"Apa kamu sudah bosan dengan hubungan ini?" tanya Devan dengan tatapan serius.
"Bukan begitu sayang. Justru karena aku ingin terus bersamamu, jadi aku ingin menjadi pendamping hidupmu selamanya," jawab Vania.
"Apa kamu lupa bagaimana perjanjian kita?"
Mendengar pertanyaan Devan, Vania terdiam. Jelas saja ia tidak pernah lupa kalau Devan hanya menjadikannya wanita penghibur saja. Devan hanya akan mengirim pesan atau mendatanginya langsung saat dia membutuhkan Vania.
Selebihnya, Vania tidak berhak cemburu apalagi meminta hal yang lebih. Namun, sebagai seorang perempuan, Vania sepertinya sudah bosan diperlakukan seperti mainan. Ia mulai menuntut lebih. Devan bangkit dari tempat tidur tempat mereka duduk bersama.
"Tunggu Mas. Kamu mau kemana? Bukankah kita belum selesai melepas rindu?" tanya Vania.
"Aku sudah hilang rasa setelah mendengar pertanyaanmu! Aku masih punya banyak wanita lain yang mau memelukku dan menghiburku dengan suka rela tanpa banyak protes sepertimu!" ucap Devan kesal.
"Maafkan aku. Aku tidak akan pernah mengatakan hal seperti itu lagi. Sekarang kembalilah sayang. Aku sangat merindukanmu," ucap Vania.
Devan masih terdiam di tempatnya. Ia tidak langsung kembali ke tempat tidur meski Vania menarik tangannya. Ada sebongkah kekesalan di hatinya. Sejak masa lalunya yang kelam, Devan tidak ingin menjalin hubungan terlalu dalam dengan wanita.
Jangankan berpikir untuk menikah dan punya anak. Devan tidak pernah ingin jatuh cinta. Baginya, cinta hanya memberikan rasa sakit dan kekecewaan di hati. Devan mengusap wajahnya mencoba melupakan bayangan masa lalu yang mulai muncul di benaknya.
Vania pun memeluk Devan. Beberapa kali ia merayu lelaki itu agar melupakan perkataanya tadi. Akhirnya Devan luluh kembali. Ia merebahkan badannya kembali ke tempat tidur.
"Sayang, aku sangat merindukanmu," bisik Vania mulai menggoda hasrat di dalam diri Devan.
"Aku akan memaafkanmu asal kamu memberikan sesuatu yang beda untukmu hari malam ini," ucap Devan dengan wajah datar.
"Baiklah," sahut Vania sambil memulai malam yang akan penuh dengan peluh itu.
Mereka mulai memadu kasih. Vania begitu terampil membuat Devan mabuk kepayang. Wanita itu seolah sudah tahu titik-titik kenikmatan yang Devan sukai. Sentuhan Vania begitu lembut dan pas hingga keperkasaan dalam diri Devan bangkit kehausan.
Vania dan Devan mulai tenggelam dalam lautan kenikmatan. Mereka bergerak mengikuti irama hasrat yang saling bertautan. Mereka tidak lagi mempedulikan napas yang terengah-engah dan keringat yang mulai membanjiri tubuh mereka.
Vania tersenyum senang saat Devan mulai berada dalam puncak kenikmatan. Tiba-tiba Vania memeluk Devan dengan erat sambil menggerak-gerakkan pinggulnya dengan cepat. Mungkin saja Vania berharap Devan akan semakin terbuai. Namun, Devan malah terlihat marah.
Dengan sekuat tenaga, Devan menjauhkan diri dari Vania. Cairan hangat itu akhirnya membasahi permukaan kulit perut Vania. Wanita itu tampak kecewa. Sebenarnya Vania ingin Devan menumpahkan benih kehidupannya di dalam perutnya.
Wajah Devan tampak marah. Ia memang tidak pernah memakai pengaman saat melakukan hubungan. Devan tidak menyangka kalau Vania akan melakukan cara licik untuk menjebaknya. Devan sudah mengangkat tangannya untuk menampar wanita itu. Namun, ia mengurungkan niatnya.
"Apa kamu sengaja ingin menjebakku??" tanya Devan ketus.
"Aku tidak bermaksud menjebakmu sayang. Aku hanya ingin memiliki anak darimu," ucap Vania.
"Cih!! Rupanya kamu sudah benar-benar bosan menjalin hubungan denganku? Baiklah, kalau seperti itu, lebih baik kita selesaikan sampai di sini!" kata Devan.
"Maksud kamu??" tanya Vania.
"Ya anggap saja kita tidak pernah kenal. Aku akan berikan uang yang banyak untukmu. Jadikan itu sebagai bekal untuk pergi sejauh-jauhnya dari hidupku!!"
"Tapi kenapa?? Aku hanya ingin memiliki anak darimu. Setelah anak itu lahir, aku yang akan mengurusnya sendiri. Kamu tidak akan kerepotan. Seperti itu saja sudah cukup. Aku akan sangat senang kalau bisa menjadi tempat benihmu tumbuh," jelas Vania.
"Jangan kamu pikir aku begitu bodoh!! Apa akan ada jaminan kalau kamu tidak akan menuntut hal yang lebih lagi?? Seperti meminta warisan untuk anakmu atau menjadi nyonya Devan?? Aku tidak akan tertipu semudah itu!" tegas Devan.
"Kenapa kamu berprasangka seperti itu?? Aku tulus mencintaimu," kata Vania.
"Bohong!! Jaman sekarang tidak ada wanita yang tulus mencintai seorang lelaki. Semuanya mata duitan. Bahkan kalau aku tidak kaya, mana mungkin kamu mau denganku. Jadi sekarang begini saja. Kita akhiri bisnis ini sampai di sini. Jangan coba-coba menentangku!!" perintah Devan.
"Sayang, aku mohon, pertimbangkan semuanya. Aku sangat mencintaimu. Aku tidak bisa hidup tanpamu," rengek Vania sambil memeluk lengan Devan yang sudah beranjak dari tempat tidur itu.
Devan hanya menganggap hubungan mereka sebagai bisnis belaka. Setelah ia memperoleh kesenangan dan kenikmatan, Devan akan membayar sejumlah uang. Devan juga tidak pernah berbicara soal cinta di depan wanita-wanitanya. Semua hanya ia anggap bisnis.
Bukan sepasang kekasih di mata Devan, tapi lebih tepatnya rekan bisnis. Devan menawarkan hubungan dengan simbiosis mutualisme atau saling menguntungkan. Bukan saling ketergantungan. Suatu saat bisnis itu tentu bisa berakhir begitu saja. Sudah cukup banyak wanita yang Devan tinggalkan karena mereka mulai berulah. Seperti hal yang akan terjadi pada Vania kali ini.
"Sayang sekali! Aku tidak percaya dengan apa itu cinta!!" ucap Devan sambil melepaskan diri dari pegangan Vania.
Vania hampir jatuh karena Devan agak mendorongnya. Devan segera membereskan pakaiannya. Dalam beberapa menit Devan sudah rapi kembali. Ia mengambil smartphone-hya dan terlihat serius mengutak-atik layarnya. Devan sedang membuka mobile banking-nya.
"Jangan mendekatiku lagi atau aku akan gunakan kekerasan!" ancam Devan saat tahu Vania hendak mendekatinya lagi.
Vania mendengus kesal. Sepertinya ia sudah tidak punya kesempatan lagi. Wanita itu terduduk lemas di tepi tempat tidur. Vania menatap Devan dengan wajah sendu. Ia tahu, nasib hubungannya dengan CEO perusahaan besar itu sudah berada di ujung tanduk atau malah akan segera kandas.
"Aku sudah transfer uang ke rekeningmu. Apartemen ini buat kamu saja. Jadi jangan menggangguku lagi!" ucap Devan sambil menuju ke pintu keluar.
“Aku tidak membutuhkan semua itu! Aku hanya membutuhkanmu!” teriakan Vania tidak lagi didengar oleh Devan.
Blar!!
Pintu tertutuo dengan suara cukup keras. Vania tidak bisa melakukan apapun. Devan sudah benar-benar meninggalkannya. Mungkin lelaki itu tidak akan mengingat-ingat dirinya lagi.
Devan Wijaya, sang CEO tampan ini memang tidak percaya dengan cinta semenjak kejadian itu. Wanita yang sangat ia sayangi menduakannya. Devan begitu terpukul saat itu karena semua yang ia miliki sudah ia berikan.
Tidak hanya hati dan cintanya ataupun hartanya. Devan bahkan siap mati untuk wanita itu. Namun, semua itu dibalas dengan sakit hati yang tidak berujung hingga Devan menjadi seperti sekarang ini. Hatinya sedingin es.
"Cih!! Apa itu cinta! Aku tidak percaya dengan cinta!!" ucap Devan sambil mengendarai mobilnya.
Dalam kegelapan malam dan jalanan yang sudah mulai sepi, Devan malah semakin mengingat wajah mantan kekasihnya yang sudah memporak-porandakan hatinya. Wajah Camelia hadir begitu saja. Beberapa kali Devan mengusap wajahnya sendiri dan memijat pelipisnya sendiri. Namun, itu tidak berguna sama sekali.
“Sial!! Setidaknya bebaskan aku dari bayangan wanita tak tahu diri itu!!” teriak Devan frustasi.
Malam memang sudah larut, Devan memutuskan untuk pulang. Ia sudah terlalu jenuh dengan kehidupannya hari itu. Ia melihat jam tangannya, sudah hampir dini hari.
"Aku yakin Papa sudah tidur," bisik Devan sebelum turun dari mobilnya.
Devan masuk ke rumahnya yang lebih mirip dengan istana itu. Ia sengaja melangkah dengan pelan agar tidak ada yang tahu dia pulang meski beberapa petugas keamanan rumahnya sudah melihatnya.
"Darimana kamu?? Apa kamu baru saja tidur dengan wanitamu?? Aku tidak menyangka akan punya anak laki-laki sepertimu!!" suara Tuan Wijaya menghentikan langkah Devan.
Bersambung...