Bab.6 Obrolan dengan Bos!

1093 Words
  Sandrina masih menundukkan kepalanya. Ia takut dimintai ganti rugi atas mobil yang tidak sengaja ia tabrak tadi pagi. Beberapa kali Sandrina menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Gadis itu mulai berkeringat.   “Hei, kamu bisa mendengar suaraku kan??” tanya Devan mulai naik pitam.   “B—bisa,” jawab Sandrina lirih.   “Tatap wajahku!! Cepat! Atau aku akan memecatmu!”   “Baik Pak,” jawab Sandrina sambil mengangkat wajahnya.   Kini mereka saling menatap. Sandrina mengakui kalau lelaki di depannya sangat tampan. Hidungnya, matanya, bibirnya, pipinya dan semua aspek yang ada di wajahnya begitu sempurna. Sungguh ciptaan Tuhan yang begitu indah.   Entah kenapa Sandrina malah terhanyut dalam semua itu hingga ia tidak sadar kalau Devan mulai mendekatinya. Sandrina begitu kaget saat Devan menyentuh dagunya. Tatapannya begitu dalam dan membius. Beberapa kali Sandrina menelan salivanya.   Ia hanya mampu berdiri kaku. Siapa sangka Devan akan menyentuhnya. Tidak ada yang tahu isi pikiran Sandrina. Yang jelas, wanita itu diam tanpa kata. Ia juga tidak menolak sentuhan dari sang pria tampan di depannya.   “Sebenarnya apa yang membuat Papa merekomendasikan wanita sepertimu??” tanya Devan.   “Saya tidak tahu apa yang bapak maksudkan,” jawab Sandrinya dengan suara bergetar.   “Cih!! Wanita penjilat sepertimu! Apa kamu sengaja membujuk Papaku?? Atau kamu menggunakan ilmu hitam semacam pelet? Kenapa Papaku bisa memandang wanita sepertimu lebih baik daripada kandidat yang lain??” tanya Devan sambil terus menatap Sandrina dengan kesal.   “Saya tidak tahu. Sungguh! Saya mendaftar kerja seperti layaknya pencari kerja lainnya. Saya juga tidak mengenal Tuan Wijaya sebelumnya. Melihatnya saja baru sekali ini.”   “Jangan berbohong!! Katakan yang sebenarnya! Tidak mungkin Papa memilihmu tanpa alasan!” desak Devan.   “Aku tidak berbohong,” jawab Sandrina pasrah.   Dengan kekesalannya Devan memegangi kedua pipi Sandrina dengan satu tangannya hingga gadis itu kesakitan. Devan begitu terbawa emosi melihat Sandrina.   “Sa-sakit Pak,” ucap Sandrina tak lagi bisa menahan pipinya yang lama kelamaan menjadi merah.   “Katakan yang sejujurnya!” paksa Devan.   “Saya sudah mengatakannya dengan jujur!” tegas Sandrina.   Devan melepaskan gadis itu. Ia berbalik ke tempat duduknya. Ia duduk dengan napas tidak teratur. Kekesalan begitu tampak jelas di wajahnya. Sementara Sandrina masih memegangi pipinya yang terasa sakit.   “Sebenarnya apa masalah bapak sampai memperlakukan saya seperti ini?” tanya Sandrina memberanikan diri.   “Apa?? Kamu masih bertanya soal itu? Coba lihat dirimu! Apa yang istimewa darimu?” tanya Devan.   Sandrina terdiam. Ia juga tahu diri. Ia tidak terlalu pintar. Ia juga bukan wanita cantik. Badannya agak gemuk dan ia jarang merawat diri. Bahkan tak ada riasan sedikitpun di wajahnya.   Namun, dalam hati kecil Sandrina, ia tidak bisa menerima disepelekan oleh bosnya sendiri. Wajah Sandrina menjadi kusut bak cucian yang belum disetrika. Sementara Devan masih menatapnya dengan sinis dari ujung kepala sampai ke ujung kaki.   "Kenapa diam?? Apa kamu sudah sadar diri? Makanya jadi cewek jangan belagu!!" tegas Devan.   "Siapa juga yang belagu! Anda memang bos saya! Tapi Anda perlu belajar menghargai orang lain!" akhirnya Sandrina tidak bisa menahan emosi dalam dirinya sendiri.   Ia marah karena lelaki yang ia temui itu selalu mencela fisiknya. Beberapa kali mereka bertemu, selalu saja masalah fisik dan penampilan yang ia nilai dengan matanya. Bagi Sandrina, Devan tidak pernah menilainya dengan hati.   "Lho kok kamu ngelunjak lagi! Apa kamu pikir aku akan takut? Ingat, kamu masih punya hutang padaku!" ucap Devan dengan ekspresi yang begitu dingin.   "Baiklah, berapa hutangku?? Akan aku bayar setelah gajian," kata Sandrina.   "Yakin kamu bisa bayar?? Gajimu lima bulan di sini tidak akan cukup untuk menbayarnya. Apa kamu sudah siap tidak gajian selama lima bulan?" tanya Devan.   Sandrina membulatkan matanya saat mendengar perkataan Devan. Ia tidak menyangka ganti rugi untuk mobil Devan akan sebesar itu. Sandrina kembali terhenyak. Kalau sampai ia tidak gajian dalam waktu yang begitu lama, bisa saja ibunya akan marah-marah atau mungkin menuduhnya berbohong sudah bekerja.   'Buset dah!! Mahal sekali ganti ruginya? Jangan-jangan dia sengaja balas dendam karena aku sempat meminta ganti rugi yang cukup mahal untuk motorku,' batin Sandrina.   "Jangan diam saja. Jadi bagaimana?? Apa kamu sudah siap nggak gajian selama lima bulan?" tanya Devan.   "Apakah ada yang bisa aku lakukan agar aku tetap gajian?? Semisal dipotong berapa gitu tiap bulannya. Nah, aku akan nyicil meski sampai satu tahun," ucap Sandrina sambil mencoba tersenyum.   "Enak saja! Kamu pikir aku bank pengkreditan?? Aku nggak punya waktu untuk mengurus hal begituan," ucap Devan semakin kesal.   "Nah, bapak kan sudah kaya. Bahkan kekayaannya mungkin tidak akan habis tujuh turunan. Jadi banyak-banyaklah bersedekah. Boleh kok bersedekah sama saya. Saya ini orang nggak mampu pak. Kalau bapak bersenda, niscaya hidup bapak akan lebih berkah. Saya juga akan selalu mendoakan bapak agar bahagia dan sehat selalu. Jadi ikhlaskan saja ya. Saya yakin bapak sangat mampu memperbaiki mobil itu sendiri," ucap Sandrina ramah.   "Duh!! Lama-lama kamu kayak sales ya! Tiba-tiba marah. Lalu, bisa ramah seperti ini. Semua bukan masalah mampu atau tidak mampu. Tapi maslaah tanggung jawab. Kamu ingin lari dari kesalahan yang sudah kamu perbuat?? Rasanya aku ingin segera memecatmu!" ucapan Devan terdengar sangat menyakitkan bagi Sandrina yang baru mulai bekerja.   Sandrina menghela napas panjang. Sudah cukup lama ia meladeni obrolan dengan bosnya itu. Tidak ada yang menyenangkan dan perkataan Devan malah membuat hatinya semakin sakit.   "Kalau memang itu yang bapak inginkan, saya bisa apa?" kali ini Sandrina sudah sangat malas berada dalam percakapan itu.   "Huh!! Memang susah ya! Kalau saja Papa nggak memilihmu, pasti aku bisa memecatmu dengan mudah!!" kata Devan sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.   'Wah,, dia terlihat sangat tampan saat rambutnya berantakan. Bahkan berkali-kali lipat lebih manis,' puji Sandrina dalam hati.   Tanpa sadar, Sandrina tersenyum melihat pemancangan yang menyejukkan mata itu. Siapa sangka, Devan malah semakin kesal.   "Dari pada kamu senyam-senyum nggak jelas gitu! Lebih baik kamu pergi sekarang!!" perintah Devan membuyarkan lamunan Sandrina.   "Baik Pak," ucap Sandrina sambil pergi dari ruangan itu.   Sore harinya saat Sandrina pulang, wajahnya sudah begitu letih. Seharian ia belajar banyak hal dari Pak Andrian. Belum lagi ia juga terus terpikirkan ucapan-ucapan Devan yang membuat beban hidupnya semakin tambah berat.   Sementara di tempat lain, Devan sedang bersama seorang wanita. Bagi Devan menjadi mencari seorang wanita yang cantik, muda dan menawan tidaklah susah. Bahkan hanya dengan menjentikkan jarinya saja, ia sudah bisa mendapatkannya.   Vania gadis yang bersama Devan sudah hampir satu tahun menjalin hubungan dengan Devan. Hubungan mereka sudah sangat dekat. Bahkan Devan sudah membelikan gadis itu apartemen. Saat lelah dan jenuh, Devan sering menghabiskan waktu bersama gadis itu.   "Sayang, apa kamu tidak bosan dengan hubungan seperti ini??" tanya Vania.   "Maksud kamu??" Devan balik bertanya sambil merenggangkan pelukannya.   "Bukankah kita sudah lama menjalin hubungan. Bagaimana kalau kita menikah?" pertanyaan Vania membuat Devan terlihat kesal.   Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD