Aruna meletakkan kalender kecil itu ke samping tubuhnya, ia mencoba mencerna apa yang terjadi dan kembali membaca dan memastikan tanggal pada kalender itu yang menunjukkan lima tahun sebelumnya.
Aruna menggeleng, ia melempar kalender itu lalu merubah posisinya menjadi duduk.
Ia mengingat jelas bagaimana kejadian terakhir Wira mengusirnya, tidak mungkin ia bisa ada di sini.
Aruna mencubit tangannya sendiri, tentu saja rasa sakit langsung dapat Aruna rasakan bahkan memerah setelahnya.
Aruna pun memilih untuk turun dari ranjang lalu segera bergerak menuju ke arah cermin dan ya sesuai dengan tahun yang ada pada kalender yang Aruna lihat.
Penampilannya saat ini merupakan penampilannya lima tahun yang lalu.
Aruna memejamkan matanya lalu menggeleng.
"Ini pasti mimpi, ya kau pasti mimpi Aruna," ucap batin Aruna mencoba menyangkal segalanya
Ingatan ketika Wira mengusirnya dan tubuhnya yang merasakan sakit akibat benturan dengan mobil masih dapat Aruna rasakan, tapi mengapa tubuhnya bersih dari luka itu?
Semua pikiran Aruna yang berkecamuk akhirnya buyar ketika ketukan di pintu terdengar jelas lalu muncul sosok ibunya, Indira Laksmi, wanita paruh baya dengan penampilan sederhananya tapi tetap terlihat elegan.
Wanita yang telah meninggalkan Aruna untuk selamanya pasca tiga tahun setelah Aruna menikah dengan Wira.
Tubuh Aruna seketika menegang ketika melihat ibunya yang kini benar-benar ada di hadapannya dan tersenyum ke arahnya.
"Mom?" gumam Aruna begitu pelan ketika melihat sosok ibunya ada di hadapannya.
Indira mendekat ke arah putrinya yang tampak kebingungan, bahkan ia melihat kalender tergeletak di atas lantai.
Indira pun mengambil kalender tersebut lalu meletakkannya kembali di atas nakas lalu ia segera menghampiri putrinya lagi.
Sementara Aruna, ia masih terdiam mematung menatap ibunya, air matanya pun mulai menggenangi kelopak matanya.
Indira menghela napasnya pelan lalu mengusap bahu Aruna, "Jangan khawatir Aruna, Wira pasti akan datang hari ini," ucap Indira menenangkan Aruna.
Aruna tak membahas perkataan ibunya, ia masih tenggelam dengan rasa rindu dengan ibunya, sosok yang setidaknya selalu memberi perlindungan ketika ayahnya menyudutkannya.
Pada akhirnya Aruna memilih untuk memeluk tubuh itu dengan erat dan ya, Aruna bisa merasakan dengan jelas bila sosok ibunya benar-benar nyata
"Hei, kau kenapa Aruna?" ucap Indira lagi yang terheran dengan sikap putrinya.
"Aruna merindukan Mommy," ucap Aruna dengan isak tangis yang perlahan pecah.
"Jangan tinggalkan Aruna sendirian lagi ...."
Indira terdiam sesaat, lalu melepaskan pelukan putrinya yang sudah basah dengan air mata.
Indira pun dengan cekatan mengusap air mata putrinya, "Hei, apa yang Aruna katakan, Mommy disini, Mommy tidak akan meninggalkan Aruna,"
"Sekarang lebih baik Aruna bersiap, pertemuan keluarga akan dilakukan sore ini," ucap Indira yang sedikit memecahkan konsentrasi Aruna.
"Daddy sudah menghubungi keluarga Wirajaya bila Wira, akan menghadiri acara perjodohan kalian."
Isak tangis Aruna perlahan terhenti ketika ibunya membahas perjodohan, kedua matanya menatap ibunya dengan dalam seolah mempertanyakan semuanya.
"Aruna tidak mungkin lupa kan, hari ini merupakan hari perjodohan kalian untuk membahas tentang bagaimana rencana pernikahan kalian ke depannya," ucap Indira, lalu mengusap puncak kepala Aruna yang tampak terperangah.
“Hari Perjodohan?” ucap batin Aruna tak percaya.
Aruna menatap kalender di atas nakas lalu ia segera berlari cepat ke arah kalender tersebut dan melihat tanggal dan bulan beserta tahun.
Di kalender tersebut Aruna bisa melihat sebuah tanggal yang Aruna tandai khusus dengan pena yang ia bentuk hati, tanggal dimana hari perjodohan mereka dilakukan.
Bahkan disana tertera tulisan tangannya yang menuliskan nama dirinya dengan Wira.
"Jika hari ini adalah hari perjodohan itu, itu artinya, aku benar-benar kembali kelima tahun sebelum aku menikah dengan Wira?!" pekik Aruna dalam batinnya.
Mungkinkah semua yang terjadi padanya saat ini adalah sebuah keajaiban yang diberikan tuhan padanya.
Aruna tahu, bila seharusnya dirinya tidak ada disini bahkan kemungkinan besar ia sudah mati.
Ataukah mungkin ini adalah kesempatan kedua yang tuhan berikan untuknya merubah jalan hidupnya?
***
Wajah datar tanpa senyuman seperti biasanya kini Aruna perlihatkan ketika ia kini berada di tengah keluarganya dengan keluarga Wira.
Dan tepat dihadapannya pula Wira duduk menatapnya, wajah pria yang menyakitinya hingga ia mati, kini kembali Aruna lihat.
Aruna menyadari bila dirinya memang benar-benar telah diberikan kesempatan kedua untuk hidup, kesempatan hidup yang akan Aruna gunakan sebaik mungkin untuk membalaskan segala rasa sakit yang Wira lakukan padanya.
Pembalasan yang tak sebanding dengan nyawa Aruna sendiri yang harus tiada karena perbuatan Wira di kehidupan lamanya.
Perasaan Aruna benar-benar berkecamuk, tetapi rasa sakit hatinya kali ini begitu besar membuat Aruna rasanya ingin menghancurkan Wira hingga ke dasar.
"Aruna ...."
"Nak, kau mendengar kami 'kan?"
Suara Indira samar-samar memecahkan lamunan Aruna yang penuh dengan dendam yang membara.
"Nantinya ini akan menjadi acara pentingmu, dengarkan dengan baik Aruna," tegas ayahnya Aruna, Bramatha Pradipta, dengan sorot mata tajamnya.
"Itu benar, kau sangat menginginkan pernikahan ini Aruna, jadi dengarkan dengan baik apa yang kami rencanakan ke depan untuk pernikahan ini," tambah ibunya Wira, Amara Meisvara.
Ibu mertuanya yang selalu bersikap buruk padanya di kehidupan pertamanya, bahkan selalu menyalahkannya karena Aruna lah, putra satu-satunya itu tidak bisa hidup degan pilihan cintanya sendiri.
"Ya, itu benar. Baik itu Aruna ataupun Wira, kalian harus mengikuti semua rencana yang akan kami persiapkan, kalian hanya perlu menunggu hari pernikahan itu tiba," ucap ayahnya Wira, Rakasena Wirajaya dengan ambisinya.
Benar, ambisi agar perusahaannya tetap mendapatkan dana dari perusahaan keluarganya, Aruna tahu itu, ayah mertuanya itu sangat takut bila perusahaannya berada di ambang kehancuran dan memanfaatkan Aruna sendiri untuk kepentingan perusahaanya.
"Jadi pernikahan ini akan kalian lakukan dalam tempo waktu kurang lebih satu bulan," ucap Bramatha.
"Itu benar, lebih cepat lebih baik bukan?" balas Rakasena dengan diakhiri tawa pelannya.
Aruna mengepalkan tangannya, dadanya benar-benar terasa sesak ketika ia harus berada di tengah-tengah mereka yang menyakiti Aruna, terkecuali ibunya.
Kau harus bertindak Aruna, ini kesempatanmu kembali untuk mendapatkan keadilan hidupmu, kau berhak bahagia, Aruna.
"Aku tidak ingin melanjutkan ini lagi."
Tatapan mereka semua kini mengarah ke satu tujuan, yaitu Aruna dengan tatapan penuh tanya.
"Aku, Aruna Elara, tidak ingin melanjutkan pernikahan ini."
Perkataan Aruna jelas membuat mereka tak mempercayai perkataannya.
"Aku berubah pikiran dan tak ingin menikah dengannya," ucap Aruna begitu dingin, bahkan ia tak sudi untuk melihat wajah Wira.
Wira yang mendengar tentu tertawa pelan, tak mempercayai Aruna, si wanita penuh obsesi dengannya membatalkan pernikahan ini?
"Jangan bermain-main denganku!" ucap Wira pelan tapi menusuk.
Aruna memindahkan barang-barang perhiasan yang keluarga Wirajaya bawa untuknya ke hadapan mereka lagi.
"Maaf, sekali lagi tapi aku benar-benar tak ingin menikah dengannya, hidupku jauh lebih berarti dibanding aku harus merasakan kepahitan lalu membawaku ke jurang kematian ku sendiri," ucap Aruna dengan tegas dan lantang, hal yang tak pernah Aruna lakukan sebelumnya.
"Aruna sayang ...," ucap Indira mencoba menyadarkan putrinya, lebih tepatnya untuk meredamkan emosi suaminya yang siap memuncak.
"Aruna!" gertak Bramatha dengan menatap tajam putrinya.
Aruna tak peduli dengan gertakan ayahnya, ia tahu pasti setelah ini ayahnya akan sangat marah padanya, terlebih perjodohan ini hal yang selalu Aruna sendiri inginkan.
Aruna pun bangkit dari kursi dengan tatapan yang masih menatap tajam penuh kemarahan terhadap Wira, bukan hanya kemarahan tapi ingatan buruk ketika Wira selalu memperlakukanya dengan buruk pun ikut terputar dalam memorinya.
Fitnah Wira terhadapnya pun masih membekas dalam pikiran Aruna.
Lebih tepatnya, Meyra lah yang memulai semuanya, dengan kepalsuan dan tipu daya yang begitu rapi, hingga membuat Wira, suaminya, semakin tak melihat posisinya yang adalah istri sahnya.
“Wira!” seru Meyra dengan nada histeris, sambil mengangkat sebuah botol kecil bening dari dalam tas tangannya.
Cairan kehijauan di dalamnya bergetar mengikuti gerak tangannya.
“Aku menemukannya… di dapur rumah ini! Aruna… dia ingin meracuniku!”
Aruna terbelalak, wajahnya memucat. “Apa maksudmu Meyra, jangan memfitnahku! Itu bukan milikku!”
Meyra menatapnya dengan pandangan penuh tuduhan. “Kau pikir aku buta? Kau sembunyikan ini! Kau ingin aku mati pelan-pelan, bukan?!”
“Berhenti mengarang cerita!” Aruna balas meninggi. “Aku bahkan tidak tahu apa isi botol itu! Kau sendiri yang membawanya untuk menjebakku!”
Namun Wira tak memberi ruang. Tatapannya tajam, wajahnya merah padam, nadanya meledak-ledak.
“Aruna!” bentaknya, suaranya membuat jantung Aruna seakan berhenti berdetak. “Sampai kapan kau akan berbohong?!”
Aruna tertegun. “Wira ...."
Wira maju selangkah, jarinya menunjuk ke wajah istrinya. “Ternyata di balik topeng kepalsuanmu ini, nyatanya, kau hanyalah ular berbisa."
Aruna menahan napas, matanya berkaca-kaca. “Wira… aku tidak pernah—”
Namun sebelum ia selesai, Wira sudah menghantam meja dengan tinjunya. Gelas di atas meja berguncang keras, sebagian isinya tumpah.
Aruna menahan air matanya. “Wira, dengarkan aku… aku tidak pernah berniat—”
“Diam!” bentaknya. Dengan kasar, Wira meraih piring berisi makanan itu, menyeretnya ke hadapan Aruna.
“Kalau kau yakin tidak bersalah… makan ini sekarang juga!”
Aruna terbelalak, wajahnya memucat. “Apa …?”
“Makan, Aruna!” Wira memaksa, tangannya mendorong sendok berisi makanan itu ke depan bibir istrinya.
“Buktikan kau tidak menyentuh makanan ini dengan racun! Atau… kau pikir aku tidak bisa melihat kebohonganmu?!”
Tubuh Aruna gemetar hebat. Air matanya luruh, bahunya terguncang.
“Wira… Aku benar-benar tidak pernah melakukan itu.”
Tangisan itu, yang seharusnya bisa melembutkan hati, justru semakin menyulut amarah Wira. Ia melihat ketakutan Aruna sebagai tanda bersalah.
Wira mendecih, “Seandainya kejahatan mu ini tidak terbongkar, mungkin Meyra sudah tergeletak mati di lantai ini!”
Aruna terisak, menggeleng keras. “Tidak! Aku tidak melakukannya! Demi Tuhan, aku tidak pernah berniat mencelakainya!”
Namun Wira hanya menatapnya dengan sorot penuh jijik. Ia menjatuhkan sendok itu ke piring hingga bunyinya berdenting keras.
“Aruna …,” ucapnya dingin, suaranya tajam menusuk. “Ternyata kau hanya monster yang pandai bersembunyi di balik wajah polos sialanmu itu.”
Aruna mengusap air matanya, kilasan itu kembali menikam ingatan.
Tanpa suara, ia melangkah pergi, meninggalkan luka dan meninggalkan mereka.
Kali ini ia memilih untuk berdiri sendiri, membangun dirinya dari serpihan yang berserak.
Ia akan merajut mimpinya yang lama terpendam, menenun jalannya di dunia fashion, bukan lagi di bawah bayang tuntutan ayahnya, bukan pula dalam jerat siapa pun yang dapat menghancurkannya kembali.