CHAP 3 – Diana is dead, Now there’s only Nathania

774 Words
Chapter 3 - Diana is dead, Now there's only Nathania Diana Wijaya tidak ada lagi di dunia. Hanya ada Nathania. Hanya ada 1 tujuan dalam hidup! Balas dendam!   Setelah 5 hari di rumah sakit, akhirnya Lani diizinkan pulang. Ia tidak langsung istirahat, tetapi ia segera pergi ke kamarnya dan mengambil sebuah berkas. Ia langsung menyodorkan berkas data mengenai perusahaan Aldo, SJH group kepada Diana. Lani sudah tidak ingin membuang waktu untuk kelancaran balas dendamnya. Sudah terlalu lama ia mengulur waktu, ini saat yang saat tepat seakan Tuhan mengizinkan rencananya berjalan sempurna. Diana menerima berkas dari Lani dan langsung membaca. “Kamu ntar jadi asisten pribadi Aldo.” Ucap Lani memulai pembicaraan. “Ya ma.” Diana tidak bisa berkata banyak, hanya bisa membaca berkas yang diberikan oleh Lani. Lani mau Diana bekerja di SJH group sebagai asisten pribadi Aldo. Karena saat ini, pekerjaan itulah yang tersedia dan yang paling sering berhubungan dengan Aldo. Diana sudah tidak bisa protes dengan semua keinginan Lani karena ia sudah berjanji untuk mengikuti semua keinginan Lani, apapun itu. "Di... lusa kamu ke jakarta ya. Ini CV kamu. Baca-baca dulu ya, jangan sampai ada salah sebut." Jelas Lani sambil memberikan kertas CV dan semua data sekolah Diana. “……..” “Kamu udah mama daftarin lamarannya di sana, dan keterima langsung, jadi kamu tinggal persiapkan diri kamu saja.” Lani merinci. "Ya ma." Dengan tegang Diana menerimanya. "Ntar mama gak ikut ke jakarta. Kamu uda mama pesenin tempat tinggal. Ada apartemen yang bisa kamu tempati. Mama udah bayar sewa selama 1 tahun." "Ok ma." Jawab Diana datar. "Itu apartemen yang sama dengan Aldo." "Iya ma." Jawab Diana datar tanpa ekspresi. Rasa terpaksa ini sudah sangat tidak bisa diabaikan. Meninggalkan kehidupan di Melbourne yang sangat indah, teman yang baik dan sangat mendukung. "Ingat... kamu harus membuat dia jatuh cinta, apapun yang terjadi. Dan satu hal lagi, jangan sampai kamu yang jatuh cinta sama dia!" Perintah Lani. "Ya ma." "Ini foto dan data diri Aldo, Jangan kamu lupakan ya! Jaga diri dan berakting lah yang terbaik demi rencana kita." "Ya ma." “Ingat Di, tidak ada cinta di sini! Tidak ada Diana Wijaya, hanya ada Nathania!” Lani memperingatkan sekali lagi dengan tegas. Ia tidak ingin Diana merusak semua rencana yang telah ia buat. Rasa dendamnya sudah di ubun – ubun, seperti terbakar dan tidak bisa dipadamkan oleh apapun juga kecuali melihat kehancuran keluarga yang membuat keluarganya hancur. Diana berlalu dengan membawa semua data yang diberikan Lani. Diana hanya bisa mengatakan Ya ma….karena tidak mungkin ia menolak. Ia cukup takut untuk melawan, takut jika mamanya akan mendapatkan serangan jantung susulan. Takut akan kehilangan satu – satunya keluarga di dunia ini. Ia tidak mau sendirian. Jadi sebaiknya ia menjadi anak penurut saja. Mungkin ini jalan Tuhan untuknya. Ia hanya bisa berdoa yang terbaik untuk semua orang. Terjebak, ya rasa terjebak yang ada di dalam otak Diana. Ini adalah jebakan maut untuk nya sendiri. Seperti makan buah simalakama, ia sayang pada Lani dan Aldo, tapi ia harus memilih. Menghancurkan salah satu dari orang yang Diana sayangi. Di kamar Diana melihat semua data mengenai Aldo Sailendra dan ia langsung ternganga melihat foto Aldo dan hanya bisa berkata “WOOOW... ganteng banget Aldo sekarang”. Tidak terlalu berbeda dengan Aldo yang dahulu. Aldo yang sangat Diana sayang. Hanya bertambah lebih maskulin dan menggoda iman. Tinggi 180 cm, rambut hitam legam, alis tebal, matanya kebiruan,  hidung yang sangat mancung, lesung pipi saat tersenyum, bibir tipis yang sensual, kulit putih bersih, bahu yang tegak dan sepertinya tubuhnya berotot. Perpaduan antara Chinese dan Jerman. You are perfect Aldo, hanya kata itu yang terlintas di benak Diana saat melihat foto dan data diri Aldo. Satu hal menggelitik saat Diana melihat data bahwa tidak ada catatan berhubungan dengan wanita manapun. Pertanyaan nakal terlintas di kepala Diana, apa Aldo gay? Masa selama 29 tahun hidup tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun? Sangat aneh untuk ukuran pria semapan Aldo. Atau ia pandai menutupi hubungannya dengan wanita? Ya mungkin Aldo punya pemikiran lain... Tidak ada yang tahu mengenai apa yang ia pikiran. Tidak mungkin kan Aldo masih menunggu dengan perjanjian antara keluarga Wijaya dan Sailendra, karena Diana Wijaya sudah meninggal, jadi sangat tidak mungkin Aldo tetap pada perjodohan. Ya sudahlah, apapun yang Aldo pikirkan sudah tidak masalah bagi Diana, yang penting rencana mamanya bisa berjalan dengan sempurna dan tanpa celah. "SEMANGAT DIANA... I CAN DO IT!!! MAKE MY MOM PROUD OF YOU!" Teriak Diana di dalam hati untuk memberikan semangat balas dendam... Semangat yang sangat tidak wajar dalam hidup.        See you next chapter yaaa... Love you Jangan lupa comment dan tap Love ya..... Jangan lupa di follow juga Muach...muach..muach.. Siez  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD