Bab 9. Mencari Informasi

1024 Words
Deva memerhatikan Rhea yang duduk manis di meja kerja miliknya. Dia baru sadar kalau gadis itu sekarang terlihat pendiam, tidak seperti dulu yang selalu cerewet dengan segala hal kerandoman di antara mereka. Lalat lewat saja bisa jadi bahan pembicaraan mereka, tetapi sekarang sepi tidak ada pembicaraan selain pekerjaan. "Rhea, persiapkan dirimu! Kita akan pergi ke butik untuk melakukan pengukuran pakaian pengantin. Lalu, melakukan foto prewedding," ucap Deva. Rhea yang sedang membaca artikel tentang bisnis dibuat terkejut oleh perintah Deva. Dia kemudian melihat jadwal atasannya itu untuk hari ini. Ada dua pertemuan penting setelah jam makan siang. Lalu, sekarang jam sudah menunjukkan pukul 10:45 WIB. "Nanti akan ada dua pertemuan penting setelah jam makan siang dan jam tiga sore," kata Rhea mengingatkan Deva. Laki-laki itu mengguar rambutnya. Dia lupa dengan jadwalnya hari ini, padahal sudah dikasih tahu tadi pagi. Gara-gara ucapan kakeknya kemarin, dia jadi tidak fokus. "Ya, sudah. Besok saja kita pergi ke butik," ujar Deva. Pertemuan dengan kedua rekan bisnis berjalan lancar walau memakan waktu lebih lama dari perkiraan. Rhea dan Deva ke luar dari ruang rapat sekitar jam 17:30 WIB. Suasana kantor juga sudah mulai sepi, hanya ada beberapa orang yang sedang lembur. "Kamu pulang saja duluan. Aku harus melakukan pengecekan beberapa dokumen," kata Deva. "Tidak bisa begitu. Aku, kan, asisten Tuan yang harus selalu mendampingi saat bekerja. Bagaimana, jika Tuan butuh sesuatu? Jangan sampai aku mendapat teguran dari Opa Jaya, karena tidak becus bekerja melayani Anda," balas Rhea. "Kalau kamu bersikukuh ingin tetapi di sini terserah. Namun, aku tidak akan menghitung masuk lembur karena aku sudah menyuruh kamu pulang duluan," tukas Deva niatnya cuma menjahili Rhea agar mau pulang. "Terserah Anda saja, Tuan." Rhea pun duduk di kursi kerja, lalu memainkan laptop yang berselancar di dunia maya. Deva mendengus melihat kelakuan Rhea. Dia pun duduk dan memeriksa beberapa dokumen yang menurutnya terasa mencurigakan dan aneh. Lampu-lampu kota sudah menyala, akan tetapi Deva masih berkutat di meja kerjanya. Laki-laki itu selalu lupa dengan keadaan sekitar, jika sibuk dengan pekerjaan. "Tuan Muda Deva, Anda ingin makan malam apa? Biar aku pesankan," tanya Rhea dan itu membuat Deva yang sedang khusyuk menatap ke layar laptop, terkejut. "Sudah waktunya makan malam, ya?" gumam Deva. "Kita pulang saja." Rhea pulang naik taksi online, sedangkan Deva pulang dengan mobil sendiri. Biasanya mereka pulang bersama, karena itu perintah Opa Jaya. Namun, sejak kejadian di klub malam Asarehe, mereka pulang sendiri-sendiri. Motor yang biasa dipakai oleh Rhea pergi kerja saat di restoran, sudah dia berikan ke Bhumi untuk digunakan kuliah dan kerja magang. Mana tega dia meminta kembali kendaraannya itu. *** Sementara itu, Deva pergi menemui seseorang yang sudah sebulanan ini bekerjasama dengannya. Dia adalah seorang detektif yang dia sewa untuk mencari tahu siapa pelaku yang sudah mencelakakan Satria. Karena polisi menyatakan ini merupakan kecelakaan tunggal sedangkan dia yakin kalau itu merupakan kejahatan yang sudah direncanakan. "Bagaimana dengan hasil penyelidikan terbaru kamu, Jack?" tanya Deva kepada laki-laki yang seumuran dengannya. "Aku berhasil memulihkan rekaman kamera yang ada pada mobil Satria," jawab Jack yang merupakan mantan polisi yang ditempatkan di divisi kriminal. "Bagaimana isinya?" tanya Deva dengan tidak sabar. Jack pun menyerahkan sebuah kotak kecil berisi chip hasil rekaman. Dia memberikan itu agar Deva bisa melihat dan meneliti dengan seksama di rumahnya, nanti. "Aku juga sudah mencari tahu orang yang Anda minta Tuan. Namun, baru sedikit informasi yang aku dapatkan," lanjut Jack sambil menyerahkan sebuah amplop putih panjang. "Tidak apa-apa. Karena aku ingin orang yang sudah mencelakai Satria mendapatkan balasan yang setimpal," balas Deva. Bagi Deva, Satria adalan orang yang penting. Dia setiap hari, setiap waktu, selalu menyusahkan asistennya sejak kecil, baik buruk dirinya, Satria selalu setia berada di sisinya. Demi mendapatkan keadilan untuk Satria dan mencari pelakunya, Deva sampai mengabaika segala keperluan pesta pernikahannya. Karena menurutnya itu bisa lakukan nanti. Namun, ketika sang kakek mengetahui dirinya belum melakukan apa pun untuk pernikahannya, dia dimarahi habis-habisan. "Baiklah. Aku tunggu informasi lainnya lagi!" Deva beranjak dari ruangan yang pencahayaan redup. "Jika aku sudah mendapatkan informasi lagi, secepatnya saya akan memberi tahu Anda, Tuan." Deva pulang ke rumah lewat jam sepuluh malam. Tubuhnya terasa lelah dan lengket. Dia pun memutuskan untuk berendam sebelum tidur. *** "Deva ... bangun!" Rhea menarik guling yang dipeluk oleh Deva dengan kuat sampai laki-laki itu bangun karena merasa terganggu tidurnya. "Tidak sopan!" Deva kesal. "Sekarang belum waktunya jam kerja aku. Jadi, bebas aku mau memanggil kamu apa," balas Rhea yang tidak kesal oleh kelakuan calon suaminya ini. Selalu saja seperti ini setiap harinya. "Kalau belum waktunya jam kerja, kenapa kamu membangunkan aku." Rasa kantuk yang tadi dirasakan oleh Deva langsung hilang begitu saja ketika berhadapan dengan Rhea di pagi hari. "Opa menyuruh aku untuk membangunkan kamu. Cepat cuci wajahmu! Opa dan Oma sudah menunggu kita di bawah." Rhea pun pergi meninggalkan kamar mewah yang ditempati oleh Deva. Sementara laki-laki itu, terus menggerutu sambil masuk ke kamar mandi. Deva terkejut ketika melihat ada beberapa orang berada di lantai bawah. Ada beberapa orang yang dia kenal, tetapi kebanyakan tidak dia kenal. "Ada apa ini? Kenapa pagi-pagi sudah banyak tamu yang datang?" tanya Deva merasa heran. "Ada apa?" Opa Jaya menatap tajam kepada Deva. "Opa dengar kamu masih saja mengulur waktu untuk membuat baju pengantin dan foto prewed. Makanya Opa panggil mereka semua ke sini sekarang juga." Akhirnya Deva dan Rhea melakukan pengukuran badan. Mereka juga memberi tahu model baju pengantin yang sesuai dengan konsep tema pesta pernikahan. "Tuan muda Deva tolong peluk Nona Rhea. Lalu, Nona sandarkan kepala Anda di d**a Tuan muda Deva," ucap sang fotografer dan keduanya menuruti arahan itu. Beruntung di kediaman Darmawangsa banyak tempat yang bagus dan estetik, sehingga terlihat sangat bagus untuk dijadikan latar belakang. Selama melakukan pemotretan, Deva dan Rhea terlihat sangat canggung. Namun, sang fotografer malah terus menyuruhnya melakukan pose mesra. Kedua orang tua Deva juga datang pagi itu ke kediaman Opa Jaya. Mereka masih belum rela jika Rhea yang akan menjadi menantu keluarga Darmawangsa. Karena masih banyak wanita yang pantas untuk menjadi pendamping putranya. Tatapan tajam dari kedua calon mertua, membuat Rhea merasa tidak nyaman. Mama Rinjani selalu mengingatkan dirinya agar berlaku baik dan sopan kepada keluarga Deva. Katanya dia harus bisa mencuri hati mereka agar kehidupan rumah tangganya bisa bahagia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD