CHAP 5 – Nathania

2123 Words
Chapter 5 – Nathania   Aldo terburu – buru menuju mobil yang menunggunya di lobi apartemen. Debaran jantungnya seakan tidak mau kompromi. Baru kali ini ada wanita aneh tapi menarik perhatiannya. Wanita yang terlihat sama sekali tidak tertarik dengan dirinya yang biasanya di gilai dan ditempeli wanita. Saat di lift, Aldo sudah hampir tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Warna merah darah dan bubble gum. Rasa Diana, semua tentang Diana Kembali berkutat dalam otaknya, mungkin bisa menyebabkan serangan jantung. Aldo harus segera mengendalikan dirinya. Menetralkan kembali napasnya dan menghilangkan anggapan wanita aneh itu adalah Diana kesayangannya.   SJH Group Akhirnya Diana sampai di perusahaan SJH Group. Jam menunjukkan pukul 07.00 WIB. Artinya Diana terlalu pagi untuk datang. Karena masuk kantor sekitar jam 08.00 WIB. Hari ini adalah hari pertama Diana bekerja di SJH Group sebagai asisten pribadi Aldo, Direktur Utama dari SJH Group. Ia langsung menuju resepsionis untuk di tunjukkan dimana ruang HRD dan untuk menemui ibu Shilla, manager HRD SJH Group.   (Sekarang gak ada lagi nama diana ya…. Jadi Namanya Nathania/ Nath, supaya readers gak bingung)   "Hi, Bu. Saya Nathania, hari ini saya berjanji ketemu dengan ibu Shilla, manager HRD. Apakah ibu bisa tolong informasikan saya sudah ada di lobby?" Pinta Nath kepada resepsionis cantik di depannya. "Ok, sebentar ya bu. Saya coba telepon ke ruangan ibu Shilla." Jawab resepsionis cantik dengan sopan. Setelah menunggu 5 menit, ternyata telepon ruang ibu Shilla tidak di angkat, artinya ibu Shilla belum datang. "Maaf bu, sepertinya ibu Shilla belum datang. Ibu bisa tunggu di lobby depan sana terlebih dahulu, nanti setelah ibu Shilla datang, saya akan memberitahukan ibu."  "Ok. Saya tunggu di lobby ya bu. Terima kasih." Balas Nath dengan senyum. Baru akan berbalik badan, tiba-tiba Nath menabrak seorang pria. Dari bau nya sangat ia kenal. Ternyata yang ia tabrak adalah Aldo. "Ya ampun....kamu lagi..kamu lagi. Ketemu kamu terus." Kata Aldo sambil mengelus dadanya yang tertabrak oleh Nath. "Dunia sempit banget...ganggu jalan pula. Minggir dah!!" Jawab Nath semena-mena. Aku berlalu begitu saja dari hadapan Aldo. Aldo terbengong saat melihatku melewatinya. Dan dia mulai berpikir, kenapa wanita aneh itu ada di kantornya. "Selamat pagi, Pak." Sapa resepsionis. "Pagi. Bella, itu siapa? Ada keperluan apa wanita itu ke sini?" Tanya Aldo penasaran. "Oh...itu ibu Nathania, mau ketemu ibu Shilla." Jelas Bella, resepsionis cantik. "Ok." Balas Aldo singkat tapi hatinya masih penasaran dengan wanita aneh, yang baru ia tau namanya Nathania. Aldo bergegas menuju lift agar cepat sampai ke ruangannya, karena pekerjaannya sangat banyak. Terutama saat asisten pribadinya resign karena mau melahirkan. Semua pekerjaan terbengkalai. Setelah Shilla datang, Bella langsung memberitahukan bahwa ada seorang wanita bernama Nathania yang sedang menunggu di lobby. Dengan segera, Shilla langsung mencari keberadaan Nathania. "Hai bu Nathania, maaf lama menunggu." Sapa Shilla. "Oh ya bu, gak apa-apa. Mungkin saya datang kepagian." Jawab Nath sambil tersenyum. "Yuks saya tunjukkan ruang kerja ibu." Ajak Shilla sambil mengarahkan apa saja yang harus dikerjakan dan ruangan tempat bekerja. "Tok...tok..tok." Shilla mengetuk pintu ruangan Aldo. Pintu ruangan yang tertulis direktur utama Aldo Sailendra. Sekertaris Aldo yang cantik kemudian membukakan pintu ruangan. "Ada apa bu?" Tanya sekertaris itu. "Ini saya bawa asisten pribadi pak Aldo yang baru." Jawab Shilla. "Ok, masuk dulu bu, saya akan laporkan sama pak Aldo." Setelah itu Nath masuk bersama Shilla ke ruang tunggu direktur utama. Dengan gaya mewah, kayu jati dan furniture dengan kualitas terbaik. Rasanya nyaman di kantor ini. "Bu Shilla, silahkan aspri nya masuk, pak Aldo mau ketemu." Kata sekertaris Aldo yang bernama Cindy. Jika dilihat, Cindy adalah wanita yang bertubuh seperti model, mungkin tinggi sekitar 170 cm, dengan d**a montok dengan kancing kemeja terbuka 2 dari atas, rasanya itu d**a mau tumpah, heels yang di pakai mungkin sekitar 10 cm, wangi parfum yang menggoda, lipstik merah yang membara, rambut panjang dibiarkan tergerai. Waw, lelaki mana yang bisa menghindar dari wanita seperti ini. Cuma laki-laki tak normal yang tidak tergoda, dan salah satunya Aldo. Aku sampai bingung sendiri, kenapa di sini isinya wanita cantik, dari resepsionis sampai manager HRD. Ya ampun, rasanya aku terkucil langsung kalau ada perlombaan orang cantik. Gumam Nath dalam hati. "Tok...tok...tok. Permisi Pak."  Kata Shilla sambil mengetuk pintu ruangan Aldo. "Ya, masuk." Jawab Aldo. "Ini pak, aspri bapak yang baru. Ayo perkenalkan diri kamu!" Jelas Shilla sambil menyenggol lenganku. "Slamat pagi pak, perkenalkan, nama saya Nathania." Sapa Nath ringan. Aldo yang sedang memeriksa laporan, tiba-tiba terdiam dan langsung melihat ke arah Nath. "Ya ampun, wanita aneh jadi aspri aku???" Jawab Aldo sambil terkaget. "Wanita aneh? Hmmm... apakah aspri ini akan diganti pak?" Tanya Shilla penasaran. "Hmmmmm....." Aldo berpikir sejenak. "Kalau diganti susah ketemu yang baru pak, mungkin butuh 1 bulan untuk cari aspri baru pak. Ini kualifikasinya udah sesuai bapak banget." Mohon Shilla, karena susah sekali mencari aspri yang sesuai permintaan bosnya. Nathania aja sudah sulit untuk di cari.   "Ya udah, kamu keluar dulu. Saya mau bicara dulu dengan aspri baru." Jawab Aldo, Ia tau sangat sulit mencari kualifikasi yang ia inginkan, jadi mau tidak mau ia menerima Nathania. "Permisi pak." Pamit Shilla dengan napas lega. Setelah Shilla pergi, Aldo mulai mencecar Nath. "Eh wanita aneh, kenapa kamu kerja di sini?" Tanya Aldo penasaran. "Ya elah...aku mana tau kamu bos di sini, kalau tau, pasti tidak akan aku lamar ini pekerjaan. Jadi apakah aku diterima apa gak? Kalau enggak, aku cari perusahaan lain aja. Hadeh...." Nath menjawab dengan acuh. Ia tau jika Aldo memang suka tipe wanita yang sedikit acuh dan semena – mena terhadapnya, bukan wanita yang langsung bertekuk lutut langsung dan menuruti semua perintah Aldo. Ternyata Aldo dulu dan sekarang adalah Aldo yang sama. "Baru jadi ASPRI aja udah bantah terussss.....mateng dah kehidupan kerjaku." Keluh Aldo. "Bapak Aldo yang terhormat......saya dari tadi tidak pernah memaksa anda menerima saya, saya sudah bilang, kalau gak tertarik sama saya, ya udah.... saya tinggal keluar aja. Gak masalahkan." Nath kesal. Aldo mulai berpikir, hidup bisa lebih berwarna kalau aspri seperti Nathania bisa bekerja bersama. Mungkin hidup tidak terlalu bosan, ada teman untuk berdebat dan bertengkar. Lagipula mereka berdua tetangga di apartemen, jadi jika membutuhkan Nathania secepatnya, tidak akan lama, pasti dia bisa datang, tidak perlu banyak alasan seperti macet dan lain-lain. "Kamu diterima!!" Jelas Aldo. "Serius?" Nath penasaran tapi berpura – pura acuh. "Iya serius, udah gak usah jual mahal deh. Aku tau kamu butuh pekerjaan ini kan." Goda Aldo. "Idih siapa juga jual mahal." Balas Nath ketus. "Oh ya... masalah yang kemaren kamu nguping pembicaraanku dengan mamaku, jangan pernah tersebar luas ya!! Kalau tersebar luas.... artinya kamu yang bergosip!!!" Perintah Aldo. "Masalah yang mana....HAHAHA... masalah GAY? masalah majalah wanita dewasa?" Goda Nath. Muka Aldo semakin memerah, malu akan pembicaraannya dengan ibunya terkuak. "Semuanya!!!!! Hadeh ASPRI B-A-W-E-L!!!" Jawab Aldo sambil kesal. "Iya iya......masalah kayak gitu gak penting buat bahas. I can keep secret!! Hmm... jadi tugas aku apa nich sebagai ASPRI kamu?" "Pertama...kamu harus sopan, panggil aku BAPAK ALDO!" Jelas Aldo. "Okeh bapak Aldo...Apalagi selain itu?" "Kedua...cek semua schedulle aku di meja sekertaris setiap hari untuk memastikan aku tidak lupa akan semua janjiku dengan client." "Ketiga...rahasiakan semua kejadian di dalam perusahaan ini. Kamu harus banyak tutup mulut dan merasa tidak melihat apapun." "Keempat.....Kamu gak boleh genit!" Syarat yang menggelitik telinga. Syarat yang cukup aneh. "GENIT??? What? Siapa juga mau genit pak?" Jawab Nath kesal. "Ya kamu kan wanita, biasanya genit kalau lihat pria. Ya...lagi cari pasangan gitu kan.. Kamu masih jomblo kan?" Tanya Aldo penasaran. "Ya elah.... gak niat aku cari pacar di sini. Aku lebih tertarik bule. Hadeh...cowo di sini mah payah bener. Gak asik..BAPER TINGKAT TINGGI!!"Balas Nath semakin cuek dan belagu dengan bos barunya. "Buset deh...baru kali ini ada wanita belagu kayak kamu.. belagu tingkat akut." Jawab Aldo sambil meledek. "Uda, cuma 4 syarat itu aja?" "Syarat kelima... Kerja yang bener, jangan bantah sama ngeledek bos terus. Apalagi ketus!" "Iya pak....saya gak ledek bapak lagi. Saya janji akan banyak diam aja. Kalau di butuhkan baru bersuara." "Ok, sekarang pekerjaan pertama kamu, tolong buatkan kopi dulu untuk aku... Kopi yang gak terlalu manis...gak terlalu pahit...gak pake creamer... gak bikin sakit tenggorokan...gak bikin sakit maag." "Pak...kopi instan gimana? White coffee. Kayaknya sesuai keinginan bapak deh." "Aku gak suka kopi instan. Tolong racik yang bener ya!" Perintah Aldo dengan seringai tak menyenangkan. "Iya pak...saya coba ya." Jawab Nath sebal sambil berlalu untuk segera ke pantry. Pekerjaan menyebalkan di hari pertama. Pekerjaan gak penting di hari pertama. Kenapa gak suruh sekertarisnya aja buat kopi. Bener-bener nyusahin aspri. Pantes aspri dia kabur. Protes Nath dalam batin Akhirnya Nath ke pantry dan langsung mencoba membuatkan kopi untuk Aldo.  "Fiuh kopi yang aneh untuk Aldo yang aneh. Untungnya waktu dulu aku sering membuatkan kopi aneh untuk Aldo saat datang ke rumahku, harusnya takaran kopinya masih aku ingat. " Gumam Nath dalam hati. Begitu terdengar teko elektrik berbunyi, artinya air sudah panas, saatnya kopi aneh dibuat. Setelah selesai membuat kopi dan mengambil beberapa camilan yang Nath rasa Aldo akan suka, ia segera bergegas ke ruangannya. "Permisi pak, ini kopi dan camilan sudah siap." Kata Nath perlahan sambil membawa nampan. "Ok, Thanks. Taruh saja di meja tamu sana." Jawab Aldo sambil mempelajari berkas di mejanya. "Pak, terus kerjaan saya ngapain lagi? Apa cuma di suruh buat kopi aja?" Tanya Nath penasaran. "Hmmm...kamu bantu aku cek data-data ini. Coba pelajari segera. Besok siang kita ketemu klien kan." Aldo segera menyerahkan berkas yang ada di mejanya. "Ok pak." Dengan sigap Nath langsung mengambil berkas di meja Aldo. Hal pertama yang harus dibuat adalah, membuat Aldo percaya pada kemampuan Nath. Si genius dari Curtin University yang menamatkan pendidikan S2 pada usia 21 tahun dan c*m laude. Prestasi yang wajib dibanggakan. Aldo segera menuju meja tamu dan menyesap kopi yang disuguhkan oleh Nath. Ada rasa kaget saat ia meminum kopi buatanku. Mungkin rasanya sangat aneh, atau Nath salah memasukkan gula menjadi garam. "Ini.....koq kamu bisa buat kopi kayak gini?" Tanya Aldo yang penasaran dan terpana akan kopi buatan Nath. "Emank kopinya kenapa Pak? Aneh?" Tanyaku lebih penasaran akan pendapat Aldo. "Ini kopi kesukaanku saat kecil. Hanya 1 orang yang pernah buat kopi seperti ini. Kopi cinnamon."  "Wah...ini pujian donk Pak...Ya udah, kalau enak di habiskan saja." Nath  tertawa dengan bangga. "Ok, dan cemilan ini? Koq kamu tau aku suka dengan lemper seperti ini? Lemper ayam." Tanya Aldo lebih penasaran lagi. "Yang ketemu di pantry cuma itu pak, jadi ya saya bawa sekalian aja, siapa tau bapak lapar." Jawab Nath santai. Padahal ia memang sengaja membeli lemper ayam kesukaan Aldo di tempat yang biasa mereka beli sewaktu kecil. Untungnya tempat itu masih buka. Setelah selesai memakan lemper ayam dan kopi, Aldo seolah mendapatkan semangat baru untuk bekerja lebih keras hari ini. "Nath, kamu udah cek belum datanya, Apa ada yang salah atau enggak?" Tanya Aldo yang mengagetkan saat Nath berkonsentrasi penuh. "Hmm...aku rasa ini data perencanaan keuangannya ada yang salah deh. Coba aku minta orang yang bertanggung jawab membuat rencana keuangan proyek baru ini ke sini. Sepertinya mark up  terlalu tinggi atau dia salah hitung." Jelas Nath sambil menunjukkan berkas yang sudah ia tandai. Aldo tertegun, seperti yang ia bayangkan saat membaca data keuangan untuk proyek baru ini ada masalah. Setelah mendapat opini dariku, sepertinya Aldo semakin yakin. "Ok, sekarang kamu panggil Sastria." Perintah Aldo. Nath segera menuju meja Cindy, sekertaris Aldo dan mengatakan untuk memangil pak Sastria. Setelah selesai, ia kembali ke ruangan Aldo. Tak berapa lama, pak Sastria datang ke ruangan Aldo dengan terburu-buru. "Permisi, Bapak panggil saya?" Tanya Sastria, pria berumur sekitar 50 tahun. Sepertinya sudah cukup lama bekerja di SJH group. "Yes pak. Mengenai rencana keuangan untuk proyek hotel yang di Bali, saya rasa anda ada salah kalkulasi." Jelas Aldo, dan terlihat Sastria sedikit memucat. "Sa...salah dimana ya pak?" Jawab Sastria gugup, seperti orang yang takut ketahuan mencuri. "Ini..udah saya tandain, coba kamu kalkulasi ulang, dan saya minta sore ini bapak kasih ke saya karena besok saya harus meeting dengan kliennya." Jelas Aldo. "Baik pak, segera saya perbaiki." Jawab Sastria yang rasanya ingin cepat kabur setelah mendapatkan data yang harus di revisi. Setelah Sastria keluar, Aldo mulai berbicara serius denganku. "Hmm... menurut kamu, ini sastria ada masalah gak ya? Sepertinya dari tingkah lakunya, ada yang gak beres." Kata Aldo pelan. "Harusnya ada yang gak beres si dengan orang ini. Saya selidiki secepatnya deh pak." Jawab Nath dengan percaya diri. "Ok, saya percayakan Sastria sama kamu, tapi kamu jangan langsung hajar ini orang ya, dia tuh salah satu kepercayaan papa saya. Jadi harus cari bukti konkret untuk menyingkirkan dia." Jelas Aldo "Sip la...." Nath mengacungkan jempol tanda setuju. Nath langsung bergegas mencari bukti yang dibutuhkan. Dari catatan telepon, relasi dan semua yang berhubungan dengan Sastria. Kenapa ia bisa seperti itu??? Karena ia punya informan sendiri yang sudah terbukti selama ini untuk menyelidiki beberapa masalah yang ia inginkan sampai mendetil.   See you next chapter yaaa... Love you Jangan lupa comment dan tap Love ya..... Jangan lupa di follow juga Muach...muach..muach.. Siez  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD