CHAP 4 – Jakarta, Here I Come

2150 Words
Chapter 4 – Jakarta, Here I Come Jakarta Ya... akhirnya Diana sampai ke Bandara Soekarno-Hatta. Bandara yang membuatnya sesak, sesak karena mulai dari sini, langkahnya tidak dapat mundur lagi. Segala rencana dan misi mama yang harus dijalankan. Misi yang menurutnya sudah tidak penting lagi, tapi terpaksa dilakukan untuk kebahagian Lani dan menebus kesalahannya pada Marco. Melihat kondisi di bandara, rasanya melihat segala kenangan manis dan pahit yang bercampur.  Sesaat kemudian Diana mencari taksi untuk membawanya ke tempat tinggal yang baru.  "Ke Apartemen X ya Pak, di kuningan." Jelas Diana pada sopir taksi. "Ya, Non." Jawab supir taksi itu. Kondisi jakarta tambah macet dan Diana menjadi penat di dalam taksi. Banyak bangunan - bangunan baru yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Maklum sudah 7 tahun ia pergi dari Jakarta, pasti banyak perubahan yang terjadi. Butuh 2 jam untuk sampai ke apartemen yang dituju. Setelah sampai apartemen, ia terkejut dengan apartemen yang di sewa oleh Lani. Apartemen mewah di daerah kuningan. Lobby indah dengan lampu kristal di atasnya. Waw, sangat mempesona segala yang ada di dalamnya. Rasa gerah dan kepanasan sangat mendera diri Diana, rasanya ingin mandi dan berendam di bathtube dengan wangi bubble gum kesukaannya. Diana langsung menemui pemilik unit apartemen yang sudah menungguku di lobby untuk memberikan kunci apartemennya. "Mbak, ini kunci apartemennya ya. Apartemenya ada di tower Catalleya lantai 5, kamar 501." Jelas si pemilik. "Ok Pak." Semua syarat dan ketentuan sewa sudah diberikan kepada Diana saat di Melbourne, jadi saat ini ia hanya mengambil kunci apartemen saja kepada pemiliknya. Dengan langkah gontai Diana berjalan menapaki lorong apartemen sambil menarik koper.Ia hanya membawa 1 koper saja, karena ia pikir, mungkin ia tak akan lama berada di Jakarta, dan kalaupun kekurangan pakaian, ia tinggal membelinya.  Di lorong apartemen ini hanya ada 5 unit, memang tipe apartemen mewah, batin Diana berbisik. "Kamar nomor.... 501. Dan...hmmm kamar Aldo di.. 502. Hadeh... nasib... nasib. Semangat deh, Demi keluargaku." Racau Diana di dalam kepalanya. Tanpa di sengaja saat Diana membuka pintu unit apartemen, ada suara pintu dibuka dari apartemen sebelah. "Ma...aku udah cukup deh, males di jodohin sama anak temen mama." Suara seorang pria yang protes. "Cukup ya Aldo!!! Kamu itu udah dalam rentang usia menikah. Kenapa sih kamu gak mau pilih salah satu dari anak teman mama itu, mereka semua tu cantik, konglomerat, berbudi pekerti, rajin, sayang orang tua dan........" Protes Felicia. Seorang ibu paruh baya yang masih cantik jelita layaknya sosialita. "Ma... Aldo masih mau urus bisnis Papa. Gak mau pikiran terbagi. Please." Putus pria itu sambil memohon dan yang tak lain adalah Aldo. Orang yang Diana cari. "Nikah sama bisnis gak ada urusan Aldo. Mama malu tau, setiap kali ke arisan, selalu di tanya kapan punya mantu. Mama ini mau gendong cucu."  "Tapi Aldo mau cari sendiri ma. Gak perlu kayak Siti Nurbaya gitu." Pinta Aldo. "Cari sendiri itu sampai kapan???" Tanya Felicia. "Sampai ketemu yang pas lah ma." "Pas nya tu kapan? Mama udah gak tahan dengerin gunjingan orang." Mohon Felicia sambil berekspresi nanar.  "Ma..... jangan dengerin orang lah. Ini kan pernikahanku.. Hidupku. Dan bukan untuk menjadi pembanding orang lain." Aldo kesal. "Mama tau ini hidup kamu, tapi kamu ini gak pernah mau berusaha mencari wanita terbaik untuk di jadikan istri. Sampai kapan kamu mau senang-senang dengan wanita gak benar?" Bentak Felicia. "Dengan wanita gak benar?? Gosip dari mana yang mama dengar?" Aldo penasaran sambil mengerenyitkan dahi. "Ya teman mama la. Mereka pernah lihat kamu kiss wanita gak jelas." Felicia mengarang cerita sambil menggaruk kepalanya sendiri. "Ya ampun ma..... aku tu gak pernah main sama wanita manapun... Itu ngarang aja.." Aldo menepuk dahinya sendiri. "KAMU GAK PERNAH MAIN SAMA WANITA??? APA KAMU GAY?? Aduh...kepala mama pusing." Stress memikirkan anaknya yang kemungkinan gay. Banyak gosip miring yang mengatakan Aldo adalah gay karena tidak pernah terlihat berhubungan dengan wanita manapun. Gosip tersebut sampai ke telinga Felicia, dan Felicia sangat geram dengan gosip itu. Ia geram sekaligus takut jika gosip itu benar. Jika benar, hancur semua impian, reputasi dan keseluruhan milik Sailendra Group. "Aku gak gay ma... aku cuma terlalu sibuk. Aku masih suka lihat wanita cantik koq. Mama mau liat kalau aku ada majalah laki-laki dewasa??" Tanya Aldo polos. Felicia agak tersentak dengan perkataan Aldo. Majalah dewasa?? Baru kali ini Aldo mengatakan hal yang hamper dianggap tabu oleh ibu – ibu. Tapi Felicia tiba – tiba tercetus ide baru. "Majalah?? Kamu suka yang seperti itu? Tipe wanita yang di majalah itu? Mama akan bantu carikan yang seperti kamu mau, Do. Ntar fotonya mama kirim ke kamu. Kamu tinggal pilih." Felicia berbicara pelan untuk menyelidiki lebih detail. Diana yang melihat dari pintu unit rasanya ingin tertawa cekikan, tapi ia tak bisa karena merasa tak enak hati dengan Aldo yang tampaknya menyedihkan. "Ma.... bukan begitu." Aldo menjawab bingung karena merasa salah memberikan alasan pada mamanya. "Jadi mau kamu itu wanita seperti apa?" Tanya Felicia menyelidiki. "Ma, udah jangan bahas yang seperti itu lagi. Aku cuma belum mau menjalin hubungan yang serius. Karena mereka belum tepat untuk aku. Semua yang mendekat mencoba memanfaatkanku." Jelas Aldo putus asa. "Apa kamu masih mikirin Diana?" Felicia penasaran mulai mendekatkan dirinya kepada Aldo, mengelus kepala Aldo. Memang sejak dahulu, hanya Diana yang paling dekat dengan Aldo, bahkan setelah Diana meninggal, Aldo tidak pernah terlihat dekat dengan wanita manapun. Felicia sangat prihatin dengan keadaan Aldo saat Diana meninggal. Ia dan suaminya sampai harus memanggil psikiater untuk membantu kesembuhan Aldo kan traumanya kehilangan Marco dan Diana. Orang terdekat Aldo dari kecil. Aldo terdiam. "Diana udah meninggal, Do. Apakah gak ada pengganti Diana di hati kamu? Ini udah 7 tahun, Do. Please buka hati kamu." Mohon Felicia masih mengelus kepala Aldo. "Aku udah gak mikirin Diana ma. Diana hanya masa lalu. Masa lalu terlalu indah untuk aku." Jawab Aldo sambil memijat keningnya. "OK...mama ngerti. Tapi pleaseeee... coba 1 kali ini pertemuan dengan anak tante Delia. Namanya Citra...Dia anak yang baik. Mama udah ketemu sama dia. Please Al." Bujuk Felicia memeluk putra kesayangannya. "Ya uda. Mama tentuin aja waktu ketemunya. Ntar aku pergi dan cek sendiri bagaimana Citra." Aldo meluluh karena tidak ingin melihat mama kesayangannya sedih. "Thanks sayangku.. Kamu yang terbaik." Felicia langsung memeluk Aldo dan tersenyum bahagia. Akhirnya Felicia pulang dengan sumringah. Tak di sangka ternyata Aldo mengetahui ada wanita mendengarkan semua drama yang terjadi antara dia dan mamanya. Dan Aldo sangat kesal karena sempat melihat wanita aneh dengan muka hampir tertawa dan mengejeknya.  "Hei kamu... tukang nguping!!!" Panggil Aldo. "Sorry... kamu ngomong sama aku?" Tanya Diana belaga tidak mengerti. "Ya iya lah sama kamu... Siapa lagi yang nguping pembicaraanku sama mamaku tadi." "Haha...sorry, bukan nguping. Tapi aku lagi mau buka kunci unit ini tapi susah banget. Karena susahnya..aku istirahat sebentar. Taunya kalian keluar dan berbicara dengan keras. Ya bukan salah aku kalau dengar donk. Kalau mau bicara tu di dalam unit, jangan di lorong." Celetuk Diana pada Aldo dan membuat muka Aldo semakin memerah. "Tapi kan kamu gak perlu...." Teriak Aldo dan terputus saat Diana tak peduli langsung masuk ke unit dan tidak peduli padanya yang sedang kesal. "Dasar wanita aneh. Semua wanita sama saja." Rutuk Aldo langsung membanting pintu unit apartemennya.   oooOOOooo   Setelah masuk ke unit, Diana langsung termenung mendengarkan sendiri apa yang terjadi pada diri Aldo. Pertanyaan bermunculan, apakah benar, Aldo masih mengingat dirinya sehingga tidak ada wanita lain yang bisa mendekati? Rasanya sangat tidak tega untuk menghancurkan Aldo. Rasanya Diana ingin langsung berlari dan memeluk Aldo dan berkata bahwa Diana belum meninggal, Diana masih sayang Aldo. Tapi semua itu hanya bisa berada dipikiran Diana saja, karena hidup harus terus berjalan, begitu juga dengan rencana pembalasannya harus mulus agar mamanya tidak sakit lagi memikirkan dendam bodoh ini. Pagi menyapa, terbit sinar di balik tirai kamar Diana. Rasanya semua ini mimpi. Mimpi buruk tak berkesudahan. Hari ini, hari pembalasan di mulai. Diana bersiap untuk ke kantor barunya. Kantor Aldo. Pilihannya jatuh pada blouse merah darah dan rok span di atas lutut berwarna abu-abu. Bibir di poles dengan pink muda, rambut di curly karena rambut Diana panjang sepinggang. Make up tipis dan tidak lupa parfum dengan wangi bubble gum. Wangi kesukaan Aldo dari kecil. Dari kecil, Aldo selalu menyukai Diana dengan berbaju merah darah dan permen karet yang Diana makan. Aldo bilang, warna merah sangat kontras dengan kulit Diana yang putih. Dan rasa bubble gum yang Diana makan, membuatnya merasa nyaman karena rasa bubble gum seperti rasa Diana. Manis dan menghibur. Terasa segala kesepian Aldo menghilang. Aldo adalah anak tunggal, jadi dia sangat kesepian di rumah, tapi begitu bertemu Diana dan Marco, Aldo menjadi anak yang berbeda, anak yang ceria tanpa beban. Ya.. aku sudah siap dan segera berjalan ke lift.  SHOW TIME!!!! Saat pintu lift mau tertutup, tiba-tiba ada panggilan dari luar. "Tunggu.. tunggu." Panggil Pria dengan jas hitam, rambut rapi dan wangi maskulin. Pria itu adalah Aldo. "Ya, ini juga di tunggu.. buruan kenapa. Cowo koq lelet banget kayak siput." Balas Diana santai sambil memutar bola mata. "Makasi. Hadeh.. kamu lagi kamu lagi." Jawab Aldo sambil menggaruk tengkuk yang tak gatal. "Ya.... parah dah, kamu lagi. Kayak dunia ini terlalu sempit." Celetuk Diana tidak sopan. "Namanya juga tetanggaan." Balas Aldo. "Itu tau, ngapain bilang kamu lagi kamu lagi. Capek deh. Gak penting banget." Diana menjawab jengah sambil memutar bola mata. Lift berhenti tiba-tiba, dan membuat jantung Diana tak karuan. Ya Tuhan, masa aku harus mati hari ini? Di lift sama Aldo, rencanaku masih banyak Tuhan. Jerit Diana dalam batinnya "Kamu gak apa-apa kan? Jangan takut." Tanya Aldo pelan. "Gak takut lah." Jawab Diana santai, sebenarnya dalam hati sudah tidak tenang. "Baguslah, jadi gak perlu modus." "Modusss???" Nada Diana meninggi. "Ya, modus ketakutan jadi minta di peluk." Jawab Aldo narsis. "Ya elah, males amat. Uda sekarang aku tekan tombol BEL dulu. Gak usah ngomong yang gak penting. Capek dengerin cowo gay yang bawel." "Gila ya.. Emank bener kamu tu nguping. Dan aku bisa buktiin ke kamu, kalau aku gak gay." Jawab Aldo agak kesal. "Cari wanita lain aja. Aku gak tertarik." Diana mengibas-ibaskan tangan ke arah Aldo untuk mengusir pikiran yang mungkin nakal dari Aldo. Aldo mendekat dan segera mengungkung Diana. Tiba-tiba jantung Diana berdetak dengan sangat cepat. Detakan ini karena dekat dengan Aldo setelah 7 tahun tidak bertemu. Wangi yang sama, hanya postur tubuh yang berbeda. Aldo kini tinggi menjulang. Berotot dan terasa pas untuk di peluk. Hadeh... rasanya ingin berkata.. Aldo... aku Diana, aku kembali... boleh aku peluk lagi seperti dulu?? Tapi hati dan pikiranku tidak sinkron. Rencana balas dendam ini tetap harus terlaksana. Jeritan hati Diana yang tersiksa dengan keadaan bodoh ini. "Masih ngerasa gak deg-degan dekat aku?" Tanya Aldo jahil. "Hadeh orang gak penting... kelakuan sama omongan gak penting. Minggir sana!" Perintah Diana mengabaikan Aldo yang sedang mengungkungnya di lift.  "Dasar wanita aneh." "Dasar gay aneh." Balas Diana tidak sopan. "Enak aja.. dasar tukang nguping!" "Sembarangan kalau ngomong! Makanya kalau berdebat tuh gak usah di lorong apartemen kali. Berdebat tu di dalam unit sendiri. Jadi orang gak usah dengerin drama kamu!" Bentak Diana kesal dengan nada semakin meninggi. Bantuan untuk lift yang macet ini terasa sangat lama. Rasanya sudah tidak tahan untuk berdebat dengan Aldo yang notabene akan menjadi bosnya hari ini. oooOOOooo Akhirnya lift terbuka dengan bantuan para teknisi sehingga aku bisa bernapas lega. Segera Diana pindah dari lift yang rusak ke lift di sebelahnya. Aldopun mengikutiku pindah lift.  "Ngapain ikut-ikut?" Tanya Diana ketus. "Hei... emank kamu aja yang butuh lift... Aku juga mau kerja tau!" Jawab Aldo sambil mendengus. "Eh..., tukang nguping mau kemana?" Tanya Aldo sambil tertawa. "Mau ngantor lah. Mau ngapain lagi." Diana menjawab asal sambil melipat kedua tangannya di depan d**a. "Hahah....emank ada kantor yang mau terima kamu yang kayak gini?" Ledek Aldo. "Hai tuan gay gak jelas yang tidak terhormat, aku itu uda dapat kerjaan. Dan bukan pengangguran!!! Aku pintar, tentu saja banyak perusahaan yang berlomba agar aku bisa masuk ke perusahaannya!" Diana menjawab semakin ketus terhadap Aldo. Rasanya sudah lama tidak pernah berdebat dengan Aldo yang menyebalkan tapi cute. "Ya... yaa... ya...Aku percaya deh sama nona terlalu percaya diri ini." Ledek Aldo. "Terserah kamu lah." Diana menjawab dengan jengah dan menyibukkan diri dengan hanphonenya sendiri. Diana lupa kalau mereka berdua harus kerja, tapi lupa itu karena sebal dengan perdebatan pagi dengan Aldo. Sebal dengan perasaannya yang tak menentu jika melihat Aldo. "TINGGGG!!!" Bunyi lift sampai ke lobby utama. Bunyi lift terbuka membuyarkan pikiran Aldo yang terasa melamun. Dengan cepat dan tergesa-gesa, Aldo segera ke pintu utama untuk naik mobil. Di dalamnya sudah ada supir dan mobil mewah terparkir tepat di depan pintu utama, menunggu boss nya datang. Dan Diana....menunggu taksi yang akan mengantarnya. Mengantar ke kantor Aldo.  Diana ingin menenangkan detak jantungnya yang sudah tidak beraturan. Mungkin jika langsung di EKG, detak jantungnya seperti menari naik turun dan sangat cepat ritmenya, berdebar tidak karuan. Apalagi saat berada 1 lift dengan Aldo. Seakan pertahanan diri runtuh, ingin bertanya dan bercerita dengan teman baiknya, teman kecilnya. Oh Aldo.    See you next chapter yaaa... Love you Jangan lupa comment dan tap Love ya..... Jangan lupa di follow juga Muach...muach..muach.. Siez      
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD