Bab 10. Hari Pernikahan

1053 Words
"Pa, bisa tidak pernikahan Deva dengan wanita itu dibatalkan?" tanya Mami Alicia berbisik. Bukan rahasia lagi kalau wanita paruh baya ini tidak begitu suka kepada Rhea karena keluarga mereka tidak sepadan. Keluarga Mami Alicia sampai banyak yang komplain karena Deva menikah dengan gadis biasa saja. Sementara di luar sana sangat banyak wanita dari keluarga kalangan kelas atas yang pantas menjadi istrinya. "Mana bisa. Mami, tahu sendiri kalau Opa sudah memutuskan untuk melakukan sesuatu pasti akan melakukan itu, apa pun yang terjadi," jawab Papi Mahendra pelan. Wajah Mami Alicia semakin terlihat masam ketika melihat Rhea tertawa bersama dengan kedua mertuanya—Opa Jaya dan Oma Sartika. Dia tidak mengerti apa yang mereka suka dari gadis yang suka berbuat kasar kepada putranya. Ketika sarapan, Mami Alicia beberapa kali memprotes Rhea ketika melayani Deva. Ada saja yang jadi salah di matanya. Mau itu air minum, nasi goreng, atau buah-buahan. Karena Rhea sudah terbiasa sarapan nasi, maka koki di rumah Opa Jaya selalu menyiapkan nasi putih atau nasi goreng di atas meja. Melihat gadis itu makan dengan nikmat, Deva jadi penasaran dan akhirnya ikut sarapan nasi juga, walau porsinya sedikit karena dia lebih banyak makan buah-buahan. "Banyak-banyaklah belajar jadi seorang istri. Jangan sampai kamu mempermalukan keluarga kita," ucap Mami Alicia. "Kenapa tidak kamu saja yang mendidik Rhea agar menjadi istri yang tidak mempermalukan keluarga kita?" Opa Jaya melirik ke arah menantunya. "Opa, kan, tahu ... kalau aku ini sangat sibuk mengurus bisnis," balas Mami Alicia dengan mata melirik ke arah Rhea seakan menunjukkan kalau menantu keluarga Darmawangsa itu harus menjadi wanita karir yang hebat. "Menurut Oma, apa yang dikatakan oleh Alicia itu ada benarnya. Rhea harus belajar tentang kehidupan orang-orang golongan kelas atas karena nanti dia akan mendampingi Deva. Baik itu dalam urusan bisnis atau bersosialisasi. Jadi, kita harus mendidik Rhea agar tidak ada yang mempermalukan dia ketika di hadapan umum," ujar Oma Sartika. Semua orang melirik ke arah Rhea. Mereka tahu bagaimana keras dan kejamnya kehidupan golongan kelas atas. Banyak harta belum tentu membuat hidup mereka tenang dan senang. Bukan hal aneh mereka akan menjadi target kejahatan orang-orang yang mengincar harta kekayaannya. Maka diputuskan Rhea harus mengikuti les belajar etika golongan kelas atas setiap hari setelah pulang kerja. Jadwal kepulangan jam kerjanya dipercepat sampai jam 16:00 WIB. Seorang guru wanita yang paham dengan etika golongan kelas atas akan mendidiknya dari jam 16:40 sampai 17:30. Jadi, jadwal Rhea pulang masih sama. Sebenarnya Rhea ingin sekali membalas ucapan keluarga Deva. Karena bekerja seharian itu sudah membuatnya kelelahan. Masa harus belajar lagi di tengah-tengah badannya butuh istirahat. "Kenapa tidak belajar di hari tertentu saja. Misal hari Senin, dia tidak perlu pergi ke kantor. Karena seharian itu digunakan untuk belajar," batin Rhea. Mulai hari ini sampai empat bulan ke depan, Rhea belajar etika orang-orang golongan kelas atas. Dari semua hal yang dipelajari olehnya, etika ketika makan membuat dia kesal dan harus bersabar. Maklum, selama ini dia makan dengan santai tidak memikirkan posisi letak sendok, garpu, atau pisau. Cara makan buah-buahan yang beretika atau duduk yang benar ketika makan. Deva juga sibuk mencari tahu tentang kecelakaan yang menimpa Satria. Informasi kejadian itu sangat sulit sekali didapatkan. Semua bukti ada bukti baru seakan menjadi kabut dan malah membuat kejadian itu sulit diselesaikan. *** Waktu terus bergulir dengan cepat. Hari pernikahan Deva dan Rhea akhirnya tiba. Pagi tadi mereka sudah melangsungkan acara pernikahan. Banyak sekali orang yang datang untuk menyaksikan proses bersatunya dua insan dalam satu ikatan pernikahan. Mereka tidak tahu kalau pasangan pengantin baru itu menikah tanpa adanya rasa cinta di antara mereka. Banyak wartawan yang meliput kejadian sakral itu. Seharian ini berita di media elektronik dan online dipenuhi oleh berita pernikahan antara dua orang yang berasal dari golongan keluarga yang berbeda. "Si kaya dan si miskin" orang-orang mengatakan pasangan itu. Tidak aneh jika banyak netizen yang mengatakan "cinta tak mengenal kasta" atau "cinta bisa menyatukan dua orang dari dunia yang berbeda". Ada juga para gadis yang merasa iri kepada Rhea karena bisa menikah dengan laki-laki ideal idaman para kaum wanita. "Sekarang kita sudah jadi saudara," ucap Eva kepada Rhea. Dia sangat senang karena Rhea kini menjadi istri sepupunya. Eva adalah keponakan Mami Alicia. Dia adalah satu-satunya orang dari keluarga Deva dari pihak ibunya, yang antusias dengan pernikahan ini. "Aku juga senang karena dengan begini hubungan kita akan semakin erat," balas Rhea. Eva tersenyum manis melihat Rhea yang cantik sekali ketika menjadi pengantin wanita. Wajahnya yang biasa dipoles dengan make up tipis dan terkesan natural, kini dirias dengan full make up. Belum lagi gaun pengantin indah itu memperlihatkan lekuk pinggang Rhea yang ramping dan bagian-bagian tubuh tertentu yang menonjol. Sebenarnya bukan hanya Eva saja yang terkejut dengan penampilan Rhea saat ini, Deva dan beberapa tamu undangan yang mengenal gadis itu juga sama. Rhea yang terbiasa memakai pakaian tomboi, kini memakai gaun. Keluarga besar Rhea yang merasa bangga karena ada kerabat mereka yang kini menjadi bagian dari keluarga kaya raya. Mereka sudah heboh ingin meminjam uang modal kepada keluarga Papa Rajasa karena sudah punya besan dari kalangan pengusaha. Hal ini membuat Rhea menahan marah dan kesal kepada mereka. Sementara ketika dia dan saudara-saudaranya sedang mengalami kesulitan biaya hidup dan sekolah, mereka selalu tutup mata. Acara pesta pernikahan Rhea dan Deva dilanjutkan pada malam hari. Kali ini tamu undangan kebanyakan dari kalangan bisnis. Baik dari keluarga yang kerja sama dengan Opa Jaya atau Papi Mahendra. Daniel menatap penuh damba kepada Rhea. Dia tahu kalau istri dari temannya itu memiliki aura positif dan menarik perhatian kaum laki-laki. "Selamat Rhea, akhirnya kamu menikah juga. Ternyata buruh banyak waktu untuk move on dari Arka, ya? Semoga pernikahan kalian langgeng," ucap salah satu teman Rhea ketika kuliah. Mendengar itu tentu saja Deva terkejut. Selama ini Rhea tidak pernah menyinggung sekali pun tentang mantan kekasihnya itu. Dia jadi penasaran apa yang menyebabkan mereka berpisah. Lalu, kenapa Rhea sulit move on darinya. "Kenapa kamu tidak pernah cerita tentang mantan kekasihmu itu?" tanya Deva berbisik. "Apa gunanya? Kehidupan aku sekarang sudah baik-baik saja tanpa dia," jawab Rhea. "Sama seperti kamu, 'kan? Tidak mudah move on dari mantan kekasih." Sama halnya dengan Deva. Laki-laki itu juga tidak mau masalah percintaannya di masa lalu di ketahui oleh orang banyak. Cukup dia saja yang tahu dan tidak ingin berbagi dengan orang lain. "Aku juga jadi penasaran, kekasih Deva dahulu siapa, ya? Dia itu wanita seperti apa?" batin Rhea yang jadi ikut-ikutan ingin tahu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD