Tuan Wijaya menatap anak semata wayangnya dengan tajam. Devan pun melayangkan pandangan kekesalan pada ayahnya.
“Ada apa Devan? Apa kamu ingin menentangku??” tanya Tuan Wijaya.
“Pa, ini di luar kesepakatan!” seru Devan membuat Sandrina kaget.
Bu Desy dan Sandrina tidak tahu masalah anak dan ayah itu. Suasana menjadi cukup panas. Namun, dua wanita itu tak tahu harus berbuat apa.
“Semuanya sudah sesuai dengan kesepakatan kita.”
“Tapi aku tidak mau memiliki sekretaris dekil, bodoh, dan berandalan itu!” ucapan Devan kembali menusuk hati Sandrina
Merasa tak tega, Bu Desy menepuk-nepuk pundak Sandrina. Sandrina masih berdebar-debar melihat apa yang terjadi. Ia sepenuhnya bingung dengan keadaan itu.
“Apa kalian sudah saling mengenal?? Kenapa kamu berani menyimpulkan tentang gadis ini?” tanya Tuan Wijaya sambil tersenyum.
“Huh!! Siapa juga yang sudi mengenal wanita seperti dia!!” ucap Devan kesal.
Sandrina menatap wajah Devan. Lelaki itu benar-benar tak menginginkan kehadirannya. Sandrina yang menundukkan kepala mencoba mengangkat wajahnya.
“Tuan Wijaya, maaf, saya sebenarnya tidak tahu dengan apa yang sedang terjadi. Saya malah jadi bingung. Sebenarnya kenapa saya di sini? Maaf kalau kehadiran saya membuat masalah,” ungkap Sandrina canggung.
“Kamu tidak ada salah apapun dalam hal ini,” kata Tuan Wijaya dengan tenang.
Sandrina mengatupkan bibirnya. Ia sangat bingung harus berkata apa. Situasi yang sangat aneh baginya.
Tuan Wijaya memberikan isyarat pada Bu Desy. Tak lama wanita itu mengajak Sandrina keluar. Langkah Sandrina lemas lunglai.
‘Kalau memang jadi cleaning service di sini saja sudah besar gajinya, lebih baik aku di posisi itu. Daripada seperti ini. Sebenarnya apa yang dimaksudkan Tuan Wijaya. Kenapa beliau begitu mengistimewakan aku? Padahal aku baru melihat orang itu pertama kali ini. Apa sebenarnya yang terjadi??’ batin Sandrina sungguh tak tenang.
Sandrina duduk di sebuah bangku bersama Bu Desy. Wanita di sampingnya sangat baik pada Sandrina. Mungkin semua itu juga karena keistimewaan yang diberikan oleh Tuan Wijaya padanya.
“Bu, sebenarnya apa yang sedang terjadi?? Saya jadi merasa tidak enak. Jujur saya tidak tahu apa-apa,” ucap Sandrina polos.
“Sudahlah itu urusan Tuan Wijaya dengan Tuan Muda Devan. Kita sebagai bawahan tak berhak ikut campur,” jawab Bu Desy.
“Baik Bu,” sahut Sandrina.
Sementara di dalam suasana masih cukup tegang. Tuan Wijaya dan Devan sudah duduk di sofa yang ada. Namun, mereka tetap memasang wajah saling kesal.
“Papa seharusnya menghargaiku,” ucap Devan.
“Buat apa aku menghargai manusia yang tidak bisa menghargai orang lain. Tidak sepantasnya kamu mengatakan gadis itu dengan kata-kata seperti itu. Dia gadis baik, sopan, dan sederhana. Dia pilihan papa. Dia yang akan menjadi sekretarismu!” ucap Tuan Wijaya.
“Nggak bisa gitu dong Pa! Aku bisa mencari karyawan sendiri. Jadi Papa jangan seenaknya,” tolak Devan.
“Apa kamu sudah rela kehilangan semua kekayaan ini?? Apa kamu sudah tak ingin jabatan tinggi??”
“Papa selalu mengekangku dengan berbagai ancaman. Sebentar lagi Papa pasti akan mengancamku. Papa akan mengambil semua fasilitas yang diberikan padaku saat aku tidak menuruti perintah Papa. Papa orang tua yang otoriter!!” ucap Devan dengan rahang mengeras.
“Rasanya hanya itu yang bisa membuatmu berhenti bermain wanita!!” ucap Tuan Wijaya dengan tatapan geram.
Devan terlihat begitu kaget. Ia tak menyangka ayahnya tahu tentang hal itu. Sejak kematian ibunya dan patah hati yang sangat parah, Devan tak pernah menganggap wanita sebagai makhluk yang harus dicintai dan disayangi.
Ia malah memainkan wanita yang ia inginkan sesuka hati. Devan mengepalkan tangannya dengan erat. Ada sebongkah kemarahan yang siap meledak. Namun, di depan ayahnya, ia tak berani meluapkan semuanya.
Bagaimanapun, Devan Wijaya bukanlah siapa-siapa tanpa ayahnya. Kekuasaan dan kekayaan yang didapatkannya saat ini adalah pemberian ayahnya. Devan hanya bisa diam.
“Papa tahu, sepak terjangmu selama ini. Di alam sana, mama pasti sangat kecewa melihat anak laki-lakinya seperti ini. Sudah berapa wanita yang menjadi korbanmu??” tanya Tuan Wijaya.
Kini obrolan sudah beralih. Bukan lagi masalah Sandrina, Tuan Wijaya justru menguak masalah yang tak pernah ia bahas sebelumnya. Sudah sejak lama Tuan Wijaya menyelidiki kelakuan anak laki-lakinya.
“Mereka bukan korban Pa. Jangan mengkambinghitamkan aku seorang. Aku melakukan semua ini karena sebuah alasan. Dan, asal Papa tahu, hubunganku dengan wanita-wanita itu layaknya simbiosis mutualisme. Saling menguntungkan. Mereka dapat uang dari apa yang mereka lakukan,” jelas Devan.
“Devan, kamu sudah tersesat!! Aku tak menyangka akan memiliki anak laki-laki dengan kelakuan b***t seperti dirimu!!” ucap Tuan Wijaya sangat geram.
“Kenapa Papa begitu kolot?? Hal itu biasa Pa. Bukan cuma aku yang melakukannya!”
“Baiklah, kalau kamu masih ingin keras kepala seperti ini, Papa akan ambil keputusan. Semua warisan keluarga Wijaya akan aku sumbangkan untuk orang yang membutuhkan dan kamu tak akan mendapatkan apapun. Bahkan uang sepeserpun,” ucap Tuan Wijaya sambil beranjak dari tempat duduknya.
Wajah Devan terlihat begitu panik. Keringat dingin sudah membasahi tubuhnya. Jelas saja anak manja dan arogan itu tak bisa hidup tanpa harta. Devan mendekati ayahnya dan memegangi tangannya.
“Pa, maafkan aku. Aku belum siap kehilangan semuanya,” rengek Devan.
Tuan Wijaya berhenti. Tatapannya masih saja tajam bak singa yang begitu marah. Devan mulai bertekuk lutut di hadapan Tuan Wijaya.
“Maafkan aku Pa. Aku akan berusaha berubah,” ucap Devan sambil menundukkan kepala.
Tuan Wijaya menghela napasnya panjang. Semarah apapun dirinya, ia tetaplah seorang ayah. Orang tua tunggal dari Devan sejak sepuluh tahun yang lalu.
“Baiklah, aku akan memaafkanmu. Sebagai gantinya, kamu harus menerima Sandrina menjadi sekretarismu. Kamu juga harus memperlakukannya dengan baik. Dan jaga mulutmu!! Jangan sampai kamu membuatnya sakit hati dengan omonganmu yang kasar itu!!” tegas Tuan Wijaya dengan wajah serius.
“Tapi Pa, aku tak bisa menerima gadis jengkol itu,” tolak Devan.
Plak!!
Tamparan keras menghujam pipi Devan. Agaknya kali ini, Tuan Wijaya benar-benar tidak main-main. Devan membeku di tempatnya sambil memegangi pipinya yang perih.
