Chapter 6 - Spy and Genius in action
Nath berjalan ke lantai 4, lantai tempat Sastria bekerja, Manajemen Proyek. Berkeliling di sekitar karena tidak ada yang mengenalinya di sana, pasti mereka tidak peduli terhadap Nath. Setelah berputar - putar, rasanya ia ingin ke toilet. Sekelebat, ia melihat Sastria memasuki toilet pria sambil tergesa-gesa dan ketakutan dengan handphone yang masih ada di tangannya. Nath mengikuti Sastria ke arah toilet dan menunggu Sastria masuk ke dalamnya, setelah itu, Nath langsung menguping pembicaraan Sastria dengan seseorang di telepon.
"Pak, sepertinya kita ketahuan, saya harus revisi kembali rencana keuangan proyek di Bali." Sastria berbicara dengan sangat pelan, terdengar sayup-sayup tetapi masih bisa didengar.
"...................."
"Ya pak, maafkan saya karena tidak teliti." Lanjutnya lagi.
"...................."
"Tenang pak, saya tidak akan membawa nama anda di sini. Bapak sudah terlalu baik dengan keluarga saya." Lanjutnya.
"...................."
"Baik pak, akan saya manipulasi lagi rencananya agar klien batal mengambil proyek ini dengan SJH group." Lanjutnya.
"......................"
"Iya pak, saya akan lakukan sesuai instruksi bapak." Jawabnya dengan berbisik pelan.
Nath begitu penasaran dengan siapa Sastria bicara. Sebelum Sastria keluar dari toilet, ia harus sembunyi, kebetulan perut sudah tidak kompromi.
"Hadeh, di sini aku malah jadi spy...capek deh. Tapi siapa ya yang dia ajak telepon?? Aku jadi penasaran sendiri." Nath mengedarkan pikirannya di toilet Wanita, berbicara sendiri, menerka siapa yang dibicarakan oleh Sastria, penasaran yang sangat menyebalkan, karena begitu ada rasa penasaran, Nath pasti mau mencari tau sampai ke akar. Bagaimanapun caranya.
Setelah menyelesaikan panggilan alam, Nath langsung naik ke lantai 10, tempat Aldo berada.
"Pak, tadi saya gak sengaja mendengar pak Sastria di toilet." Suara Nath pelan karena takut di dengar sekertaris. Karena ini TOP SECRET.
"Apa yang dibicarakan, sini bisikin?" Aldo berbicara sangat pelan, seperti takut ada yang menguping. Tembok bisa mendengar, itu kata pepatah.
“Koq pake acara bisik – bisik, risih lah pak.” Protes Nath. Dekat dengan Aldo bisa membuat olahraga jantung. Tidak mungkin dia olah raga jantung setiap hari kan.
“Takut ada yang dengar, atau jangan – jangan ada yang pasang CCTV rahasia di ruangan saya.” Aldo semakin mendekatkan tubuhnya ke Nath.
Dengan kesal, Nath terpaksa mendekat dan mulai berbisik di telinga Aldo. "Ada orang yang memerintahkan Sastria untuk manipulasi data rencana keuangan agar klien batal kerja sama dengan kita. Apa itu perusahaan saingan kita?"
"Hmm...perusahaan mana ya? Sebenarnya ini proyek rahasia banget. Hanya Akira dan aku yang tau rencana ini. Tak mungkin Akira menghubungi perusahaan lainnya." Jawab Aldo agak bingung masih berbisik.
"Hmm... menurut tadi yang dibicarakan, Sastria ini ada hutang budi sama yang di telepon tadi, sehingga dia mau bantu orang itu untuk menyerobot proyek kita."
Aldo masih bingung dan tidak dapat menerka siapa dalang dibalik manipulasi ini.
"Udah pak, ngelamunnya jangan kelamaan. Kita pancing aja. Kan bapak kenal dekat sama Akira, jadi tidak ada salahnya bapak sandiwara aja sama Akira kalau dia menolak proyek ini karena rencana keuangan yang terlalu tak masuk akal." Akal bulus Nath mulai berjalan.
"Boleh aja sih, besok sekalian ketemu sama Akira, tapi rencana keuangan ini harus direvisi dulu sebelum ketemu dia."
"Ya elah... itu mah gampang ngerjainnya. Sini saya yang kerjain aja Pak, 2 jam juga kelar." Jawab Nath percaya diri.
"Ya udah...kerjain dulu. Kamu kerjain di meja sana aja. Biar bisa langsung saya cek." Perintah Aldo.
"Sip....don't worry pak." Nath mengedipkan salah satu matanya dan tersenyum kepada Aldo.
oooOOOooo
Setelah berkutat sekitar 2 jam, akhirnya rencana keuangan yang baru sudah selesai. Nath langsung meregangkan tangan dan tubuhnya, rasanya sangat pegal dan ingin dipijat. Terlalu serius dalam memperbaiki rencana keuangan yang sangat amat ngaco parah. Baru 4 jam mulai bekerja di kantor Aldo, tapi pekerjaan Nath sudah luar biasa.
“Nath, lunch time. Kamu udah kelar belum kerjaannya?” Panggil Aldo sambil mendekat ke meja kerja Nath.
“Udah lunch time? Ya ampun, gak kerasa ya. Ini pak udah kelar semua revisinya. Anda tinggal baca aja pak ntar. Saya turun ke café bawah dulu ya. Laper banget.” Nath langsung menyerahkan berkas revisi yang sudah ia print kepada Aldo.
“Mau makan sama – sama?”
“Kaga lah pak, di ruangan udah sama – sama, masa makan sama – sama lagi. Hadeh… yang ada ntar di kantin ngomongin pekerjaan. Ini tuh lunch time pak… break time…. Istirahat.” Nath langsung pergi meninggalkan Aldo tanpa mengajak Aldo ikut makan siang bersama.
“Ck..ck..ck… gini nih asisten pribadi baru, bener – bener. Di ajak makan malah protes melulu. Nyelonong aja, seenak jidat sendiri. Dasar wanita aneh!!!” Aldo menggerutu setelah ditinggal Nath. Ia sangat tidak menyangka, aspri barunya sangat unik dan bukan penjilat atau yang kecentilan mengajak Aldo makan siang. Malah sangat cuek terhadap Aldo.
Nath menuju lift dan langsung menekan tombol lobby. Karena seingatnya, di lobby ada cafe, mungkin itu tempat makan karyawan. Di dalam lift, Nath mendengar kasak kusuk dari beberapa karyawan wanita.
"Eh tau gak...bos kita..Pak Aldo." Si centil baju merah memulai pembicaraan.
"Kenapa bos?" Tanya si centil baju kuning penasaran.
"Bos dapat Aspri baru." Jawab si merah.
"Cantik gak?" Tanya si hijau.
"Aduh hancur banget.....manusia gak punya selera. Baju kuno dan kolot. Mungkin usianya sekitar 40 tahun. Kerutan parah dan gak keurus." Balas si merah.
Telinga Nath rasanya sangat panas di gosipkan seperti itu, apa… keriput? Kuno? Kolot? Umur 40? Gila ini manusia pengen dijitak satu per satu, atau dilakban aja mulutnya supaya gak bergosip tentangnya. Nath mendekat kepada si merah dan mulai menyelidiki, berpura – pura ikut bergosip dengan mereka.
"Emank kamu udah lihat orangnya seperti apa?" Celetuk Nath penasaran kepada si merah.
"Udalah...dandan menor kayak tante-tante." Jawab si merah asal.
Buset deh ini ular berbentuk manusia, bisa-bisanya dia bilang sudah lihat Nath tapi tidak mengenali dirinya. Bilang seperti tante-tante. Yang benar saja. Semua barang yang Nath pakai adalah barang BRANDED....Perlu diingat..BRANDED dari atas sampai bawah. Dan berani-beraninya dia bilang Nath seperti tante. Benar-benar menghancurkan reputasi. Apa jangan – jangan mereka salah mengenali orang? Ya mungkin mereka salah mengenali orang. Nath protes dalam hati.
"Ting......" Menandakan pintu lift menuju lobby utama sampai.
Nath langsung keluar menuju Cafe di lobby. Untungnya ia sedang kelaparan, jadi tidak punya tenaga untuk berdebat. Setelah sampai, ia langsung memilih menu Nasi + Ayam Penyet. Menu kesukaannya dengan sambel yang sangat pedas untuk menghilangkan penat dan memberikan tenaga hingga jam 5 sore, saat pulang kerja.
Saat ia sedang bersiap untuk makan, tiba-tiba ada suara yang lain sepertinya sedang menyapa dan mengganggu waktu makan Nath yang sangat berharga.
"Hi, Nath....kamu kerja di sini???" Tanya seorang pria jangkung, rambut sedikit pirang tak alami dan berkaca mata.
"Yes, Vic." Jawabku singkat. Victor adalah teman Nath di melbourne, bukan teman dekat tepatnya, hanya teman di Melbourne High School.
"Aku gabung makan sama kamu ya." Tawar Victor dengan senyum. Dan Nath hanya membalas anggukan dengan terpaksa.
"Kamu kerja bagian apa Nath?" Tanya Victor.
"Aspri."
"Widih mantab. Aku di bagian keuangan nich." Jelas Victor.
"Ya."
Sebenarnya Nath sangat malas berbicara dengan Victor, karena terakhir kali di Melbourne saat sekolah, dia benar-benar mempermalukan Nath di hadapan banyak orang dengan mengatakan Nath menyukainya dan sering menulis surat cinta padanya dan dia langsung menolak Nath di depan umum. Padahal Nath hanya kurir, dan yang menulis surat-surat konyol itu adalah Melisa, teman baik Nath hingga saat ini. Melisa benar – benar berhutang budi pada Nath dan tidak bisa terbayarkan dengan apapun, karena sangat merusak nama baik Nath di high school.
Dengan terburu-buru Nath menyelesaikan makanannya. Sangat malas untuk berbicara dengan Victor, benar-benar tidak penting. Saat Nath melihat sekitar, ternyata banyak wanita yang meliriknya dengan pandangan seakan ingin menerkam, mereka berbisik – bisik dan sorot mata tajam saat melihat Nath seakan Nath tidak pantas untuk duduk Bersama Victor. Victor memang pria yang tampan, bisa membuat banyak wanita luluh seketika, tapi tidak untuk Nath. Nath terlalu jijik untuk sekedar memandang Victor.
Dalam 10 menit, Nath menyelesaikan makan siangnya, dan berpikir lebih baik langsung ke ruangan Aldo. Lebih baik melihat Aldo yang menyebalkan daripada Victor yang memalukan.
"Nath, kamu cepet banget makannya, gak keselek apa?" Gurau Victor yang aneh dengan kelakuan Nath.
"Gak." Nath langsung buru-buru mengambil minumnya. Entah bagaimana semua makanan yang masuk bisa tidak menyebabkan Nath tersedak karena terlalu cepat makan.
"Kamu masih grogi dekat denganku?" Goda Victor.
"GROGI WHAT THE f**k LAH!" Jawab Nath semena-mena.
"Lah, dulu bukannya kamu suka sama aku? Kamu masih kecewa aku tolak?"
"Hei...Bapak gak usah sok narsis ya! Yang suka sama bapak itu bukan saya... orang lain.. dan saya hanya kurir yang disuruh menaruh surat konyol itu di loker BAPAK VICTOR yang TERHORMAT!" Rasanya sangat kesal sekali bertemu dengan pria menyebalkan lainnya. Jika bukan Melisa sangat malu akan kejadian itu dan menyuruhnya untuk diam, jangan harap Nath masih bisa diam.
"Ayolah Nath, aku tau kamu suka melihat aku di sudut-sudut ruangan." Goda Victor.
"Ya betul, aku suka lihat kamu di sudut ruangan. Itu karena suruhan orang. Bukan karena keinginanku. Aku sudah bilang dari tadi. Hadeh...males berbicara dengan manusia gak jelas kayak kamu. Lebih baik lain kali kalau kita bertemu, gak usah saling sapa. Bikin mood jelek!!" Nath sangat jengah kepada Victor, melihat saja sudah malas apalagi berbicara. Dan rasanya tidak ada yang perlu dibicarakan lagi dengan Victor.
Nath segera bangkit dari tempat duduk dan meninggalkan Victor sendirian yang terbengong karena ditinggalkan. Benar – benar hari tersial untuk Nath bisa bertemu dengan Victor.
oooOOOooo
Setelah sampai ke ruangan Aldo, Nath melihat ruangan kosong dan di kunci, jadi terpaksa Nath menunggu di depan hingga pukul 1 siang. Rasanya bodoh, waktu istirahat malah melakukan sesuatu yang tidak jelas.
Setelah jam 1 siang, Cindy langsung membuka pintu masuk ruangan Aldo dan Nath mengekor dari belakang.
"Bu Nath." Panggil Cindy.
"Kenapa bu Cindy?"
"Hmm...apa aku panggil kamu nath aja atau aku perlu panggil kamu ibu?" Tanya Cindy.
"Panggil Nath aja biar lebih akrab."
"Ok, Nath. Dari tadi kita gak bisa ngobrol, panggil aku cindy aja yah. Jadi kita bisa berbicara banyak." Ucap Cindy bersahabat.
"Sip Cin." Nath mengacungkan jempol sambil tersenyum.
"Kamu yang sabar ya sama Pak Aldo. Dia itu baik banget orangnya. Ga neko-neko tapi emank agak pedas ucapannya. Ntar kalau kamu terbiasa juga gak masalah." Jelas Cindy.
"Ya Cin, aku mengerti. Namanya juga orang kerja kan."
"Oh ya....kamu jangan genit-genit sama pak Aldo ya."
"Karena????"
"Karena Pak Bos suka pecat karyawan yang genit sama dia. Kayaknya dia phobia cewe genit." Jelas Cindy.
Nath tertawa terbahak-bahak mendengar penjelasan Cindy, dan tanpa ia ketahui, ternyata Aldo sudah di belakangnya sementara Cindy menaruh 1 jari di mulutnya menandakan Nath harus diam.
"Kamu ketawain siapa? Saya?" Tanya Aldo dengan sedikit kesal.
"Kaga...bapak gak usah geer deh. Saya cuma lagi ngobrol sama Cindy aja. Ya kan Cin."
Cindy diam dan menunduk.Takut apabila Aldo bisa marah tiba-tiba. Aldo sangat tidak suka apabila ada yang menggosipkannya di belakang, terutama masalah wanita.
"Sini masuk....kerjaan masih banyak.. gosip melulu!" Perintah Aldo dengan kesal.
Nath langsung mengekor ke ruangan Aldo meninggalkan Cindy yang masih terbengong karena kelakuan kami. Bos nya agak berubah sikap. Tidak langsung ngomel atau marah saat tau ada yang menggosipkannya di belakang.
Setelah sampai ruangan, Aldo langsung menuju meja kerja dan mengambil beberapa berkas dan memberikan kepada Nath. "Ini kamu pelajari semua. Apa ada yang ganjil atau enggak. Kalau bisa besok siang sudah selesai semua, sebelum kita ketemu Akira." Perintah Aldo.
"Pak...gak salah nich....ada 15 laporan dan harus kelar besok siang... ini mah namanya suruh saya lembur donk. Sendiri di kantor kan mana enak." Protes Nath. Benar- benar makhluk tidak manusiawi. Robot. Workaholic! Gerutu Nath dalam hati.
"Lembur kan dibayar di sini, Tenang aja!"
"Bayar si bayar.... tapi..." Protes Nath lebih lanjut dan memanyunkan bibirnya.
"Kamu ini banyak protes banget. Kamu bisa bawa ke apartemen."
"Pak......"
"Udah bawel banget sih....Kerjain dulu aja yang ada, di cicil, lama-lama juga kelar kan. Dan kalau ada yang aneh, sekalian kasih tau saya, ntar kita revisi." Perintah Aldo.
Dengan cemberut terpaksa Nath melakukan semua perintah Aldo. Saat aku membaca laporan pertama, ia merasa yang membuat laporan ini benar-benar amatir. Antara amatir, bodoh atau terlalu banyak manipulasi yang bodoh. Dan hanya orang bodoh yang mengatakan kalau laporan ini baik-baik saja.
Dengan gesit Nath mencorat-coret laporan yang ia anggap aneh, dan langsung ia berikan pada Aldo agar dia memeriksa ulang apa yang ia kerjakan.
Aldo tertegun melihat cara kerja Nath yang sangat cepat dan teliti, benar-benar perfeksionis. Dalam waktu 2 jam, Nath sudah memberikan koreksi ke 5 laporan. Masih ada 10 laporan lagi. Semangat!!!!!
Tiba-tiba ada bunyi telepon dan itu berasal dari handphoneku. Dan yang menelepon adalah informan Nath.
"Pak permisi ya ada telepon." Nath meminta izin keluar ruangan.
"Ok"
Dengan cepat Nath berlalu dan menuju tempat yang sepi untuk mengangkat telepon informan.
"Yes, Scarlet speaking." Scarlet adalah nama samaran Nath di dunia hacker dan mata – mata. Ia tidak mungkin menggunakan nama sebenarnya. Sangat berbahaya untuk kehidupannya sendiri.
"............................"
"Ok, Thanks, Do it as usually." (Kerjakan seperti biasanya)
Setelah itu, Nath langsung mematikan telepon dan saat berbalik ternyata Aldo berada di belakangnya dengan wajah penasaran.
"Ya ampun... saya kira ada setan siang bolong gini. Bikin kaget aja sih!" Nath sangat kaget dengan adanya Aldo dibelakangnya. Ia takut Aldo bisa mendengar apa yang diucapkan di telepon dengan informannya. Ia ingin semua menjadi rahasia saja sampai kebenaran terungkap.
"Siapa?" Tanya Aldo.
"Kepo bener deh Pak." Nath menyunggingkan senyuman meledek.
"Ya abis serius banget. Sampai harus keluar ruangan segala. Jangan-jangan kamu menyembunyikan sesuatu ya?" Tanya Aldo curiga.
"Hahah....Itu mama saya di ausie pak. Nich...mau telepon mama saya sekarang?" Goda Nath.
"Masa sama mama sendiri gak sopan gitu?" Selidik Aldo.
"Ya udah kebiasaan di luar negri lah.. udah santai aja berbicara dengan mama sendiri." Nath menjawab santai dan segera pergi dari hadapan Aldo yang masih menyimpan rasa penasarannya pada Nath.
Aku langsung ke meja kerja dan mulai pekerjaan yang sudah tertunda. Masih 10 laporan lagi yang belum aku kerjakan. Benar-benar hari melelahkan.
oooOOOooo
Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam. Rasa lapar kian mendera perut Nath, ingin rasanya memesan makanan, tetapi Aldo masih serius dengan pekerjaannya. Mau pesan online, tapi masih bingung harus pakai aplikasi apa, maklum baru 2 hari di Jakarta, Masih harus beradaptasi dengan baik dengan segala environment di sini. Karena Nath sudah tidak tahan dengan kelaparan, maka ia memberanikan diri untuk bertanya kepada Aldo.
"Pak.... Lapar nich." Nath memegang perutnya yang keroncongan, cacing – cacing dalam perut Nath sudah berteriak minta diberi makanan.
"Lapar? Sudah jam berapa emanknya?" Tanya Aldo dengan sedikit bingung karena terlalu konsentrasi.
"Jam 7 malam pak. Saya pulang dulu ya....mau cari makan nich. Udah mulai pusing."
"Ya udah pulang bareng aja, sekalian bawa sisa laporan yang belum kamu selesaikan." Ajak Aldo.
"Ya udah deh...lumayan irit ongkos." Nath mengiyakan. Nath segera merapikan mejanya dan bersiap untuk pulang, tetapi karena lapar sudah mendera, bagaimanapun harus diisi. Jika sampai ke apartemen terlebih dahulu, tidak mungkin Nath harus memasak. Bisa pingsan menunggu masakan matang. Akhirnya tercetus suatu ide yang layak di coba.
"Pak...traktir makan ya pak... saya kelaparan kan karena bapak." Nath memegang perutnya sambil mengerucutkan bibirnya.
"Dasar... ya sudah kamu mau makan apa?"
"Hmm... makan kwetiaw goreng pak... yang di mangga besar itu." Ajak Nath sumringah.
"Gila apa... gak kurang jauh kuningan ke mangga besar?" Protes Aldo.
"Hm... saya ngidam nich pak....Uda lama gak makan begituan."Jawaban Aldo membuat kecewa, Nath kembali mengerucutkan bibirnya.
"Pilih yang dekat sini aja. Katanya udah kelaparan."
"Ah ok, yang dekat sini.... makan udon sepertinya enak tu. Di mall sebelah harusnya ada deh."
""Ya udah, udon aja untuk malam ini." Aldo menyetujui permintaan Nath.
oooOOOooo
Aldo dan Nath segera sampai di Mall dekat kantor, dan langsung mencari restoran yang menyediakan Udon.
"Tori Curry Chicken tambah....Tonkotsu Tsukamen tambah....Tora Chasu Aburi tambah....Hot Ocha." Kata Nath sambil memesan makanan yang terlihat di menu.
"Tori Curry Chicken dan hot ocha aja mbak." Ucap Aldo.
"Di tunggu ya bapak dan ibu, sebentar lagi kami siapkan." Jawab pelayan restaurant.
Setelah pelayan itu pergi...
"Eh kamu gak salah makan sebanyak itu?" Tanya Aldo penasaran.
"Gak salah lah... orang kelaparan koq." Jawab Nath santai. Ia merenggangkan semua tangannya, membuat rileks semua persendiannya karena terlalu banyak duduk di kantor. Padahal baru hari pertama Nath bekerja, tapi sangat melelahkan.
"Bukannya tadi siang kamu makan banyak juga, sepertinya tambah 2 piring kali tu.. kan makannya sama cowo ganteng." Goda Aldo.
"Cowo ganteng mana???? Yang ada cowo kutu kupret yang bikin nafsu makan buyar." Nath mendengus kesal terlebih jika mengingat Victor, nafsu makan bisa buyar seketika.
"Masa cowok ganteng bisa bikin nafsu makan buyar? Kamu grogi kali..." Aldo semakin menggoda dan mengedipkan matanya. Aldo sangat senang menggoda Nath, entah kenapa seperti ada rasa familiar, seperti sudah berteman lama. Mungkin karena Nath juga tetangganya dan sepertinya tidak usah sungkan lagi kepada Nath, karena Nath lumayan banyak tahu mengenai dirinya, terutama hal di hari pertama mereka bertemu.
"Serah bapak aja deh mau anggap apa. Jangan bikin nafsu makan saya ambyar lagi ya pak!! Sudah cukup manusia menyebalkan tadi siang." Balas Nath kesal disertai tertawanya Aldo yang tambah membuat kesal.
"Jadi kamu gak lagi PDKT sama cowo tadi di cafe?" Tanya Aldo penasaran.
"Duh bapak KEPO SUPER!!! Kaga ada niat PDKT pak... itu manusia musuh bangsa dan negara. Gak mungkin saya PDKT sama dia. Udah jangan bahas manusia itu lagi." Nath bertambah kesal pada Aldo.
Akhirnya makanan datang, dan mereka menyantap bersama tanpa banyak bicara. Karena Nath sibuk makan....Kelaparan AKUT!
See you next chapter yaaa... Love you
Jangan lupa comment dan tap Love ya..... Jangan lupa di follow juga
Muach...muach..muach..
Siez