“Aku diterima kerja!!” ucap Sandrina dengan wajah berbinar.
“Wah selamat!!” ucap dua sahabatnya sambil mendekati Sandrina dan memeluknya.
Tiga orang itu saling berpelukan. Mereka ikut bahagia mendengar kabar itu. Tak lama mereka kembali duduk di kursinya masing-masing.
“Btw, kamu diterima dimana San?” tanya Karin.
“Di DW Group. Aku harus datang besok. Besok hari pertamaku kerja,” ucap Sandrina.
“DW Group??” tanya Karin terbelalak tak percaya.
“Iya. Kenapa kamu begitu kaget??” tanya Sandrina.
“Itu perusahaan besar di bidang properti. Aku saja berulang kali mendaftar di sana nggak diterima,” ucap Karin.
“Kamu memang sudah mengincar posisi itu??” tanya Rena.
“Aku bahkan sampai lupa sudah berapa surat lamaran yang aku tulis. Aku juga lupa perusahaan apa saja yang pernah aku kirimi surat lamaran atau lamaran lewat email,” ungkap Sandrina jujur.
“Eh, benarkah?? Apa kamu sudah wawancara?? Em, memangnya kamu sudah melewati tahapan apa saja saat mendaftar di DW Group??” tanya Rena.
“Em,, belum ada sih. Hanya mengirimkan lamaran saja,” jawab Sandrina jujur.
Rena dan Karin tampak khawatir. Namun, Sandrina masih bertahan dengan wajah bahagianya. Setelah sekian lama ia berlalu-lalang mencari pekerjaan. Baru kali ini ia diterima kerja.
“Apa kamu yakin akan datang??” tanya Karin.
“Kenapa kamu bertanya seperti itu?” tanya Sandrina.
“Kita khawatir kalau itu cuma penipuan. Em, biasanya kalau mendaftar pekerjaan, ada beberapa tahapan seleksi yang harus kamu lewati. Seperti seleksi administrasi, tes tertulis, atau paling tidak wawancara. Beberapa perusahaan malah ada yang lebih berat lagi,” jelas Rena.
“Jadi apakah mungkin ini penipuan??” ucap Sandrina lemas.
“Em, jangan patah semangat dulu. Kalau menurutku, ada baiknya kamu datang ke tempat itu dengan beberapa catatan,” kata Karin sambil menepuk-nepuk pundak Sandrina.
“Catatan?? Maksudnya?” tanya Sandrina bingung.
“Pertama, jangan mau kalau dimintai uang. Apalagi dalam jumlah banyak. Kedua, jangan mau kalau orang yang menelepon itu meminta ini itu yang aneh-aneh. Apalagi kamu wanita. Ketiga, terapkan kewaspadaan level siaga saat kamu datang ke perusahaan itu,” jelas Karin panjang lebar.
Sesaat, Sandrina terdiam. Ia merasa perkataan Karin ada benarnya. Dalam hati kecil Sandrina, ia ingin mencari peruntungan, barangkali itu memang benar-benar panggilan kerja.
“San? San?” tanya Karin.
“San? Jangan melamun. Aku jadi khawatir,” ucap Rena.
“Aku tidak apa-apa kok,” ucap Sandrina.
“Jadi bagaimana? Apa kamu mau pergi besok?” tanya Karin.
“Iya. Aku akan mencobanya. Doakan aku ya,” pinta Sandrina.
“Iya. Kami pasti mendoakanmu. Semoga semuanya lancar. Semoga kamu segera mendapatkan pekerjaan yang cocok,” ucap Karin.
“Iya. Kami hanya bisa bantu doa. Oh ya, kalau ada apa-apa, kamu bisa hubungi aku atau Karin,” kata Rena.
“Terima kasih. Kalian memang sahabat terbaikku,” ucap Sandrina.
Pertemuan mereka selesai. Sandrina pulang dengan langkah lunglai. Hatinya begitu bimbang dengan panggilan pekerjaan itu. Namun, dengan keadaannya saat ini, ia sebenarnya membutuhkan pekerjaan.
Saat sampai di depan rumah. Siapa sangka Bu Fera sudah menunggunya di depan pintu. Wajah ibunya terlihat begitu geram. Mungkin saja sisa-sisa kemarahannya tadi pagi masih ada.
‘Aku harus bisa menaklukkan hati Mama. Aku akan bilang kalau aku sudah diterima kerja dan aku kasih Mama uang, pasti semuanya beres,' batin Sandrina.
“Kemana saja kamu??” tanya Bu Fera sambil berkacak pinggang.
Sandrina sangat hafal, saat ibunya marah pasti ayahnya sedang narik ojol. Tak akan ada yang membela Sandrina. Bahkan kedua adiknya hanya jadi penguping setia.
‘Tenang, kamu sudah diterima kerja. Bilang saja seperti itu. Setidaknya, malam ini aku bisa tidur nyenyak. Meski aku tak tahu nasibku besok. Entah pekerjaan itu hanya penipuan atau sungguhan,' batin Sandrina meronta-ronta.
“Ditanya orang tua kok malah cengar-cengir seperti orang belum makan! Jawab! Dari mana kamu!!” bentak Bu Fera.
“Tenang Ma. Lebih baik Mama masuk dulu. Aku ada kabar gembira untuk Mama,” ucap Sandrina sambil tersenyum.
“Kabar gembira??”
Sandrina tak menanggapi pertanyaan ibunya. Ia merangkul ibunya masuk ke dalam rumah.
“Ma, aku sudah diterima kerja dan besok hari pertama kerja,” ucap Sandrina sambil tersenyum.
“Diterima kerja??” tanya Bu Fera seolah tak percaya.
“Iya. Di DW Group. Jadi, mama jangan khawatir. Aku akan segera bantu cari uang. Jadi mama nggak usah marah-marah lagi,” pinta Sandrina.
Seketika Bu Fera memeluk anak gadisnya. Ia terharu setelah mendengar kabar gembira itu. Hati Sandri bergetar mendapat pelukan dari ibunya. Tak terasa air mata Sandrina keluar begitu saja.
“Maafkan aku Ma. Sandrina belum bisa membahagiakan mama. Tapi Sandrina janji, akan melakukan pekerjaan ini sebaik mungkin,” ucap Sandrina.
“Semoga kamu dilancarkan semuanya ya. Maafkan mama yang banyak marah-marah. Semuanya karena mama khawatir padamu,” kata Bu Fera.
Suasana menjadi haru. Sandrina menghapus air mata di pipi ibunya. Raka dan Chika yang dari menguping pembicaraan mereka mendekat.
“Selamat ya Mbak,” ucap Raka.
“Semoga semuanya lancar,” kata Chika.
“Terima kasih,” sahut Sandrina semakin terharu.
“Papa pasti sangat bahagia mendengar berita ini. Coba nanti kamu hubungi Papa ya,” perintah Bu Fera.
“Iya Ma. Aku mau mandi dulu,” ucap Sandrina.
Malam itu, Sandrina malah merenungi nasibnya besok pagi. Bagaimana kalau panggilan kerja itu hanya penipuan?? Kalau penipuan, ia akan mengecewakan keluarganya.
Keesokan harinya, pintu kamar Sandrina sudah digedor-gedor dari luar. Beberapa kali alarm di ponselnya sudah berbunyi. Akhirnya Sandrina bangun dan menatap jam di layar ponselnya.
“Astaga!! Sudah jam tujuh. Padahal aku harus sampai di sana jam delapan!” seru Sandrina.
Ia menyiapkan semuanya dengan terburu-buru. Saat keluar dari kamarnya, Pak Yoga sudah menunggunya. Lelaki paruh baya itu memberikan senyuman kebahagiaan.
“Selamat, anak Papa akhirnya di terima kerja,” ucap Pak Yoga sambil memeluk anaknya.
“Terima kasih Pa. Tapi sepertinya aku akan terlambat,” ucap Sandrina.
“Apa perlu Papa antar??”
“Tidak Pa.”
“San, setidaknya makanlah dulu. Mama sudah buatkan makanan kesukaanmu,” ucap Bu Fera sambil menarik tangan Sandrina.
Sandrina tak punya keberanian untuk menolak ajakan ibunya. Bisa-bisa Bu Fera kembali marah-marah kalau dia menolak ajakan sarapan itu.
Sandrina makan semur jengkol kesukaannya dengan lahap. Meski ibunya galak, masakan ibunya tetaplah nomor satu di lidahnya. Setelah itu Sandrina berangkat dengan terburu-buru.
“Hati-hati di jalan Nak,” seru Pak Yoga melihat Sandrina tergesa-gesa mengendarai motornya.
Sepanjang perjalanan gadis itu ngebut. Rambut hitamnya digerai setelah beberapa kali ia gagal untuk mengikatnya. Wajah Sandrina polos tanpa make up. Pakaian yang ia kenakan juga kelihatan kusut karena terlalu lama di lemari.
Namun, semua itu tak jadi masalah baginya. Satu hal yang ada di kepala Sandrina. Ia harus hadir tepat waktu. Akhirnya ia mulai memasuki kawasan perusahaan. Sandrina begitu bingung harus parkir di mana.
Bruk!!
Tanpa sadar gadis itu malah menabrak mobil mewah yang berhenti di depannya. Mata Sandrina tak fokus, ia masih mencari tempat parkir. Wajah Sandrina menjadi pucat saat sopir mobil itu keluar.
“Kalau jalan lihat-lihat Mbak! Bagaimana ini?? Lihat mobilnya jadi tergores. Padahal ini mobil atasan saya,” ucap sopir itu.
“Ma—maafkan saya pak. Saya tidak sengaja. Sebenarnya saya bingung mencari tempat parkir untuk karyawan di sini,” ucap Sandrina canggung.
“Bisa-bisanya. Kalau bingung berhenti dan bertanya. Jangan malah membahayakan orang lain seperti ini! Tempat parkir untuk karyawan di sebelah sana!!” tegas lelaki itu sambil melotot.
Sandrina memandang arah yang ditunjukkan sopir tersebut. Ia mengangguk dan bersiap menaiki motornya kembali.
“Eh, Mbak! Ganti rugi dulu!!”
“Maaf pak. Saya terburu-buru!!” ucap Sandrina ingin kabur.
“Enak saja! Kalau begitu kamu harus saya bawa ke kantor polisi!! Ini sudah menyebabkan kerugian! Saya tidak mau disalahkan soal ini!!” ucap lelaki itu sambil memegangi tangan Sandrina.
“Tidak Pak! Saya tidak sengaja!” ucap Sandrina sambil mencoba melepaskan tangannya.
“Ada apa ini??” seorang pemuda datang mendekati mereka.
Sandrina dan sopir itu terhenyak. Terlebih lagi Sandrina. Ia tak menyangka akan bertemu dengan lelaki arogan itu lagi. Sandrina langsung menekuk wajahnya saat tahu mobil yang ia tabrak milik lelaki itu.
Bersambung...