharap Grizzle Academy, yaitu pola pikir.
Keadaan Grizzle Academy memang sangat terbatas, tapi mereka berusaha menggunakan apa yang ada dengan baik.
Contohnya saja saat libur seperti ini, mereka memilih untuk menghabiskan waktu di laboratorium dan perpustakaan. Kedua bangunan itu selalu menjadi tempat persinggahan para murid saat bosan karena mereka tidak memiliki fasilitas lainnya.
Laboratorium Grizzle Academy tetap aktif beroperasi karena di sekitar bangunan Grizzle Academy terdapat banyak tanaman langka yang bisa diolah menjadi ramuan. Saking banyaknya tanaman langka di sekitar akademi, mereka bahkan bisa membuat semua ramuan yang ada di buku ramuan kerajaan.
Selain itu, mereka sering membuat percobaan-percobaan untuk membuat ramuan baru yang tidak ada di buku ramuan. Jika ditelusuri lebih lanjut, ada kemungkinan laboratorium Grizzle Academy memiliki akreditasi yang lebih bagus dibandingkan laboratorium di akademi lainnya.
Sedangkan perpustakaan Grizzle Academy beroperasi dengan baik karena ada sangat banyak buku yang dikumpulkan oleh para pengurus akademi. Entah itu buku kuno atau buku terbaru, buku yang dijual bebas maupun buku terlarang, buku gratisan atau buku yang harus dibeli sendiri.
Pengurus akademi menyadari kekurangan mereka dalam banyak hal, sehingga fasilitas utama yang bisa mereka berikan dan bisa selalu digunakan hanyalah buku.
Sebenarnya ada bagusnya karena hanya beberapa fasilitas yang dimaksimalkan, karena murid akademi menjadi lebih fokus dalam memperdalam kemampuannya. Keinginan mereka tidak terpecah dengan fasilitas yang berbeda.
Selain itu, untungnya pola pikir anak-anak Grizzle Academy sangat bagus. Mereka selalu menyadari kekurangan mereka, tapi tidak pernah berpikir untuk benar-benar menyerah.
Memang ada banyak hal yang tidak bisa mereka lakukan, tapi mereka bisa bahagia dan terus belajar dengan cara mereka sendiri. Di luar akademi mereka memang diremehkan dan harus menahan malu, tapi di dalam akademi, mereka bisa menjadi diri mereka sendiri dan belajar apa pun yang mereka mau, mereka tidak ditekan oleh apa pun dan tak ada yang membanding-bandingkan mereka.
Bagi orang terlihat seperti neraka, tapi bagi anak-anak Grizzle Academy, mereka berada di tempat yang mereka inginkan, tempat dimana mereka bisa melakukan apa pun dan tetap dihargai. Selama masih batas wajar ya.
"Jadi setelah ini bagaimana?" tanya Carla sambil melihat ke arah Cerland dan Saex.
"Aku punya rencana, tapi kita bicarakan nanti pagi saja. Bagaimana kalau sekarang kita tidur dulu?" usul Saex sambil melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul satu pagi.
"Oke," jawab Carla dan Cerland dengan semangat. Karena sebenarnya mereka berdua sudah kelelahan dan mengantuk.
***
Tok! Tok! Tok!
Ketukan di pintu kamar Carla tak kunjung menghilang. Awalnya Carla mengira bahwa ketukan itu hanyalah ketukan iseng, ternyata ia salah.
"Ada apa?" tanya Carla sambil membuka pintu kamarnya. Ia belum sempat mengumpulkan nyawanya ataupun merapikan rambutnya, karena Carla berpikir bahwa ia akan kembali tidur lagi setelah ini.
"Yaelah ni anak masih berantakan aja. Tadi udah dicariin anak-anak akademi buat sarapan, diketok-ketok tapi gaada respon sama sekali," jelas Cerland dengan ekspresi kesal.
Cerland hendak memukul kepala Carla saking kesalnya, tapi untung Saex membuatnya terintimidasi dengan tatapan tajamnya sehingga ia hanya menggertak Carla.
Carla hanya cengar-cengir mendengarkan Cerland, ia tidak berniat memberikan alasan apa pun.
"Buruan siap-siap, keburu habis makanannya ntar," ucap Cerland lagi sambil menutup pintu kamar Carla agar Carla segera mandi.
"Jangan tidur ya," teriak Saex dari depan kamar tepat saat Carla akan berbaring di atas kasurnya lagi.
Carla menghembuskan napas dengan kasar lalu segera berjalan ke kamar mandi setelah mendengar teriakan Saex.
***
Saat Carla, Cerland, dan Saex sampai di ruang makan, ternyata belum ada yang makan satu pun.
"Ayo duduk," ajak Ruby sambil menunjuk sebuah kursi yang kosong. Carla, Cerland, dan Saex mengangguk dan segera duduk di kursi yang ditunjuk Ruby.
Ruang makan di Grizzle Academy cukup besar, tapi yang dipakai hanyalah sebuah meja makan panjang, sedangkan meja dan kursi lainnya kosong.
"Selamat makan semuanya," ucap Ruby mengawali, lalu diikuti oleh yang lainnya. Carla, Cerland, dan Saex juga ikut mengucapkan selamat makan lalu mulai makan bersama.
Sebenarnya mereka tidak selalu makan serentak seperti ini, tapi seringkali dilakukan serentak. Untuk kali ini, mereka sengaja tidak makan duluan, bisa dibilang sebagai salah satu cara mereka menyambut Carla, Cerland, dan Saex secara halus.
Tidak ada satu pun yang berbicara di meja makan, juga tak ada satu pun suara piring yang terdengar. Semua anak makan dengan rapi dan tenang.
Bahkan Carla, Cerland, dan Saex terkesima dengan cara mereka makan, sangat anggun dan rapi.
Selesai makan, piring-piring ditumpuk dan sendok-sendok disatukan untuk dicuci. Saat mengumpulkan peralatan makanan pun mereka tidak ribut, semuanya dilakukan dengan teratur.
"Kak Ruby, bisa bicara sebentar?" tanya Saex setelah semuanya sudah selesai di meja makan.
"Boleh, mau bicara dimana?" tanya Ruby dengan keramahannya.
"Di sini saja, kita juga udah mau keluar," ucap Chloe sambil beranjak dari tempat duduknya diikuti dengan anak-anak lainnya juga.
"Oh, kalau mau ikut denger percakapannya juga gapapa kok," ucap Carla dengan santai. Cerland dan Saex langsung melihat ke arah Carla, tapi beberapa saat kemudian langsung mengangguk-angguk sambil melihat ke arah yang lainnya.
Dengan cepat, Chloe dan anak-anak lainnya kembali duduk karena sebenarnya mereka penasaran dengan apa yang akan dibicarakan oleh Carla, Cerland, dan Saex.
Karena jumlah anak yang sedikit, sebenarnya semua anak langsung menyadari keberadaan Carla, Cerland, dan Saex sejak mereka datang.
Banyak yang bertanya-tanya kenapa ada anak yang mau mendaftar di hari-hari awal ke Grizzle Academy, mereka sangat penasaran dengan apa yang dipikirkan ketiga anak baru aneh itu, tapi tidak tahu cara bertanya dengan baik agar tidak menyinggung mereka.