“Aku tak mau mendengar alasan lagi!! Ingat, jangan main-main dengan keputusan Papa!!” ancam Tuan Wijaya.
“Ba—Baik Pa. Aku akan menerima Sandrina sebagai sekretarisku,” ucap Devan pasrah.
“Baguslah! Dia gadis yang baik! Satu lagi, jangan panggil dia gadis jengkol. Karena ini di kantor, panggillah dia Bu Sandrina!” tegas Tuan Wijaya sebelum meninggalkan ruangan Devan.
“Iya Pa,” jawab Devan.
Saat pintu ruangan itu terbuka, Bu Desy dan Sandrina segera berdiri menyambut Tuan Wijaya. Tuan Wijaya berhenti dan menebarkan senyuman pada dua wanita itu.
“Sandrina, selamat datang di perusahaan kami. Bekerjalah dengan baik. Kalau ada yang membuatmu tak nyaman, segera bilang pada saya,” ucap Tuan Wijaya.
“Baik Tuan,” jawab Sandrina sambil menunduk penuh hormat.
“Dan, aku minta Bu Desy juga menjaga Sandrina ya,” ucapan Tuan Wijaya kali ini menjadi kode keras untuk Bu Desy agar mengistimewakan Sandrina.
“Siap Tuan,” sahut Bu Desy.
“Baguslah, aku sudah lebih lega. Sampai jumpa,” pamit Tuan Wijaya.
Mereka memandangi kepergian Tuan Wijaya sampai orang itu tak kelihatan. Kali ini wajah Bu Desy berbinar bahagia saat menatap Sandrina.
“Baiklah, mari saya antar ke ruangan sekretaris CEO,” ajak Bu Desy.
Sandrina mengangguk cepat. Ruangannya ternyata bersebelahan dengan ruangan Devan. Saat dibuka, ruangan itu begitu mewah bagi Sandrina.
“Dari sini, kamu bisa melihat beberapa karyawan lain yang bekerja langsung di bawahmu,” ucap Bu Desy.
Bu Desy menunjukkan ruangan transparan yang memungkinkannya untuk melihat beberapa pekerja lainnya. Ada sebuah pintu yang menuju langsung ke ruangan-ruangan berikutnya.
“Bu, tapi saya belum tahu bagaimana pekerjaan saya yang sebenarnya,” ucap Sandrina canggung.
“Soal itu, nanti akan ada Pak Andrian. Dia ditugaskan langsung untuk memberikan training padamu,” kata Bu Desy.
“Jadi sekarang apa yang harus saya lakukan??” tanya Sandrina seperti kehilangan arah hidupnya.
Bu Desy tersenyum. Sandrina masih begitu polos. Padahal dia akan menjadi sekretaris perusahaan.
“Bacalah ini, dan kamu bisa menunggu Pak Andrian datang,” ucap Bu Desy.
“Baik Bu,” jawab Sandrina.
Bu Desy pergi dan Sandrina mencoba tempat duduknya. Ia tersenyum sesaat saat menyadari semua kenyataan itu.
“Akhirnya aku mendapatkan pekerjaan!” seru Sandrina senang.
“Ya meski aku harus banyak belajar, aku harus lebih semangat,” tambahnya.
Tiba-tiba seseorang memanggilnya melalui interkom. Sandrina harus segera menuju ke ruangan Devan. Wajahnya yang sudah sempat tersenyum kembali kusut.
Sandrina berjalan ke ruangan Devan. Sesampainya di sana, lelaki itu menatap Sandrina dengan penuh kebencian. Rupanya nasehat ayahnya tak ia hiraukan dan semua penyesalannya hanyalah drama.
Dengan badan gemetar, Sandrina duduk di kursi yang ada di seberang Devan. Ia menunduk wajahnya.
‘Apa lelaki ini hendak meminta ganti rugi soal mobilnya tadi pagi??’ tanya Sandrina dalam hati.
“Tatap wajahku!!” perintah Devan.
Bersambung...