“Selamat pagi, Kek.” Galaksi menyapa kakeknya, Wihesa Bamantara yang sedang duduk di bagian kepala meja sebagai sosok yang dituakan sekaligus kepala keluarga kediaman tersebut. “Pagi, Kek.” Vania turut memberikan sapaan singkat kepada pria tua itu. “Pagi juga, Cucuku yang tampan dan cantik,” balas Wihesa dengan wajah berseri-seri. Galaksi tersenyum kecut mendengar panggilan konyol kakeknya tersebut. Ia melangkah bersama Vania mendekati meja makan dan menarikkan sebuah kursi yang berada di sisi kiri kakeknya tersebut. Netra Vania mengitari ke sekeliling meja makan tersebut, kemudian berkata, “Maaf sudah membuat Ayah, Mama Safira dan Kakek menunggu lama. Tadi saya dan Galaksi—” Sebelum Vania menyelesaikan ucapannya, Gilang Bamantara—ayah mertua Vania dan putra Wihesa─segera menyelanya

