Membalaskan Dendam

1902 Words
Ruang itu berbau cat tembok yang belum lama mengering, bercampur dengan aroma kertas-kertas baru. Gedung yang tak terlalu besar dengan jendela besar yang belum terpasang tirai, kini menjadi saksi pertama kali Aruna berani menantang ayahnya sendiri. Tumpukan kertas desain bertebaran di meja kerja kayu polos. Di setiap lembar, ada goresan mimpi Aruna. Gaun-gaun elegan, potongan modern dan detail yang penuh cita rasa. Semua itu adalah harapan yang selama ini ia kubur karena perintah seorang lelaki bernama Bramatha Pradipta, ayahnya. Mimpi aruna untuk menjadi seorang Desainer di kehidupan pertamanya harus kandas karena ia yang terlalu patuh dengan permintaan ayahnya. Tapi kali ini, Aruna tak ingin mengubur mimpinya. Jadi, Aruna membangun Elara Atelier, sebuah perusahaan bisnis fashion yang Aruna bangun dari nol menggunakan tabungan yang ia miliki sejak kecil. Tentu, nama perusahaannya memiliki arti dimana, nama “Elara” sendiri diambil dari namanya sendiri, sebagai simbol bahwa bisnis ini adalah cerminan jati dirinya yang sesungguhnya. Elara Atelier, nantinya akan berfokus pada rancangan busana eksklusif yang elegan tapi tetap modern, menyasar pasar kalangan sosialita dan pebisnis kelas atas. Bagi Aruna, Elara Atelier bukan sekadar usaha, melainkan wujud mimpi masa kecil yang selalu ditolak ayahnya. Ia pernah dipaksa menekuni pendidikan bisnis properti demi kepentingan keluarga Pradipta, padahal hatinya tertambat pada dunia desain. Mendirikan Elara Atelier adalah caranya melawan rasa penyesalan di kehidupan pertamanya, saat ia tak pernah sempat memperjuangkan impian itu. Namun perjalanan membangun Elara Atelier pasti penuh dengan tantangan. Ia sadar tanpa dukungan penuh keluarganya, itu hanya akan menjadi sia-sia. Jadi, Aruna harus bekerja keras membuktikan bahwa fashion bisa menjadi industri yang menjanjikan. Meskipun nantinya, ayahnya pasti akan marah besar padanya. Dan ya, apa yang Aruna pikirkan terjadi. Dimana malam itu, semua harapan itu terancam lagi terenggut dari hidup Aruna. “Anak tidak tahu diri!” suara Bramatha bergema, menghantam tembok kosong hingga terdengar berulang. Aruna terdiam, jemarinya mengepal erat di sisi rok panjang yang ia kenakan. Hatinya bergetar, tapi kali ini bukan karena takut, melainkan menahan bara yang ingin meledak. “Setelah memohon-mohon padaku agar menikah dengan Wira, kau justru membatalkannya? Dan sekarang ...." Bramatha mengibas-ngibaskan beberapa kertas desain dengan gerakan kasar, “kau mencoba membangun perusahaanmu sendiri, tanpa izin dariku?!” Kertas-kertas itu terhempas ke lantai, beberapa melayang lalu jatuh, mengotori desain yang Aruna kerjakan dengan air mata dan tenaga begadang semalam. Aruna memejamkan mata sejenak. Ia menarik napas panjang, mencoba menahan gejolak dadanya. Bramatha maju selangkah, menatap setiap sketsa yang berserakan di meja. Jemarinya menyusuri satu desain, lalu dengan ekspresi penuh ejekan, ia membanting tumpukan kertas itu hingga berhamburan ke lantai. “Jangan bermimpi, Aruna!” suaranya menusuk, dingin, penuh kuasa. “Perusahaan ini tidak akan pernah berdiri! Kau dengar?! Tidak akan pernah!” Aruna menegakkan tubuhnya, menatap ayahnya dengan sorot mata yang berbeda dari biasanya. Sorot yang tajam, bukan lagi tatapan putri kecil yang tunduk pada segala perintahnya. “Daddy,” ucapnya pelan tapi tegas, “dulu Aruna selalu menuruti apa pun yang Daddy inginkan. Tapi kali ini… Aruna hanya ingin berdiri di atas kaki Aruna sendiri. Tanpa ada satu pun yang bisa melarang.” Suaranya bergetar, tetapi matanya tak bergeser sedikit pun dari pandangan Bramatha. “Jangan bermain-main, Aruna! Kalau kau seperti ini, Pradipta group pun akan hancur tanpa memiliki pewaris yang kokoh!” Aruna menghela napasnya pelan. “Daddy tahu arah pikiranmu pasti akan tetap tertuju ke mimpi konyolmu itu, itulah sebabnya perjodohan itu harus terjadi, dengan adanya Wira, Pradipta group bisa di pegang olehnya!” ucap Bramatha dengan keras. “Untuk Pradipta Group, Daddy tidak perlu khawatir.” Aruna menghela napas, menegaskan, “Aruna tetap akan melanjutkan bisnis utama keluarga kita. Tapi… biarkan Aruna punya kehidupan yang Aruna pilih.” Bramatha mendengus keras, menatap putrinya seolah kata-kata itu hanya lelucon. Wajahnya mengeras, keriput di dahinya menegas, suaranya penuh meremehkan. “Kehidupan yang kau pilih?” ia tertawa singkat, getir. “Kau pikir dunia akan bersimpati hanya karena kau ingin mengejar mimpi kekanak-kanakanmu ini?” Ia melangkah mendekat, suaranya semakin rendah tapi penuh tekanan. “Ingat ini, Aruna… dunia bisnis bukan tempat untuk bermain-main. Kau bisa menggambar gaun secantik apa pun, tapi pada akhirnya… itu hanya kertas. Tidak ada artinya. Kau akan digilas oleh mereka yang lebih besar, lebih kuat, lebih berakal." "Dan ketika kau jatuh, Daddy ingin melihat bagaimana kau menangis, meminta pertolongan pada orang yang sudah kau lawan sekarang.” Aruna mengepalkan tangannya. Kata-kata ayahnya menusuk, tapi justru memperkuat tekadnya. “Aruna tidak akan menangis lagi, Daddy,” ucapnya lirih tapi tajam. “Kali ini… Aruna akan buktikan bila Daddy salah. Jika dulu Aruna jatuh karena seseorang, sekarang Aruna akan berdiri karena mencintai diri Aruna sendiri.” Bramatha terdiam sejenak, menatap wajah putrinya yang kini lebih berani. Lalu ia tertawa dingin, penuh sinisme. “Baiklah. Kalau begitu Daddy akan duduk tenang, melihat seberapa jauh kau bisa berlari dengan mimpi konyolmu itu. Entah kau benar-benar berhasil… atau kau hancur dan kembali pulang dengan wajah penuh malu.” Ia menoleh sekilas ke arah kertas-kertas yang tergeletak di lantai, lalu menatap putrinya sekali lagi. “Ingat baik-baik, Aruna… dunia tidak peduli pada gadis kecil keras kepala sepertimu.” Dengan langkah berat tapi penuh wibawa, Bramatha meninggalkan ruko itu. Pintu ditutup dengan hentakan keras, meninggalkan Aruna seorang diri di tengah ruang yang kembali sunyi. Aruna menunduk, menatap kertas-kertas yang terinjak debu. Matanya panas, tapi bibirnya tersenyum tipis. “Kalau Daddy ingin melihatku hancur ….” Aruna berbisik, mengumpulkan satu demi satu desainnya dengan hati-hati, “… Aruna akan buktikan. Justru dari sinilah, Aruna akan bangkit. Dan tidak ada yang bisa menghentikan Aruna lagi.” *** Suara itu masih terngiang. Suara yang begitu familiar, lembut tapi kini berubah tajam, menusuk telinga Wira seperti belati yang ditarik dari sarungnya. “Aku berubah pikiran dan tak ingin menikah dengannya.” “Maaf, sekali lagi… tapi aku benar-benar tak ingin menikah dengannya. Hidupku jauh lebih berarti dibanding aku harus merasakan kepahitan lalu membawaku ke jurang kematianku sendiri.” Setiap kata yang terucap dari bibir Aruna dua hari lalu, kini berulang-ulang menghantam kepalanya. Wira menutup mata, memijit pelipisnya dengan kasar, tapi suara itu tidak mau hilang. Bibirnya terkatup rapat, rahangnya menegang. Ia berdiri di depan jendela ruang kerjanya, menatap ke arah kota yang dipenuhi cahaya lampu. Tapi dalam pikirannya, yang ia lihat hanya sosok Aruna yang berdiri tegak dengan mata penuh keyakinan saat menolak perjodohan itu. Padahal dulu… wanita itu yang paling keras memohon. Bahkan rela merendahkan diri hanya demi satu hal, menjadi istrinya. Obsesi Aruna terhadap dirinya bukan hal baru, Wira sudah merasakannya sejak mereka sama-sama remaja. Semua orang tahu, bahkan keluarga mereka sendiri, bahwa Aruna terlalu menginginkannya. Lalu kini? Dengan mudahnya Aruna berbalik arah, seakan semua pengorbanan dan obsesi itu tak pernah ada. Wira menggeram rendah, tinjunya menghantam meja kerjanya hingga beberapa dokumen terjatuh. “Apa yang sebenarnya kau mainkan, Aruna?” suaranya parau, penuh amarah yang ditahan. Ia melangkah mondar-mandir, pikirannya kalut, dadanya terasa sesak. “Kau dulu yang memaksa… kau yang memohon-mohon… bahkan berani mempermalukan dirimu sendiri demi menikah denganku. Dan sekarang, kau bilang hidupmu lebih berarti?” Wira mendesis, matanya merah menahan emosi. Ia berhenti tepat di depan kaca, menatap bayangannya sendiri. Rahangnya mengeras, matanya merah karena amarah yang tak kunjung padam. “Pernikahan ini seharusnya menjadi keuntungan besar untuk perusahaanku.” Tangannya mengepal di sisi tubuhnya. “Dengan Pradipta Group di belakangku, bisnis keluargaku akan menguasai pasar lebih cepat. Kau tahu itu, Aruna! Kau tahu pernikahan ini bukan sekadar ikatan dua orang, tapi dua kerajaan bisnis. Dan sekarang kau membatalkannya setelah aku memikirkan semuanya dengan matang untuk mengorbankan hidupku demi status keluarga?!” “Aruna… apa kau pikir aku akan diam saja setelah kau mempermalukanku di depan keluargaku sendiri? Kau pikir aku akan biarkan kau pergi begitu saja, setelah menolak sesuatu yang kau perjuangkan dengan air mata selama bertahun-tahun?” Wira menarik napas panjang, tapi justru semakin terbakar oleh amarahnya sendiri. Tangannya mengepal begitu keras hingga buku-bukunya memutih. Tatapannya liar, seolah bayangan Aruna ada tepat di depannya. “Aku harus tahu apa yang terjadi. Aku harus tahu kenapa kau berubah, Aruna!” *** Hentakan-hentakan kecil kaki yang dilapisi sepatu kulit mahal kini Wira lakukan tepat di depan sebuah gedung ruko yang tak terlalu besar, hasil dari penyelidikan Wira kepada orang-orangnya untuk menyelidiki keberadaan Aruna yang seolah hilang di telan bumi. Kini, Wira lakukan, sesuatu hal yang tak pernah ia lakukan yaitu untuk menemui Aruna dengan inisiatifnya sendiri. Setelah Hampir setengah jam ia menunggu dengan kesabaran yang sebenarnya tak pernah ia miliki. Dan akhirnya, pintu itu bergeser. Dari dalam, seorang wanita keluar sambil membawa setumpuk berkas di tangannya. Wira langsung mengenali siluet itu, bahu yang dulu selalu merunduk bila menatapnya, kini tegak, langkah yang dulu pelan penuh keraguan, kini mantap. Aruna. Tentu saja, Wira segera menghampiri Aruna yang tengah mengunci pintu dari gedung itu. Kehadiran Wira tentu saja membuat Aruna terkejut. Helaan napas kasar pun langsung Aruna lakukan, amarah dalam dirinya pun seolah ikut bangkit saat melihat pria keji dihadapannya saat ini. Aruna berusaha untuk tak menggubrisnya dan berniat pergi, tapi Wira tak membiarkannya dan sengaja menghalangi setiap langkah Aruna. Aruna menatap tajam Wira bak sebilah pisau tajam. “Mengapa kau menatapku seperti itu?” tanya Wira saat pertama kali mereka bertemu lagi, suaranya terdengar lebih serak dari biasanya. “Menyingkirlah!” ucap Aruna dengan nada tajamnya. Perkataan Aruna tentu membuatnya terpaku, ketika Aruna yang biasanya ia kenal sebagai gadis yang lembut dan selalu menatapnya dengan penuh cinta, bahkan wanita yang rela meninggalkan mimpinya untuk menjadi seorang desainer terkenal hanya agar berada di sisi Wira saja, kini Aruna memperlakukannya layaknya orang jahat. “Tidak, Aruna. Aku ingin mempertanyakan mengapa kau membatalkan perjodohan kita?” tanya Wira langsung pada intinya. Aruna hanya tersenyum miring. Senyum itu sama sekali tak menyimpan cinta, hanya sinisme yang menusuk. “Perjodohan kita?” Ia terkekeh singkat, suaranya dingin. “Aku tidak salah dengar, kan? Kau yang selalu menolak perjodohan itu sejak awal… lalu sekarang kau mempertanyakannya padaku?” Nada sarkas itu membuat d**a Wira mengeras. Ia ingin menjawab, tapi lidahnya kelu. Aruna kini menyilangkan tangannya di d**a. Pandangannya menyapu tubuh Wira dari ujung kepala hingga ujung kaki. Pandangan penuh penilaian, penuh perhitungan. “Kau ingin aku menjelaskan alasannya?” tanyanya datar. Wira menelan ludah, terjebak dalam ketegangan yang bahkan tak pernah ia rasakan dalam negosiasi bisnis paling sengit sekalipun. Aruna mengangguk pelan, matanya menyala dengan kemarahan yang terpendam terlalu lama. “Karena aku akhirnya bisa melihatmu dengan jelas, Wira. Tanpa buta oleh cinta.” Wira terpaku. Kata-kata itu bagai pisau yang ditusukkan ke dadanya. “Aku ingin hidup dengan normal, tanpa harus merasa menjadi bebanmu seumur hidup dan membuatmu yang hanya menantikan kematianku saja!” ucap Aruna akhirnya dengan nada amarah yang meledak-ledak, mengingat kilasan ketika Wira di masa lalunya, selalu menginginkan kematiannya setiap harinya. Aruna mendecih melihat ekspresi Wira yang tampak bingung, tentu pria itu tidak akan tahu keburukannya sendiri, karena Aruna sendirilah yang menyaksikan bagaimana Wira membuat hidupnya tak merasakan hidup di masa lalu. “Lihatlah aku sekarang, Wira… aku bukan lagi wanita bodoh yang kau injak-injak. Kau pikir aku akan kembali jatuh dalam pesonamu? Tidak. Aku sudah mati sekali karenamu dan Tuhan memberiku kesempatan kedua.” "Kesempatan ini bukan untuk kembali mencintaimu... tapi untuk menghancurkanmu. Untuk membuatmu merasakan bagaimana rasanya dihempaskan, diabaikan dan dibuang. Kau akan tahu sakitnya ditolak, sakitnya diremehkan, sakitnya tak dianggap apa-apa. Dan aku akan pastikan kau menyesali setiap luka yang pernah kau torehkan padaku!" ucap batin Aruna. Aruna menatapnya sekali lagi, tatapannya penuh amarah, sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan Wira yang terdiam kaku di depan ruko itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD