Chapter 2 - Harus Mecoba
Melbourne...7 tahun kemudian
Saat ini Diana berusia 24 Tahun. Tinggi sekitar 165 cm. Not bad lah buat seorang wanita... Sudah 7 tahun Diana tinggal di Melbourne, sekolah dan tinggal di sini membuatnya melupakan jati diri dan dendam pada keluarga Aldo. Diana bekerja di sebuah kantor yang bonafit dengan segala fasilitas yang diberikan dan gaji yang luar biasa. Lebih tinggi daripada teman – teman seangkatannya di kantor tersebut. Diana sangat cepat untuk naik jabatan. Pada usia yang ke 24 tahun, ia sudah menjadi manager di sebuah perusahaan IT.
Kebetulan hari ini libur, jadi Diana piker, ia akan mengerjakan projectnya yang tertunda terlebih dahulu, agar besok saat presentasi, semua sudah tersedia. Saat Diana sedang mengerjakan tugas kantornya di rumah di temani secangkir kopi hitam dan biscuit almond kesukaannya. Tiba – tiba pintu kamar terbuka dan muncullah sosok wanita paruh baya kesayangan Diana, Lani Wijaya. Lani langsung duduk di tepi ranjang untuk berbincang dengan Diana tentang rencana balas dendam yang telah ia rencanakan selama 7 tahun.
"Di, udah tiba saatnya." Perintah Lani.
"Saatnya untuk??" Tanya Diana sambil mengerenyitkan dahi dan menghentikan ketikan di laptopnya.
"Saatnya balas dendam keluarga kita terhadap keluarga Sailendra." Jelas Lani dengan berapi-api.
"Ya ampun ma... itu udah lama berlalu, apa kita gak bisa melupakannya saja?" Diana menjawab malas mendengarkan rencana yang sudah bertahun – tahun Lani gaungkan dan akhirnya melanjutkan pekerjaan kantornya yang tertunda.
"Gak.. kamu harus lakukan itu!!" Perintah Lani dengan nada lebih tinggi.
Diana hanya terdiam dan bingung untuk berbicara, karena terus terang ia sangat malas untuk melanjutkan rencana ini, hidupnya sudah damai bersama Lani di Melbourne. Itu saja sudah cukup, hanya ada Diana dan Lani, tidak ada orang lain lagi. Tidak perlu balas membalas, karena hal tersebut tidak akan berakhir. Looping forever.
"Di, kamu harus mencoba mendekati Aldo." Perintah Lani menyentak lamunan Diana.
"Tapi kenapa harus aku, Ma? Aku gak mau, aku mau jalani hidup dengan normal tanpa di paksa harus mendekati siapapun." Jawab Diana kesal.
“Kalau bukan kamu, siapa lagi?” Tanya Lani kesal. “Mama sudah merencanakan balas dendam ini sejak 7 tahun yang lalu. Mama melakukan segala cara selama 7 tahun untuk memuluskan rencana ini. Dan sekarang kamu bilang kenapa harus kamu?”
Lani sangat marah, karena bisa – bisanya Diana melupakan tentang kejadian 7 tahun lalu yang menghancurkan seluruh keluarga mereka. Rencana balas dendam yang harus terealisasi dengan lancar. Tapi Diana tidak mau. Apakah anak ini tidak ingat tentang apa yang ia janjikan 7 tahun lalu? Batin Lani.
“Ma, aku…..”
Rasanya sangat tidak ingin mengulang kembali kepedihan 7 tahun lalu. Apakah kita tidak bisa berdamai dengan masa lalu? Masa depan lebih penting bukan? Aku selalu berharap jika aku dan mama menjadi suatu keluarga yang hidup dengan normal. Tanpa ada rasa dendam sama sekali. Tapi sepertinya itu sangat sulit untuk mama. Gumam Diana dalam hati.
"Maaf, Di. Tapi kita harus membalas semua kemalangan yang kita peroleh dari keluarga Aldo. Kamu gak lupa kan, Papa meninggal karena siapa?" Lani mulai terisak, mengingat kenangan akan suami dan anak lelakinya, Marco yang paling ia sayangi.
"Tau ma, karena keluarga Aldo kan. Mereka membuat keluarga kita bangkut, sampai papa terkena serangan jantung, meninggal......dan harta kita semua jatuh ke keluarga Aldo." Diana menghela napas untuk kesekian kalinya ingatan akan papanya meninggal harus terlintas dan dibicarakan dengan mamanya. Berat rasanya mengingat kejadian buruk 7 tahun lalu. Membuat d**a sesak seakan tidak ada oksigen yang mengalir di darahnya. Dan yang paling memberatkan dari semuanya adalah harus betemu dengan Aldo dengan cara yang sangat buruk. Cara balas dendam.
"Itu tau. Kita harus mengambil semua yang kita miliki. Mereka itu curang sayang....mereka sangat tega pada keluarga kita. Padahal keluarga kita sudah berteman lama dengan mereka." Lani langsung menggenggam tangan Diana untuk lebih meyakinkan dan memantapkan keinginannya pada Diana.
"Ya ma, Diana tau. Tapi ……”
“Tapi apa Di????” Lani lebih mendekatkan diri dan mengelus pipi Diana dengan lembut. Menekan emosi yang ada di dalam dirinya.
“Ma, Diana gak mau deketin Aldo dengan cara begini. Diana… Diana sayang Aldo, Ma.” Diana menunduk takut dimarahi mama kesayangannya.
Lani tak dapat berkata apapun. Ia terdiam dan sedikit mematung mendengar Diana sayang kepada Aldo. Dalam kepalanya banyak pertanyaan yang harus ia ungkapkan, tapi harus ia tahan agar rencananya berjalan mulus dan Diana menuruti semua keinginannya.
“Ma……”
Lani masih terdiam dan ingin merangkai kata, tapi rasanya mulutnya terkunci. Lani terlihat mematung dengan ucapan Diana.
“Ma, Diana bingung apa yang harus Di lakukan dengan acara balas dendam ini." Rasanya Diana ingin berteriak dan protes terhadap mamanya, tapi aku tak tau bagaimana caranya. Hidup di sini sudah baik dan sempurna mengapa seolah semua sia-sia dengan harus mendekati Aldo, Aldo yang paling Diana sayangi hanya untuk dendam? Sangat tidak rela, tapi tidak bisa berbuat apapun.
Lani masih tidak menjawab ucapan Diana. Menahan semua emosi yang tidak bisa diungkapkan.
"Ma, Aldo itu sangat baik, Mama jangan menghancurkan dia. Jika mama benci keluarga Aldo, hancurkan saja kedua orang tuanya. Tapi Di gak tau caranya." Diana putus asa dan hanya bisa menahan tangis sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Di, mereka semua tau kalau kamu itu udah meninggal karena kecelakaan 7 tahun lalu. Muka kamu di operasi plastik dan sangat berbeda dengan Diana yang dulu mereka kenal. Kamu sudah tau segalanya tentang Aldo, pasti tidak sulit untukmu mendekatinya lagi. Ambil seluruh hartanya dan tinggalkan dia dalam kehancuran. Sudah, itu saja tugas kamu." Jelas Lani merangkai sebuah penjelasan yang masuk akal untuk Diana.
“Tapi, Ma.”
“Please, For sake of your family, Di.” Lani semakin memohon.
“Ma… Bolehkah Diana berpikir kembali?”
"Di, caranya menghancurkan keluarga Sailendra itu hanya dengan cara menghancurkan Aldo. Mereka akan hancur bersama. Please, demi papa, demi mama, dan demi kakak kamu Marco yang meninggal kecelakaan karena kamu." Pinta Lani semakin memohon.
“Ma…. Diana…” Diana semakin putus asa, rasa yang sangat berat untuk menyetujui rencana Lani.
Tiba – tiba Lani memegang d**a sebelah kiri seperti orang kesakitan, dan langsung pingsan. Diana sangat terkejut dengan Lani yang pingsan.
“Ma…Di mau lakukan apa yang mama mau, ma please jangan tinggalin Di sendiri di dunia ini. Di akan bales dendam untuk mama ke keluarga Aldo. Ma…Please.” Diana menangis dan sedikit kebingungan mencari handphone dan menelepon 000 (Emergency line untuk di australia).
Tidak lama, ambulance datang dan membawa Lani langsung ke rumah sakit.
Setelah beberapa jam menunggu, dokter keluar dan menemui Diana dengan wajah yang agak murung.
“Miss, please don’t make your mom collapse again, her heart is not ok. If she has heart attack again, maybe you will not see her again.” Jelas dokter kepada Diana. (Nona, tolong jangan membuat mama anda tumbang kembali, jantungnya tidak sehat. Jika ia mendapatkan serangan jantung lagi, mungkin kamu tidak akan melihat dia kembali)
“Thank you doctor. Can I see my mom?” (Terima kasih dokter. Bisakah saya menemui mama?)
“Sure, now she at room number 202. Make sure you don’t have a heavy talk!” Perintah dokter. (Ya, sekarang ia berada di kamar nomor 202. Pastikan anda tidak berbicara terlalu berat)
“Ok doc. Thanks.” Jawab Diana sambal langsung berlari menuju kamar yang telah diberitahu oleh dokter. (Ok dok, Terima kasih)
Setelah mencapai ruangan 202, Diana langsung berlari memeluk mamanya dan menangis sekencang – kencangnya karena mamanya terbaring lemas dan tidak membuka matanya sama sekali. Melihat keadaan orang yang paling ia sayangi dalam hidup ini terbaring lemas tidak berdaya, dengan infus, oksigen dan alat – alat yang di pasang di d**a mamanya tersayang untuk mengecek keadaan jantung mamanya yang masih pingsan.
“Ma, bangun ma, maafkan Diana terlalu egois sama mama.” Diana menangis sesegukan. Air mata berderai tiada hentinya. Diana berjanji pada diri sendiri, bahwa ia akan melakukan apapun yang diinginkan oleh mamanya. Tanpa ada kecuali.
“Ma, Di akan ikuti semua apa yang mama mau. Di janji ma. Jangan tinggalkan Di sendiri. Please.” Diana menggenggam tangan mamanya sepenuh hati dan berkata – kata sambil menangis.
Setelah 1 jam menunggu di ruangan, akhirnya Lani membuka matanya perlahan.
“Di…. ” Panggil Lani pelan.
Diana langsung berlari ke arah Lani dan segera menekan tombol panggilan kepada suster. Diana sangat bersyukur mamanya sudah sadar.
“Sebentar ma, suster akan bantu mama. Di akan menunggu di sini.” Ucap Diana sambil memegang tangan mamanya dan mengecupnya.
Dokter dan suster langsung datang dan memeriksa Lani. Terlukis rasa senang pada wajah dokter, yang mengartikan bahwa ada keadaan yang baik yang bisa diberitakan kepada Diana.
“Your mother is ok now. Please make sure what I’ve told you before about her heart.” Pinta dokter sambil menepuk bahu Diana untuk menenangkan sekaligus menekankan tentang keadaan Lani. (Mamamu sudah baik sekarang. Pastikan denga napa yang saya katakana tadi tentang jantungnya.)
“Thanks doc.” Diana mengangguk dan sangat ingat dengan apa yang dikatakan dokter sebelumnya.
Diana langsung mendekati ranjang Lani dan langsung memeluknya sambil menangis.
“Ma…please jangan sakit. Jangan tinggalin Diana sendiri. Diana akan lakukan apapun yang mama mau. Please ma.” Ucap Diana sambil menangis dalam pelukan Lani.
“Di….” Lani masih lemah untuk menjawab.
“Diana akan balas dendam ma, Diana akan lakukan.”
See you next chapter yaaa... Love you
Jangan lupa comment dan tap Love ya..... Jangan lupa di follow juga
Muach...muach..muach..
Siez