Pria itu hanya menatap Sandrina sekilas. Wajahnya begitu tampan dengan penampilan yang elegan. Sangat berbanding terbalik dengan Sandrina. Pria itu sudah seperti bos di film-film.
Hanya saja sikapnya begitu dingin. Sandrina berkacak pinggang. Beberapa kali ia menggedor-gedor kaca mobil itu sampai pria dingin itu menampakkan kemarahan.
“Keluar!! Cepat keluar!!” perintah Sandrina.
“Huh!! Cewek merepotkan!” umpat pria itu.
Belum juga keluar dari mobil, beberapa kendaraan yang hendak lewat di belakangnya mulai membunyikan klakson. Tak hanya itu mereka juga berteriak memaki Sandrina dan pria itu.
“Kita selesaikan di tepi jalan! Aku nggak akan kabur,” ucap pria itu dengan wajah kesalnya.
Akhirnya mobil mewah itu menepi. Sandrina juga mendorong motornya ke tepi jalan. Lelaki itu keluar, tiba-tiba wajah Sandrina bersemu merah.
‘Ya Tuhan, tampan sekali pria itu. Saat dia melepas kaca matanya, seperti seorang pangeran saja. Matanya begitu indah. Apa dia memang pangeran?? Baru kali ini aku melihat pria setampan dia. Bahkan di kampusku saja, tak ada pria sepertinya,' batin Sandrina begitu terkesima.
“Hei gadis dekil!! Berapa ganti rugi yang kamu minta??” tanya lelaki itu tanpa basa-basi.
Sandrina mengernyitkan kening. Pria itu memanggilnya gadis dekil. Sejenak Sandrina mengamati penampilannya. Ia memang sederhana, tapi sangat jauh dari kata dekil.
‘Hilang!! Hilang sudah pujianku tadi. Lelaki ini sangat tidak sopan. Aku sudah berpakaian sangat rapi untuk melamar kerja, malah dia katakan dekil,' gerutu Sandrina dalam hati.
“Hei!! Jangan malah melamun!! Berapa ganti rugi yang kamu minta gadis dekil??” tanya pria itu.
Sandrina masih terdiam. Ia bingung untuk menjawab pertanyaan itu. Sesaat ia menatap motornya. Bagian lampu rem belakang sudah renyek. Beberapa kali ia juga membayangkan isi dompetnya.
Tiba-tiba Sandrina punya ide untuk meminta uang ganti rugi cukup banyak. Lelaki itu masih bertahan dengan tatapan dinginnya. Sementara Sandrina sedang meyakinkan hati untuk melakukan rencananya.
“Aku minta ganti rugi lima juta!” seru Sandrina.
“Eh?? Udah dekil, kamu juga nggak waras ya?? Lima juta? Aku ganti lampu rem belakang itu paling nggak nyampe lima ratus ribu! Jangan permainkan aku!” tegas pria itu.
“Aku serius. Kerusakan motor memang tidak seberapa. Tapi aku cukup kaget dengan tabrakan itu. Kamu menabrakku dari belakang! Harusnya kamu mau membayar kerugian itu!!”
“Tetap saja kamu mempermainkanku gadis sialan!!”
“Pokoknya aku mau lima juta.”
“Kalau aku tak memberikannya, kamu mau apa?”
“Aku mau berteriak-teriak di sini. Minta tolong, biar kamu digebukin banyak orang!! Btw, aku sudah mencatat nomor plat mobilmu!” ucap Sandrina dengan ekspresi penuh kemenangan.
“Dasar gadis licik! Kamu begitu memanfaatkan situasi!”
“Licik?? Jangan bilang aneh-aneh deh! Kalau kamu nggak pengen babak belur, cepat kasih lima juta!” pinta Sandrina.
Lelaki itu menghela napasnya cukup panjang. Sepertinya ia sudah enggan berkata-kata. Ia membuka pintu mobilnya dan mengambil uang dari tasnya.
“Ini lima juta. Aku tak ingin banyak bicara dengan gadis licik sepertimu!!” ucap pria itu sambil membalikkan badan.
“Wah baguslah. Kalau begitu kita damai! Hahaha,” ucap Sandrina sambil tertawa tanpa rasa malu.
Mata Sandrina langsung ijo saat melihat uang. Ia segera memasukkan uang itu ke tas selempangnya. Ia takut kalau lelaki itu memintanya lagi.
“Ya Tuhan, semoga aku tak bertemu dengan gadis licik, dekil dan aneh macam gadis di depanku ini lagi,” ucap lelaki itu sambil melangkah pergi.
Sandrina masih bisa mendengar perkataan pria arogan itu. Tiba-tiba ada niat usil muncul di benaknya. Sandrina mengambil kerikil dan melemparkannya ke punggung lelaki itu.
Puk!!
Kerikil kecil itu mengenai baju lelaki itu. Ia membalikkan badan dan menatap Sandrina dengan kesal.
“Dasar gadis gila!!” pekik lelaki itu sambil masuk ke mobil.
“Itu balasan untukmu!! Jangan mengejek orang sesuka hati!! Aku udah rapi seperti ini malah disebut dekil!! Kamu pikir kamu ganteng! Kamu pikir kamu yang paling keren?? Huh!! Masih banyak lelaki lain yang lebih keren darimu,” cecar Sandrina panjang lebar.
Namun, pria itu tak menghiraukan Sandrina. Mobilnya melaju kencang menunjukkan emosi dari pengemudinya. Sandrina menghela napasnya panjang. Ia sudah lebih lega melampiaskan kekesalannya dengan mengeluarkan uneg-uneg di kepalanya.
“Jadi, pertama, aku harus ke bengkel dulu,” ucap Sandrina.
Sandrina terpaksa memperbaiki motor matic nya terlebih dahulu. Ia duduk di bengkel menunggu motornya di servis. Sesaat ia mulai berhitung, ia punya uang lumayan banyak sekarang.
“Pak, kira-kira ongkos service-nya berapa??” tanya Sandrina.
“Tujuh ratus ribu Mbak. Apa mau sekalian ganti oli??”
“Ah boleh Pak.”
Sandrina tersenyum senang. Ia mulai lupa dengan tujuannya. Tiba-tiba anak itu malah menelepon dua sahabatnya. Rena dan Karin. Sandrina mengajak mereka makan.
Akhirnya jam makan siang pun tiba. Sandrina sudah duduk di tempat yang dijanjikan. Cafe langganan mereka sejak kuliah. Beberapa saat datanglah dua sahabatnya. Mereka sudah mengenakan seragam kantornya masing-masing.
“San, kok mendadak banget sih?? Kenapa?” tanya Rena.
“Benar nih! Btw, kamu sudah dapat kerja belum?” tanya Karin.
“Hehehe, soal kerja itu kita bahas nanti saja. Aku santai kok untuk masalah karir,” jawab Sandrina.
Dua sahabatnya itu saling berpandangan. Mereka agak khawatir dengan keadaan mental Sandrina yang tak juga mendapatkan perkejaan. Mereka sudah lulus kuliah hampir setahun.
“Eh, udah. Jangan bengong. Jadi aku ngajak kalian ketemuan di sini, aku mau traktir kalian makan. Kalian boleh makan sepuasnya! Pesan apapun yang kalian mau!” perintah Sandrina.
“Eh?? Traktir??” tanya Karin dan Rena hampir bersamaan.
“Iya. Kalian nggak usah kaget seperti itu. Aku benar-benar punya uang kok,” ucap Sandrina.
“Em,, maaf nih San, kamu dapat uang darimana??” tanya Karin tak enak.
“Iya. Dan kalau kamu punya uang, apa nggak sebaiknya buat hal yang lebih penting,” ucap Rena.
“Kebetulan aku ada rezeki. Bukankah kalau aku berbagi, rezeki ku akan dilipatkan beberapa kali. Jadi kalian nggak usah seperti itu. Aku juga belum punya hal yang lebih penting,” kata Sandrina percaya diri.
