“Vania, aku mohon. Sadarlah.”
Sayup-sayup Vania mendengar suara seorang pria di sampingnya. Tanpa perlu membuka matanya, ia tahu jika suara itu adalah suara mantan suaminya, Galaksi Bamantara.
‘Aneh. Kenapa aku masih bisa mendengar suaranya?’
Vania mengernyitkan keningnya. Padahal ia berpikir jika napas kehidupanya tidak lagi tersisa karena kecelakaan yang menimpa dirinya. Namun, ia masih bisa mendengar suara mantan suaminya itu sekarang.
Kehangatan terasa pada salah satu telapak tangannya. Ia berpikir jika mungkin pria itu sedang menggenggam tangannya dengan erat seperti yang dilakukannya sebelum Vania memejamkan matanya tadi.
‘Galaksi … Sepertinya aku sudah salah menilaimu selama ini. Sejak kapan kamu memiliki sisi baik seperti ini? Kenapa aku tidak pernah tau?’ Vania kembali bergumam di dalam pikirannya.
“Gadis bodoh. Kenapa kamu membuatku khawatir seperti ini? Apa menjadi istriku adalah sebuah aib untukmu? Kenapa kamu menyiksa dirimu seperti ini?”
Suara Galaksi kembali terdengar di telinga Vania. Namun, pertanyaan pria itu membuat emosinya naik turun.
‘Apa-apaan dia? Siapa juga yang mau menyiksa diri dengan ditabrak? Memangnya ada orang bodoh yang mau ditabrak? Kalau bukan karena si Cakra berengsek itu, aku juga tidak mungkin ditabrak mobil,’ gerutu Vania kesal di dalam benaknya atas kebodohannya. Bisa-bisanya ia tertabrak mobil hanya karena menangisi pria berengsek seperti Cakra Pratama!
‘Ck, bukankah tadi kamu juga menangis karena melihatku ketabrak? Kenapa sekarang malah menyalahkanku? Menjadi istrimu adalah aib? Siapa juga yang berpikir seperti itu? Lagian kita juga sudah bercerai. Sepertinya kamu sudah berpikir terlalu jauh, Tuan Muda Bamantara yang terhormat.’ Ingin rasanya Vania membalas perkataan Galaksi seperti itu, tetapi anehnya hal itu hanya bisa dilakukannya di dalam pikirannya.
Kening Vania mengernyit saat merasakan kejanggalan pada tubuhnya. ‘Aneh … Bukankah tadi tubuhku terasa sakit sampai semua tulangku seperti terlepas dari engselnya? Kenapa sekarang aku tidak merasakan sakit apa pun?’
Padahal sebelumnya untuk bernapas saja Vania merasa sangat sulit. Namun, anehnya sekarang ia dapat bernapas dengan lebih bebas. Hanya saja ia dapat merasakan sakit pada bagian kepalanya yang terasa berat seperti habis dihantam sebuah palu yang sangat besar.
‘Apa jangan-jangan … aku benar-benar sudah mati jadi tidak bisa merasakan sakit apa pun lagi?’ gumam Vania dengan rasa takut yang mencekamnya. Namun, keraguan mulai menyusup ke dalam pikirannya.
Tiba-tiba suasana menjadi hening. Suara Galaksi tidak lagi terdengar. Kehangatan pria itu tidak lagi terasa. Keheningan itu tiba-tiba saja membuatnya gelisah.
Untuk memastikan keraguannya itu, Vania mencoba membuka sepasang netranya dengan bersusah payah. Seberkas sinar langsung menusuk ke dalam irisnya sehingga mau tidak mau ia harus memejamkan kelopak matanya kembali.
Vania meringis pelan saat merasakan sakit yang luar biasa hebat pada kepalanya. Perlahan ia kembali membuka kedua manik matanya dan mengangkat salah satu tangannya untuk menghalangi cahaya yang masuk secara tiba-tiba.
Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar yang masih terlihat buram. Samar-samar ia dapat melihat sesosok pria bertubuh tinggi tegap yang berdiri tidak jauh dari tempatnya berbaring. Ia menajamkan penglihatannya untuk memastikan sosok tersebut. Pria itu berdiri membelakanginya dan menghadap ke sebuah jendela kaca berukuran besar dengan cahaya yang menerpa langsung tubuh pria itu.
‘Siapa dia? Apa dia malaikat yang diutus untuk mencabut nyawaku?’ batin Vania tercengang. Ia tidak pernah menyangka jika ternyata malaikat memiliki bentuk tubuh yang sesempurna itu, tetapi anehnya ia merasa tidak asing dengan sosok malaikat tersebut.
Cahaya yang menusuk matanya itu mengaburkan pandangannya sehingga Vania tidak bisa melihat dengan terlalu jelas hingga akhirnya pria itu berbalik, lalu berjalan mendekatinya dan menampilkan wajahnya dengan nyata. Mulut Vania terbuka syok. Sepasang netra almond-nya mengerjap berulang kali untuk memastikan bahwa dirinya tidak salah melihat.
“Ga … Galaksi?” Suara Vania terdengar parau. Ia sulit mengucapkan kata itu dengan bibirnya yang terasa kaku. Entah sudah berapa lama ia tidak membuka mulutnya itu.
“Hem.” Hanya dehaman bernada berat itu yang terucap dari bibir Galaksi. Wajah pria itu terlihat dingin. Tidak seperti yang dilihat Vania beberapa saat lalu. Kehangatan yang sempat dirasakan Vania beberapa saat lalu bagaikan mimpi belaka.
‘Apa yang terjadi dengannya?’
Vania mengerutkan keningnya kembali. Entah kenapa ia merasa dejavu dengan sikap dingin pria itu. Perlahan netranya berkeliling ke sekitarnya setelah mulai terbiasa dengan sinar yang menghujam sepasang kelopak matanya yang indah.
Mulutnya terbuka semakin lebar saat melihat keadaan di sekitarnya. “Ini … Ini ….”
Ucapan Vania tergantung di sudut bibirnya. Wanita itu tampak bingung dengan keadaan sekelilingnya saat ini. Ia kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan untuk memastikan bahwa dirinya tidak salah lihat.
Kedua alis Galaksi mengerut. Netra elangnya memandang Vania tanpa berkedip. “Ini kamarmu. Apa kamu melupakan kamarmu sendiri?” sindirnya.
Langit-langit kamar dengan ukiran motif kelopak bunga yang besar di tengah ruangan memang adalah kamar yang dimiliki kediaman Bamantara. Sudah lama sekali Vania tidak menginjakkan kakinya ke dalam ruangan itu, tetapi ia tidak pernah sedikit pun merindukan tempat itu karena hanya ada kenangan buruk yang diterimanya dari tempat itu.
‘Kenapa dia masih bilang kalau ini kamarku?’ batin Vania bertanya-tanya.
Ya, Vania akui jika ruangan tempatnya terbaring saat ini adalah kamar tidur yang digunakannya saat ia masih menjadi menantu keluarga Bamantara dulu. Namun, ia merasa heran dengan perkataan Galaksi yang mengatakan bahwa ruangan ini masih merupakan kamarnya. Bukankah rasanya tidak pantas jika Galaksi berkata seperti itu? Vania bukan istrinya ataupun menantu keluarga Bamantara lagi.
“Sepertinya lukamu cukup parah,” lanjut pria itu lagi.
‘Luka?’
Vania baru teringat dengan kecelakaan hebat yang hampir merengut nyawanya. “Kenapa kamu malah membawaku ke sini, Galaksi? Bukannya ke rumah sakit?” tanyanya yang masih tak percaya akan selamat dari kecelakaan itu. Padahal ia ingat kalau saat itu napasnya sudah terasa sulit dan berpikir dirinya tidak akan terbangun lagi untuk selamanya.
“Rumah sakit?” Galaksi bergumam pelan, lalu tertegun untuk memikirkan pertanyaan yang diberikan wanita itu padanya.
Vania memperhatikan wajah mantan suaminya itu dalam diam. Ia baru menyadari jika wajah Galaksi terlihat lebih halus dan jauh lebih muda dibandingkan saat ia bertemu dengannya beberapa saat lalu. Perlahan ia bangkit dari pembaringannya, lalu tangannya mencubit pipi pria itu tanpa izin.
Cubitan yang dilakukan Vania secara tiba-tiba telah mengagetkan Galaksi. Netra pria itu terbelalak lebar. Ia langsung menepis tangan Vania dari pipinya dan memalingkan wajahnya yang mulai terasa memanas karena sentuhan ringan yang diberikan wanita itu.
‘Ada apa dengannya?’ batin Galaksi. Pria itu berusaha meredam debaran aneh yang bergemuruh di dadanya.
“Kamu pakai skin care apa? Kenapa kulitmu bisa semulus ini?” gumam Vania dengan rasa ingin tahu.
Galaksi termenung sejenak. Perlahan kerutan dahinya memudar dan terdengar suara kekehan geli dari bibir pria itu. “Sepertinya kamu baru saja bermimpi buruk, Istriku?” selorohnya.
“Istri?” Vania tersentak kaget mendengar panggilan yang terdengar asing tersebut.
Galaksi berdeham pelan. Pria itu kembali menetralkan ekspresinya dan berkata, “Apa ada yang salah kalau aku memanggilmu seperti itu?”
“Bukan begitu ….” Vania menggeleng dengan cepat, lalu lanjut berkata, “Aku rasa kamu yang terserang demam. Kenapa juga kamu memanggilku seperti itu? Kita kan sudah bercerai. Rasanya aneh dan tidak …."
Kalimat Vania terhenti sejenak saat melihat ekspresi dingin yang diberikan Galaksi padanya. Ia dapat merasakan kemarahan yang terlintas dari sepasang netra tajam pria itu padanya. “Aku … Aku tidak salah bicara kan? Kita memang—”
“Kita memang adalah suami istri yang sudah mengikat hubungan pernikahan seminggu yang lalu, Vania Arkasana. Aku harap kamu tidak melupakan hal itu dan lupakan kata ‘cerai’ sebelum kontrak kita berakhir.”
Pernyataan Galaksi yang tajam sukses membuat wanita itu tersadar akan suatu hal. Vania mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan melihat sebuah bingkai foto berukuran besar terpasang pada dinding berwarna krem di depan matanya. Itu adalah potret dirinya bersama Galaksi sesaat setelah mereka dinyatakan telah resmi menjadi suami istri di hadapan pemuka agama. Wajahnya dalam potret tersebut terlihat muram karena saat itu dirinya terpaksa menikahi Galaksi.
‘Kenapa foto itu masih terpasang di sana? Dan … apa dia bilang tadi? Su-Suami istri yang mengikat pernikahan seminggu yang lalu?’
Wajah Vania berubah pias. Lidahnya terasa kelu untuk mempertanyakan hal di dalam kepalanya. Ia hanya memandang Galaksi dengan syok. Wajah pria di hadapannya ini memang adalah wajah Galaksi Bamantara enam tahun yang lalu. Sikap dingin yang ditujukan pria itu adalah sikap yang biasanya ia terima darinya saat masih menjadi istrinya.
“Terjatuh di kamar mandi memang berbahaya. Tapi, aku pikir kamu tidak perlu sampai dibawa ke rumah sakit. Keluarga Bamantara punya dokter pribadi yang handal. Tapi, kalau kamu merasa tidak nyaman dan ingin dipindahkan ke rumah sakit, aku akan mengaturnya,” jawab pria itu yang membuat Vania tercengang.
“Terjatuh di kamar mandi?” Kedua alis Vania mengerut. Ia benar-benar dibuat bingung oleh Galaksi. “Bukankah aku baru saja ditabrak mobil? Kenapa bisa ….”
Kalimat Vania terhenti sejenak. Senyuman asing yang terasa dingin dari bibir Galaksi membuat Vania merasa bahwa ada sesuatu hal yang tidak beres terjadi kepada dirinya.
Netra elang Galaksi menyipit tajam mendengar pertanyaan wanita itu. Perlahan pria itu melangkah dan mendaratkan bokongnya di atas tempat tidur Vania. “Apa kamu tidak hanya ingin membenturkan kepalamu saja, tetapi juga ingin menabrakkan dirimu ke mobil?”
Pertanyaan yang terdengar dingin itu membuat bulu kuduk Vania meremang. Ia dapat melihat kekecewaan yang tersirat dari sepasang bola mata yang bersinar seperti batu safir hitam yang berharga.
“Walaupun kamu tidak suka menjadi istriku, tetapi kamu harus bertahan setidaknya sampai Kakek bisa menerima perpisahan kita. Bukankah kamu sudah membaca dengan jelas kontrak pernikahan kita? Kamu harus bisa bertahan dan menerima statusmu sebagai istri dari Galaksi Bamantara,” desis Galaksi dengan nada dingin yang membuat Vania meneguk salivanya dengan gugup.
‘Aku … istri dari Galaksi Bamantara?’ batin Vania tercengang. Ia hampir tak percaya kalau dirinya telah kembali ke masa enam tahun yang lalu!
“Sepertinya demam sudah membuat otakmu rusak. Aku rasa kamu memang perlu dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa lebih lanjut,” tukas Galaksi memutuskan.
Namun, Vania tidak mengindahkan ucapannya. Wanita itu tercenung dalam-dalam. Tiba-tiba saja ia teringat dengan sesuatu hal. Kejadian enam tahun yang lalu kembali terlintas di dalam benaknya. Ia segera memeriksa tubuhnya. Menyingkap selimut tebal yang menutupi tubuh bawahnya.
Terlihat balutan perban pada pergelangan kaki kirinya. Selain luka pada pelipis dan pergelangan kakinya, tidak ada luka yang berarti pada tubuhnya. Luka-luka yang dialaminya saat kecelakaan mobil tidak terlihat sama sekali. Seluruh tubuhnya masih utuh tanpa berkurang suatu apa pun. Hanya rasa sakit di dalam kepalanya yang masih terasa saat ini.
Tubuh Vania terasa membeku sesaat. Ia mencoba mencerna semua perkataan pria itu padanya hingga ia mengingat sesuatu hal. Dulu ia memang pernah terjatuh di kamar mandi saat ingin berendam masuk ke dalam bathtub. Saat terjatuh, tak sengaja kepalanya terbentur dinding bathtub dan akhirnya tidak sadarkan diri. Gara-gara kecerobohannya itu, kakinya terkilir dan harus diperban selama satu minggu.
Saat mendengarnya terluka, Galaksi memang langsung meninggalkan pekerjaan kantornya dan menemaninya di kamar hingga Vania siuman. Saat itu Vania berpikir kalau pria itu menemaninya hanya sekedar formalitas sebagai seorang suami karena gerak-gerik Galaksi diperhatikan oleh Wihesa Bamantara, kakek pria itu.
Selain itu, kecelakaan kecil di kamar mandi yang terjadi pada Vania itu dianggap Galaksi sebagai ancaman untuknya. Pria itu berpikir kalau Vania sengaja membenturkan kepalanya karena tidak ingin menjadi istrinya meskipun ia telah setuju dengan kontrak yang ditandatanganinya. Ya, sebesar itulah hubungan dingin yang terjadi di antara mereka enam tahun yang lalu.
Seluruh tubuh Vania tiba-tiba terasa tak bertenaga saat menyadari kenyataan yang baru saja diterimanya. Ia memegang pelipisnya di mana posisi luka tersebut sama persis dengan luka yang dialaminya waktu itu. ‘Tidak. Ini tidak mungkin. Aku pasti sudah bermimpi,’ batinnya menepis situasi konyolnya itu.
“Sepertinya kamu sudah lebih tenang dan mengingat semuanya. Apa masih ada bagian yang sakit?" tanya Galaksi dengan netra penuh selidik. Mengamati wajah pucat istrinya dengan seksama.
Vania menggeleng cepat. “Apa aku tertidur sangat lama?” gumamnya dengan wajah gelisah.
“Hampir satu hari. Kamu juga demam tinggi semalam,” jawab pria itu menceritakan kondisi yang dialami Vania.
Wajah Vania tertunduk dalam. Ia membenamkan wajahnya di dalam kedua telapak tangannya. Ia menyadari kalau kecelakaan hebat itu memang sudah merengut nyawanya. Akan tetapi, sebuah keajaiban telah menghidupkannya kembali dan membawanya ke masa lalu. Meskipun di akhir kehidupannya saat itu ia sempat berpikir untuk membalas kebaikan Galaksi, tetapi ia tidak pernah ingin mengulang kembali kehidupannya saat masih menjadi istri pria itu!
“Kalau ada yang dirasa tidak nyaman, aku pikir sebaiknya kita ke rumah sakit saja untuk dilakukan tes MRI. Mungkin ada bagian yang saraf di dalam otakmu yang terluka,” lanjut Galaksi memberikan sarannya.
Pria itu berpikir jika benturan di pelipisnya itu telah memberikan efek samping yang buruk atas sikap dan perkataan yang ditunjukkan Vania saat ini. Ia merasa sedang berbicara dengan dua orang yang berbeda dibandingkan dengan satu hari sebelumnya.
“Ti-Tidak perlu. Aku … Aku rasa aku baik-baik saja,” gumam Vania dengan ragu. Ia masih terlihat sangat syok dengan keadaannya.
“Apa kamu yakin kamu baik-baik saja?” Galaksi memandang wanita itu dengan tajam. Ia juga meragukan ucapan istrinya itu.
‘Mana mungkin aku baik-baik saja! Tiba-tiba saja aku kembali ke waktu enam tahun yang lalu, apa menurutmu aku akan baik-baik saja?’
Rasanya Vania ingin mencetuskan kalimatnya itu kepada Galaksi, tetapi ia tidak melakukannya. Bisa-bisa pria itu menganggapnya sudah gila dan malah akan membawanya ke rumah sakit jiwa jika ia mengatakan hal demikian.
“Bisakah kamu meninggalkanku sendiri? Aku … Aku ingin beristirahat,” pinta Vania dengan kikuk.
Ia masih sulit menerima kondisinya, tetapi ia tidak bisa mengatakan hal tersebut kepada Galaksi yang saat ini berstatus sebagai suaminya. Vania tidak pernah menyangka akan mengulang kembali kehidupan yang akan dipenuhi dengan drama bersama pria itu. Sungguh, saat itu adalah masa-masa yang melelahkan dan menguras seluruh emosinya. Terlebih harus menghadapi sikap Galaksi yang sulit untuk ditebak.
Galaksi terdiam sejenak. Netranya masih mengamati raut wajah Vania dengan seksama, lalu ia beringsut dari duduknya dan berkata, “Baiklah. Kalau kamu tidak merasa nyaman denganku di sini, aku akan keluar.”
Vania tersentak kaget. Ia tidak pernah menyangka Galaksi akan berpikir seperti itu terhadap sikapnya. Jika dulu, mungkin Vania tidak akan merespon ucapan pria itu dan membiarkannya keluar dengan kesalahpahaman tersebut. Namun, sekarang berbeda.
Ekspresi Galaksi dan tangisan yang dilihatnya saat kecelakaan masih tergambar dengan sangat jelas di dalam ingatan Vania. Ia dapat merasakan ketulusan yang terpancar dari wajah mantan suaminya saat itu dan sekarang ia merasa perlu mengatakan sesuatu atas kebaikan yang pria itu berikan untuknya.
“Tunggu sebentar.”
Suara Vania menghentikan langkah Galaksi yang baru saja sampai di ambang pintu kamar tersebut. Pria itu berbalik dan menatap Vania dengan kening mengernyit. "Apa masih ada yang kamu perlukan?" tanyanya.
Vania menggeleng kecil, lalu berkata, “Terima kasih sudah menjaga dan menemaniku semalaman, Galaksi.”
Suara merdu Vania dan senyuman yang terulas di wajahnya tiba-tiba membuat d**a Galaksi kembali berdebar. Ini adalah pertama kalinya wanita itu memanggil namanya tanpa permusuhan sejak mereka menikah seminggu yang lalu. Seperti ada pecahan kelopak bunga yang bermekaran dengan indah di dalam hati pria itu. Perasaan yang tidak pernah diterimanya dulu membuatnya terasa asing dengan sikap istrinya tersebut.