Tatapan datar dilayangkan Cakra saat Vania menatapnya dengan penuh kebencian. Pria itu hanya tersenyum tipis dan berkata, “Bukankah sudah sewajarnya seorang istri mendukung suaminya?’
Netra Vania terbelalak lebar. Perkataan suaminya itu terdengar gila baginya. Mendukung dengan menjual tubuhnya untuk pria lain? Hah! Vania sungguh tidak dapat berkata-kata lagi. Ia memandang pria itu dengan netra yang berkabut karena buliran bening yang tak hentinya mengalir dari pelupuknya.
Perubahan Cakra hari ini benar-benar drastis. Vania berpikir jika mungkin ada penyebab yang mendasari pria itu melakukan hal seperti ini padanya, lalu ia teringat akan sesuatu hal yang terjadi seminggu yang lalu antara dirinya dan pria itu.
“Mas, apa kamu sengaja memperlakukanku seperti ini karena pertengkaran kita waktu itu?” selidik Vania dengan getir.
Ia berpikir mungkin Cakra sengaja ingin memperlakukannya dengan hina karena perdebatan mereka saat itu. Vania memang sempat meminta sejumlah uang yang cukup besar dari suaminya. Memang ia akui jika ia terlalu menuntut Cakra untuk memberikannya uang saat itu, tetapi semua itu ia lakukan hanya untuk membayar biaya pengobatan adiknya, Kania Arkasana.
Kania Arkasana adalah adik dan keluarga Vania satu-satunya. Setelah kehilangan orang tua mereka empat tahun yang lalu, Kania mengalami depresi yang sangat hebat karena gadis itu menyaksikan sendiri kedua orang tua mereka meregang nyawa akibat kecelakaan lalu lintas yang dialaminya.
Sampai saat ini kondisi depresi Kania tidak kunjung membaik. Malah semakin parah dan sempat melakukan aksi bunuh diri saat Vania lengah menjaganya. Vania berniat membawa adiknya keluar negeri karena mendengar di Singapura ada dokter psikolog yang bagus. Karena alasan itulah, Vania berpikir untuk membawa adiknya untuk berobat ke luar negeri.
Akan tetapi, suaminya itu menolak dengan dalih keuangan mereka sedang tidak bagus.
Vania tidak meminta uang dari bisnis suaminya, tetapi ia hanya meminta sedikit bagian uangnya kembali untuk pengobatan Kania.
Sebelumnya Vania telah mempercayakan dana peninggalan dari orang tuanya untuk dikelola oleh Cakra. Dulu pria itu pernah meminta dana tersebut untuk memperbesar bisnisnya.
Selama menikah dengan Cakra, Vania memang jarang meminta uang bagiannya karena ia tidak merasa kekurangan dengan uang seadanya yang diberikan suaminya itu. Akan tetapi, pengobatan adiknya di luar negeri tentu saja akan membutuhkan uang yang sangat besar.
Karena Cakra tidak mau mengeluarkan uang untuk pengobatan Kania, akhirnya keduanya bertengkar hebat. Setelah perdebatan itu, Cakra tidak kembali ke rumah sampai hari ini. Pria itu berdalih sedang memiliki pekerjaan yang mendekati tenggat waktu sehingga harus menginap di kantor.
Vania mencoba memakluminya. Ia merasa mereka perlu waktu untuk mendinginkan pikiran masing-masing atas masalah yang dihadapi mereka saat ini.
Akan tetapi, hari ini Cakra tiba-tiba saja menghubunginya dan meminta Vania untuk datang ke kantornya. Tidak biasanya pria itu memintanya datang karena Vania tahu jika suaminya itu tidak suka diganggu pada waktu jam kerjanya.
Vania berpikir jika mungkin Cakra akan meminta maaf padanya karena telah mengabaikannya selama beberapa hari ini. Mungkin saja pria itu ingin mengajaknya berkencan dan membicarakan tentang permintaannya terkait pengobatan Kania.
Namun, siapa yang menyangka jika Vania akan dikejutkan dengan permintaan konyol suaminya itu. Wajah bahagia Vania berubah mendung. Ia dapat melihat keseriusan pada wajah Cakra. Itu bukanlah permintaan, melainkan perintah yang tidak bisa dibantahnya.
“Aku hanya membantumu memikirkan jalan keluar untukmu, Vania,” timpal Cakra yang membuat hati Vania kembali mencelos. Bibir wanita itu bergetar pelan menahan emosi yang sedang bergejolak di dalam dadanya. Kekecewaan mendalam terlintas di kedua bola mata cokelat Vania.
“Hanya satu malam saja, Vania,” lanjut Cakra lagi. Ia tidak mempedulikan kondisi istrinya yang masih syok dengan permintaannya itu.
“Kamu sudah gila, Mas!” teriak Vania histeris. Ia tidak bisa membendung amarahnya lagi dan hendak melayangkan sebuah tamparan ke wajah suaminya itu. Akan tetapi, Cakra dengan cepat menahan pergelangan tangannya sebelum telapak tangan Vania mendarat di pipinya.
“Aku gila karena dipaksa sama kamu!” bentak Cakra dengan nada yang meninggi. “Kamu selalu menuntut ini itu sama aku. Kamu pikir aku tidak pusing?”
Vania terperangah. Ia sungguh tidak menyangka Cakra akan melimpahkan kesalahan padanya. Sedikit demi sedikit riasan wajahnya luntur karena linangan cairan kristal yang tak hentinya membasahi kedua pipinya.
Vania berpikir jika ia seharusnya tidak memoles dirinya tadi. Karena terlalu senang dengan pikiran Cakra akan mengajaknya kencan, wanita itu sengaja tampil cantik maksimal untuk suaminya siang ini. Sayangnya, semua usahanya dan angannya itu berakhir sia-sia.
Helaan napas panjang bergulir dari bibir Cakra saat melihat tangisan istrinya. Perlahan ia melepaskan cengkeramannya dari pergelangan tangan wanita itu, lalu membuang pandangannya sejenak.
“Sudahlah, Vania. Kamu tidak perlu bersikap sok suci seperti itu. Bukankah kamu butuh uang untuk mengobati adikmu? Kebetulan calon partner bisnisku ini memiliki banyak uang dan dia berjanji akan bekerja sama dengan perusahaan kita kalau aku bisa memenuhi persyaratannya. Kamu bisa membantuku dalam hal ini karena dia memang membutuhkan kehangatan dari seorang wanita,” cetus Cakra yang membuat sepasang manik mata Vania kembali terbelalak lebar.
“Aku ini istrimu, Mas! Bukan wanita panggilan!”
Vania mempertegas kedudukannya di mata suaminya tersebut. Ia berpikir jika mungkin saja Cakra lupa kalau wanita yang berdiri di depannya ini adalah istri yang diakui secara hukum dan agama. Namun, ternyata Cakra bukan lupa, melainkan sudah kehilangan kewarasannya karena nominal-nominal rupiah yang membutakan matanya.
Meskipun Vania tidak munafik jika ia juga membutuhkan uang, tetapi ia juga tahu batasan-batasan apa yang tidak boleh ia lakukan. Namun, Cakra berbeda. Pria itu benar-benar sudah kehilangan kewarasannya, pikir Vania di dalam hatinya.
“Kenapa kamu tidak meminta wanita malam di luar sana yang lebih senang menjajakan tubuh mereka kalau partner bisnismu itu ingin melampiaskan nafsu berengseknya!” hardik Vania dengan penuh kemarahan.
Cakra menghela napas panjang. “Kamu pikir aku tidak berpikiran seperti itu?” timpalnya.
“Apa maksudmu?” Vania mengernyitkan keningnya.
“Dia tidak mau dilayani kalau bukan kamu yang melakukannya,” cetus Cakra yang membuat wajah Vania semakin nanar.
“Lalu? Kamu menyetujuinya begitu saja?” Vania memicingkan netranya dengan tajam. Cairan bening pada pelupuk matanya terus berjatuhan tanpa henti.
“Aku tidak punya pilihan lain,” jawab Cakra dengan santai, seolah perkataannya itu adalah sesuatu hal yang wajar.
“Kamu dan dia sama gilanya, Mas,” desis Vania yang mulai kehilangan kata-katanya. Ia tidak tahu harus bagaimana menanggapi ucapan suaminya tersebut. Tentu saja ia tidak akan memenuhi permintaan suaminya itu.
“Sebagai seorang istri, bukankah kamu harus mendukung suamimu, Vania? Apa salahnya kamu melayaninya semalam saja? Lagipula kamu …,” Cakra memandang istrinya dengan tatapan penuh penghinaan dan membuat wanita itu mendeliknya dengan tajam. “Kamu juga tidak akan hamil dengannya,” lanjut Cakra lagi.
Rasa sakit di dalam hati Vania semakin dalam. Kata-kata Cakra seperti sebilah belati yang sedang menyayat dirinya sedikit demi sedikit. Entah sejak kapan ia kehilangan cinta pria itu. Sekarang suaminya itu hanya menganggapnya sebagai alat pertukaran saja dibandingkan sebagai seorang istri yang sepatutnya ia kasihi.
‘Benar-benar menyedihkan,’ pikir Vania dengan luka yang telah memenuhi hatinya.
Demi mendapatkan proyek miliaran rupiah dari calon partner bisnisnya itu, Cakra mau memenuhi persyaratan gila yang diminta pria asing itu. Entah siapa calon partner bisnis suaminya itu, Vania tidak tahu dan tidak ingin tahu!
Yang Vania yakini adalah pria asing itu hanyalah seorang berengsek yang memikirkan pelampiasan hasratnya saja. Hanya memikirkannya saja membuat perut Vania terasa mual. Ia sungguh tidak bisa membayangkan dirinya harus berada di bawah kungkungan pria asing selain suaminya.
‘Ini benar-benar gila! Cakra sudah gila. Semua sudah gila!’ batin Vania berteriak.
Ia berpikir jika ia tidak dapat melanjutkan pembicaraan menjijikkan itu lagi. Kakinya telah melangkah menuju pintu keluar ruang kerja suaminya. Namun, baru saja tangannya menyentuh gagang pintu berbahan stainless steel dengan ukiran yang cantik tersebut, suara Cakra yang memenuhi ruangan itu membuat gerakan Vania terhenti seketika.
“Kalau kamu tidak mau melayaninya, aku akan menyuruh Kania untuk menggantikanmu,” cetus Cakra.
Wajah Vania berubah merah padam karena amarah. Ia berbalik badan dan menatap suaminya dengan tajam. “Jangan melibatkan Kania, Cakra!” hardiknya dengan penuh penekanan.
“Kania dan kamu punya wajah yang hampir mirip. Aku rasa orang itu tidak akan sadar. Apalagi di bawah lampu yang remang-remang, dia pasti—”
“Cakra Pratama!” Vania telah berada dalam ambang batas kesabaran. Ia tidak bisa lagi membendung kemarahannya terhadap suaminya itu. Ia tahu jika Cakra tidak akan menyerah begitu saja apabila ia menolak perintahnya tersebut.
Kania yang polos pasti akan masuk ke dalam perangkap Cakra jika pria itu ingin menjebaknya. Adiknya tidak bersalah dan Vania tidak ingin melibatkannya dalam masalah rumah tangganya tersebut. Daripada harus membuat adiknya terjebak dalam hal yang dipenuhi kubangan lumpur, Vania berpikir jika ia lebih baik mengorbankan dirinya sendiri. Pria di hadapannya ini adalah pria pilihannya sendiri dan Vania hanya bisa meratapi nasibnya.
“Kamu benar-benar membuatku sadar kalau ternyata selama ini aku sudah ‘buta’,” desis Vania dengan penuh penyesalan.
Memilih Cakra Pratama sebagai suaminya adalah keputusan Vania sendiri. Dulu ayahnya memang menentang keras saat Vania ingin bercerai dengan Galaksi dan menikah dengan Cakra, tetapi kata yang bernama ‘cinta’ telah membutakan mata hatinya.
‘Ternyata aku telah menikahi seorang manusia berhati iblis,’ sesal Vania di dalam hati.
Vania kembali teringat dengan ucapan mendiang ibunya yang pernah mengatakan bahwa Cakra bukanlah pria yang pantas bersanding dengannya. Meskipun ia tidak tahu apa alasan yang mendasari perkataan kedua orang tuanya itu, tetapi Vania sekarang dapat sedikit memahami maksud tersebut. Cakra lebih mencintai dirinya sendiri daripada Vania selaku istrinya.
Demi kepentingan bisnisnya, Cakra rela memberikan istrinya kepada pria lain. Walaupun Vania benar-benar menyesal, tetapi ia tidak bisa mengelak dari cengkeraman pria itu di kehidupan yang telah dijalaninya saat ini. Ini adalah risiko yang harus ditanggungnya. Ia bisa saja menuntut pria itu atas hal ini, tetapi Vania tidak memiliki uang dan kekuasaan yang cukup kuat untuk melakukannya.
Vania tidak bisa membangkang atas perintah pria itu. Sebagian besar aset keluarga Arkasana telah berada di tangan Cakra Pratama. Selain itu, Vania juga menyerahkan kekuasaan penuh kepada Cakra untuk mengelola bisnis perusahaan ayahnya setelah kedua orang tuanya dijemput oleh Yang Maha Kuasa. Sekarang ia cukup menyesali keputusannya tersebut.
Vania tahu jika di dunia ini, hanya uang yang bisa berbicara. Begitu juga dengan hukum. Penegakan keadilan hanya berlaku bagi mereka yang memiliki kekuasaan. Vania tahu jika dirinya hanya akan berakhir sia-sia di dalam jeruji jika ingin menentang suaminya tersebut.
“Kamu tidak memiliki pilihan lain, Vania. Layani dia atau aku akan menyuruh adikmu untuk menggantikanmu!”
Sekali lagi Cakra mempertegas ancamannya dan membuat Vania tidak dapat membuat pilihan untuk dirinya sendiri. Cairan kristal yang kembali menggenang di pelupuk matanya bergulir satu per satu di kedua belah pipinya. Vania hanya bisa memandang suaminya dengan bibir yang bergetar pelan.
‘Cakra Pratama, kamu b******n terkutuk!’ maki Vania di dalam hati. Ingin sekali ia mengumpat langsung ke wajah pria itu, tetapi tangisannya telah menelan semua rasa sakitnya yang telah menjelma menjadi kebencian.
Hati Vania berdenyut perih. Ia membenci Cakra, tetapi juga membenci dirinya sendiri yang telah buta mencintai pria itu hingga tidak melihat seburuk apa pria itu sebenarnya.