“Maksudku, apa kamu tak ingin beli make up atau skincare. Ya paling tidak saat kita masuk di dunia kerja, hal itu penting. Good looking itu penting, San,” ucap Rena.
“Benar. Kami tidak mengatakan kamu jelek. Hanya saja kamu kurang merawat diri. Semakin berjalanannya waktu, kamu juga harus memikirkan hal itu,” pinta Karin.
Sandrina menghela napasnya panjang. Ia sudah hafal kalau dua sahabatnya itu akan mengatakan soal hal itu. Berulang-ulang kali mereka selalu menasehati Sandrina.
“Karin, Rena, kalian sahabatku sejak dulu. Kalian sudah paham kan jawabanku akan seperti apa. Aku harap kalian mengerti. Hari ini aku sedang akan makan banyak,” ucap Sandrina dengan wajah memelas.
Dua sahabatnya kembali saling menatap. Mereka menghela napasnya panjang. Setelah itu mereka sudah tak ingin menasehati Sandrina lagi. Mereka pun mulai memesan makanan.
Rena dan Karin makan dengan wajar karena selalu mengingat tubuh mereka. Berbeda dengan Sandrina, ia memesan banyak makanan. Nafsu makan Sandrina sudah seperti orang tak makan satu Minggu saja.
“Kamu masih tetap sama ya San. Makannya banyak. Apa kamu masih sering menghabiskan soto dagangan ibu kamu??” tanya Karin sambil tertawa.
“Hahaha, iya. Tapi jangan bahas itu ya,” ucap Sandrina tak ingin mengingat-ingat kejadian tadi pagi.
“Oh ya, Karin udah mau menikah tuh. Coba cerita dong bagaimana persiapannya,” pinta Rena.
Beberapa saat mereka mendengarkan cerita Karin dan kebahagiaannya menyiapkan pesta pernikahannya. Rena dan Sandrina menatap penuh iri.
Sebagai wanita dengan usia yang telah matang, mereka juga ingin segera menikah. Obrolan mereka berlangsung hangat. Tiga wanita itu sudah bersahabat sejak lama.
“Eh, tadi pagi aku lihat cowok tampan sekali. Tapi sayangnya dia sangat dingin. Dan juga dia ngatain aku dekil. Kurang ajar banget kan?” tanya Sandrina.
“Itu sebenarnya pertanda kalau kamu harus merawat diri,” sahut Karin cepat.
Tiba-tiba ponsel Sandrina berdering. Gadis itu memegangi ponsel itu dan melihat nama yang tertera di layarnya. Ia tak mengenali nomor itu.
“Siapa?? Kok nggak diangkat?” tanya Rena.
“Nggak tahu. Nomor tidak dikenal. Aku takut penipuan atau modus hipnotis,” jawab Sandrina.
“Hadeh, pikiranmu itu terlalu buntu. Wajar kan kalau ada nomor asing yang telepon kamu. Di surat lamaran yang kamu sebarkan, pasti ada nomor telepon kamu!” ucap Karin.
“Benar kata Karin, angkat saja. Siapa tahu kamu diterima kerja,” saran Rena.
“Baiklah,” ucap Sandrina.
Sandrina mengangkat telepon itu. Setelah ia menjawab salam yang diberikan, Sandrina mulai menyimak apa yang dikatakan oleh seorang wanita di seberang telepon.
Tiba-tiba mata Sandrina terbelalak. Lalu beberapa kali ia mengatakan “iya”. Dua sahabatnya ikut was-was dengan telepon itu. Beberapa saat kemudian telepon selesai. Napas Sandrina seperti sesak. Gadis itu menggenggam ponsel dan menempelkannya di dadanya.
“Ada apa San?? Kamu kelihatan aneh,” ucap Karin.
“Wajahmu juga berkeringat. Apa yang terjadi??” tanya Rena.
“Aku diterima kerja!!” seru Sandrina.
Bersambung...